Antagonis

Antagonis
Chapter 43


__ADS_3

Untuk kesekian kalinya ia harus tertekan menghadapi masalah yang kian rumit, ia fikir semuanya sesimpel yang dikira, membalas satu persatu dalang dari penculikan dirinya tapi ternyata orang itu tak berhenti sampai disitu bahkan pria asing itu dengan terang-terangan menemuinya bahkan dirumahnya sendiri.


Ternyata bukan hanya dirinya yang mengincar mereka tapi orang itu juga masih menargetkannya, pria itu bukan hanya mengambil ginjalnya tapi juga berniat melenyapkannya.


Tapi kenapa waktu itu ia tak langsung dilenyapkan? Kenapa harus terulur-lurur begini? Atau pria itu sengaja menerornya agar ia depresi dan kehilangan akal? Kalau memang begitu, berarti Emma benar-benar licik.


"Lo kenapa bengong?" tanya Rey tiba-tiba.


Anika menghela nafas pelan, kepalanya menggeleng seraya tersenyum tipis seolah tak apa-apa.


"Lo gak marah karena kita jemput Ratu kan? Atau lo kesal karena gue lebih milih jemput Ratu daripada Emma?"


"Gak ada alasan gue marah atau kesal."


Rey mengernyitkan keningnya "ada, lo kan sahabat Emma, bahkan kalian jauh lebih dulu sahabatan sebelum kenal gue, lo gak marah gue lebih milih jemput Ratu daripada dia?"


"Gak, biasa aja." jawabnya acuh.


Tak mau ambil pusing akhirnya Rey memilih acuh, matanya kembali fokus ke jalanan hingga mobil yang ia kemudikan akhirnya sampai tepat didepan apartemen milik sang primadona sekolah.


Klakson mobilnya ia bunyikan berulang-ulang, ia terlalu malas untuk turun dan menjemput gadis itu, lebih baik ia menggunakan cara simpel memanggil Ratu.


"Maaf lama." celetuk Ratu, dengan tergesa-gesa ia masuk ke dalam mobil Rey dan duduk tepat dikursi penumpang.


"Santai." jawab pemuda itu seraya tersenyum tipis, setelah gadis yang ditunggunya benar-benar sudah siap dengan seatbelnya ia langsung menancap gas mengemudikan mobilnya membelah jalanan.


"Gue fikir lo gak jemput gue."


Rey terkekeh pelan "gue udah bilang mau jemput lo, masa gue batalin."


Ratu tersenyum manis, matanya tak menyia-nyiakan kesempatan mengamati pemuda itu dari belakang, bahkan ia sangat senang walau hanya rambut pemuda itu yang biasa ia lihat dari posisinya.


"Oh iya, gue dengar-dengar lo mau jadi perwakilan kelas lo nampilin puisi ya Anika?" tanyanya tiba-tiba.


"Hu'um."


"Semoga sukses."


Anika mengernyitkan keningnya, kepalanya sedikit menoleh menatap gadis itu, ia cukup bingung dengan ucapan sang primadona sekolah "lo kesambet apa?"


"Gak apa-apa kok, lo kan teman Rey berarti lo juga teman gue, sesama teman harus saling mendukung kan?" jelasnya santai.

__ADS_1


"Dukungan lo patut diragukan."


30 menit menempuh perjalan akhirnya mereka bertiga sampai ke tempat tujuan, Anika keluar dari mobil terlebih dahulu bahkan ia tak mau repot-repot menuggu dua remaja itu, kakinya melangkah ke arah kelasnya yang ada dilantai 2.


"Lo mau kemana?" tanya Rey dengan suara sedikit keras.


"Lo ke pentas duluan aja, gue ada urusan." jawab Anika tanpa menghentikan langkahnya.


"Oke."


Gadis cantik itu terus menyusuri koridor yang ada dilantai dua, kakinya terus berjalan hingga ia berhenti tepat dikelas 2 IPA 1, kelas yang ia tempati selama kelas dua disekolah ini.


"Udah gue duga." bibirnya tersenyum miring menatap siswi yang saat ini duduk sendirian didalam kelas, dengan santai ia menghampiri orang itu tanpa menimbulkan suara yang keras.


"Lo ngapain disini Emma?" tanyanya lembut.


"Ah...eh...aku cuma duduk aja kok." bibirnya tersenyum manis dengan kepala mendongak menatap Anika yang berdiri didepannya.


