
Rey menyusuri koridor sekolah dengan permen karet yang sejak tadi mengisi mulutnya, hari ini ia benar-benar kesal! Kedua sahabatnya tak ada yang mengabarinya untuk berangkat seorang diri, padahal ia sudah berbaik hati pada keduanya untuk datang menjemput.
"Gak ada adab emang mereka." gerutunya kesal.
Matanya mengamati sekitar, kondisi koridor sudah cukup ramai, mengingat jam sudah menunjukkan pukul 06:30, jadi tak heran lagi kalau sebagian siswa/siswi sudah datang untuk menimba ilmu seperti dirinya.
"Kak Rey."
Pemuda tampan itu menghentikan langkahnya, badannya menoleh menatap sang empu yang kini memanggilnya "iya dedek gemes?"
Gadis dengan kuncir kuda itu menundukkan kepalanya, pipinya memanas mendengar panggilan dari kakak kelas yang sudah ia perhatikan akhir-akhir ini, ternyata memang benar! Pemuda didepannya selain tampan ia juga ramah.
Awalnya ia fikir most wanted seperti Rey memiliki kepribadian dingin, tapi setelah mendengar nada bersahabat dari pemuda itu membuat ia semakin yakin rasa sukanya tak salah orang.
"Naya bawa bekal buat kak Rey." tangannya tersodor menyerahkan kotak berwarna biru pada kakak kelas didepannya.
Rey menggaruk tengkuknya "lo yakin?" tanyanya memastikan.
Gadis kelas 10 itu menganggukkan kepalanya, kedua tangannya masih setia menunggu tangan kekar didepnnya mengambil bekal yang sudah ia buat sepenuh hati.
"Makasih kalau gitu." jawabnya ramah, bibirnya tersenyum tipis dengan kotak bekal yang sudah berpindah ke tangannya.
"Jangan lupa dimakan ya kak Rey."
"Oke dedek gemes."
"Ka--kalau gitu Naya ke kelas du--dulu." pamitanya gugup dengan kedua pipi yang masih bersemu merah, tungkainya dengan cepat melangkah pergi dari hadapan pemuda yang banyak diincar oleh sebagian siswi disekolah ini, tentu termasuk dirinya.
Rey mengangguk pelan, bibirnya tersenyum lebar mengintip makanan yang cukup lezat pada kotak biru itu, penciumannya dengan jelas mengendus aroma yang menguap dari nasi goreng pemberian adik kelasnya.
"YESSS...dapat nasi goreng gratis."
Semua penghuni koridor menggeleng maklum, mereka tak heran lagi melihat tingkah absurd dari pemuda yang banyak dipuja itu, bahkan sebagian dari mereka sempat terjerat pada pesona Rey tapi karena seringnya melihat tingkah aneh yang kadang diluar batas membuat rasa suka mereka perlahan menghilang.
Apalagi sebagian dari mereka sudah kelas 12, tentu tabiat dari pemuda itu sudah mereka hafal, adik kelas yang dijuluki most wanted nyatanya tak setampan dengan tingkahnya, ia sedikit kasihan pada para siswi kelas 10 yang tak begitu baik mengenal pemuda itu.
"Hallo kakak cantik." seru Rey, matanya dikedipkan pada sekumpulan gadis yang sedang sibuk bergosip.
"Pergi lo Rey, kegantengan lo udah kadaluwarsa."
"Jahatnya." celutuk Rey dramatis.
Semua yang ada disana sontak tertawa, sikap friendly dari pemuda itu sangat menghibur, apalagi tingkah humoris pada diri Rey membuat tawa yang tersangkut pada tenggorokan bisa keluar kapan saja.
"Adik kelas kurang beruntung mana lagi yang mau ngasih lo makanan gratis?" tanya salah satu dari mereka.
__ADS_1
Rey tersenyum bangga "gini ya kakak cantik, walaupun mata kalian udah ketutup sama kegantengan gue tapi masih banyak adik kelas yang ngefans sama gue." tangannya menepuk dadanya berulang-ulang.
"Ya...ya...ya terserahlah, lagian kami juga udah insaf, iya gak guys...?"
"Yoi bestie."
"Padahal gue seneng banget dulu kalian kasih gue bekal setiap hari." celetuk Rey dengan nada sedih, tangannya terangkat memberi pose menghapus air mata yang bahkan tak pernah ada.
Mereka terkekeh pelan "kok kita bloon banget sih dulu? Mau-mau aja diperbudak sama bocah curut ini." timpalnya dengan kepala menggeleng.
