
^^^Rabu 17 November.^^^
Seorang pria mengendarai motor menembus padatnya jalanan ibu kota. Dia adalah Gilbran. Dia tampak sedang terburu-buru menuju sebuah tempat.
Sekitar tiga puluh menit berkendara dia pun sampai di depan Polresta Kupang Kota, dengan tergesa-gesa dia masuk ke dalam gedung. Dia sempat berhenti untuk melihat ponselnya sebelum melanjutkan perjalan.
"Ku rasa ini ruangan" ujar Gilbran dan langsung masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Selamat pagi" sapanya. Namun di dalam ruangan itu tidak ada yang menanggapi sapaan Gilbran.
Para anggota polisi di dalam ruangan itu sibuk dengan urusan mereka, ada yang menelpon, mengobrol, mengurus berkas bahkan ada yang sedang marah-marah.
"Kau sudah datang, ayo ikut aku" Rupanya keadaan itu tidak berlangsung lama karena Gibran di hampiri oleh Rizal.
"Baik pak!"
Rizal membawa Gilbran ke sebuah ruangan. Ruangan itu seperti ruang rapat dan sudah ada tiga orang lainya di ruangan itu.
"Selamat pagi semua" sapa Rizal.
"Pagi pak"
Rizal tersenyum "kalian sudah pasti tahu alasan aku memanggil kalian. Tapi biar ku pertegas lagi. Serana, Hans, pak Sam kalian akan di tugaskan dalam penyelidikan pembunuhan dan penelantaran mayat di Universitas Nusa Cendana" ujar Rizal pada ketiga orang tersebut.
"Baik pak" ujar mereka bertiga bersamaan.
"Dan juga aku akan memasukan seorang lagi ke dalam tim kita" Rizal melirik ke arah Gilbran.
"Apa bapak sudah Gila, dia bahkan bukan anggota polisi" ujar Hans.
"Gilbran adalah saksi penting dalam kasus ini dan pernah bertemu dengan pelaku. Dia akan sangat membantu dalam penyelidikan" ujar Rizal.
"Baiklah pak" ujar Hans agak di paksakan.
"Serena dan pak Sam, mulailah Penyelidiki di Fakultas Hukum" ujar Rizal. "Lalu Hans. Pergilah ke bagian Forensik untuk melihat pemeriksaan barang bukti. Sedangkan aku dan Gilbran akan menuju ke bagian Cyber untuk pemeriksaan CCTV"
__ADS_1
Tim pun bubar dan mulai melakukan penyelidikan masing-masing.
...----------------...
Seorang Wanita berambut pendek sedang sibuk menatap layar komputer di depannya. Tidak sekali pun matanya berkedip.
Wanita dengan name-tag Maria itu adalah seorang anggota polisi bagian Cyber yang telah bekerja hampir sepuluh tahun di Polresta dan sangat berdedikasi terhadap pekerjaannya.
Salah satu buktinya adalah sekarang ini dia sedang menelusuri jejak Korban lewat CCTV. Total ada tiga rekaman dari tiga CCTV berbeda yang di periksa.
Wanita cantik itu tampak serius memperhatikan hasil rekaman CCTV pada hari Jumat 12 November. Rekaman CCTV yang di periksa pertama kali adalah CCTV yang berasal dari Fakultas Hukum.
Rekaman itu menunjukan kondisi parkiran Fakultas Hukum pada hari itu. Sekitar pukul 18:03 terlihat Gilda sedang melambai teman-temannya yang hendak pulang. Lalu kemudian Gilda menunggu sendirian di parkiran. Gilda menunggu cukup lama hingga pada pukul 18:30 tiba-tiba rekamannya mati.
Ria cukup terkejut dengan rekaman yang tiba-tiba mati. "Apa filenya rusak?!" Ria mencoba memutar kembali rekaman CCTV dan dia menyadari sesuatu.
Rekaman CCTV pada pukul 18:30-19:00 tidak ada. Rekamannya seolah terpotong.
