Antagonis

Antagonis
Chapter 20


__ADS_3

Ketiga sejoli itu melangkahkan kakinya melewati koridor sekolah, Anika dengan wajah cueknya, Emma dengan wajah polosnya sedangkan Rey dengan wajah tengilnya.


Beberapa murid yang melihat mereka bertiga kadang merasa iri, persahabatan mereka memang sudah tidak diragukan lagi bagi sebagian murid yang bersekolah disitu. Ketiganya terlihat sulit dipisahkan, apalagi kepribadian mereka yang saling bertolak belakang tentu itu menjadi pelengkap bagi ketiganya.


Anika menendang pintu kelas yang kini sudah tertutup.


BRAK


Semua penghuni kelas 2 IPA 1 terlonjak, pandangan mereka menatap tajam pada sosok pembuat ulah, baru saja mulut mereka ingin mengumpat tapi detik berikutnya mereka urungkan.


"Yaampun Anika, bikin kaget aja lo." sahut salah satu dari mereka.


"Tau, gara-gara lo lipstik gue pake acara tikungan segala." timpal siswa paling pojok dengan lipstik merah yang kini dipegang pada tangan kanannya.


"Tumben kalian telat." sahut Drian sang ketua kelas.


Anika meletakkan tasnya pada bangku miliknya, Emma dan Rey juga melakukan hal yang sama, Emma yang satu bangku dengan Anika dan Rey duduk dibelakang mereka berdua.


"Biasa, Rey lambat bangun." jawab Anika seenaknya.


"Tumben, biasanya juga lo yang ditunggu." timpal Drian.


"Iya." serentak murid 2 IPA 1.


Kening Anika mengernyit, matanya mengerjap bingung menatap teman kelasnya "kok kalian tau?" tanyanya polos.


"Lo tau sendiri Rey kan, suka nyahut tanpa ditanya, curhat tanpa diminta, protes tanpa sebab." celetuk Naya, siswi dengan bangku paling depan.


"Heh enak aja lo." sewot Rey tiba-tiba.


"Tapi itu kebenaran yang hakiki Rey." timpal Dara dengan bedak ditangannya.


"Sabar bro, cewek emang selalu benar, tapi kali ini mereka emang benar kok." sahut Roy dengan tawa pada akhir kalimatnya.


Para penghuni kelas 2 IPA 1 tertawa memenuhi ruangan, bahkan para siswi ikut senang menistakan pemuda dengan julukan pangeran sekolah, mungkin hanya siswi dikelas mereka yang tidak pernah tertarik dengan pemuda itu.


Menurut mereka! Rey hanyalah pemuda tengil yang suka tebar pesona, walaupun memang wajahnya tak bisa dikategorikan standar, tapi tetap saja mereka tidak tertarik karena sudah biasa bersitatap.


"Berani kalian sama gue? Ngajak ribut?" tantang Rey, ia sudah bangkit dari duduknya menatap seluruh teman kelasnya dengan wajah kesal.


"BERANILAH." serentak mereka.


Nyali Rey menciut, 23 murid melawan 1 murid memang bukan pilihan yang tepat, apalagi ia hanyalah pemuda lemah yang baik hati dan tidak sombong, matanya menatap Anika meminta bantuan, wajahnya memelas dengan kepala digosok-gosokkan pada lengan gadis itu.


"Apaan sih, jauh-jauh lo sama gue." usir Anika kasar, tangannya mendorong kepala Rey tanpa perasaan.

__ADS_1


"Jahat lo." Rey mencak-mencak tak jelas mendapat perlakuan seenak jidat dari sahabat seperjuangannya sendiri. Matanya kini menatap Emma yang juga menahan tawa.


"Bantu gue dong." ucapnya dengan wajah memelas.


Emma menggaruk kepalanya yang tak gatal, tatapannya beralih pada teman kelasnya yang masih saja mengejek pemuda itu "udah ya, kasian Rey."


Senyum Rey mengembang, wajahnya menatap sombong penghuni kelas 2 IPA 1, sahabat satunya ini memang selalu berada satu kubu dengannya.


"Lo terlalu baik sama Rey Emma." timpal salah satu siswi.


Anika mengangguk setuju "Rey gak cocok disayang tapi cocoknya dibanting, iya gak guys?" tanyanya dengan suara sedikit keras.


