
Emma mendesah frustasi, permasalahan yang datang pada hidupnya kian membuncak, ia benar-benar bingung! Apa yang salah dengan dirinya? Kenapa seolah sekitarnya tak mendukung kesenangannya, kenapa lagi-lagi harus dia yang mendapat kesialan?
Bahkan Rey sahabatnya saja mulai acuh padanya, dan itu benar-benar menyiksa. Ia memejamkan matanya, menghalau perasaan kesal yang perlahan mulai menguasai otaknya, ia tak boleh bertindak gegabah lagi.
"Gue harus apa?" monolognya bingung.
Kakinya berjalan mondar-mandir mengelilingi kamar kontrakannya, fikirannya benar-benar kacau, belum lagi kebutuhan hidup yang harus ia tanggung, hidupnya yang sekarang berhasil mencekik akal sehatnya.
"Ayo Emma, lo harus lakuin sesuatu, jangan biarin mereka yang udah buang lo nertawain hidup lo yang menyedihkan ini."
Ia mendesah frustasi, langkah pertama yang akan ia lakukan adalah mengambil kepercayaan Rey lagi, setidaknya ia akan membuat pemuda itu berpihak padanya.
"Ya, gue harus kerumah Rey." finalnya.
...***...
Daren meneguk ludahnya kasar, kondisi tuannya benar-benar jauh dari kata baik, jas yang sudah terlepas dari tubuhnya, ditambah kemeja putih yang tampak lusuh dengan rambut acak-acakan tak lupa keringat membasahi seluruh tubuhnya membuat ia bertanya-tanya, apa yang sebenarnya terjadi?
"Apa tuan Adelard baik-baik saja?" tanyanya takut-takut, ia benar-benar was-was melihat aura marah dari atasannya ini.
"Apa aku terlihat baik-baik saja?" tanyanya sewot.
Daren semakin gugup, aura atasannya benar-benar mengintimidasi, walaupun ia lebih tua dari pria didepannya! Tapi tetap saja rasa takutnya tak bisa ia bantah.
"ARGHHHH SIAL."
Ia terjengkang, untung kinerja jantungnya masih berdetak normal, ia tak habis fikir dengan kemarahan Adelard yang tak ia tau apa sebabnya. Ingin bertanya tapi terlalu takut, nyawanya terlalu berharga untuk mendapat kemarahan lebih lanjut dari pria didepannya.
"Kenapa kau tak pernah bilang kalau anak itu semakin menyebalkan." ucapnya ngegas.
Daren mengernyit, ia bingung dengan kata 'anak itu' siapa yang atasannya maksud? Atau mungkin Adrian?
"Maksud anda Adrian?" tanyanya memastikan.
"Memang siapa lagi." sewot Adelard.
__ADS_1
Hanya kata sabar yang mampu ia gumamkan saat lagi-lagi ucapannya selalu salah dimata Adelard, untung gaji yang ia dapat sangat besar dikantor ini, setidaknya itu menjadi alasan baginya untuk tetap setia dan bertahan pada perusahaan Lard Corp.
"Maaf tuan, bahkan saya tidak tau kepribadian adik anda." jawabnya yakin.
Adelard semakin kesal, apa saja yang dilakukan asistennya ini, bahkan mengenai Adrian saja dia tak tau, padahal yang mengintai dan mencari tau sosok adiknya tak lain adalah dia sendiri.
"Keluar sana, wajahmu membuatku pusing." usirnya tanpa perasaan.
Daren bersorak senang, perintah yang ingin ia dengar sejak tadi, walau ada sedikit kata-kata yang membuatnya lagi-lagi menghela nafas sabar, tapi tak apa! Setidaknya ia bisa lepas dari kandang harimau ini.
"Baik tuan."
...***...
Anika merebahkan tubuhnya, kasur empuk miliknya benar-benar mengundang untuk disayang-sayang, tubuhnya telentang menatap langit kamar dengan bibir tersenyum senang.
"Bahagia ternyata sederhana, dengar kabar besok libur gue udah senang pake banget."
Tubuhnya kemudian ia gulingkan kesana kemari, menikmati tekstur empuk kasur sederhana miliknya, entah kenapa ia merasa kasur ini jauh lebih nyaman! Atau karena ini ada hubungannya dengan kabar sekolah yang diliburkan?
