Antagonis

Antagonis
Chapter 53


__ADS_3

Libur sekolah memang waktu yang pas untuk berleha-leha, tentu Anika dan Rey tak mungkin menyia-nyiakan kesempatan ini jadi yang mereka lakukan sejak tadi hanya duduk bersantai pada sofa diruang tamu dengan cemilan yang sudah berjejer rapi didepan mata.


Bahkan untuk mandi saja gadis cantik itu terlalu malas, waktu paginya terlalu berharga jika harus melakukan rutinitas mandi yang memakan waktu beberapa menit.


"Sekarang jam berapa?" tanya Rey tiba-tiba, matanya melirik kearah Anika dengan mulut yang terus mengunyah Taro.


"Liat aja sendiri, tuh hp lo ada diatas meja."


Rey berdecak malas, mengambil hp yang ada diatas meja terlalu membuang-buang waktu, lebih baik ia bertanya tanpa harus bergerak seincipun "jauh."


"Apaan jauh, lo tinggal sodorin tangan lo, hp lo tepat didepan lo ya, bukan dimeja sekolah." sewotnya.


"Tangan gue gak nyampe, kurang panjang."


"Yaudah tinggal balik badan, dibelakang lo juga ada jam dinding." timpal Anika berusaha sabar.


"Gak bisa, leher gue kaku badan gue juga." jawab Rey santai.


Sudah cukup, menghadapi kemalasan Rey yang hakiki benar-benar menguras tenaga, ia tak mau lagi menanggapi ucapan pemuda itu "lo hidup cuma nyusahin gue tau gak." sarkasnya.


"Dasar istri durhaka."


"Alah."


TING


Bunyi pesan yang masuk kedalam benda pipih persegi panjang yang ada diatas meja menghentikan perdebatan mereka, tangan Rey mengambil ponsel miliknya yang kini berkedip sesaat, menandakan adanya pesan masuk.


Deretan kata yang berhasil mengambil antenasinya membuat tubuhnya sedikit tergerak, ia bangkit dari duduknya matanya melirik Anika yang menatapnya dengan pandangan tanya.


"Gue ada urusan, gue pergi dulu." pamitnya.


"Oke."


"Kalau ada apa-apa kabarin gue."


Seperti biasa! Sebelum pemuda itu pergi ia selalu memberi wejangan pada gadis yang kini duduk anteng diatas sofa, ia terkadang was-was meninggalkan gadis itu sendiri, padahal hari sudah menjelang siang, mustahil ada orang jahat yang beroperasi disiang hari, tapi tetap saja rasa khawatir tetap ada apalagi mengingat tempat tinggal gadis itu terhimpit diantara dua rumah kosong.


"Hati-hati, kalau ada belokan lurus aja." titah Anika dengan suara sedikit keras.


"OKE." balas Rey lantang, kepalanya sedikit menoleh dengan jempol terangkat sebelum meninggalkan rumah sahabatnya itu.

__ADS_1


Anika terkekeh pelan sebelum bangkit dari duduknya, tangannya mengumpulkan bungkus cemilan yang kini sudah berserakan memenuhi meja ruang tamunya, rutinitas yang selalu ia lakukan saat pemuda itu berkunjung ke rumahnya.


15 menit melakukan kegiatan yang cukup melelahkan membuat keringat pada tubuhnya berlomba-lomba keluar, bibirnya tersenyum tipis melihat ruangan itu bersih tanpa adanya pembungkus berserakan.


"Sekarang gue harus mandi, terus kekediaman Axelion mengambil hak gue." monolognya riang, ia sudah tak sabar menerima sertifikat apartemen yang pria paruh baya itu janjikan.


Semakin cepat maka semakin baik, dengan begitu ia juga bisa menjual tempat tinggalnya sekarang kemudian pindah keapartemen barunya.


...***...


"Apa?"


Emma memegang kedua tangannya gugup, ia tak berani menatap pemuda didepannya padahal ia sendiri yang memohon agar pemuda itu datang kesini, ketaman yang ada didekat kontrakannya.


"Lo kenapa nyuruh gue kesini?" tanya Rey lagi, nada dingin yang awalnya keluar kini mulai melunak walaupun ada rasa kesal karena kelakuan gadis itu! Tapi tetap saja ia tak tega melihat sahabatnya yang terlihat takut bertemu dengannya.


"Kamu masih marah?" tanyanya pelan.