"Rekamannya terpotong?" Ria tampak berpikir "ya rekamannya terpotong. Apa pelaku meretas CCTV nya ya?"
Dari rekaman ke dua juga menemukan masalah yang sama, dimana rekaman CCTV tidak merekam aktivitas pada tanggal 12 November pukul 18:30-19:00.
"Aah bukan, ini bukan terpotong tapi CCTV nya sengaja di matikan oleh pelaku" ujar Ria.
"Tapi bagaimana dia mematikan semua CCTV di waktu dan jam yang sama. Apa pelakunya lebih dari satu ataukah?" Lagi-lagi Ria bertanya-tanya.
Ria terus berpikir dan dia sepertinya menemukan jawaban "bukan CCTV nya yang di matikan tapi listriknya yang di matikan oleh pelaku sehingga CCTV mati pada waktu yang berbarengan"
"Pelaku mematikan listrik langsung dari Gardu listrik. Itu dapat menjawab terpotongnya rekaman CCTV pada pukul 18:30 sampai 19:00"
"Pelakunya cukup pintar" ujar Ria kesal.
Dalam kurun waktu selama itu sudah cukup bagi pelaku untuk membunuh dan bahkan membawa korban pergi meninggalkan kampus.
"Pelaku sudah merencanakan semuanya sehingga sulit untuk menemukannya" ujar Ria lalu menghela nafas "Ku rasa aku akan segera menyerahkan laporannya pada Rizal" lanjutnya.
__ADS_1
...----------------...
Rabu siang yang panas setelah berkordinasi dengan pihak Fakultas Hukum. Kini ruangan 2A Fakultas Hukum telah dijadikan ruangan interogasi.
Sasaran interogasi kali ini adalah para teman sekelas Gilda yang memang sengaja di panggil untuk segera di ajukan pertanyaan tentang Gilda.
Tidak hanya teman kampus Gilda penyelidikan juga di lakukan dengan pemeriksaan para saksi yang terdiri dari kenalan korban maupun keluarga. beberapa dari para saksi di minta hadir ke kantor polisi untuk di interogasi. Ada juga yang di temui langsung untuk di interogasi.
Penyelidikan ini mencangkup banyak orang untuk mencari saksi kunci atau mungkin pelaku.
Serena dan pak Sam segera menuju fakultas hukum untuk memulai interogasi kepada teman-teman Gilda. mereka terdiri dari para senior dan teman-teman seangkatan Gilda.
"Baiklah nona Windy, pertanyaan terakhir, apakah korban punya musuh atau setidaknya seseorang yang kau curigai?" tanya pak Sam formal.
"Tidak ada, Gilda orangnya sangat baik, dia tidak mungkin memiliki musuh" jawab Windy yakin.
Semua teman Gilda memberikan keterangan yang cenderung sama dan mirip, bahwa Gilda tidak punya musuh.
Pernyataan dari teman-teman Gilda juga berdasarkan karena memang Gilda di kenal sangat rendah hati dan tidak sombong. Gilda itu seperti tokoh protagonis di ftv Indosiar, yang baiknya keterlaluan.
"Semua orang memberikan keterangan yang cenderung sama, jadi sangat mustahil kalau ini di lakukan oleh musuh atau orang terdekat korban" ujar Serena.
"Benar juga sih, apa pembunuhnya itu benar-benar mengenal Gilda. ataukah pembunuhnya itu membunuh gilda tanpa mengenal siapa itu gilda?" pak Sam bertanya-tanya.
Serena tertawa "maksud bapak ini ulah seorang psikopat?"
"bisa saja kan"
Serena menggeleng "ini kota yang sangat aman, tidak mungkin ada orang gila seperti itu berkeliaran di sini"
"Kota yang aman? aku akan setuju dengan pernyataan mu itu, jika kau mengatakannya lima belas atau dua puluh tahun yang lalu" kata pak Sam sarkastik.
"Baiklah senior" Serena tersenyum.
Bersambung...
__ADS_1