Antagonis

Antagonis
Chapter 52


__ADS_3

Anika menghela nafas pelan, percakapannya dengan orang asing itu benar-benar tak membuahkan hasil, jika terus begini ia yakin nyawanya akan melayang cepat atau lambat.


Sekarang pilihannya ada dua, nyawanya yang berakhir atau nyawa orang itu yang berakhir. Tapi sebelum ia berfikir lebih lanjut ia harus tau siapa sosok asing itu?


Wajah tertutup masker dengan lensa dikedua bola matanya yang hanya sebesar titik, bahkan wajah bagian kanan atasnya tertutup tatto hitam pekat, belum lagi hoddie yang setiap saat bertengger pada kepalanya membuat ia tak bisa mengenali orang itu.


Identitasnya benar-benar apik tersimpan, walaupun sudah beberapa kali bertemu tetap saja ia belum bisa mengetahui identitas asli pria itu.


"Gue gak yakin akal sehat gue masih tetap waras kalau kayak gini terus." decaknya malas.


Terbukti sudah berjam-jam kejadian itu sudah terlewat, tapi tetap saja untuk kembali tidur ia harus berfikir 100 kali, ia tak mau waktu tidurnya menjadi boomerang bagi nyawanya untuk melayang ke sisi sang kuasa.


"Ayo Anika, malam ini lo gak perlu tidur. Gue pasti bisa, lagian ini udah jam 03:21 subuh." monolognya menyemangati diri sendiri.


...***...


"Sshh...sial." ringisnya, tangannya berusaha menghentikan aliran darah yang mengalir pada lengan kanannya, luka yang menganga lebar dengan diameter cukup dalam benar-benar mengganggu.


Bibirnya mengumpat kecil, mau tak mau ia harus menutup luka itu, dengan perasaan kesal ia menghampiri lemari yang berisikan kotak P3K miliknya, dengan cekatan ia mengeluarkan benang poliglaktin (Vicryl) yang ada disana, benang yang biasa digunakan untuk menutupi luka robek seperti yang terjadi pada lengan kanannya.


Profesinya yang sekarang membuat ia mau tak mau menyimpan alat medis untuk keperluan hidupnya, luka yang setiap saat bisa didapat karena kehidupannya yang sudah terjerumus pada dunia gelap.


Walau begitu ia tak pernah menyesal melakukan tindakan kriminal ini, lagipula! Tak ada yang benar-benar tau siapa dirinya sebenarnya.


"Padahal luka kayak gini udah biasa, tapi tetap aja masih perih."


Dengan cekatan ia menjahit luka yang menganga lebar pada lengan kanannya, bibirnya sesekali meringis menahan perih saat jarum ditangan kirinya menembus permukaan kulitnya.


"Ini pertama dan terakhir Anika." dinginnya dengan pandangan tajam.


...***...


Bola mata panda cukup menjadi bukti betapa sengsaranya gadis itu terjaga hingga pagi, tubuhnya benar-benar lemas bahkan untuk berjalan saja ia tak sanggup, untung saja sekolah hari ini diliburkan setidaknya ia tak perlu repot-repot berangkat kesekolah dengan kondisinya yang sekarang.


"Lapar." adunya entah pada siapa.


Anika menghela nafas pelan, ia benar-benar harus cepat pindah dari tempatnya sekarang, nyawanya bisa dikatakan berada pada genggaman seseorang, dan ia masih belum rela berakhir begitu saja hanya karena sesuatu yang tak ia mengerti.


TING

__ADS_1


Tangannya meraih benda pipih persegi panjang yang kini tertimbun bantal, matanya menatap deretan kata yang dikirim dari seseorang diseberang.


"Ternyata Rey cukup berguna bagi gue." monolognya pelan.


Pesan singkat yang cukup membuatnya tersanjung, padahal setiap hari minggu pemuda itu datang membawa makanan kerumahnya, tapi kenapa kali ini keberadaan Rey cukup berarti, apa karena pemuda itu datang diwaktu yang sangat tepat?


TING TONG


Ujung bibirnya kembali tersenyum lebar, tubuh yang awalnya lemas kini mulai bugar mendengar lonceng rumahnya yang berbunyi, walaupun sedikit heran karena pemuda itu biasanya langsung masuk! Tapi perasaan bingungnya ia tepis mengingat hanya Rey yang biasa kerumahnya setiap minggu pagi untuk sarapan bersama.


