
Rey menatap gadis disampingnya khawatir, padahal mereka sudah 5 menit yang lalu sampai disekolah, tapi sampai sekarang Anika masih belum ada tanda-tanda keluar dari dalam mobil.
"Lo gak apa-apa?"
"Hmm....ya?"
Rey menghela nafas pelan, ia lebih suka sahabatnya berkoar-koar daripada diam seperti ini "lo masih kepikiran?"
"Gue bingung." Anika menundukkan kepalanya, tangannya diremas pelan dengan perasaan kacau.
"Anika." panggil Rey, matanya menatap intens wajah gadis yang kini juga menatapnya "gak usah mikirin yang belum pasti."
Gadis itu tersenyum paksa, kepalanya mengangguk sebagai jawaban, ia tak ingin berlarut-larut dengan masalah ini, apalagi membuat orang disekitarnya khawatir karena kondisinya.
"Tapi sebelumnya gue mau nanya."
"Nanya apa?"
"Lo kenal sama yang namanya Abian-Abian itu dimana dan kapan?" tanya Rey, matanya menjelajahi manik amber milik gadis disampingnya, berharap tak ada kebohongan yang keluar dari bilah bibir sahabatnya.
"Gak sengaja kenal aja, dia pernah bantu gue." jawab Anika seadanya.
"Yaudah, gak usah bahas-bahas lagi." titah pemuda itu, tangannya melepas seatbel yang melekat pada gadis disampingnya.
"Keluar sana."
Gadis cantik itu mencebikkan bibirnya, dengan malas ia keluar dari mobil sahabatnya, tanpa menunggu pemuda itu ia berjalan menuju kelas mereka yang ada dilantai dua.
"GUE KEKOPERASI BELI BAJU DULU."
Gadis cantik itu mengacungkan jempolnya, kepalanya sedikit menoleh dengan kaki yang masih melangkah, keningnya tiba-tiba mengernyit menatap dua gadis yang ada pada tangga menuju lantai dua.
"Kalian nunggu sembako?" tanyanya absdurd.
Emma menggeleng pelan "kami nunggu kamu sama Rey kok, tapi Rey mana?"
Anika mengedikkan bahunya, ia kembali melangkah menaiki tangga setapak demi setapak, pagi ini ia terlalu malas menggubris pertanyaan dari seseorang entah siapapun itu.
"Bisa gak lo gak usah sombong."
Langkah kakinya terhenti, badannya ia balikkan menatap Ratu yang kini menatapnya tajam "gue gak ngerasa."
Ratu terkekeh sinis, gadis itu maju lebih dekat pada gadis yang saat ini berjarak 4 langkah darinya. Tangannya menunjuk dada gadis itu kasar "lo itu cuma anak panti." ucapnya dengan setiap kata yang ditekankan.
"Terus?" tantang Anika.
"Gak usah belagu, otak dangkal dengan latar belakang gak jelas kayak lo gak pantes dekat-dekat sama Rey."
__ADS_1
Anika tersenyum lebar "lo dengarkan Emma?" tanyanya tiba-tiba "latar belakang gak jelas gak pantes dekat-dekat sama Rey." ulangnya santai.
Emma mengepalkan tangannya, wajahnya menatap sedih sang primadona sekolah "kok kamu ngomong gitu?"
"Ck...bukan lo yang gue maksud, lagian lo gak terlalu deket sama Rey kayak dia yang nempel tiap hari."
Anika menatap iba ke arah Emma "padahal gue fikir lo juga deket banget sama Rey, gue gak tau ternyata Ratu bisa lihat kalian masih ada jarak, sabar ya." ia berjalan kearah Emma, tangannya memeluk tubuh gadis itu, sambil sesekali dielus pelan.
Ratu tak bisa berkata apa-apa lagi, ia jengah ucapannya dianggap angin lalu, bahkan sekarang ia juga bingung kenapa Anika dengan santai melemparkan ucapannya pada Emma? Padahal yang ia maksud dirinya bukan gadis itu.
"Aku gak apa-apa kok." Emma tersenyum manis, dengan emosi yang berusaha ia tahan.
"Kalian bertiga ngapain disitu? Ngemis." Tanya Rey tiba-tiba, seragam sekolah yang baru ia beli sudah melekat rapi pada tubuhnya.
"Lo dari mana?" tanya Ratu angkat suara.
"Dari koperasi beli baju." Rey mendekat kearah Anika, merangkul gadis itu santai dengan senyum lebar terpatri pada wajah tampannya.
Kedua gadis itu berusaha menahan rasa cemburu yang menggorogoti hatinya, mata keduanya memanas melihat kedekatan mereka yang bahkan setiap hari beradu argumen.
"Kamu ngapain beli baju Rey?" tanya Emma penasaran, wajah damainya menambah kesan polos pada ekspresinya saat ini.
