
"Jadi teman saya kenapa dok?" tanya Rey dengan raut khawatir cukup kentara.
"Saya tidak bisa memberi informasi lebih akurat, tapi sepertinya ada kerusakan pada ginjal pasien, kalau mau tau lebih lanjut sebaiknya bawa dia ke dokter yang berprofesi khusus ginjal." nasehat sang dokter kemudian pergi meninggalkan Rey yang membatu ditempat.
Dengan langkah lesu pemuda itu menghampiri sahabatya yang masih berbaring, bibirnya menghela nafas pelan sambil mengamati wajah damai Anika yang masih tertidur.
"Seberapa banyak yang gue gak tau dari lo sebenarnya Anika?"
"Rey!" panggil seseorang sambil menepuk punggung Rey sontak membuat pemuda itu menoleh dengan alis mengernyit sedikit bingung.
"Lo tau dari mana gue disini Ratu?"
"Gue tadi liat lo lari-lari gendong Anika karena gue penasaran makanya gue ikutin lo sampai ke sini. Gimana keadaan Anika! Dia gak apa-apa kan?"
Rey menghela nafas kasar "dia oke, gak ada masalah serius sama dia. Dokter cuma bilang dia lambat makan makanya bisa sakit perut." alibinya.
"Baguslah."
"Lo bolos sekolah cuma mau nyusul gue dan Anika ke sini?" tanya Rey penasaran sambil menatap serius wajah gadis disampingnya, tentu membuat Ratu gelagapan ditatap intens oleh pemuda yang sudah mengambil hatinya.
"Gak juga, tadi sekolah dibubarin cepat makanya gue ikutin lo karena khawatir liat lo bawa Anika lari-larian dikoridor."
"Sekolah dibubarin! Kenapa?" tanya Rey, pasalnya yang ia tau tak ada acara atau kegiatan penting hingga sekolah bisa sampai dibubarkan sebelum waktunya.
"Gue gak tau pasti, tapi gue sempat dengar guru bahas masalah perampokan. Mereka juga bilang komputer yang ada dilab ada yang hilang belum lagi ada satu guru yang kehilangan uang cukup banyak ditasnya."
"Seriusan?" tanya Rey terperanjat, rasanya mustahil ada perampok yang bisa masuk ke dalam sekolah elit dengan penjagaan yang cukup ketat.
"Iya, katanya sih gitu! Makanya hari ini polisi datang buat nyelidikin semuanya."
"Nyelidikin apa?"
Rey dan Ratu terlonjak, pandangan mereka terarah pada Anika yang kini sudah duduk diatas kasur sambil menatap ke arah mereka.
"Lo udah bangun?" tanya Rey.
"Gak, gue masih tidur." jawab Anika asal.
Pemuda itu mengerang kesal, tapi ia juga tak bisa menyalahkan karena pertanyaan yang keluar dari mulutnya sedikit tak berbobot, tentu gadis seperti Anika akan menjawab dengan asal.
"Nyelidikin apa Ratu?" tanya Anika lagi sambil memfokuskan pandangannya pada sang primadona sekolah.
__ADS_1
"Masalah perampokan, sekolah kita udah beberapa kali kehilangan sesuatu. Entah itu komputer, laptop dan juga uang dari para guru." jelas Ratu.
Anika mengangguk paham, tak mau ambil pusing lagi akhirnya ia memilih diam. Menyandarkan badannya kebelakang sambil bersantai ria.
"Kalau orang luar kayaknya mustahil deh rampok disekolah kita." celetuk Rey sambil memasang wajah serius.
"Maksud lo?"
"Yang lakuin kayaknya orang dalam."
"Orang luar atau orang dalam gak ada urusannya sama lo kan, biarin polisi yang lakuin tugasnya. Kalian gak usah ikut campur sama masalah ini." timpal Anika.
"Kalau gitu gue pulang dulu." pamit Ratu sambil tersenyum tipis ke arah Rey kemudian melenggang pergi meninggalkan rumah sakit.
"Lo gak mau pulang juga?" tanya Anika pada Rey membuat pemuda itu mendelik mendengar perkataan sahabatnya.
"Lo ngusir gue?"
"Gak sih, tapi kalau lo mikirnya kayak gitu gue bisa apa! Tergantung kepekaan masing-masing." jawab Anika.