Rey menghela nafas pelan "gue gak marah, gue cuma gak nyangka lo bisa kayak gitu ke Anika, gue sedikit kecewa sama sikap lo yang berubah drastis."


"Maaf, aku tau aku emang salah, aku juga gak ngerti kenapa aku bisa kayak gitu, mungkin ini karena efek kepala aku yang cedera, makanya gak bisa berfikir jernih." jelasnya pelan, kepalanya masih menunduk menatap kakinya yang berpijak pada tanah.


"Emang kepala lo kenapa?"


"Ada orang yang didendam sama aku, sebelum aku keruangan pentas ada orang yang labrak aku, aku gak tau salah aku apa, tiba-tiba kepala aku dibenturin ketembok." jelasnya lirih "mungkin karena itu aku lampiasin rasa sakit aku ke Anika, maaf Rey..."


Rey mengepalkan tangannya, bahkan saat sahabatnya terkena masalah ia tak tau, tangannya terulur memegang kedua bahu gadis didepannya "siapa yang lakuin ini sama lo?"


Emma menggelengkan kepalanya pelan "aku gak tau, dia pake masker sama jaket, bahkan aku gak tau dia perempuan atau laki-laki."


Rey menatap perban yang ada dikepala Emma dengan pandangan nanar, tangannya terangkat mengelus perban itu secara perlahan "sakit?" tanyanya lembut.


"Sakit..." cicitnya pelan.


"Maaf gue gak tau, tapi lain kali lo jangan kayak gitu ke Anika, gue gak mau dia tertekan karena kelakuan lo, untung semuanya udah selesai." jelas Rey.


Emma mendongak, bibirnya menampilkan senyum paksa bahkan pada saat seperti ini gadis itu selalu ada dipikiran Rey, entah apa yang diperbuat Anika hingga Rey peduli sampai segitunya "iya...aku minta maaf." jawabnya dengan raut bersalah.


Ujung bibir pemuda itu terangkat, menampilkan senyum menawan pada gadis didepannya, tangannya terjulur meraih tubuh gadis itu pada dekapannya, tangannya sesekali mengelus punggung sahabatnya pelan "oke, gue maafin."


"Makasih Rey." jawab Emma lembut, tangannya ikut membalas pelukan dari sosok yang sudah merenggut hatinya, kepalanya terbenam pada dada bidang sahabatnya.

__ADS_1


Nyaman! Itulah yang menjadi perwakilan perasaan Emma untuk sekarang, walaupun Rey saat ini melihatnya tak lebih dari sahabat, tapi ia yakin cepat atau lambat status mereka berdua akan berubah, menjadi 2 orang yang saling mencintai.


"Lapar gak?" tanya Rey setelah tangannya sudah terbebas dari tubuh Emma, matanya menatap wajah damai gadis didepannya.


"Lapar." jawab Emma dengan polosnya.


Rey terkekeh pelan, tangannya menepuk pucuk kepala Emma pelan kemudian membawa tangan gadis itu meninggalkan taman yang masih terlihat cukup sepi.


Sekarang mereka sudah baikan dan ia cukup senang gadis itu menyadari kesalahannya, sekarang persahabatan mereka sudah membaik ia tak perlu lagi mengkhawatirkan status persahabatan mereka yang sempat renggang.


"Lo mau makan apa?" tanya Rey disela langkah mereka.


Emma sedikit berfikir, keningnya mengernyit menimbulkan guratan samar pada permukaan dahinya "gak tau."


"Gak ada makanan gak tau Emma." sela Rey, kepalanya menggeleng mendengar ucapan gadis disampingnya yang tak pernah berubah, padahal menurutnya menjawab pertanyaan seperti itu sangat mudah.


"Terserah kamu aja deh." final Emma.


"Bukan gue yang makan masa terserah gue." jawabnya tak habis fikir.


Emma menghentikan langkahnya, raut bingung kentara pada mimik wajahnya "kamu gak ikut makan?" tanyanya cepat.


Rey menggeleng pelan "gue udah sarapan sama Anika, perut gue masih kenyang jadi lo aja."


"O--oh oke."


.


.


.


.


Bersambung


Makasih yang udah setia ngikutin cerita absurd ini~ like, vote dan komennya ditunggu.


Ig: siswantiputri3


^^^03-JANURI-2022^^^

__ADS_1


__ADS_2