Antagonis

Antagonis
Chapter 6


__ADS_3

Rey melirik arlojinya, pandangannya kini terarah pada Anika dan Emma "jam terakhir dikelas kosong, kelapangan basket aja kuy."


"Ayo, aku juga udah lama gak liat kalian main basket, kapan-kapan ajari aku ya." pinta Emma dengan senyum merekah.


Rey mengacungkan jari jempolnya kemudian melirik gadis cantik disampingnya. Belum sempat Anika menolak tangannya sudah diseret paksa oleh Rey, bibirnya mendengus menatap kesal punggung pemuda yang ada ada didepannya.


"Jalannya bisa pelan-pelan dikit gak? lo gak sadar apa neyeret cewek cantik kayak gue." sewotnya dengan kaki berlari kecil menyamakan langkah panjang milik pemuda itu.


"Tinggal ngikut aja ribet amat sih, Emma aja jalan sendiri gak protes, lo udah dipeganging sama cowok ganteng kayak gue masih aja gak bersyukur."


Anika memutar bola matanya, bibir tipisnya mendumal tak jelas, tak lupa tatapan kesal ia tujukan pada pemuda didepannya.


"Rey pelan-pelan jalannya." sahut Emma tiba-tiba, nafasnya sudah memburu mengejar langkah lebar milik sahabatnya.


"Tau nih, kayak dikejar rentenir aja." timpal Anika ngegas.


Setelah ia puas mengumpat dalam hati akhirnya mereka bertiga sudah sampai pada tempat tujuan, matanya mengamati anak basket yang tampak beristirahat dibagian pojok lapangan, keningnya mengernyit sedikit bingung karena tak biasanya lapangan basket sesepi ini.


Rey menjentik kening Anika "hidup lo ribet amat, lapangan sepi aja lo fikirin."


Kedua mata amber itu membola, pandangannya beralih pada Rey dengan tatapan mengintimidasi "lo cenayang yah? kok bisa tau isi otak gue."


"Gue kan suami lo, kita udah terikat jadi gue tau isi otak lo, bahkan isi hati lo gue juga tau." Rey menepuk dadanya bangga, pandangannya menatap pongah gadis didepannya.


"Kamu ada-ada aja Rey." timpal Emma dengan kepala menggeleng.


Rey menampilkan cengiran lebarnya, rambutnya disisir kebelakang dengan gaya sombong "yang penting gue ganteng."


"Ilih, muka kek dugong aja bangga." ejek Anika dengan senyum remeh.


"Dugong-dugong gini banyak yang ngincar kalau lo mau tau."


Anika mendengus, bibirnya terkatup tak ingin memperpanjang pembahasan tak penting ini, buang-buang tenaga dan fikiran.


"Lo duduk disana aja dulu, kalau kondisi lo udah benar-benar fit nanti gue ajarin main basket." titah Rey tiba-tiba.


"Ayok." Anika memegang tangan Emma, baru saja kakinya ia langkahkan menuju bangku penonton tiba-tiba rambutnya ditahan oleh seseorang dari belakang.


"Lo mau kemana?"


Gadis cantik itu menghela nafas pelan, kepalanya memutar menatap Rey dengan wajah ditekuk.

__ADS_1


"Sakit tau gak." dumelnya misu-misu.


"Lagian lo asal pergi aja." jawabnya, dengan tangan merapikan rambut gadis cantik yang hanya setinggi dadanya.


"Kan lo nyuruh, iya kan Emma?" ucap Anika dengan pandangan menatap Emma mencari pembelaan, seolah setuju dengan gadis disampingnya akhirnya ia menganggukkan kepala pelan.


"Gue nyuruh Emma bukan lo, lagian yang gak tau main basket cuma Emma, lo kan jago."


"Gue gak mau, males."


"Gak ada males-males, udah lama juga lo sama gue gak main basket, jadi mumpung anak basketnya istirahat kita sikat aja, lo sama gue duel." perintah Rey tanpa ada bantahan.


"Tapi---"


"Lo duduk disana ya." titah Rey lembut, lagi-lagi Emma hanya mengangguk setuju dengan senyum tipis terpatri pada bibirnya.


Anika menghela nafas pelan, sepertinya sedikit bermain basket tak akan membuatnya mati muda. Setelah cukup lama berdebat dengan hati dan fikiran akhirnya ia melangkahkan kakinya menuju ketengah lapangan.


