
"Berarti mereka baru kenal akhir-akhir ini." Rey menghela nafas pelan, padahal mereka hampir setiap hari bersama tapi tetap saja ada yang tidak ia ketahui tentang Anika.
Tepukan dipundaknya menyadarkan ia dari lamunannya, matanya menatap Emma yang kini tersenyum kearahnya.
"Kamu suka Anika kan?"
Rey menautkan alisnya, bibirnya berkedut menahan tawa "gue suka Anika?"
Emma mengangguk pelan, bahkan semua orang akan mengira hal yang sama jika memperhatikan perlakuan Rey pada Anika.
"Gue emang suka sih." sahut Rey tiba-tiba, matanya memandang pintu menunggu kedatangan gadis cantik itu.
"Gue juga suka sama lo."
Tak bisa dipungkiri, pernyataan pemuda didepannya mampu membuatnya mematung, wajahnya memanas dengan perasaan senang menjalar ke hatinya. Memang siapa yang tak menyukai Rey?
Pemuda itu bisa dikatakan sempurna untuk menjadi pria idaman dikalangan wanita, ia bahkan sangat sadar, hampir semua siswi yang ada disekolah ini tertarik pada sahabatnya atau mungkin ketertarikan mereka sudah menjurus kesuka.
Kepalanya yang menunduk akhirnya ia angkat, berusaha menatap kedua manik lembut milik sahabatnya, tubuhnya tersentak wajahnya kian memanas saat mengetahui pria didepannya juga menatapnya.
"Ak--aku mau ambil tas, ak--aku tunggu diparkiran, bel pulang udah bunyi kayaknya." dengan tergesa-gesa ia keluar dari ruangan itu, dadanya bergemuruh menahan gejolak aneh jika berhadapan dengan pemuda yang dari awal sudah mengambil fokusnya.
"Lah." Rey bingung sendiri, kepalanya ia garuk melihat tingkah aneh gadis itu.
"Gue gak salah bicara kan?" tanyanya pada diri sendiri.
"Lo apain Emma?"
Rey mengalihkan antenasinya, matanya menatap Anika yang sudah selesai dari kesibukannya. Bahunya ia kedikkan tak tau menahu tentang perilaku aneh Emma yang tak seperti biasanya.
"Gak usah bohong deh, lo pasti ngomong sesuatu, lo kan kadang ngomong gak pake otak." tuding Anika, tangannya bersidekap dada menatap Rey dengan sorot kepo.
Pemuda itu akhirnya menghela nafas pelan "gue cuma jawab pertanyaan dia aja kok, menurut gue apa yang gue ucapin sah-sah aja gak ada yang salah deh perasaan."
"Emang lo ngomong apaan?"
"Kan dia tanya, kamu suka Anika kan?" Rey menirukan suara Emma seakan ia mendalami sebuah peran, tak lupa tatapan lugu ia berikan pada Anika, berusaha sebisa mungkin mempraktekkan apa yang terjadi beberapa saat lalu.
"Ewww...jijik tau gak kalau lo yang kayak gitu." sarkasnya tanpa perasaan.
__ADS_1
Rey memutar bola matanya malas "cih...banyak protes lo, kan dia nanya kayak gitu yaudah gue jawab aja gue suka sama lo, trus gue juga bilang suka sama dia, kan emang gue suka semua orang."
Anika menahan tawa "lo serius ngomong kayak gitu?" Rey yang pada dasarnya tak ingin berbohong akhirnya mengangguk polos.
"Gue salah ya, ah...enggak deh perasaan, kan gue anak baik, rajin menabung dan tidak sombong, jadi gue pasti suka sama semua orang, eh... tiba-tiba Emma pergi gitu aja." jelas Rey panjang kali lebar.
Anika menggelengkan kepalanya, tubuhnya mendekat kearah pemuda yang kini duduk pada kasur UKS, ia tak habis fikir! apa Rey tak memikirkan dampak ucapannya barusan.
"Gak kok lo gak salah, kadang maksud seseorang salah diartikan sama orang lain, tapi lain kali lo juga hati-hati sama ucapan lo." nasehat Anika bijak.
