
"Mau kamu apalagi? Kasian Ratu, dia udah nerima konsekuensinya dengan menahan malu, kamu jangan memperumit semuanya." bela Emma, ia sudah tak peduli menurutnya tindakannya sudah benar.
Anika mendengus "lo benar, tapi itu hanya konsekuensi karena tindakan dia yang melakukan aksi plagiat, gue juga berhak memberi ganjaran karena yang diplagiat adalah puisi gue belum lagi teriakan dia yang bilang gue maling padahal dia sendiri yang maling."
Semua orang larut dalam perdebatan dua remaja itu, tak ada yang menyela ataupun melakukan aksi protes, bahkan sebagian dari mereka menikmati adu argumen ini, melihat orang berseteru memang pemandangan yang memuaskan.
Emma berdesis, ia paling benci semua ucapan gadis didepannya, apapun yang dikatakan Anika menurutnya salah dan ia tak pernah sudi mengakui kebenaran yang keluar dari mulut gadis itu.
"Ratu gak salah menurut aku dia cuma terinspirasi dari puisi kamu, bukan plagiat puisi kamu."
Anika terkekeh pelan, ia benar-benar tak habis fikir dengan isi otak Emma, bahkan masalah sesimpel ini tak bisa ia bedakan, sekarang ia ragu kalau gadis itu benar-benar pintar "kayaknya gue bakal jelasin sama lo perbedaan plagiat dan terinspirasi deh, plagiat adalah tindakan menjiplak karya orang lain dan menjadikannya sebagai karya sendiri, sedangkan terinspirasi adalah menjadikan karya orang lain sebagai pakem atau standar baku yang menjadi acuan untuk membuat karya sendiri. Sampai disini lo paham gak?"
"Aku---"
Anika tiba-tiba tersenyum remeh "oh enggak ya, kalau gitu otak lo yang harus dibenarkan."
Emma mengepalkan tangannya, emosinya memuncak mendengar penghinaan dari Anika "kalau gak mau puisi kamu dijiplak makanya jangan buat puisi." sarkasnya.
Ratu membola, gadis disampingnya benar-benar sudah kehilangan akal, ia berniat menarik gadis itu keluar dari ruangan tapi yang didapat malah tepisan kasar pada tangannya.
"Jangan ikut campur." bisik Emma marah.
Oke, sekarang ia angkat tangan perbuatan Emma juga bisa menutupi masalahnya dengan Anika, dengan santai ia mundur beberapa langkah, menyaksikan adu argumen yang dilakukan kedua sahabat karib itu, ia hanya berharap! Semoga mereka menciptakan masalah yang lebih besar.
"Lucu ya, sekarang lo salahin gue karena buat puisi, dunia kayaknya emang aneh---eh nggak, tapi pemikiran lo yang aneh." ejeknya.
Wajah Emma kian memerah, Anika benar-benar mempermainkan emosinya "kalau kamu gak buat puisi gak ada yang namanya plagiarisme."
Anika susah payah menahan tawanya, apalagi mendengar ucapan blak-blakan dari gadis itu, bahkan ia ragu Emma masih sadar akan ucapannya "lo serius nyalahin gue? Lo segininya bela aksi plagiat?"
Dengan santai gadis cantik itu turun dari atas panggung, kakinya berjalan mendekat kehadapan Emma, sebelum ia melakukan aksi lebih lanjut pandangannya mengarah pada semua penghuni yang ada diruangan ini.
__ADS_1
Tak ada yang berniat melerai, ia semakin yakin mereka sedang menikmati tontonan gratis yang ia ciptakan, bahkan guru dan kepala sekolah sekalipun masih tak bergeming dari tempatnya, sepertinya bukan pemikiran Emma yang bermasalah tapi mereka juga.
Anika kembali memusatkan pandangannya pada Emma, matanya melirik gelang emas yang tertangkap indra penglihatannya tanpa ba-bi-bu ia merampas gelang itu dari tangan gadis didepannya.
SRET.
"Kamu....DASAR PENCURI." teriaknya marah, tangannya terjulur ingin mengambil gelang yang susah payah ia dapatkan tapi Anika selalu menghindar dengan lihainya.
