Antagonis

Antagonis
Chapter 7


__ADS_3

Anika merebahkan tubuhnya pada kasur UKS, matanya terpejam menikmati rasa perih yang mendera perut bagian kirinya, setidaknya ia harus bersyukur rasa sakit itu perlahan berkurang.


"Hidup satu ginjal benar-benar mengganggu."


Ting.


Kedua bola mata ambernya terbuka, tangannya meraih benda persegi panjang yang ada disaku bajunya, bibirnya menampilkan senyum tipis membaca pesan dari seseorang diseberang.


082*********


Semuanya sudah beres bos.


"Tinggal tunggu waktu pulang sekolah."


"Lo mau ngapain pulang sekolah?" tanya seseorang tiba-tiba.


Anika melirik keasal suara, matanya menatap santai pemuda yang kini mulai mendekat kearahnya.


"Traktir lo sama Emma, gue kalah main basket kalau lo lupa."


Rey menghela nafas pelan "gue gak ngerasa menang, lo tiba-tiba pergi padahal kita masih duel."


Gadis cantik itu mendudukkan tubuhnya, tangannya diletakkan pada dada dengan punggung menyandar kedinding "lo unggul 5 poin dari gue itu artinya gue kalah."


"Tapi masih ada waktu buat lo nyetak poin." kekeh Rey.


"Yaudah, lo aja yang traktir gue kalau gitu." finalnya, tak ingin memperpanjang perdebatan tak bermutu ini lagi.


"Loh...loh...kok gitu sih." sangkal Rey tiba-tiba, wajahnya kentara menampilkan raut ketidaksukaan mendengar ucapan gadis didepannya.


Anika mendengus kesal "mau lo apa sih? ini gak terima itu gak terima gak jelas banget lo jadi cowok." decaknya misu-misu.


Pemuda itu tiba-tiba tersenyum lebar hal itu sontak membuat Anika mengernyit bingung "sarap lo ya?" sarkasnya.


"Gue akuin kalau kadang gue emang gak jelas sih, tapi kalau gue suka sama lo itu jelas banget malah." jawabnya dengan nada menggoda, matanya berkedip menatap gadis cantik didepannya.


"Eww...gak usah ngegombal deh mulut lo bau jigong." sembur Anika.


Pemuda itu menghela nafas sabar "lo emang gak bisa diajak romantisan maunya banting-bantingan, gak like loh. Tau gitu gue ngegombal Emma aja."


Anika mengacungkan jari jempolnya "nah cocok tuh kalau lo sama dia, gue dukung. Pepet aja terus kalau perlu jangan sampai kendor."


Ia terkekeh mendengar ucapan sahabatnya, matanya masih setia menatap gadis yang cukup sempurna menurutnya "lo kira dalaman kendor."


Anika mencebikkan bibirnya "urat malu lo kayaknya emang ketinggalan deh, gak ada malunya ngomong dalaman sama gue, heran...."

__ADS_1


"Gak apa-apa, nanti kalau lo jadi istri gue pasti bahas gituan juga." jawab Rey santai.


"Ngimpi lo, ngimpi."


Ia tertawa puas melihat kegondokan gadis didepannya, wajah kesal sahabatnya itu menambah kadar keimutan berkali-kali lipat.


Anika misu-misu sendiri, mulutnya mendumel menyumpah serapahi Rey, ia bahkan tak habis fikir dengan ucapan pemuda itu, selalu saja berhasil membuatnya kesal setengah mampus.


Matanya menatap pintu UKS, ia tak peduli lagi dengan keberadaan Rey, anggap saja pemuda itu memang tak pernah ada. Semuanya tampak hening, hingga tiba-tiba telapak tangan terasa dilehernya, tubuhnya tersentak dengan antenasi kembali menatap Rey.


"Dari dulu kalung lo berhasil mengambil antenasi gue, dan benar...ternyata kalung lo sangat indah."


Ia ikut menatap kalung yang ada dilehernya, kalung itu sudah menemaninya dari kecil "ini cuma kalung biasa, gak ada yang spesial." jawabnya santai.


"Tapi dimata gue ini spesial, seakan hidup lo berawal dari kalung ini." Rey menerawang menatap kalung yang ada pada leher sahabatnya, bibirnya tersenyum melihat keindahan kalung yang ada didepan matanya.