"Kayaknya emang lo berniat ngusir gue, dasar gak punya hati." cibir Rey dengan tangan bersidekap dada menatap Anika yang malah terkekeh pelan.
"Gue cuma bercanda kawan."
"Tanya apa?"
"Lo gak rahasian apapun dari gue kan?" tanya Rey menyelidik.
"Apa maksud lo?"
"Bukan apa-apa, gue cuma agak aneh lihat lo akhir-akhir ini, apalagi liat lo kayak orang sekarat tadi! Lo gak ada nyembunyiin sesuatu dari gue kan?"
Anika terkekeh pelan "harusnya yang nanya itu gue! Lo gak nyembunyiin sesuatu kan? Apalagi liat lo lari kayak orang kesetanan, lo punya masalah apa sampai ada pria dewasa yang ngejar lo disekolah."
"Bukan masalah besar, gue cuma terlibat perkelahian sama anak mereka. Karena gue orangnya baik hati dan tidak sombong makanya dengan gratis gue kasih bogeman sampai buat anak mereka semua sekarat." jawab Rey santai seolah bukan masalah besar.
"Meresahkan." cibir Anika.
"Gue bisa aja sih lawan tuh bapak-bapak, tapi lo tau kan gue orangnya lemah lembut dan selalu ngehormatin yang tua! Jadi gak mungkin gue buat mereka bonyok, kalau sama orang yang seumuran gue sih ayo-ayo aja." tambah Rey sombong dengan mata berkedip pelan, membuat Anika mendengus.
"Benar-benar meresahkan."
__ADS_1
"Jadi, lo mau jujur atau enggak sama gue?" tanya Rey dengan ekspresi mendadak serius.
"Gue gak apa-apa."
"Gue baru tau kalau kerusakan pada ginjal ternyata gak apa-apa ya." sindir Rey mengundang tatapan syok dengan tubuh menegang dari sang empu.
"Apa maksud lo? Ginjal siapa yang rusak Rey?" tanya Anika menuntut.
"Ginjal lo, dokter juga bilang kalau mau lebih akurat lo sebaiknya periksa ke dokter spesialis ginjal."
"Gak mungkin." ucap Anika yang masih syok, jika ginjalnya benar-benar rusak lalu apa yang harus dilakukan sekarang! Sedangkan selama ini hanya satu ginjal yang menunjang hidupnya.
"Lo beneran gak tau kalau ginjal lo bermasalah?" tanya Rey serius dengan tangan yang sudah bertengger pada kedua bahu gadis didepannya.
"Gue baru tau sekarang." lirih Anika.
Rey menghela nafas kasar, dengan cepat ia mendekap tubuh sahabatnya yang cukup terpukul, ia kira gadis itu sengaja menyembunyikan kondisinya darinya, tapi ternyata ia salah.
"Habis ini kita ke dokter spesialis ginjal supaya bisa tau dan ngobatin lo secepatnya." ucap Rey lembut sambil mengusap punggung Anika pelan.
Gadis itu melepaskan pelukannya, bibirnya tersenyum tipis ke arah pemuda yang selalu ada untuknya. Padahal mereka selalu bertengkar tapi tetap saja Rey yang selalu berakhir merawatnya.
"Makasih, tapi gue pikir jangan dulu deh periksa ke dokter, gue belum siap! Gue masih mau nyiapin hati dan jantung gue, jadi kalau dokter bilang ginjal gue parah gue gak sampai sekarang jantung."
"Tapi lo harus cepat diperiksa ini juga demi kebaikan lo supaya cepat ditangani." nasehat Rey.
"Gak dulu deh, tapi gue janji! Kalau gue siap gue bakal ngerepotin lo tiap hari, jadi tunggu aja." canda Anika dengan senyum lebar pada wajah cantiknya.
Rey menghela nafas pelan, ujung bibirnya ikut menampilkan senyum tipis melihat binar cerah dimata sahabatnya, untuk sekarang ia tak akan memaksa gadis itu tapi kalau sampai Anika masih tak mau diperiksa ia berjanji akan menggunakan tangannya sendiri untuk menyeret sahabatnya ini.
"Kalau lo butuh apa-apa telepon gue aja, demi apapun gue rela direpotin sama lo, cuma sama lo." ucap Rey serius.
Anika mengangguk pelan "gue tau."
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung
Instagram: siswantiputri3