Antagonis

Antagonis
Chapter 42


__ADS_3

Ting.


Emma meraih ponselnya yang ada diatas kasur, bibirnya tersenyum lebar membaca nama seseorang yang kini mengiriminya pesan tapi senyum itu hanya bertahan beberapa detik saat ia membaca isi pesan yang kini terpampang jelas.


From: Rey


Lo kesekolah sendiri besok.


"ARGHHHHH...SIALAN."


Emma melempar ponsel yang ada digenggamannya, rambutnya diacak-acak karena terlampau frustasi, ini kedua kalinya pemuda itu tak mau menjemputnya, ada apa sebenarnya?


"Sialan lo Rey." umpatnya pelan.


Bantal yang ada dikasurnya ia lempar asal, malam ini moodnya benar-benar buruk dan ini karena ulah sahabatnya sendiri, ulah Rey seseorang yang sangat ingin ia miliki tapi perlahan menjauh.


Ting.


Pandangannya kembali terarah pada layar ponselnya yang kini kembali berkedip, pertanda adanya pesan lagi, dengan perasaan kesal ia meraih benda pipih itu dari atas lantai, perasaan yang awalnya sudah buruk kini tambah buruk membaca pesan susulan dari Rey.


"ARGGGGHHHH SIALANNNNN..." murkanya.


From: Rey


Gue mau jemput Anika sama Ratu jadi kali ini gue gak jemput lo dulu, okey.


...***...


Anika bersenandung ria, tangannya mengoleskan cream wajah pada permukaan kulitnya, bibirnya masih menampakkan senyum tipis sedari tadi.


"Tips ampuh menggaet hati gebetan yaitu harus good looking." monolognya pelan.


Jerawat kecil serta wajah berminyak harus segera ia musnahkan, fitur wajahnya sudah cukup sempurna ia hanya perlu membersihkannya dari kuman dan virus-virus tak berperasaan agar terlihat lebih menawan.


"Gak apa-apa cream murahan yang penting cocok sama muka dan kantong gue." tutur Anika.


Setelah cream yang dipakai sudah merata sempurna saatnya ia membaringkan tubuhnya diatas kasur, hawa sejuk yang menjalar pada kulit wajahnya benar-benar membuatnya nyaman, mulai sekarang ia akan memakai produk itu untuk kedepannya.


"Tapi tetap aja gue gak ngerasa ngantuk."


BRUK


Ia tersentak, tubuhnya kembali bangkit setelah mendengar adanya benda jatuh dari luar kamarnya, tanpa rasa takut ia berjalan tergesa-gesa menuju keributan yang baru saja tercipta.

__ADS_1


"Kosong." Anika semakin bingung, tak ada siapapun dari luar kamarnya, bahkan ia sempat mengecek dari ruang tamu tapi tetap saja nihil, bahkan tak ada barang-barang yang jatuh.


Lalu dari mana suara itu berasal?


Tak mau berfikir negatif akhirnya ia memilih kembali ke kamar, Baru saja kakinya memasuki kamar bernuansa hijau itu otaknya kembali dibuat bingung melihat ruangan yang dipijaknya kini mendadak gelap gulita, padahal malam ini tak mati lampu bahkan ia masih sangat sadar tak mematikan lampu kamarnya saat keluar dari sana, atau jangan-jangan lampunya putus?


Ceklek.


Tubuh Anika menegang, bukan karena lampu kamarnya yang tiba-tiba menyala! Tapi karena adanya orang asing yang kini berdiri santai tepat didepannya. Bahkan jarak mereka hanya sejengkal tangan.


Aroma maskulin dari pria didepannya sangat jelas menusuk indra penciumannya, kepala Anika mendongak menatap wajah yang terhalang masker dengan tatto yang memenuhi pinggiran matanya, manik biru dengan pandangan menusuk tepat menatap kearahnya.


"Hai babbe."


Kedua bola mata Anika membulat, ia sangat mengenali suara itu, suara dari seseorang yang begitu dibencinya, ia yakin sepenuhnya orang ini adalah orang yang sama dari dalang penculikan dirinya waktu itu.


"Mau apa lo kesini?" tanya Anika sarkas.


"Ck..ck..ck gak usah kasar-kasar, gak baik buat tenggorokan lo." serunya lembut, tangannya terangkat berniat membelai pipi lembut dari gadis didepannya.


