
Setelah sudah ia putuskan untuk menuntaskan masalah yang ada disekolahnya akhirnya ia berinisiatif menemui Ratu terlebih dahulu. Padahal semuanya sudah direncanakan dengan baik tapi masalahnya kini ia malah terjebak dijalananan karena ojek yang ia tumpangi mengalami kebocoran ban.
Karena tak ingin berlama-lama akhirnya ia memutuskan berjalan sambil mencari ojek lain ataukah kendaraan umum yang lewat, tapi lagi-lagi kesialan menimpah dirinya setelah berjalan 30 menit. Bukannya mendapat titik terang ia malah terdampar pada jalanan sepi saking seriusnya berjalan maju, ingin kembali pasti ojek tadi sudah pergi karena sudah menelpon bengkel.
"Mau buat baik aja cobaannya gini." sungutnya kesal sambil menendang kerikil yang ada didepan kakinya.
Bibirnya menghela nafas kasar hingga tiba-tiba menyipitkan matan melihat banyaknya gerombolan preman yang sedang merokok didepan gubuk kecil.
"Sialan, kalau kayak gini mending gue ke rumah Ratu besok aja. Keadaannya juga gak memungkinkan, lagian gue takut diapa-apain sama sampah masyarakat kayak mereka." monolognya pelan.
"Ada cewek cantik bro!"
"Double sial." maki Anika pelan sambil berjalan cepat meninggalkan para gerombolan preman itu.
"Mau ke mana cantik." goda sang preman dengan posisi membentuk lingkaran. Mengelilingi tubuh Anika yang kini mendesah nafas kasar mendapat kesialan yang beruntun hari ini.
"Gue gak ada urusan sama kalian."
"Tapi kita selalu punya urusan sama cewek cantik. Iya gak bro!" ucapnya mengundang anggukan kompak dari semua preman yang ada disana.
"Yoi." salah satu preman menatap tubuh Anika dari atas sampai bawah, bibirnya menyeringai tipis sambil berbisik beberapa kali "lagian lo bolehlah."
"Cuih." Anika meludah didepan wajah preman itu, ia benar-benar jijik melihat ekspresi memuakkan dari preman yang baru saja bersuara "gue gak sudi."
"Bisa-bisanya lo ngomong kayak gitu disituasi kayak gini."
"Sikat aja bos."
Anika semakin memberontak saat tubuhnya tiba-tiba ditahan oleh preman yang kini memegangi kedua tangannya, apalagi saat dirinya digiring menuju gubuk itu dengan kasar. Sekarang ia tak tau harus melakukan apa disituasi ini.
"Lepasin gue biadab!!!" teriaknya kesal.
"DIAMMM."
BUGH.
__ADS_1
Satu tonjokan berhasil mendarat mulus diwajah preman itu. Anika mengangkat pandangannya, entah mengapa bola matanya berembun melihat kedatangan pemuda yang sangat familiar itu.
BUGH
BUGH
BUGH
"Ayo lari Anika." dengan cepat ia mengangguk cepat sambil mengikuti pergerakan pemuda didepannya, air matanya sesekali ia lap dengan pandangan menatap punggung didepannya yang kini sibuk berlari sambil menggenggam tangannya erat.
"Kayaknya kita lari terus aja. Mau gue banting tulang, salto-salto gue pasti gak bakal menang lawan ke tujuh preman itu. Lagian tadi itu cuma kebetulan sama mereka yang masih blank makanya gak tau mau lakuin apa karena gue tiba-tiba datang." jelasnya panjang lebar.
"BERHENTI KALIAN."
"Nah! Udah gue bilang kan, sekarang baru mereka sadar kalau kita udah lari. Preman kayak gitu cuma badannya yang gede tapi otaknya dangkal karena kebanyakan masukin minuman keras."
Dengan gesit mereka berdua memasuki gang sempit untuk bersembunyi, dengan keberuntungan dari sang pencipta disana terdapat karung bekas yang sudah sobek saling menumpuk. Tentu dengan otak yang bisa dikatakan pintar mereka memakai itu untuk menutupi tubuh disamping banyaknya rongsokan yang juga berserakan dimana-mana.