"Tenang-tenang, gue cuma mau lurusin pemikiran lo doang." titah Anika pelan.
Tatapan Emma masih nyalang tapi kondisi tubuhnya sudah bisa ia kontrol, tak ada lagi aksi rebut merebut antara ia dan Anika, kaki jenjangnya perlahan mundur beberapa langkah memberi jarak antara mereka berdua.
"Sejak tadi ucapan lo seakan dukung aksi plagiat kan? Kalau lo mau tau plagiat sama aja pencuri, entah lo masih gak tau atau lo ada dendam sama gue, makanya ucapan gue seakan salah diartikan oleh isi otak lo." sahut Anika.
"Kamu---"
"Kalau lo segitunya gak permasalahin orang plagiat harusnya lo jangan permasalahin orang yang mencuri." sambungnya santai.
Bola mata ambernya menatap Emma datar, ia menunggu penolakan dari mulut gadis itu tapi yang ia dapat malah kebungkaman dari mulut yang sejak tadi membantahnya.
Emma memejamkan matanya, pandangannya tanpa sadar terarah pada seisi ruangan, hampir semua tatapan mencemooh kearahnya, tak ada lagi tatapan lembut dan bersahabat seperti biasanya dan itu membuatnya sadar bahwa tindakan yang dilakukannya salah.
Ia benar-benar merutuki mulutnya yang bertindak gegabah karena sudah terpancing oleh ucapan Anika, harusnya ia bisa menahan diri, emosinya yang labil benar-benar menciptakan kepribadian buruk pada dirinya sendiri.
"Emma."
Panggilan dari seseorang yang sangat asing ditelinganya membuat kepalanya menoleh, raut tak terbaca dari wajah Rey menjadi hal pertama yang ia lihat.
"Gue gak pernah tau kalau isi otak lo sedangkal itu."
Jantungnya seakan diremas, ucapan yang terbilang santai dari pemuda disampingnya cukup membuatnya sesak, netranya mencoba menatap manik hitam dari kedua bola mata sahabatnya.
__ADS_1
DEG.
Tenggorokannya seakan kering, tak ada lagi tatapan lembut dari pemuda itu, untuk pertama kalinya Rey menatapnya dengan pandangan dingin, sekarang ia sadar! Aksi gegabahnya membuat pemuda itu perlahan menjauh.
"Aku----"
"Gue minta maaf Anika." potong Ratu, kakinya mendekat pada gadis itu, kedua bola matanya menatap serius manik amber milik Anika dengan raut bersalah.
"Gue tau gue salah, gue akuin puisi itu punya lo, maaf gue udah plagiat puisi lo." matanya terpejam beberapa detik, helaan nafas berulang-ulang ia lakukan sebelum menatap wajah datar Anika.
"Lo sendiri yang bilang kan! Orang yang bekerja dipemerintahan bisa buat salah padahal mereka sudah terpelajar, dan sekarang gue akuin gue emang salah, bagaimanapun gue masih remaja labil, masih seorang pelajar yang mencari jatih diri dengan cara bersekolah...gue minta maaf."
Anika masih bungkam, bukan tak tau ingin melakukan apa! Hanya saja ia sedang menunggu ucapan apa yang akan dikeluarkan dari mulut sang primadona sekolah.
"Tapi disini gue bingung, kenapa Emma segitunya dukung gue yang plagiat puisi lo, padahal udah jelas gue salah, jujur gue khilaf dan gak sadar udah lakuin itu, jadi sekali lagi gue minta maaf...tapi kenapa Emma yang jelas-jelas sadar bisa bicara kayak gitu?" tanyanya lirih.
Suara riuh kembali terdengar, penghuni ruangan yang awalnya bungkam mulai mengeluarkan pendapat masing-masing, Emma mengepalkan tangannya Ratu benar-benar sukses menanam bara pada kondisinya, sekarang ia yakin kesalahan yang awalnya berada dipundak sang primadona sekolah berhasil dilimpahkan kearahnya.
.
.
.
.
Bersambung
Yang udah ngikutin ceritaku makasih banyak-banyak ya, semoga kedepannya masih mau tunggu kelanjutan cerita ini.
See you
__ADS_1
Ig: siswantiputri3
^^^28-DESEMBER-2021^^^