
"Maaf tuan, tadi ada kendala sedikit makanya saya terlambat."
Adelard menatap Daren datar, walaupun begitu! ada mimik kesal pada wajah pria itu, menunggu asistennya lebih dari 30 menit benar-benar membuat moodnya buruk.
"Urus mobil itu." perintahnya dingin.
"Baik tuan."
Anika mendengus kesal, ia yang sejak tadi berdiri diantara mereka benar-benar diabaikan, tangannya yang masih tersodor ia tarik dengan wajah ditekuk.
"Hellow....masih ada orang disini loh." serunya sambil menunjuk dirinya sendiri, berharap keberadaannya segera dianggap dengan harapan kedua pria dewasa didepannya memberinya tumpangan.
"Nona siapa?"
Mata Anika berbinar "Alhamdulillah, gini-gini nama gu---eh maksudnya nama aku Anika Ayudhisa, status masih sekolah dan karena kesialan hakiki yang gak bisa ditebak makanya aku terdampar disini dengan kakak tampan yang sebentar lagi jadi pacar aku, sekian dan terima kasih."
Daren menatap atasannya bingung "anda mengenalnya tuan?" tanyanya penasaran.
"Gak."
Anika mendesah frustasi, ternyata masih ada orang sedingin es balok seperti cerita di novel-novel, tapi sekarang itu bukan intinya, ketampanan yang sangat menyilaukan dari orang yang diyakini bernama Adelard tidak sebanding dengan keinginannya sebagai kaum rebahan untuk tidur dan bersantai diatas kasur.
Otaknya sudah penuh dengan permasalahan hidup yang ditampungnya sejak kecil, jadi ia tak mau menambah beban fikirannya mengenai pria didepannya, tapi jika mereka bisa bertemu lagi dikemudian hari! mungkin ia bisa mempertimbangkannya lebih lanjut.
Anika mengangguk-anggukkan kepala membayangkan pemikirannya sendiri, bibirnya menahan senyum saat kadar halunya kini mulai muncul setelah lama terpendam, gara-gara pesona pria asing didepannya membuatnya seperti gadis dimabuk asmara.
"Apa gadis ini sedikit mengalami gangguan jiwa?" tanya Daren hati-hati, tubuhnya sedikit bergidik melihat kelakuan gadis remaja didepannya.
"Jadi, aku boleh numpang gak om, kakak ganteng?" tanyanya memelas.
Daren menatap wajah Adelard, meminta persetujuan dari atasannya, bagaimanapun ia hanya asisten yang akan bertindak saat mendapat perintah, ia juga cukup tau diri! mobil yang dipakainya adalah mobil milik Adelard tentu ia juga harus mendapat persetujuan, walaupun hatinya sebenarnya sudah mulai iba pada gadis remaja itu.
"Terserah."
Daren Tersenyum hangat "mari nona, saya antar pulang."
"Oke om."
Anika berjalan menuju mobil Ferrari 15BB, ia tak peduli dengan mobil yang satunya, itu urusan mereka walaupun sebenarnya ia lagi-lagi tergiur menatap mobil mogok itu, dilihat dari segi manapun harga mobil itu pasti sangat fantastis. Ah...hari ini otak matrenya benar-benar keluar.
Tangannya terasa bergetar membuka pintu mobil sultan didepannya, matanya mengerjap mencoba tetap sadar dari keajaiban yang dialaminya ini.
"Udah liat pria tampan yang gak manusiawi ditambah gue juga duduk didalam mobil dengan harga yang gak ada akhlak, oh...indahnya hidup." monolog Anika pelan.
"Rumah nona dimana?"
__ADS_1
Anika mengerjapkan matanya, pandangannya beralih pada pria yang ada di kursi kemudi "jalan cempaka blok B no 03." jawabnya seadanya.
Daren mengangguk, kakinya menginjak pedal gas meninggalkan lokasi itu, orang suruhannya sudah mengurus mobil tuannya yang ada dipinggir jalan, jadi tak ada yang perlu dipermasalahkan lagi.
"gini ya rasanya duduk didalam mobil sultan."
Adelard menghela nafas kasar, entah setan apa yang mengambil alih tubuhnya hingga ia mau berbagi mobil dengan gadis yang kini duduk disampingnya.
"Kakak beneran manusia sih?" tanya Anika tiba-tiba, kepalanya mendongak, menatap wajah pria tampan disampingnya, bentuk wajahnya benar-benar sempurna, mulus dan paripurna.
"Diam dan jangan bicara."