Anika memejamkan matanya, keringat dingin mengalir pada dahinya sambil memfokuskan pendengaran pada telapak kaki yang kini berlari saling bersahutan. Ia berdoa semoga mereka tak menyadari kehadirannya dibawah karung ini.
"Ah sial, yaudahlah balik aja. Mungkin bukan rejeki kita pakai cewek itu malam ini. Mending tunggu mangsa lain aja."
Sepuluh menit kepergian mereka akhirnya ia bisa bernafas lega, ini juga menghindari kalau mereka benar-benar pergi. Jangan sampai saat ia keluar preman itu masih ada diluar dan menggerebeknya bersembunyi diantara rongsokan ini.
"Anika!"
"Iya Rey?"
"Pada akhirnya lo akan tetap berakhir sama gue." ucapnya serius sambil menunduk menatap bola mata amber milik Anika yang kini berada dibawah kungkungannya.
"Lebih baik lo gak terlalu dekat sama gue, kejadian perampokan itu buat gue yakin kalau lo gak akan pernah bisa percaya sama gue. Jadi mulai sekarang berteman aja sewajarnya, gak ada lagi yang namanya sahabat."
Rey mengeraskan rahangnya, ia tak menyangka kalau gadis didepannya akan berkata seperti itu! Memang siapa yang tak akan goyah saat melihat rekaman CCTV seperti itu? Oke! Mungkin ia tetap akan berada dipihak Anika jika yang dikambing hitamkan bukan dirinya. Bahkan ia tak masalah kalau itu memang benar Anika, asal gadis itu tak meletakkan hasil curian didalam tasnya.
Karena jujur! Yang membuatnya marah bukan perbuatan kriminal gadis itu, hanya saja ia marah karena laptop yang dicuri diletakkan didalam tasnya. Seolah sengaja menjebak dirinya. Ah tidak! Lebih tepatnya kecewa, mungkin jika marah pada akhirnya amarahnya bisa surut. Tapi ia terlanjur kecewa, dan itu sangat sulit untuk dihilangkan.
__ADS_1
"Apa maksud lo bicara kayak gitu."
"Lo mau tau? Gue sekarang gak percaya lagi yang namanya sahabat. Itu cuma omong kosong Rey." sarkas Anika kemudian keluar dari karung yang tadi menutupi mereka berdua.
"Kalau ceritanya dibalik gimana?"
Gadis cantik itu mengernyitkan keningnya, sedikit bingung mendengar kemana arah pembicaraan pemuda yang kini menjulang tinggi didepannya.
"Iya, kalau ceritanya dibalik gimana. Ternyata gue adalah dalang dari perampokan yang ada disekolah, terus barang curian itu gue masukin ke dalam tas lo, seolah gue emang sengaja jebak lo. Gimana menurut lo?" tanya Rey santai.
"Tapi waktu itu gue gak terlihat, dan gue udah jelasin sama lo kalau itu bukan gue."
"Memang siapa yang tau isi hati seseorang? Gimana gue tau kalau lo jujur atau enggak, dan gue harus gimana saat rekaman itu sangat mirip sama lo. Bahkan lebih buruknya sengaja nyimpan barang curian itu didalam tas gue."
"Dan itu alasan gue kenapa ngomong kalau lebih baik gak ada kata sahabat lagi. Lo sama gue gak benar-benar saling ngerti Rey. Kejadian itu cukup jadi bukti kalau lo gak sepercaya itu sama gue selama ini." ucap Anika cepat.
"Oke kalau itu keputusan lo." jawab Rey dingin "karena mulai sekarang gue bakal buat lo sama gue lebih dari sahabat Anika Ayudhisa." bisiknya pelan, kemudian melenggang pergi meninggalkan Anika yang kini membatu ditempat.
Apa pendengarannya terganggu? rasanya sangat sulit percaya mendengar bisikan seperti itu dari pemuda yang bahkan sering adu argumen dengannya. Bahkan mereka bisa dibilang teman saling tonjok, jadi terasa aneh mendengar ucapan seperti itu dari Rey.
Atau mungkin saat ini Rey telah menargetkan dirinya untuk memuaskan sifat mendarah dagingnya dalam menggoda perempuan?
.
.
.
.
Bersambung
Jangan bosan tinggalkan jejak supaya aku gak bosan juga buat upload lanjutannya.
Instagram: siswantiputri3
__ADS_1