Tak bisa dipungkiri! ucapan Rey membuat otaknya mendadak bingung, apa karena hidupnya yang kacau akhir-akhir ini, makanya ia selalu memikirkan sesuatu yang tak perlu. Biasanya juga pemuda itu selalu berkata asal, tapi kenapa kali ini ia harus repot-repot mengerti maksud ucapan pemuda didepannya.


"Lo cocok pake kalung ini, lo kelihatan tambah cantik." puji Rey dengan senyum semakin lebar.


Anika mengedikkan bahunya acuh "tapi in---"


"Kalian ternyata ada disini."


Antenasi mereka beralih pada Emma yang kini berada di pintu UKS, gadis itu tersenyum manis kemudian melangkahkan kakinya menghampiri Anika dan Rey.


"Gue oke kok."


"Syukurlah kamu gak apa-apa." akhirnya Emma bisa bernafas lega, kondisi sahabatnya ternyata tak seperti yang difikirkan, ia merutuki dirinya sendiri karena memikirkan sesuatu yang tidak-tidak pada Anika.


"Sorry gue lupa ngabarin lo." sahut Rey dengan bibir menampilkan cengiran lebar, sedikit bersalah karena tak menepati janjinya.


"Iya gak apa-apa, aku ngerti kok." Emma tersenyum lembut, dengan tatapan beralih pada Rey.


Pemuda itu menghela nafas lega "untung gue lupa janjinya sama lo, kalau sama Anika udah digorok kali gue."


"Mulai deh, mulai." decak Anika dengan wajah ditekuk.


Rey menampilkan cengiran polos "sorry sorry, kita damai deh, gak baik suami istri berantem tiap hari."


"Eww."


"Gue gak mau menduda karena ngajak lo ribut. Eh...enggak deh, kan gue masih punya Emma, istri kedua." ucap Rey dengan tatapan mengarah pada Anika dan Emma secara bergantian, tak lupa wajah polosnya yang membuat Anika ingin muntah seketika.


"Dengar ya Emma, mulai sekarang lo harus hati-hati sama dia, gue ragu kalau kejiwaannya masih stabil." nasehat Anika sungguh-sungguh.

__ADS_1


Rasanya Emma ingin tertawa melihat tingkah kedua sahabatnya yang menurutnya cukup lucu, tapi lagi-lagi kepalanya mengangguk patuh sebagai jawaban atas pernyataan Anika.


"Lo sadar gak! apa yang lo ucapin itu jahattt." sahut Rey dramatis, wajahnya menampilkan ekspresi terluka.


"Jij-----"


DRING...DRING....


Ucapan Anika terhenti, tangannya meraih ponselnya yang kini berdering nyaring, keningnya mengernyit menatap nama seseorang yang tertera pada layar ponselnya.


"Kak Abian?" monolognya pelan.


"Siapa Abian?"


Pandangannya beralih pada Rey, terlihat pemuda itu menampilkan raut tanya yang kentara.


Ia menghela nafasnya pelan "gue angkat telepon dulu." pamitnya.


"Lo belum jawab pertanyaan gue." cegah Rey, tangannya menahan pergelangan tangan Anika yang akan berjalan menjauh.


"Biarin Anika jawab telepon dulu Rey, kalau udah selesai baru kamu nanya." nasehat Emma.


Mau tak mau Rey akhirnya melepaskan pegangannya, matanya menatap punggung sahabatnya yang mulai menjauh, saat ini hanya satu yang ada difikirannya! siapa Abian? ia bahkan tak pernah tau gadis itu memiliki kenalan bernama Abian.


"Lo kenal siapa Abian Abian itu?" Rey menatap Emma penuh tanya, berharap gadis didepannya mengenal orang yang baru saja disebutkan namanya oleh Anika.


"Aku gak tau Rey."


"Lo yakin? lo kan udah kenal Anika dari kecil." tanyanya lagi memastikan.


"Setau aku, Anika dulu gak ada kenalan yang namanya Abian."


.


.


.


.


Bersambung.


jangan lupa tinggalkan jejak ya guys~jangan lupa like dan komen yaaa~usahakan juga berkomentar yang positif, bukan menjatuhkan author.


See you.

__ADS_1


Ig: siswantiputri3


^^^21-NOVEMBER-2021^^^


__ADS_2