Rey cuma mengangguk polos, apa yang diucapkan gadis didepannya seolah mutlak dan tak bisa dibantah, ia selayaknya bocah yang mendapat petuah dari orang tuanya.
"Yaudah yuk pulang."
Pemuda itu bangkit dari duduknya, ia berjalan mengekori Anika dari belakang, saking fokusnya ia sampai tak menyadari mereka sudah ada diparkiran.
Rey mengalihkan pandangannya, matanya menatap Emma yang masih menunduk, ia jadi memikirkan nasehat Anika beberapa saat lalu.
"Emma."
"Eh...i--iya."
"Lo gak perlu mikirin ucapan gue, gue tadi bilang suka sama lo karena emang gue suka sama semua orang." sahut Rey santai.
"Aku gak mikirin itu kok, ayo pulang."
Pandangannya beralih pada Emma, ia cukup peka merasakan perubahan hati dari gadis itu, apalagi mendengar suara putus asa Emma. Benar-benar miris.
Daripada ia ikut berlarut dengan masalah Rey dan Emma, lebih baik ia masuk kedalam mobil sambil membaca novel, sepertinya itu bukan pilihan yang buruk.
"Kamu duduk didepan ya Anika."
Anika menautkan alisnya pandangannya dan Rey bertemu, tapi pemuda itu malah mengedikkan bahunya acuh bahkan dengan santainya masuk kedalam mobil seolah tak terjadi apa-apa.
Pada akhirnya ia hanya menghela nafas pelan, tanpa ada bantahan ia masuk kedalam mobil kemudian mendudukkan tubuhnya disamping Rey.
"Seatbel lo pake Anika." perintah Rey.
"Iya-iya ini juga mau pake." sewotnya, hampir setiap hari pemuda itu mengatakan hal yang sama, ia sampai kesal sendiri.
__ADS_1
Akhirnya mobil milik Rey berhasil meninggalkan pekarangan sekolah, Anika melirik Emma dari kaca spion.
"Seatbel lo pake Emma." sahutnya tiba-tiba.
Gadis itu tersentak "eh i-iya, makasih udah ngingetin aku." matanya menatap Anika sambil tersenyum tipis.
Rasanya Anika bangga pada dirinya sendiri, ia menatap Rey sombong, akhirnya setelah sekian lama ia juga bisa mengingatkan seseorang untuk memakai seatbel.
Pemuda itu menggeleng pelan, bibirnya tersenyum tipis melihat tingkah angkuh gadis disampingnya, benar-benar lucu fikirnya.
"Hebat banget gue." monolognya pelan.
"Gitu aja sombong, lo gak lagi menang olimpiade atau bahkan dapat nilai sempurna disekolah, jadi sombongnya dipending dulu." ejek Rey.
"Tapi ini lebih penting, ini bersangkutan sama nyawa, kalau lo mati muda percuma dapat nilai tinggi kalau cuma dibawa mati." jelasnya bijak.
"Lo lupa ya, mati cuma untuk hewan lebih tepatnya meninggal." jelas Rey, senyum miring tercetak pada bibirnya, ia merasa puas bisa membalikkan kata-kata itu pada tuannya.
"Ck...iya-iya terserah."
Rey tertawa puas, tangannya sesekali mencolek pipi gadis disampingnya, apalagi wajah ditekuk Anika benar-benar membuatnya tambah imut. Bahkan ia berfikir pipi sahabatnya terbuat dari jelly saking lembut dan bulatnya.
Emma menghela nafas pelan, untuk kesekian kalinya ia diabaikan, matanya menatap dua remaja yang saling bersahutan, keberadaanya benar-benar hanya sebagai figuran, tak terlalu penting atau memang dari awal ia tak penting.
Kenapa harus begini? kenapa bukan dia yang menjadi sorotan pemuda itu? selalu saja seperti ini!
Ia jadi merasa sedikit muak.
.
.
.
.
Bersambung
Hallo guys~jangan lupa vote, like dan komen ya~jangan jadi pembaca gelap, agar semangat lanjutinnya, usahakan juga tinggalkan komentar yang sopan bukan malah menjatuhkan author.
__ADS_1
Ig: siswantiputri3
^^^22-NOVEMBER-2021^^^