
Anika mengamati bangunan didepannya, bangunan pencakar langit yang didirikan oleh keluarga Axelion. Kakinya melangkah masuk kedalam perusahaan itu, ia tak peduli lagi yang namanya urat malu, daripada ia harus berhadapan dengan nenek lampir! Lebih baik ia menemui langsung sang kepala keluarga.
Alamat yang tak terlalu susah dicari, bahkan diintenet terpampang jelas alamat perusahaan keluarga terpandang itu. Perusahan AX yang bergerak di bidang jual beli online.
"Maaf mbak tuan Renandranya ada?" tanya Anika pada resepsionis.
Wanita berumur 20 tahunan keatas itu mengamati gadis remaja didepannya, matanya menelisik melihat pakaian sekolah yang masih lengkap pada gadis yang baru saja datang.
"Ada keperluan apa ya adek cari pemilik perusahaan ini?" tanyanya.
Anika tersenyum tipis "urusan pribadi mbak, tapi tuan Renandra ada kan? Ruangannya dimana mbak kalau boleh tau?" tanyanya sopan.
Wanita cantik itu tak langsung mengiyakan, apalagi gadis didepannya adalah orang asing yang baru ia lihat, gadis remaja yang ia yakini tak ada hubungan darah dengan sang atasan.
"Adek sudah buat janji sebelumnya?"
Anika berfikir sejenak "sudah kok mbak." alibinya cepat.
Wanita cantik itu mengangguk paham, tangannya menekan tombol panggilan pada seseorang diseberang, ia ingin memastikan sang atasan tak lagi sibuk untuk menerima tamu.
"Halo pak, disini ada gadis remaja yang ingin bertemu bapak."
"....."
"Namanya Anika Ayudhisa---"
"Bilang mbak yang sekolah di SMA Arwana, yang pernah ketemu pas pentas tahunan, yang cantik dan imut serta menawan." celetuk Anika memotong.
Wanita cantik itu menggeleng maklum, ia tak perlu mengulangi ucapan gadis itu karena pasti pemilik perusahaan ini sudah mendengarnya langsung.
"Baik pak."
"Gimana mbak?" serobot Anika setelah telepon itu selesai, jujur ia dag dig dug takut Renandra melupakan dirinya. Apalagi ia berbohong sudah berbuat janji padahal belum sama sekali.
"Saya antar dek keruangan pak Renandra."
Anika tersenyum lebar, bibirnya menghela nafas lega mendengar ucapan wanita cantik didepannya, tanpa membuang waktu ia mengikuti langkah resepsionis ke ruangan Renandra Axelion.
Matanya mengerjap kagum pada interior yang ada diperusahaan ini, bibirnya berdecak tak henti-hentinya sepanjang perjalanan membawanya pada lift yang tak jauh dari tempatnya sebelumnya.
Lantai 3 adalah tujuannya saat ini, kakinya terus mengekori sang resepsionis hingga mereka tiba didepan ruangan dengan pintu berwarna coklat yang terpampang jelas didepan mata.
Tok...tok...tok...
"Masuk."
Sang resepsionis tersenyum tipis, tangannya membuka pintu didepan mempersilahkan dirinya masuk sendirian, sebelum ia benar-benar masuk bibirnya mengucapkan kata 'terimakasih' pada resepsionis cantik didepannya.
__ADS_1
"Makasih."
"Sudah tugas saya."
Anika mengangguk paham, kaki pendeknya memasuki ruangan yang ada didepan matanya, bibirnya tersenyum tipis melihat pria paruh baya yang beberapa hari lalu pernah terjebak percakapan dengannya.
"Hallo tuan Renandra." sapanya ramah.
"Masalah apartemen kan?" tanya Renandra santai, matanya menatap remaja didepannya dengan kunci serta sertifikat apartemen yang sudah ia letakkan diatas mejanya.
"Iya dong."
"Sudah saya urus."
Anika tersenyum lebar, kakinya mendekat pada pria paruh baya itu dengan mata berbinar "hebat, terus mana?" tanyanya dengan tangan tersodor.
"Jalan Mawar nama apartemennya Cendana." jelas Renandra lengkap, berkas itu ia letakkan tepat diatas tangan gadis SMA didepannya.
Anika melebarkan senyumnya, keningnya tiba-tiba mengernyit dengan pertanyaan berkacamuk pada otaknya "ini asli kan?" tanyanya memastikan.
"Tenang saja, itu asli. Keluarga Axelion selalu menepati janjinya."
"Baguslah." celetuknya dengan kepala mengangguk.