"Bahagianya."
Dengan perasaan senang yang tak pernah lepas akhirnya ia memilih mengambil obat tidur miliknya, 1 butir pil ia minum tanpa bantuan air "good night." ucapnya pada udara yang ia hirup.
"Good night to." jawab pemuda yang baru saja muncul, bibirnya menyeringai tipis menatap gadis yang sudah tertidur diatas kasur.
Mengintai gadis itu benar-benar menjadi rutinitas yang ia suka akhir-akhir ini, langkahnya mendekat menatap wajah damai yang kini sudah terlelap, bahkan ia berfikir! Apa wajah itu tetap sama saat tidur dan tak pernah bangun lagi?
"Patut dicoba." ujarnya dengan senyum merekah dari balik masker hitam miliknya.
Pisau lipat yang selalu dibawa ia keluarkan, tangannya terangkat dengan pandangan memicing pada leher gadis didepannya, ia sedikit bingung! Apa ia harus melakukan sekali ayun dengan titik vital yang menjadi penghubung nyawa gadis itu, atau secara perlahan sambil menyaksikan tubuh gadis itu tergelapar menjemput ajal.
Oke, sepertinya ia akan melakukan opsi pertama, ia cukup kasihan menyiksa gadis cantik itu "good bye Anika." tangannya kembali terangkat, memfokuskan pandangannya pada leher putih Anika.
SRET
__ADS_1
"Udah gue duga." ujar Anika dingin, pandangannya menatap datar lengan pemuda yang baru saja ia gores menggunakan pisau dapur miliknya.
"Sshh...sial."
Gadis cantik itu bangkit dari tidurnya, kakinya mendekat pada sosok asing yang kini menghentikan aliran darah pada lengan kanannya, ia tersenyum tipis karya seni dari tangan yang tak pernah menggores kulit seseorang bisa menimbulkan sayatan yang cukup dalam.
Bahkan tangannya sama sekali tak bergetar menyaksikan perbuatan yang baru saja ia lakukan, ada kesenangan tersendiri pada tubuhnya saat berhasil membuat goresan pada lengan itu.
"Lo fikir gue masih bisa tidur saat setiap malam gue hampir merenggang nyawa?" tanyanya dingin.
Anika mengangkat tangannya, pil tidur yang sempat ia ambil masih tersimpan apik pada genggamannya "ini asal kebingungan lo kan?" tanyanya dengan senyum miring.
Pemuda itu terkekeh pelan, ia benar-benar kecolongan dengan gadis didepannya dan ini cukup membuatnya terkejut sekaligus semakin tertantang "lo semakin menarik, sekarang gue tau kenapa orang itu segitunya ingin nyingkirin lo."
"Lo disini bukan karena perintah orang itu lagi kan? Hidupnya bahkan sudah cukup menyedihkan sekarang, menyewa orang untuk bunuh gue kayaknya mustahil, jadi apa tujuan lo?"
Pemuda itu lagi-lagi berdecak, pemikiran yang luas dari otak gadis itu cukup membuatnya kagum, tapi kagum saja tak cukup mengurungkan niatnya untuk memisahkan arwah dari raga Anika.
"Ada masalah yang harus dituntaskan, dan itu...akan selesai dengan nyawa lo yang berakhir ditangan gue."
Jawaban yang cukup membuat gadis itu terperangah, apa ia pernah berurusan dengan pemuda itu sebelumnya? Bahkan ia tak mengingat kapan dan dimana ia berbuat salah dengan orang asing didepannya, atau mungkin! Kesalahan yang bukan ia perbuat tapi berhubungan dengannya?
"Lo ada masalah pribadi sama gue atau dendam lo dengan seseorang berhubungan sama gue?" tanyanya memastikan.
Pemuda itu tergelak, gadis didepannya benar-benar membuatnya takjub "gimana kalau bukan dua-duanya?" tanyanya dengan alis dinaik-turunkan "gimana kalau gue bilang nyawa lo terlalu menarik untuk dipermainkan?"
.
.
.
.
Bersambung
__ADS_1
Ig: siswantiputri3
^^^01-JANUARI-2022^^^