"Lo gak ke pentas?" tanyanya lagi, tubuhnya ia dudukkan disamping gadis itu, tas yang ia bawa juga disampirkan pada bangkunya. Padahal tak ada pelajaran tapi tetap saja ia membawa tas sekolah.


"Kamu ngapain disini?"


"Maksud kamu apa?"


Anika mengedikkan bahunya "sakit hati berlebihan bisa buat lo depresi, apalagi Rey lebih milih jemput Ratu daripada lo, itu cukup membuktikan keberadaan lo gak ada artinya, ia kan?" jelasnya sambil tersenyum manis.


"Maksud lo apa ngomong kayak gitu?" marah Emma, ia bangkit dari duduknya menatap Anika dengan pandangan kebencian.


Anika terkekeh pelan, tubuhnya ikut bangkit dari duduknya "gue kaget masa, bisa juga lo ngomong kasar ternyata."


"Gak usah basa-basi sama gue."


"Oh ya, gak lagi deh, tapi gue prihatin sama lo, pasti hidup lo berat ya apalagi panti tempat lo tinggal kebakaran anggota keluarga panti lo juga gak ada yang selamat, pasti lo sedih banget, bahkan mungkin lo sempat stres....stres karena surat tanah dan sertifikat rumah juga ikut hangus sebelum lo jual." bisiknya pelan.


Mata Emma membola, tubuhnya menegang dengan tangan terkepal sempurna "PERGI LO SIALAN, LO GAK TAU APA-APA." teriaknya murka.


Anika berdecak, detik berikutnya tangannya sudah menarik rambut Emma kasar, kepala gadis itu benturkan ke dinding kemudian ditekan agar tetap pada posisinya.


"Ishh...lepasin gue." ringisnya.


Tangan lentiknya semakin menekan kepala gadis itu, bibirnya menyeringai menatap memar membiru pada dahi gadis didepannya.

__ADS_1


"LEPASIN TANGAN KOTOR LO."


Anika terbahak, tanpa perasaan kepala gadis didepannya ia benturkan keras, bahkan ia tak peduli dengan darah yang mulai menempel pada dinding.


DUK...DUK...DUK...


"ARGHHHHHHHHHH...."


"Gimana?" tanya Anika, Rambut Emma ia lepas, dengan santai ia mundur beberapa langkah dari gadis itu, bibirnya tersenyum lebar menatap darah yang mengalir disela-sela mata gadis itu.


"L---lo gak wa--ras." lirih Emma, tubuhnya bergetar, sedikit trauma dengan perbuatan Anika yang tak ia duga.


"Gue gak waras? kalau gitu lo apa?" tanyanya santai, tangannya bersidekap dada dengan pandangan menatap Emma remeh.


"Gue bakal lapor lo ke BK, lo gak ada otak, lo bully gue, lo buat kening gue berdarah." ancam Emma.


Anika terkekeh pelan "silahkan, kalau gitu gue bakal lapor lo juga, kemarin lo ambil uang Ratu di tasnya kan? Lo ambil 2 juta."


Emma lagi-lagi menegang, ia tak tau kenapa gadis didepannya selalu bisa membungkamnya, tangannya lagi-lagi terkepal menahan kesal yang kian memuncak "gak, lo gak ada bukti." ucapnya dengan tawa hambar.


"Bukti ya." Ponsel yang ada disakunya ia keluarkan, video berdurasi 1 menit ia putar tepat dihadapan Emma, video dimana awal mula sampai akhir gadis itu mendapatkan uang didalam tas sang primadona sekolah "lo cukup beruntung Ratu orang kaya, jadi uang kayak gitu gak ada artinya buat dia, bahkan gue yakin gadis idiot itu gak sadar uangnya hilang." celetuknya santai.


Tubuh Emma bergetar, kepalanya menoleh kesembarang arah, urat dilehernya menonjol dengan wajah memerah "KENAPA LO LAKUIN INI SAMA GUE?"


"Harusnya gue yang ngomong kayak gitu, kenapa lo lakuin ini sama gue?" jawabnya datar "ah...sudahlah." tangannya dikibaskan dengan langkah santai ia keluar dari ruangan itu, meninggalkan Emma yang kini membatu.


.


.


.


.


Bersambung


Bantu like, vote dan komen ya, bantu cerita ini supaya makin semangat lanjutinnya.


Ig: siswantiputri3


^^^25-DESEMBER-2021^^^

__ADS_1


__ADS_2