"Gak bisa, rasanya gue gak nyangka aja ada orang gantengnya kelewatan kayak gini, kalau lewatnya dikit sih masih wajar, tapi kak..."
"Adelard nona." sahut Daren.
"Ah iya...tapi kak Adelard gantengnya udah lewat 10 tikungan gak manusiawi, kan gue terpesona." celoteh Anika.
"...."
"Kak Adelard udah punya gebetan belum, kalau belum gebet gue aja, ikhlas kok siapa tau bisa jadi, lumayan...gue bisa memperbaiki keturunan."
"Diam atau keluar." titah Adelard dingin, kepalanya menoleh menatap Anika dengan pandangan menghunus.
"Yaampun depresot gue, depresot..." tangannya terangkat menutup matanya sendiri, ia bukannya takut ditatap tajam, hanya saja ia tak bisa menolak pesona pria disampingnya, padahal ia hanya ditatap beberapa detik tapi rasanya sudah menembus jantung dan paru-paru.
"Rumah kak Adelard dimana?" tanya Anika melancarkan aksinya.
"...."
"Nomor teleponnya minta dong." tangannya terulur, menengadah didepan wajah pria tampan disampingnya.
"628**********"
Mata Anika membola, ia dengan cepat mengeluarkan buku dalam tas sekolahnya, tangannya dengan cekatan menulis nomor yang masih tersangkut pada otaknya.
"Sudah sampai nona."
"Yahh...cepet amat perasaan." ucapnya lesu, padahal ia masih ingin duduk disamping pria yang sudah mengambil antenasinya sejak awal, ia benar-benar jatuh pada pesona pria asing itu.
"Yaudah...makasih kakak ganteng, om." dengan wajah masam ia akhirnya keluar dari mobil itu, matanya masih setia mengamati mobil Ferrari 15BB yang kini sudah menjauh.
"Baru kali ini gue nemu orang seganteng itu." bibirnya mengulum senyum senang, tubuhnya berbalik, melangkah dengan riang memasuki rumahnya.
"Loh?"
__ADS_1
"Lama lo."
"Ngapain lo dirumah gue?" tanya Anika dengan nada ngegas, matanya menatap tajam pemuda yang kini duduk santai diatas sofa, siapa lagi kalau bukan Rey.
"Lo dari mana?"
Bukannya mendapat jawaban ia malah mendapat pertanyaan, bibirnya mendengus menatap Rey yang entah bagaimana caranya bisa masuk ke dalam rumahnya, ini benar-benar berbahaya.
"Gue punya kunci cadangan rumah lo, kalau lo lupa lo sendiri yang kasih gue karena setiap pagi lo telat bangun."
Anika menepuk jidatnya, ia baru sadar. Bukannya ia setiap pergi sekolah selalu diantar jemput oleh Rey, bisa-bisanya ia lupa. Pasti ini karena otaknya menyimpan wajah pria tampan yang baru saja ia temui, bibirnya tiba-tiba senyam-senyum sendiri membayangkan orang itu.
"Lo kenapa sih, kek orang kerasukan tau gak." sembur Rey.
"Ck, kalau mau ribut mending lo pulang aja deh, gue gak mau kebahagiaan gue hancur gara-gara lo."
Rey menghela nafas pelan "gue kesini karena gue mau minta maaf."
Anika terdiam beberapa saat, ia juga tak bisa marah pada pemuda didepannya, mengingat seberapa dekat mereka membuat ia tak mungkin tiba-tiba menjauh.
"Lo gak salah, gak ada yang perlu dimaafin." jawabnya santai.
Rey tersenyum lebar "trus lo tadi darimana? diantar siapa?" tanyanya beruntun.
Wajah gadis itu tiba-tiba berbinar "diantar pria tampan, lo tau gak! gue tadi udah ngerasain duduk didalam mobil sultan malah orangnya ganteng banget lagi." jelasnya dengan wajah menerawang.
"Ilih gitu aja lebay."
"Masalahnya orangnya ganteng banget, gue kan terpesona."
"Alah gitu aja baper, gak bisa emang Lo liat cogan, dikit-dikit pasti bawa perasaan, gue aja ditaksir banyak cewek cantik biasa aja tuh." Rey menyisir rambutnya kebelakang, matanya menatap Anika dengan wajah sombong.
"Yaiyalah gue baper, namanya juga manusia punya otak punya hati, beda sama lo hati mati otak gak berfungsi." sembur Anika.
"Sialan lo." kesal Rey misu-misu.
.
.
.
.
Bersambung
__ADS_1
Ig: siswantiputri3
^^^02-DESEMBER-2021^^^