Antagonis

Antagonis
Chapter 5


__ADS_3

Benar-benar hidup yang monoton, melakukan aktivitas yang sama berulang-ulang, Adelard menghela nafas pelan tubuhnya ia sandarkan pada kursi kebesarannya, matanya melirik ponselnya yang menampilkan nomor adiknya.


Nomor yang didapat susah payah karena kecerdikan adiknya dalam bersembunyi, entah apa yang dipikirkan adik satu-satunya itu hingga sampai sekarang melakukan permainan petak umpet dengannya.


"Cepat keruanganku." perintah Adelard pada seseorang yang sedang ia hubungi.


Helaan nafas kembali lolos dari bibirnya, keningnya dipijat pelan karena rasa pusing yang kian mendera. Menjatuhkan saingan bisnisnya jauh lebih mudah daripada menemukan keberadaan saudaranya itu.


Tok...tok...tok....


"Masuk."


Tampak Daren melangkah mendekati sang atasan, raut wajahnya menampakkan kebingungan karena telepon dari tuannya yang tiba-tiba.


"Kau sudah mengetahui keberadaannya?" Tanyanya tanpa basa-basi.


Daren terdiam beberapa saat, kantung matanya membuktikan betapa lelahnya ia mencari informasi tentang keberadaan bocah berumur 17 tahun.


"Maaf tuan, hanya nomor telepon milik adik anda yang saya dapat untuk saat ini, padahal saya sudah mencari informasi adik anda di internet, bahkan saya sudah mengambil alih data para murid sekolah di kota ini, tapi tetap saja tak ada titik terang dari keberadaan adik anda." jelas Daren.


"Sudah 1 minggu yang lalu kau kusuruh ke indonesia lebih dulu untuk mencari keberadaan anak itu dan hanya nomornya yang kau dapat? bahkan nomor yang sudah terblokir?" tanya Adelard tak habis fikir.


"Maaf tuan."


"Kenapa sekarang kinerjamu berkurang."


Daren menghela nafas lelah, ia juga bingung apa kinerjanya memang menurun? atau adik dari atasannya yang terlalu pandai bersembunyi Sampai tak dapat ia endus.


"Keluar." perintah Adelard.


"Baik tuan." pasrah Daren.


...***...


"Yuk kekantin." ajak Emma.


"Lo duluan aja." sahut Anika, matanya masih setia membaca cerita novel yang ada diponselnya.


"Yakin lo?" timpal Rey.


"Hmm."


"Kalau gitu aku sama Rey ke kantin ya." pamit Emma kemudian melangkah pergi meninggalkan Anika seorang diri dalam kelas.


Setelah kepergian mereka berdua, Anika dengan santai keluar dari aplikasi novel yang ia baca, tangan lentiknya tampak menulis beberapa deretan kata pada kolom pencarian di internet.


Matanya dengan lihai menatap nama panti yang tertera pada layar ponselnya, detik berikutnya bibirnya tersenyum miring membayangkan apa yang akan ia lakukan.


"Dulu gue gak peduli lo tunggal dimana, tapi kayaknya hari ini gue berubah fikiran."


"Kebetulan yang menyenangkan, ah...saatnya merepotkan kak Bian." dengan cekatan tangannya menekan tombol panggilan pada seseorang diseberang.

__ADS_1


[Hallo]


"Hallo, kak Bian ada dimana?"


[Kakak diluar cari makan, tapi masih dekat rumah sakit kok, ada apa?]


"Kakak bisa ke panti asuhan Laksana gak? kan dekat situ, Anika mau minta tolong buat liat berapa banyak anak panti yang tinggal disana."


[6, balita 1 anak umur dibawah 10 tahun 3 sama anak remaja kayak kamu 1, oh iya sama pengurus panti 1 jadi totalnya ada 6. Kakak biasa kesana jadi udah tau, emangnya kenapa Nika?]


"Gak kok kak, Anika cuma mau nyumbangin baju sama mainan kesana jadi nanya dulu siapa tau ada yang gak kebagian, sekalian latihan jadi gadis cantik baik hati rajin menabung dan tidak sombong."


Terdengar tawa pelan dari seberang, Anika terdiam beberapa saat. Orang ganteng memang beda, padahal cuma tertawa tapi cukup membuat ia terkesima.


Anika menggelengkan kepalanya, sepertinya ia benar-benar pengagum garis keras cogan.


"Kalau gitu Anika tutup teleponnya ya kak, bay...bay...."


[Bay----]


Tik.


