
"Rey."
"Hmm."
"Gue mau nanya." ucap Anika serius.
"Apa?"
"Lo sebenarnya mau sampai kapan nyeret gue? Ini udah 30 menit loh gue digiring kayak gini." bahkan bajunya sudah kotor karena debu yang menempel sejak tadi.
Rey menghentikan langkahnya, tubuhnya berbalik menatap sahabatnya yang kini tertidur menyentuh lantai koridor, sebenarnya ia hanya melakukan hal random karena penghinaan gadis itu.
Ia tak tau harus membalas apa pada gadis cantik ini "kok lo gak bilang dari tadi sih?"
Anika memutar bola matanya malas, ia tak habis fikir dengan isi otak sahabatnya "gue udah berontak ya, bahkan gue juga udah salto-salto tapi lo masih gak nyadar."
Rey mendesah pelan "capek banget gue, malah badan lo berat lagi." ocehnya dengan nada menghina.
"Lagian siapa juga yang nyuruh lo nyeret gue kesana-kemari lewatin tujuh turunan, sepuluh tanjakan dan dua puluh belokan." jawabnya asal.
"Karena gue orangnya ganteng lo gue maafin." sahutnya dengan nada bangga.
Gadis cantik itu mengernyit kemudian menggeleng beberapa kali seraya membersihkan seragam sekolahnya karena bakteri yang sudah menumpuk.
"Emma mana?" tanya Rey tiba-tiba, kepalanya celingak-celinguk mencari salah satu sahabatnya yang tak kunjung menampakkan batang hidungnya.
"Entah."
"Loh, dia gak sama lo?"
"Sama gue?" tangannya menunjuk dirinya sendiri dengan tawa renyah "gue jemput dia naik apaan? Becak?"
Pemuda itu menggaruk kepalanya yang tak gatal "gak gitu, siapa tau lo udah ketemu dia disekolah, kan biasanya kalian bareng."
"Gue baru datang." jelas Anika.
Rey mengangguk paham, netranya tiba-tiba menyipit menatap punggung seseorang yang berjalan kearah belakang sekolah, padahal jam pelajaran pertama akan segera berbunyi "lo ke kelas duluan aja ya, gue titip tas gue."
Anika mendelik "bawa sendiri lah, enak aja nyuruh-nyuruh gue." sewotnya.
"Gue ada urusan beb, mau ya." bujuknya lembut tak lupa mata yang dikedipkan beberapa kali pada gadis cantik didepannya.
"Beban banget lo." sarkas Anika, tangannya menarik kasar tas sekolah milih Rey kemudian melenggang pergi dengan kaki yang dihentakkan seiring langkahnya.
__ADS_1
"Yaampun, galak amat untung sayang." monolognya pelan, tak ingin berlama-lama akhirnya ia mengikuti langkah seseorang yang tak jauh dari posisinya, ia semakin penasaran dengan apa yang dilakukan gadis itu dibelakang sekolah sendirian.
Keningnya berkerut melihat gadis itu duduk bersandar dibawah pohon tanpa melakukan apa-apa, semakin ia mendekat semakin jelas penglihatannya menangkap tatapan kosong dari bola mata gadis itu.
"Ratu." tangannya menepuk pundak sang pemilik nama untuk menyadarkan.
"Ah...eh Rey?"
"Lo ngapain disini?" tubuhnya ia dudukkan tepat disamping sang primadona sekolah, kepalanya sedikit menoleh sambil menunggu jawaban dari gadis disampingnya.
"Gue bosan dikelas."
Alis pemuda itu terangkat, seseorang yang tujuan hidupnya hanya untuk menjadi nomor satu dengan ambisi menjadi murid dengan nilai terbaik bisa bosan didalam kelas? Didalam ruangan yang akan membimbingnya menggapai tujuannya saat ini?
"Lo ada masalah?"
"Gue selalu ada masalah, bahkan masalah yang selalu datangin gue tiap saat." jawabnya datar.
Pemuda itu mengatupkan bibirnya, netranya menatap intens wajah gadis itu dari samping, matanya menyipit melihat memar kebiruan yang menyapa indra penglihatannya.
