
"Lo kenapa sih?" tanya Anika heran.
"Eh...enggak."
Gadis cantik itu mendengus kesal, daripada memaksa Rey jujur lebih baik ia bersikap abai, mulut pemuda itu tak pernah bisa mengeluarkan jawaban yang tepat jika hanya sekali bertanya, dan ia hari ini juga terlalu malas bersikap kepo pada masalah orang lain.
"Kak Adelard udah?" Anika beralih pada pria tampan yang menjadi gebetannya.
"Udah?" tanyanya bingung.
"Keperluannya udah?" tanyanya lagi.
Adelard mengangguk seadanya, tak ingin membuang-buang waktu menjelaskan pada orang yang tak memiliki kepentingan tentang masalahnya.
"Kakak ada keperluan apa disekolah ini?" tanya Emma angkat suara.
"Apa kau berhak tau?" tanyanya dingin.
Emma mengatupkan bibirnya, keberadaan pria itu membuatnya tercekik, butuh keberanian penuh untuk bertanya dengan CEO sukses yang ada didepannya, tapi jawaban yang yang didapat malah membuatnya semakin tertekan, sekarang ucapannya hanya tertahan ditenggorokannya.
Sekarang ia bisa tau kenapa pria itu bisa sukses sampai sekarang, selain karena otaknya yang dikabarkan jenius, ia juga tak bisa diperintah atau diprovokasi, dan itu cukup membuatnya harus menjaga jarak dengan orang seperti Adelard Adelio Louis.
Semakin ia bersuara, semakin banyak yang pria itu tau tentang dirinya, jadi lebih baik ia diam dari pada melakukan basa-basi yang tak ada artinya.
"Tapi gue juga penasaran sih, kak Adelard ada keperluan apa disini?" tanya Anika tiba-tiba, matanya terfokus pada wajah tampan Adelard yang saat ini juga menatapnya datar.
"Bawel." sungut Adelard.
"Tapi gue penasaran." ucapnya menggebu-gebu.
Adelard menghela nafas pelan "mencari anak nakal, Adrian Arsenio Louis, aku akan menyeretnya pulang dan ikut denganku ke Amerika."
Anika mengernyitkan keningnya "dia siapanya kak Adelard, adik?"
"Hmm." dehemnya pelan "kalian mengenalnya? Dia bersekolah disini." pandangannya kini beralih pada Rey "kau sepertinya mengenalnya."
Rey meneguk ludahnya kasar "ah...eh itu---" kepalanya digaruk pelan dengan pandangan bingung.
"Gue fikir kak Adelard anak tunggal kaya raya, ternyata...kak Adelard anak sulung?" tanyanya tiba-tiba.
"Hmm."
"Ternyata anak sulung kaya raya dan LO..." tunjuk Anika ke Rey "kenapa lo gak pernah bilang kalau lo kenal sama calon adik ipar gue, wah...wah...lo ternyata kenal sama anak sultan tapi gak bilang-bilang."
"Duh...perut gue mules..." Rey berlari meninggalkan kantin dengan langkah cepat, ia tak pernah berfikir pria itu akan datang kesini.
Adelard menatap datar punggung remaja yang kini berjalan menjauh, tangannya menulis pesan singkat pada seseorang diseberang, sebelum ia melangkah pergi matanya terarah pada bola amber gadis yang juga menatapnya.
"Kak Adelard mau kemana?" tanya Anika.
"Pulang."
__ADS_1
"Loh...kok pulang, kak Adelard gak mau liat pentas disini?"
"Gak."
"Besok gue mau baca puisi, kak Adelard datang ya." ucapnya sedikit keras, matanya masih menatap punggung tegap milik gebetannya yang kini menghilang dari balik pintu kantin.
"Kamu kenal dia dimana?" tanya Abian tiba-tiba, sudah cukup ia berdiam diri dengan pertanyaan yang sedari tadi bergelayut pada otaknya.
"Kita ke panggung pentas yuk, kelas 2 IPS mau nampilin tarian Ratoh Jaroe, pasti disana seru." ajak Emma.
Baru saja Anika ingin menjawab tangannya sudah diseret paksa oleh gadis itu, mulutnya menghela nafas pelan kemudian mengkode Abian untuk ikut dengannya.
Mereka berjalan kearah lapangan basket, ruangan dimana acara pentas diadakan, ruangan yang cukup luas untuk menampung banyaknya murid beserta tamu undangan. Semakin Anika mendekat, semakin jelas ia mendengar musik tarian pada kedua indra pendengarannya.
