Antagonis

Antagonis
Chapter 21


__ADS_3

Selama pembelajaran wajah Anika tetap saja kusam, bahkan hingga kini mereka bertiga sudah dikantin sekolah masih saja raut wajahnya menampakkan binar tak bersahabat.


Ia terlalu kesal pada keputusan sepihak dari teman kelasnya, ia jadi curiga mereka sengaja menjebaknya dalam situasi ini karena ia sering membuat onar didalam kelas.


"Masih aja kusut tuh muka, santai aja." sahut Rey tiba-tiba.


"Lo enak cuma ngomong." kesal Anika.


"Gue juga ikut partisipasi ya, bedanya gue bukan tampilin puisi. Sebagai pangeran sekolah gue harus buat hal yang bikin orang cengo sampe gak bisa berkata-kata, susah kan? Gue aja yang susahnya nauzubillah gak protes, lo bagus tinggal bikin puisi trus baca, lah gue cari dulu inspirasi mau nampilin apa, pake otak dulu nyusun konsepnya, habis itu baru bikin baru tampil diatas panggung." jelas Rey sabar.


"Tapi kan lo udah biasa kayak gitu." celetuk Anika, dagunya ia topang diatas meja dengan wajah nelangsa.


"Makanya dibiasain, lo pasti bisa."


"Gue gak bisa." jawab Anika dengan nada pasrah, bibirnya mengerucut saking sebalnya dengan masalah ini.


"Kamu pasti bisa kok, semangat." timpal Emma, tangannya terangkat dengan senyum lebar pada gadis didepannya.


"Kalo gue malu-maluin gimana?" tanya Anika frustasi, kepalanya diacak brutal hingga rambut sebahunya kini tak jelas bentukannya.


"Yaaa...gak gimana-gimana, paling lo malu aja." jawab Rey santai, mulutnya mengunyah bakso dengan pandangan lurus kearah ponselnya.


PUK.


"Gak boleh gitu tau, kasian Anika." sungut Emma, tapi tetap saja hanya dibalas cengiran polos dari pemuda disampingnya.


"Kan...kan kalian semua pasti sekongkol nih, pasti sengaja jebak gue biar malu-maluin diri sendiri." ngegas Anika dengan wajah sinis, tangannya diletakkan didada dengan wajah memerah sempurna.


"Gak gitu, kita semua percaya kamu pasti bisa." jawab Emma cepat "kamu tau sendiri Drian kan? Gak mungkin dia sengaja nyuruh kamu, pasti ada alasannya dia nunjuk kamu."


Mata Anika memicing, menatap Emma dengan pandangan mengintimidasi "iya tau, alasan supaya bisa malu-maluin gue." jawabnya sewot.


Emma merasa serba salah, tatapannya terarah pada Rey yang kini sibuk dengan ponselnya "bantu jelasin ke Anika Rey." pintanya.


"Jelasin apa?" tanyanya dengan tampang watados.


Gadis itu menghela nafas sabar, tak habis fikir dengan kedua sahabatnya yang selalu saja berhasil membuatnya pusing "jelasin supaya gak salah paham."


Rey mengalihkan pandangannya pada Emma "gini ya cantik, gue nafas aja pasti dia salah paham, jadi percuma, biarin aja." jelasnya santai.


Wajah Emma memerah, tangannya saling meremas menahan kegugupan yang kian menjadi, semuanya sudah seperti ini, pemuda itu yang berhasil membuatnya berharap jadi bukan salahnya jika ia ingin lebih kan?


"Terserah." celetuk Anika, ia bangkit dari duduknya meninggalkan dua sejoli yang bahkan tak membuatnya merasa lebih tenang, malah kini ia semakin kesal karena tak mendapat pencerahan.

__ADS_1


"Lah." Rey menggaruk kepalanya yang tak gatal, matanya menatap cengo sahabat bakpaonya yang kini sudah berjalan menjauh.


Emma bangkit dari duduknya, ingin menyusul Anika yang sudah tak terlihat, tapi pergerakannya dihentikan pemuda tampan disampingnya.


"Lo mau kemana?"


"Nyusul Anika." jawabnya polos.


"Gak usah, mending lo temenin gue, daripada entar lo diamuk sama dia."


Emma terdiam beberapa saat, apa yang dikatakan Rey memang benar adanya "oke." bibirnya tersenyum tipis kemudian kembali duduk pada tempatnya.