"Jangan sentuh gue sialan." tepisnya, matanya menatap tajam pria didepannya, ia tak peduli lagi dengan rasa takut yang sempat singgap dihatinya.


"Oke-oke."


Pria itu terkekeh, bahkan Anika sendiri bingung mendengar tawa yang seharusnya tak ada, menurutnya tak ada yang lucu bahkan perkataannya tak mengandung unsur guyonan, tapi kenapa pria didepannya tiba-tiba mengeluarkan tawa.


"Lo sebenarnya siapa?" tanyanya lagi, bibirnya mengeluarkan nafas pelan menghalau degup jantung yang mulai tak beraturan.


"Gue bisa jadi siapapun."


"Lo emang bedebah sialan, PERGI LO DARI SINI." murka Anika wajahnya memerah menahan kesal yang sejak tadi menumpuk.


Pria itu terkekeh, detik berikutnya punggung Anika terhantam pada dinding kamar dengan leher dicekik erat, deru nafasnya tersendat karena pasokan oksigen terhalang masuk.


"Ishhh...le--pas."


"Lo gak berhak merintah gue." jawabnya dingin, pandangannya menghunus tepat pada dua manik sayu milik Anika.


"Gu--e gak bi--sa na--fas." lirih Anika, tangannya mencoba menyingkirkan telapak tangan besar yang kini masih bertengger manis pada lehernya, bahkan ia bisa merasakan cekikan itu semakin erat "le--pas gu--e mo--hon."


"Oke." tangannya terlepas dari leher gadis didepannya, bibirnya menyeringai melihat gadis yang awalnya kasar kini sudah tak berdaya.


Dengan kasar Anika meraup oksigen sepuasnya, tubuhnya menyandar pada tembok karena mendadak lemas, nyawanya benar-benar akan melayang jika tangan itu tak segera menyingkir dari lehernya, dengan nafas yang masih tak beraturan ia mencoba menatap wajah pria didepannya yang masih terhalang masker.

__ADS_1


"Lo punya masalah apa sama gue?"


"Gak ada." jawab pria itu santai.


"Kalau gitu ngapain lo ganggu hidup gue, harusnya lo gak nampakin wajah lo setelah apa yang udah lo lakuin." nafas Anika memburu, bahkan setelah mengeluarkan unek-uneknya hatinya masih terasa sesak.


"kalau gitu gue bakal akhiri semuanya." Pria itu mengeluarkan pisau dari dalam bajunya, kakinya mendekat pada Anika yang sukses menahan nafasnya.


"Jangan macam-macam." perintahnya.


"Gue cuma satu macam." seringainya.


Anika memejamkan matanya kepalanya menoleh kesamping dengan ujung pisau yang menyentuh permukaan lehernya, nafasnya semakin memburu saat hawa dingin dari benda runcing itu terasa menembus lehernya.


"Ini gak akan sakit kok." ujarnya lembut.


Anika tak tau lagi harus melakukan apa, tubuhnya terasa mati rasa dengan kaki tak bisa digerakkan, anggota tubuhnya mendadak tak berfungsi disituasi genting seperti sekarang, bahkan bergerak seinci saja ia takut, takut pisau itu semakin menembus kulit lehernya.


"Nah, sudah."


Suara bas dari pria didepannya menyadarkan kinerja otaknya, matanya terbuka menatap pria didepannya yang mulai menjauh, tubuhnya ambruk menahan lemas yang kian menyiksa, tangannya bergetar menyentuh kulit lehernya yang sedikit mengeluarkan darah.


"Gue udah bilang cuma satu macam, gue pergi dulu! Have a nice dream babbe."


Bahkan setelah kepergian orang itu tubuhnya masih bergetar, rasa takut masih saja menghantui tubuhnya, Anika memejamkan matanya mencoba menetralkan nafasnya agar kembali normal "dia gak waras."


Anika menghembuskan nafasnya kasar, dengan susah payah ia bangkit dari duduknya "gue benar-benar gak bisa selamat kalau gini terus."


"Lo ternyata mau bunuh gue Emma."


.


.


.


.


Bersambung


Bantu cerita ini dengan cara tinggalkan jejak, klik tombol like, vote dan tulis komen supaya makin semangat lanjutinnya.


^^^24-DESEMBER-2021^^^

__ADS_1


__ADS_2