Langkah kaki yang awalnya cepat kini perlahan terhenti, matanya menatap banyaknya kerumunan dengan tamu undangan yang memenuhi kursi yang telah disediakan.
Ia cukup terlena dengan tarian yang dibawakan oleh kelas 2 IPS. Tari ratu jaroe, kegiatan ekstrakurikuler yang memiliki banyak peminat. Tari yang berasal dari Aceh yang disebut tari kreasi karena terdapat gabungan dari gerakan-gerakan yang berasal dari tarian tradisional asal Aceh lainnya.
"Hebat." pujinya.
"Pantas sekolah ini termasuk sekolah yang diincar dikota ini, selain otak mereka yang jenius bakat mereka juga benar-benar diasa." sahut Abian.
"Makanya aku bersyukur bisa dapat beasiswa masuk kesini." timpal Emma, bibirnya tersenyum manis dengan pandangan fokus kedepan.
Abian hanya melirik sekilas, netranya kembali fokus pada tarian yang masih berlangsung diatas panggung, ia cukup takjub dengan murid yang menari dengan cukup profesional.
"Duduk yuk kak Abian." ajak Anika.
"Ada, tuh."
Abian tersenyum, kepalanya mengangguk sambil mengikuti pergerakan gadis itu, bahkan ia tak protes saat tangannya ditarik dengan langkah cepat menuju bangku kosong oleh tangan kecil milik Anika.
"Teman kamu gak ikut?" tanyanya setelah duduk dikursi bagian depan.
"Gak tau." jawabnya acuh.
Abian mengernyitkan keningnya, cukup bingung dengan jawaban gadis disampingnya, nada bicaranya seolah tak peduli padahal dari pengamatannya mereka cukup dekat.
"Kayaknya kakak asing sama dia." beritahunya.
"Emma?" tanya Anika memastikan.
Abian mengangguk pelan "tapi lupa ketemu dimana." otaknya berfikir keras menemukan jawaban yang mungkin tersangkut pada sela-sela otaknya.
"Emma dari panti---"
"Oh iya, kakak ketemu dia dipanti saat kebakaran." selanya.
Anika mengangguk acuh, pandangannya masih fokus kedepan dengan telinga setia mendengar ocehan pria disampingnya.
"Kakak cukup prihatin sama teman kamu."
__ADS_1
Gadis cantik itu mengernyit "kenapa?"
"Pasti dia cukup terpukul karena musibah waktu itu, apalagi hanya dia yang selamat dari kebakaran."
"Sangat pasti." jawabnya datar "tapi bukan terpukul karena anggota panti yang meninggal." lanjutnya pelan.
"Kamu ngomong sesuatu? Kakak kurang dengar." tanya Abian, kepalanya menoleh menatap gadis disampingnya yang masih tenang menikmati acara.
"Emang Anika ngomong apaan?" tanyanya polos, kepalanya ikut menoleh dengan bola mata mengerjap pelan.
"Yaampun, kamu masih muda loh, masa udah pikun." ejeknya.
Wajah Anika ditekuk, kepalanya kembali kedepan tanpa ada niatan membalas ucapan dari Abian, ia sedikit kesal pria disampingnya mulai berani mengejeknya, sepertinya ia harus berhati-hati karena sebentar lagi pria itu akan menjadi Rey kedua.
"Kenapa gue baru sadar cewek dikelas IPS cantik-cantik ya." celetuk seseorang tiba-tiba.
Anika menoleh ke kiri, matanya membulat spontan melihat penampakan pemuda yang baru saja ia maksud "panjang umur." monolognya pelan.
"Apa?" bingung Rey.
"Gak ada, lo habis dari mana?" tanyanya basa-basi.
"Ada urusan penting."
"Alah, gaya lo." ejeknya.
"Tapi emang gue ada urusan penting kok, gue baru aja nyetor ditoilet tabungan harian, gak baik nyimpen numpuk-numpuk, nanti bisa jadi penyakit." jelasnya bijak.
JTAK
"Jijik ewww..."
"Emang bener, iya gak bro?" tanya Rey pada Abian, kepalanya menoleh pada pria disamping kanan Anika yang umurnya lebih tua beberapa tahun darinya.
"Hmm."
Rey mendelik "selingkuhan lo dingin, lo pasti gak kasih kehangatan makanya sensi sama gue, atau dia minder karena gue lebih ganteng dari dia kali." bisiknya pada Anika.
.
.
.
.
Bersambung
Hallo guys~jangan lupa tinggalkan jejak ya, supaya makin semangat.
Ig: siswantiputri3
__ADS_1
^^^22-DESEMBER-2021^^^