Rey terkekeh pelan, ia mendekat kearah Emma, jari telunjuk dan jari tengahnya mengapit hidung gadis itu karena gemas "gue kan semalam tidur dirumah Anika, gue lupa bawah baju daripada pulang, mending beli aja." jawabnya santai.
Baru beberapa detik wajahnya memerah karena perlakuan pemuda itu, tapi jawaban yang keluar dari mulut Rey benar-benar sukses membuatnya kesal, marah dan cemburu.
"Lo tidur dirumah Anika? Berdua?" serbu Ratu. Tubuh pemuda itu balikkan menghadap kearahnya, dengan jarak sedekat ini ia bisa melihat betapa sempurnanya pahatan wajah milik Rey, tapi ini bukan saatnya larut dalam pesona pemuda itu.
"Gue kok kayak orang kepergok selingkuh aja." monolognya pelan, matanya melihat ketiga gadis itu secara bergantian "tapi gak apa-apa sih. Anika cantik imut, Emma cantik polos trus Ratu cantik agresif." Rey senyum-senyum sendiri menatap ketiga gadis disekitarnya.
Mereka memiliki kecantikan dengan kelebihan masing-masing, ia jadi membayangkan ketiganya menjadi istrinya nanti, pasti setiap hari ia senang lahir batin.
"Mending lo keluar dari imajinasi lo itu, gue yakin apapun itu pasti gak bener." sarkas Anika, ia terlalu malas melihat Rey dengan tingkah unfaedahnya.
"Bener kok."
Anika melongos, kakinya melangkah pergi meninggalkan tempat itu, lebih baik ia masuk kedalam kelas kemudian membaca novel pada ponselnya sambil menunggu guru datang.
"Tungguin gue---"
"Rey." cegah Ratu, tangannya memegang lengan kekar pemuda itu "gue mau ngomong sesuatu."
Rey mengernyitkan dahinya "ngomong apa?" cukup penasaran dengan apa yang akan dikatakan gadis cantik itu.
"Gak disini." jawab Ratu, matanya melirik Emma yang masih berada diantara mereka.
Rey mengangguk setuju, tatapannya kini beralih pada sahabatya "lo kekelas duluan aja."
__ADS_1
"Eh...iya."
"Jadi, lo mau ngomong dimana?"
"Belakang sekolah." jawab Ratu, bibirnya tiba-tiba tersenyum lebar melihat tangannya kini digenggam pemuda itu, telapak tangan besar milik Rey benar-benar hangat ditangannya.
Kakinya melangkah mengikuti pergerakan pemuda didepannya, ia benar-benar tak menyangka Rey menggenggam tangannya sambil berjalan menuju belakang sekolah, padahal ia yang mengajak pemuda itu tapi malah ia yang dituntun menuju ke tempat tujuan.
Mereka berjalan menuju pohon mangga yang kini sudah terlihat, keduanya mendudukkan tubuhnya dibawah pohon itu sambil menatap kedepan.
"Jadi?" tanya Rey tiba-tiba, kepalanya menoleh kesamping, menatap wajah Ratu yang benar-benar cantik.
"Lo tau yang namanya cinta pandangan pertama?" curhatnya, matanya masih menatap lurus kedepan, ia benar-benar tak bisa menatap wajah tampan pemuda disampingnya, kondisi jantungnya tak bisa diajak berkompromi.
Rey terkekeh pelan, jujur ia tak ada maksud mengejek, tapi mulutnya benar-benar tak bisa menahan tawa lebih lama lagi "kenapa?"
Ratu meremas jarinya gugup "ada yang lucu ya?" kepalanya menunduk, mendengar tanggapan dari Rey benar-benar membuatnya malu.
"Maaf." ucap Rey merasa bersalah.
"Gak apa-apa"
"Tapi kalau tertarik pada pandangan pertama gue tau." sahut Rey tiba-tiba. Ratu menolehkan kepalanya, bola matanya menjelajahi manik tajam milik pemuda disampingnya.
"Dan itu lo." sambungnya.
Tubuh Ratu menegang, pernyataan dari mulut Rey benar-benar membuatnya campur aduk. Senang, kaget bahkan semuanya rasanya ia benar-benar merasakan nano-nano, ditambah tatapan hangat dari bola mata Rey benar-benar membuatnya hanyut.
"Gue...gue suka sama lo." ucap Ratu gugup, pandangannya benar-benar tak bisa lepas dari manik tajam milik pemuda itu.
"Gue tau."
"Gue cinta sama lo."
"Gue tau." Rey tersenyum tipis, tangannya terulur menyingkirkan rambut Ratu yang menghalangi pemandangannya, senyumnya semakin lebar melihat jelas wajah cantik gadis didepannya, bahkan rambut panjang gadis itu benar-benar halus, ia benar-benar suka.
.
.
.
.
Bersambung
Hallo guys~jangan lupa tinggalkan jejak ya.
__ADS_1
Ig: siswantiputri3
^^^12-DESEMBER-2021^^^