Pintu kayu didepannya ia buka lebar, ujung bibir yang awalnya ceria berganti dengan raut bingung tercetak jelas pada dahi mulusnya "kak Abian?"


"Kamu udah makan?"


Anika menggeleng pelan "kakak gak kerja? Kok kerumah Anika?" tanyanya bingung.


Abian tersenyum tipis, tangannya tersodor menyerahkan kantong hitam yang ada digenggamannya "kakak cuma mau nganter ini, habis itu baru kembali ke rumah sakit."


"Ini apa?" tanyanya, sambil mengintip kantong hitam yang baru saja ia terima.


"Nasi goreng buat sarapan."


Abian terkekeh pelan, tangannya terulur mengacak pucuk kepala gadis didepannya, rasa lelahnya perlahan sirna saat menatap wajah cerah milik Anika "kakak pergi dulu." pamitnya.


"Loh, gak mau sarapan bareng?"


"Udah tadi."


Anika akhirnya mengangguk, tangannya melambai menatap Abian yang sudah berjalan menjauh, dengan perasaan senang pintu rumahnya ia tutup kembali, sekarang saatnya menikmati nasi goreng dari kakak tercintanya.


"ANIKA SARAPAN YUK."


Baru saja kakinya menginjakkan dapur!Tapi suara menggelegar dari ruang tamu membuat ia mengelus dada sabar, suara yang sangat asing keluar masuk keindra pendengarannya.


"ISTRIKU LO DIMANA? YUHUUUU."


Mungkin sekarang ia akan menarik kata-katanya tentang keberadaan Rey yang cukup berarti pagi ini, buktinya ia sekarang kesal mendengar teriakan absurd dari sahabatnya itu.


Rey benar-benar mengganggu ketenangan hidup yang akan ia jalani bersama sepiring nasi goreng yang dibawa Abian "gak ada adab emang."

__ADS_1


"ANI---Eh lo disini toh? Bilang dong dari tadi." Rey dengan santai berjalan pada rak yang berisikan piring, tangannya mengambil 2 piring putih yang ada disana.


"Eh...lo udah beli?" tanyanya tiba-tiba, padahal ia sudah membawa 2 nasi bungkus untuk mereka sarapan berdua, tapi yang ia lihat gadis itu malah sudah siap memakan nasi goreng yang ada didepannya.


"Ini dari kak Abian." jawab Anika.


"Jadi ini?" tanya Rey, tangannya terangkat memperlihatkan nasi bungkus tepat dihadapan gadis didepannya.


"Gue juga makan itu." jawabnya santai.


"Maruk lo." decak Rey, tapi tetap saja ia menyerahkan nasi bungkus yang ia bawa pada sahabatnya dengan ia yang menikmati sarapannya sendiri.


"Yang penting gue kenyang."


Rey mendelik, bukannya pelit! Memang dari awal ia membeli makanan untuknya satu dan untuk Anika satu, tapi kalau gadis itu sudah punya sarapan sendiri tentu ia dengan senang hati memakan sarapan yang dibawanya.


Lagipula ia juga bingung, bisa-bisanya ada keinginan dalam dirinya untuk sarapan bersama dengan gadis itu setiap hari minggu.


"Tapi gue heran, kenapa cowok itu segitunya peduli sama lo padahal kalian baru kenal?" tanyanya.


Anika mengedikkan bahunya, jujur ia tak tau dan tak mau tau, sejauh ini ia masih belum ada niatan menambah beban fikiran baru, dan apa yang diucapkan oleh Rey tak membuat dirinya penasaran.


"Mungkin dia udah anggap gue adik kayak gue anggap dia kakak, rasa peduli terhadap adik tentu tak masalah." jawabnya santai.


"Terserah sih, tapi gue kasih saran! Jangan terlalu tergantung sama seseorang." ucapnya serius.


"Gue tau...bahkan jalinan sahabat sama lo aja gue masih belum sepenuhnya terima." jawab Anika pelan.


.


.


.


.


Bersambung


Semakin kesini semakin bingung cara ngembangin ceritanya~

__ADS_1


^^^02-JANUARI-2022^^^


__ADS_2