"Enak banget berurusan sama orang kaya." monolog Anika pelan, tentu dengan jarak sedekat ini Renandra masih bisa mendengar suara samar gadis didepannya, bibirnya tersenyum tipis dengan kepala menggeleng.
Ia tau remaja itu menipunya, bahkan tanpa harus mengeluarkan uang untuk membeli apartemen pada gadis didepannya masalah anaknya tetap selesai ditangani oleh sekolah, hanya saja ia cukup tertarik dengan pemikiran cerdik gadis itu, jadi! Sebagai apresiasi untuk otak licik gadis didepannya ia tetap memberi apartemen serta sejumlah uang sebagai hadiah.
Renandra tergelak, bibirnya berkedut menahan senyum melihat tingkah polos gadis didepannya, baru kali ini ia bertemu dengan gadis polos berfikiran luas. Benar-benar langkah.
"Kalau begitu saya permisi dulu tuan Re--"
"MAU APA LO DISINI?" teriak seseorang.
Anika membalikkan tubuhnya, matanya menatap santai kebaradaan gadis yang tak asing baginya "apa?"
Ratu menggeram marah, matanya menatap papanya kemudian menatap Anika tajam "mau apa lo kesini?" tanyanya marah.
"Bukan urusan lo."
"Jelas urusan gue, lo dikantor papa gue dan saat ini lo berada diruangan papa gue." sentaknya.
Anika mengedikkan bahunya acuh "gue berhak gak jawab pertanyaan lo kan? Disini gue cuma berurusan sama papa lo bukan sama lo." tekannya.
"LO--"
"Sudah-sudah, mau apa kamu kesini Ratu?" tanya Renandra datar.
__ADS_1
Ratu tersentak, tangannya diremas pelan sebelum kepalanya menatap wajah papanya takut-takut "Ratu butuh uang pa." ucapnya dengan keberanian penuh.
"Uang lagi?"
Ratu mengangguk pelan "mobil Ratu butuh service, tapi uang bulanan Ratu sudah habis karena--"
"Shoppingkan?" potong Renandra dingin.
"Iya pa."
Pria paruh baya itu mengeluarkan cek pada lacinya, tangannya menulis nominal uang yang cukup besar pada selembar kertas ditangannya, tak ingin berlama-lama akhirnya cek itu ia serahkan pada putrinya.
"Sudahkan? Kamu bisa pergi sekarang."
Ratu tersenyum paksa, tangannya mengambil cek yang baru saja disodorkan papanya, memang apa yang ia harapkan? Mereka sekarang cuma dua asing yang kebetulan mengalir darah yang sama, tugas papanya hanya memberi uang dan ia dipihak menerima.
"Makasih pa."
"Hmm."
Ratu meninggalkan ruangan itu sambil mengusap air matanya, bibirnya digigit kasar menahan sesak karena hubungannya dengan papanya semakin menjauh, renggang dan tak memiliki celah untuk kembali seperti semula.
"Gue baru tau kalau percakapan ayah dan anak kayak gitu." celetuk Anika miris.
Renandra tak menggubris, ia kembali duduk pada kursinya mengerjakan berkas yang lumayan menumpuk disana.
Gadis cantik itu mengedikkan bahunya acuh, dengan perasaan riang ia ikut meninggalkan tempatnya sekarang, berjalan santai dengan bibir tersenyum lebar karena keinginannya sudah terpenuhi, untuk urusan ayah dan anak itu ia tak peduli, ia tak mau membuang-buang waktu ikut campur dengan masalah keduanya.
Semua makhluk hidup punya masalah dengan porsi masing-masing, untuk keluar dari masalah itu kita hanya perlu mengandalkan diri masing-masing.
Karena, tak ada yang benar-benar tau serumit apa kisah seseorang selain orang itu sendiri. Mereka mungkin mendengar kisahnya, tapi tak semua orang bisa merasakan sesakit apa kehidupan yang menimpa orang itu.
Hidup itu benar-benar rumit, jika beruntung kita mungkin akan mendapatkan pencapaian dalam hidup, dan jika tidak tentu akan sebaliknya. Begitupun dengan apa yang dialami pemilik nama Anika Ayudhisa, ia tak tau bagaimana akhir dari kehidupannya nantinya.
Akan berakhir baik? Atau kegagalan yang menunggunya, yang dilakukannya sekarang hanya perlu menyiapkan diri menunggu saat itu tiba.
.
.
.
.
Bersambung
Bantu vote, like dan tinggalkan komentar ya~
__ADS_1
Instagram: siswantiputri3
^^^19-JANUARI-2022^^^