"Muka lo---"
Tangan gadis itu terangkat, menyentuh memar biru yang dimaksud pemuda disampingnya, kepalanya sedikit menoleh dengan senyum manis terpatri pada ujung bibirnya "cuma umpan balik yang gue dapat karena ulah gue sendiri."
"Rey?"
Matanya menoleh menatap wajah Ratu dengan raut tanya, sambil menunggu ucapan dari gadis itu selanjutnya.
"Menurut lo gue salah ya?"
"Untuk?"
"Waktu---" Ratu menjeda kalimatnya, matanya menatap tepat dimanik legam milik pemuda tampan disampingnya, walaupun semuanya sudah selesai tetap saja ia tak bisa bohong pada Rey "waktu gue plagiat puisi Anika." sambungnya pelan.
"Salah."
Ratu menghela nafas pelan "kalau seumpama Anika yang plagiat puisi gue lo tetap nyalahin dia juga gak?"
Rey terkekeh pelan, cukup lucu mendengar pertanyaan dari gadis disampingnya "gue harus jawab sebagai apa? Seseorang yang gak kenal sama Anika atau seseorang yang selalu prioritasin dia?" tanyanya balik.
"Itu---"
"Kalau sebagai orang yang pertama mungkin gue akan ngumpatin dia tiap saat." potong Rey "tapi kalau jadi orang yang kedua gue cuma sedikit kaget habis itu bersikap seolah gak terjadi apa-apa."
__ADS_1
"Lo---"
"Egois?" potongnya lagi "gak masalah, gue hidup sesuai kemauan gue sendiri, entah orang mau bilang apa gue gak peduli, gue cuma gak mau jauh sama Anika, kalau gue marah dan ngumpatin dia berarti gue siap hubungan gue sama dia renggang karena perbedaan pendapat." jelasnya acuh.
Ratu bungkam, ia tak tau harus merespon apa mendengar jawaban yang cukup membuatnya iri. Bibirnya menghela nafas pelan dengan tangan saling diremas satu sama lain "kalau sama gue?"
"Gak tau." Rey mengedikkan bahunya, jujur ia juga tak tau harus menjawab apa mendengar ucapan gadis disampingnya.
"Gue fikir gue bakal ngumpatin lo karena udah plagiat karya orang, tapi bahkan sampai sekarang gue gak ada niatan buat umpatin lo."
Ratu menatap serius wajah Rey tanpa berkedip, matanya fokus pada bibir tipis pemuda itu, ia tak ingin ada beberapa kata yang tak ditangkap indra pendengarannya.
"Gue juga berfikir kalau gue cuma kaget habis itu gak terjadi apa-apa kaya biasanya, tapi tetap aja sampai sekarang gue kepikiran sama perbuatan lo dan gak bisa lupain gitu aja." sambungnya lagi.
Ratu mengalihkan pandangannya "gue tau kenapa lo gak bisa lupain gitu aja." sahutnya pelan, kepalanya mendongak menatap langit lepas dengan sinar matahari yang tak cukup terik hari ini.
"Kenapa?"
"Karena yang gue plagiat puisi Anika, apapun yang berhubungan dengan dia Lo gak bakal bisa lupain gitu aja, mungkin kalau puisi itu bukan punya dia lo bisa lakuin opsi kedua." jelasnya.
Rey tak membantah, ia tetap diam mendengar penjelasan dari gadis disampingnya.
"Sejelas itu kalau lo peduli sama dia, kebaradaan Anika juga penting bagi hidup lo kan?"
"Ya...bahkan sangat penting."
Ratu terkekeh hambar, setiap kata yang diucapkan dari mulut Rey cukup membuatnya sesak, bahkan mendengar pemuda itu peduli pada Anika ia sudah cemburu apalagi mendengar pengakuan dari Rey tentang keberadaan gadis itu yang sangat berpengaruh.
Ia tak bisa menyalahkan mereka, disini dia yang salah karena tak bisa membuka mata dan menipu diri untuk merebut pemuda itu dari gadis yang sudah lama diprioritaskan pemuda itu sendiri.
.
.
.
.
Bersambung
Bantu vote, like dan komen.
Ig: siswantiputri3
__ADS_1
^^^15-JANUARI-2022^^^