"BETUL." serentak mereka.


"Enak aja, udah bosen hidup ya lo?" tanya Rey kesal.


"Udah-udah, daripada ngomong gak jelas mending kita bahas masalah pentas." lerai Drian.


Mendengar ucapan sang ketua kelas akhirnya mereka mengangguk setuju, apalagi pentas tahunan sangat ditunggu-tunggu hampir semua siswa/siswi disekolah ini, dimana mereka bisa bersenang-senang dan juga menunjukkan kelebihan mereka diatas panggung.


"Seperti tahun-tahun sebelumnya, pentas tahunan diadakan selama 4 hari, mulai hari senin-kamis, dan juga kali ini setiap perwakilan kelas harus ikut partisipasi dalam acara ini." jelas Drian.


"Kalau gitu kelas kita siapa yang mau jadi perwakilan?" tanya salah satu siswa.


"Jelaslah, orang cantiknya gak ngotak, gue aja rela kalau gue dijadiin selingkuhannya asal sama dia." celetuk siswa dengan tampilan urakannya.


"Tapi masalahnya Ratu gak sudi kalau sama lo." ejek siswi lainnya.


"Gue sama Anika mau ajuin Emma jadi calon primadona disekolah kita, gimana menurut kalian?" tanya Rey tiba-tiba.


Hening terjadi di ruangan itu, mereka tampak sibuk dengan pemikiran masing-masing, hingga celetukan siswi membuat antenasi mereka terarah padanya.


"Bagus sih, gue sih setuju-setuju aja."


"Iya, gue juga setuju, kayaknya Emma juga cocok jadi saingan Ratu."


"Oke, gue akan urus semuanya." final Drian.


Rey mengedipkan matanya pada Anika, akhirnya rencana mereka berhasil dan tentu diterima baik oleh teman kelasnya.


"Gak apa-apa kalau lo kalah Emma, yang penting lo udah usaha, kami semua dukung lo." celetuk siswi pada bangku tengah.


Emma tersenyum manis "makasih."


Anika menepuk pundak gadis disampingnya "kalau lo kalah itu wajar kok, tenang aja." ucapnya dengan senyum lebar.

__ADS_1


"Iya tenang aja Emma, kita semua bisa maklum kalau pada akhirnya lo kalah, karena emang wajar! apalagi saingan lo Ratu, siswi paling cantik disekolah kita." timpal siswa paling pojok.


"Benar, semuanya wajar kok." tambah Rey dengan tampang watadosnya, matanya kini terfokus pada layar ponsel ditangannya.


Emma tersenyum manis dengan kedua tangan mengepal sempurna, ia tak ingin dibandingkan, ia benci harus menjadi menyedihkan seperti ini, menjadi orang yang kalah adalah pecundang dan pecundang adalah hal yang cacat dan ia benci kecacatan untuk apapun itu.


Primadona sekolah akan jatuh ditangannya, dan itu pasti bahkan jika ia harus menyingkirkan Ratu.


"Anika juga akan ikut jadi perwakilan kelas kita." sahut Drian tiba-tiba.


Sang pemilik nama membulatkan matanya, spontan badannya bangkit dengan pandangan menatap kesal pada ketua kelas.


"Gak bisa gitu dong."


"Gue setuju, Anika harus ikut." celetuk Rey sedikit keras, mata yang tadinya menatap ponsel kini menatap Anika dengan alis dinaik-turunkan.


"Kok gitu sih." decak Anika misu-misu.


"Jadi kita udah sepakat Anika yang jadi perwakilan kelas kita." final Drian dan tentunya disetujui oleh semua murid kelas 2 IPA 1.


"APAAA?"


"Anika akan nampilin puisi." sahut Drian seenaknya.


"WHATTT?"


"OKE SEPAKAT." serentak mereka dengan suara Rey yang paling keras menyetujui keputusan ini.


"Kalian pasti gila ya? presentasi didepan kelas aja gue bacanya lurus gak pake belokan ini malah gue harus baca puisi, otak kalian disimpan dimanasih?" tanya Anika mencak-mencak.


Emma terkekeh pelan, tangannya mengelus pundak Anika "sabar Anika."


.


.


.


.


Bersambung.


Ig: siswantiputri3


^^^04-DESEMBER-2021^^^

__ADS_1


__ADS_2