"Kamu dari tadi liatin apa dihp?" tanyanya penasaran.


Pemuda itu melirik sekilas sahabatnya "bukan liatin, tapi balas chat." jawabnya seadanya.


Emma mengernyitkan keningnya, rasa penasaran kian membuncak, tidak biasanya pemuda itu mau membalas pesan dari seseorang "chat siapa?"


"Ratu."


Satu kata yang mampu membuat tubuh Emma menegang, harusnya ia senang dengan kata itu kan? Tapi kenapa ia merasa tidak rela? Bukannya ini keinginannya! Mendapatkan Rey dari genggaman Anika terdengar mustahil bahkan ia sudah mencobanya, tapi tetap saja ia selalu menjadi nomor 2 jika dibandingkan dengan gadis itu.


Anika selalu menjadi prioritas pertama bagi Rey, dan itu membuatnya muak, jika ia tak bisa menggeser Anika ia bisa memanfaatkan Ratu menggeser gadis itu.


Rey mengangguk pelan "gara-gara waktu itu lo bahas Ratu, gue jadi penasaran, dan ternyata dia emang menarik."


"Hmm...bagus dong, kalian cocok tau gak." jawabnya antusias.


Pemuda itu terkekeh pelan "ada-ada aja lo, tapi...gak ada salahnya sih gue coba-coba sama dia." celetuknya santai.


Emma tersenyum tipis "aku dukung kok."


Rey menggelengkan kepalanya "lo emang selalu dukung gue kan?"


Cengiran polos gadis itu berikan sebagai jawaban atas pertanyaan pemuda disampingnya, tentu saja ia akan mendukung, selama itu membuatnya diuntungkan.


...***...


Pemandangan dari rooftop sekolah memang benar-benar mengagumkan, angin yang menerpa dengan kesendirian menjadi pelengkap keheningan yang melanda.


Anika menatap semua murid yang berlalu lalang dibawah sana, tatapannya datar dengan puntung rokok sebagai temannya.


"Gimana kalau mereka tau apa yang gue lihat?"

__ADS_1


Ucapan dari seseorang yang baru saja muncul tak membuatnya terusik, ia tak peduli, ini hidupnya hanya dia yang berhak menentukan apa yang akan dikonsumsinya.


"Seorang Anika Ayudhisa merokok! Kira-kira apa pendapat mereka, khususnya kedua sahabat lo."


"Gue gak peduli...Ratu."


Asap rokok ia hembuskan dari mulut dan hidungnya, matanya terpejam menikmati sensasi yang selalu berhasil membuatnya damai.


"Apa yang udah lo buat pada Rey sampai dia gak mau jauh-jauh dari lo?" pertanyaan tak penting itu cukup membuat kening Anika menukik, matanya melirik sekilas gadis yang kini berdiri disampingnya.


"Drama." jawabnya santai.


"Drama?" ulang Ratu dengan raut tanya, fokusnya kini terarah sempurna pada sahabat dari pemuda yang dicintainya.


Anika tersenyum miring, rokoknya ia buang asal "iya drama, buat diri lo jadi tokoh utama dari kehidupan dia, kemudian buat alur yang seharusnya lo inginkan, simpelkan?"


Sang primadona sekolah itu terdiam, otaknya masih mencerna ucapan dari gadis didepannya, hingga tepukan di pundaknya menyadarkan kediamannya.


"Lo adalah pengarang cerita yang sebenarnya dalam kisah hidup lo sendiri, tinggal buat siapa tokoh utama selanjutnya yang jadi pelengkap dalam kisah lo itu, selanjutnya tinggal buat drama yang lo inginkan, selesai." ucap Anika santai, setelah dirasa tak ada yang ingin ia ucapkan lagi, kakinya dengan santai meninggalkan tempat itu.


"Oh ya...gue rasa, lo sama Emma gak cocok kerjasama."


Tubuh Ratu menegang, kepalanya menoleh cepat pada gadis yang kini sudah menghilang dari balik pintu rooftop.


"Sialan." umpatnya kesal.


.


.


.


.


Bersambung


Hallo guys~jangan lupa vote, like dan komen ya, jangan jadi pembaca gelap, supaya lanjutinnya makin semangat.


See you


Ig: siswantiputri3


^^^05-DESEMBER-2021^^^

__ADS_1


__ADS_2