Ia dan Rey sudah berdiri secara berhadapan, bola orange kini dipegang oleh pemuda didepannya, mata mereka menajam menatap satu sama lain.


"Lo udah siap?"


Anika mengangguk pelan, detik berikutnya tangan Rey sudah memantulkan bola basket itu dengan lihai. Dengan gesit ia berhasil melewati tubuh sahabatnya, langkah kakinya semakin ia lebarkan dengan mata yang sudah membidik kedepan untuk segera mencetak skor.


Berhasil, skor pertama ia dapatkan dengan sangat mudah, wajahnya menatap Anika dengan pandangan mengejek.


"Permainan lo menurun drastis."


Anika meletakkan tangannya didepan dada "itu cuma pemanasan, lo jangan sombong dulu."


"Oh ya? gue harap juga kayak gitu." Jawab Rey dengan senyum remeh.


Gadis cantik itu mencebikkan bibirnya, matanya menatap kesal pemuda yang kini berdiri angkuh didepannya. Padahal ia tak berniat serius bermain, tapi melihat tingkah pongah sahabatnya malah membuatnya kesal setengah mati.


"Gak usah menggonggong deh, ayo mulai lagi." tantang Anika, semangatnya kini menggebu-gebu, ia tak ingin memberi kendor pada pemuda itu.


"Okey." Rey dengan santainya melemparkan bola orange itu pada Anika.


"SEMANGAT REY, ANIKAAAA." teriak Emma dari podium.


Duel antara Anika dan Rey berlanjut, tak ada yang ingin mengalah diantara mereka, dengan gesit tubuh mereka memantulkan bola orange yang tampak nyaman ditangan mereka seakan bola itu sudah menempel pada telapak tangan keduanya, mereka saling mengejar dan saling mempertahankan bola jika sudah berada ditangan salah satunya.

__ADS_1


Kelihaian permainan Anika dan Rey mengundang beberapa pasang mata dari anak basket yang ada dilapangan, awalnya semuanya tampak sempurna, tapi setelah permainan sudah berjalan 45 menit tiba-tiba permainan itu cacat sebelah.


Langkah Anika tiba-tiba melambat, bibirnya meringis menahan perih pada perut bagian kirinya, keringat dingin bahkan sudah mengalir dari pelipisnya.


"Gue capek, anggap aja lo menang." sahutnya tiba-tiba, kakinya meninggalkan tempat itu tanpa memperdulikan lagi duel antara mereka yang masih berlanjut.


Rey yang akan mencetak poin tambahan akhirnya berhenti, bola basket yang ada ditangannya sudah menggelinding entah kemana, matanya menatap punggung Anika yang kian menjauh.


"Anika kenapa?" tanya Emma yang kini sudah berdiri didepannya.


"Lo ke kelas duluan aja." perintah Rey.


"Tapi aku khawatir sama Anika." jawab Emma pelan.


"Dia gak apa-apa, lo duluan aja ke kelas, gue aja yang nyusul Anika kalau ada apa-apa pasti gue kabarin."


Emma terdiam beberapa saat, pandangannya beralih pada pemilik mata teduh didepannya, detik berikutnya bibirnya tersenyum manis dengan kepala mengangguk.


"Kalau ada apa-apa kabarin aku ya."


"Pasti."


"Kalau gitu aku kekelas dulu, bay..."


Rey tersenyum tipis, tangannya membalas lambaian Emma, setelah dirasa gadis itu sudah menghilang! buru-buru ia melangkahkan kakinya mencari keberadaan gadis cantik itu.


Tak bisa dipungkiri ada rasa khawatir yang merambat pada hatinya, tak biasanya sahabatnya itu mengeluh capek secepat ini, selama mereka saling mengenal baru kali ini ia mendapati gadis itu mengeluh hanya karena bermain basket selama 45 menit.


"Lo pasti baik-baik aja kan." monolog Rey pelan.


.


.


.


.


Bersambung.


Jangan lupa like dan komen banyak-banyak ya guys~usahakan tinggalkan komentar yang positif bukan menjatuhkan author supaya lebih semangat nyari inspirasi buat lanjutin.

__ADS_1


Ig: siswantiputri3


^^^20-NOVEMBER-2021^^^


__ADS_2