Anika menopang tangannya dibawah dagu, matanya menerawang menatap papan tulis yang kini sudah bersih tanpa coretan.


"6 orang kayaknya gak masalah, gak terlalu banyak." monolognya pelan.


Ia kembali meraih ponselnya, mengetikkan sesuatu pada orang diseberang. Bibirnya tersenyum tipis membayangkan adegan drama yang akan terjadi kedepannya.


Ia mengelus perutnya yang sudah meronta, rasa lapar yang ada didalam sana sudah tak bisa ditunda "tenang cacing-cacing tersayang majikanmu ini akan memberimu makan." serunya riang.


Ia bangkit dari duduknya, kakinya melompat kecil meninggalkan ruang kelas yang menjadi sanksi terkekangnya para murid menjalani proses belajar, terkhusus pelajaran yang berbaur hitung-hitungan.


"HALO SAHABAT TERSAYANG." teriak Anika cempreng, tangannya merangkul kedua pundak sahabatnya yang kini menyantap makanan dengan khidmat.


"Bisa gak datangnya lebih manusiawi?" tanya Rey, sedikit kesal karena waktu makannya terganggu akibat teriakan yang membahana.


"Ini udah lebih dari manusiawi kok." jawab Anika polos.


Emma terkekeh pelan "udah ah, jangan dilanjut lagi nanti berantem lagi. Duduk sini Anika." ucapnya sambil menepuk tempat kosong disampingnya.


"Nehi-nehi." tolak Anika dengan tangan membentuk tanda silang.


Emma dan Rey saling pandang, alis mereka mengernyit mendengar penolakan dari gadis yang berdiri dibelakangnya.


"Trus ngapain lo disini kalau gak mau duduk? berak?" tanya Rey dengan nada sewot.


"Ih...jorok lo bambang." balas Anika ngegas.


"Lagian lo gak jelas."


"Yaa....karena gue maunya duduk di...SINI." Anika mendorong tubuh Rey kasar, tubuhnya ia dudukkan ditengah-tengah mereka berdua, tapi karena kekuatan penuh yang ia gunakan mau tak mau pemuda itu pasrah pantatnya mencium lantai sekolah.

__ADS_1


GDEBUK.


"Awww..."


Penghuni kantin yang menyaksikan kejadian itu sontak tertawa lepas, apalagi posisi jatuh yang sangat tidak elit menambah kadar kesialan yang dialami pemuda itu.


"Lo sekarang nyoba jadi cicak Rey." ejek Anika.


"Diam lo jubaidah." kesal Rey misu-misu, tangannya menepuk celananya yang kini tertempel debu.


"Udah-udah, kasian Rey." lerai Emma dengan bibir terkikik geli, mau bagaimanapun kesialan yang menimpa sahabatnya terlihat lucu, tapi ia juga tak tega menambah rasa malu Rey karena sudah menjadi bahan ledekan penghuni kantin.


"Ternyata emang cuma lo yang ngertiin gue." ucap Rey dramatis dengan pose menghapus air mata yang bahkan tak pernah ada.


Anika memutar bola matanya malas "orang kayak Rey gak perlu dingertiin, gak ada faedahnya, percaya sama gue." sahutnya dengan tangan memegang kedua bahu Emma.


gadis itu menggaruk lehernya yang tak gatal, matanya menatap Rey dan Anika bergantian "gak boleh gitu, Rey kan juga sahabat kita." jawabnya lugu.


"Yaudah iya, lagian kasian juga gak punya teman, tiap hari kan nempel sama gue dan lo doang." matanya menatap miris pemuda yang sudah duduk disampingnya tapi hanya dibalas delikan kesal dari sang empu.


Ting.


Gadis cantik itu meraih ponselnya, bibirnya tersenyum tipis membaca deretan kata yang terpatri disana.


082*********


Kami sudah melakukan apa yang bos minta, selanjutnya apa lagi?


^^^Bakar sampai tak tersisa.^^^


"Siapa?"


Anika tersenyum tipis, ponselnya ia letakkan pada saku bajunya "bukan siapa-siapa."


Emma mengangguk paham, tangannya kembali memotong bakso miliknya yang masih tersisa.


.


.


.


.


Bersambung.


Jangan lupa like dan komen banyak-banyak ya guys, supaya makin semangat lanjutinnya~usahakan tinggalkan komen yang positif bukan menjatuhkan author.


Ig: siswantiputri3


^^^19-NOVEMBER-2021^^^

__ADS_1


__ADS_2