"Sudahi mengenang masa lalu, mari kita membuka lembaran baru, jadi selir-selirku sekalian gue pergi dulu ya, bay...bay...muachhh..."
"Gue kayaknya beneran gak waras bisa suka sama dia dulu." ucap salah satu dari mereka, kepalanya menggeleng melihat tingkah absurd dari adik kelasnya.
"Bukan lo doang, tapi kita semua."
"Kasian, padahal masih muda."
Mereka semua tersentak, pandangan kelima gadis itu terarah pada sosok yang tak asing lagi, seseorang dengan sikap yang berubah-ubah layaknya cuaca, sosok yang bahkan setiap hari terlihat menempel satu sama lain dengan pemuda yang baru saja pergi, siapa lagi kalau bukan Anika Ayudhisa.
Pemilik nama dengan segala tingkah nakal yang entah bagaimana caranya lolos dari pengintaian guru BK, mereka tak membenci gadis itu lagipula tak ada alasan bagi kelimanya membenci adik kelasnya ini.
"Yaampun gue sampai kaget."
"Tau, lagian lo kayak jalangkung aja tiba-tiba muncul." tambahnya lagi.
Bola mata mereka memutar, tak lupa dengusan malas diberikan pada gadis dengan wajah baby face itu.
"Eh...tapi kok lo gak bareng Rey?" tanyanya kepo.
"Bosan gue tiap hari liat wajah Rey, bangun tidur lihat dia, sarapan pagi lihat dia, berangkat sekolah lihat dia, didalam kelas lihat dia, pulang sekolah lihat dia----"
"Untung lo boker gak liat dia."
"Nah itu juga gue lihat dia."
Mata mereka membola "serius lo kampret?" serentak kelima gadis itu.
"Yakan wajah Rey kek tai." julid Anika "sesama tai gak harus dipertemukan." tambahnya dengan wajah tak berdosa.
"Pftttt...iya juga sih."
"Nah kan, gue bener kan?" sahutnya bangga.
"Iya...bener banget malah." celetuk seseorang dengan wajah memerah, tangannya bersidekap dada tepat dibelakang tubuh mungil yang kini menggosipnya, pantas sedari tadi telinganya memanas.
__ADS_1
Mata Anika membola, kepalanya menoleh dengan sedikit mendongak melihat pemilik suara yang masuk keindra pendengarannya, bibirnya berkedut menampilkan senyum polos pada sosok yang sempat menjadi bahan ghibahannya.
"Pagi Rey." sapanya ramah.
"siang."
Anika menggaruk kepalanya yang tak gatal, bibirnya lagi-lagi tersenyum polos dengan kaki yang sudah siap kabur dari tempatnya berpijak. Baru saja kakinya ingin berlari pergi! Tapi tangan yang bertengger pada kerah baju belakangannya menghentikan aksi kaburnya.
"Lepas Rey gue mau boker."
"Gak."
Anika meneguk ludahnya kasar, tangannya berusaha melepas pegangan pada kerah baju bagian belakangnya, tubuhnya semakin berontak saat tubuhnya diseret kebelakang oleh pemuda itu.
"TOLONG.....TOLONG GUE MAU DIJADIIN TUMBAL." teriaknya cempreng, matanya menatap semua makhluk hidup yang hanya menatapnya tanpa berniat menolong.
"KAK INA, KAK RANI, KAK FENI, KAK SITA, KAK RERE TOLONGIN GUE....." teriaknya pada kelima kakak kelas yang sempat terlibat acara gosip dengannya.
Kelima sang empu sibuk memandang kearah lain, mereka seolah tak mendengar teriakan minta tolong dari adik kelasnya itu.
"Eh...gue ke kelas duluan ya."
"Gue juga lapar."
"Gue ke WC dulu."
"Pacar gue telepon."
"Anak kucing gue mau lahiran."
Aniaka membulatkan matanya, bisa-bisanya mereka membiarkan hidupnya terancam tanpa berniat membantunya "HUAAAA TOLONGGGG...NYAWA GUE UDAH DIUJUNG UPIL."
Rey menulikan pendengarannya, tubuh gadis itu tetap ia seret melewati koridor yang sudah diisi banyaknya siswa/siswi, bahkan ia tak peduli mereka berdua sudah menjadi tontonan gratis saat ini, harga dirinya lebih penting, kegantengan wajahnya yang disamakan dengan penghuni WC itu benar-benar penghinaan untuknya.
.
.
.
.
Bersambung
Ig: siswantiputri3
__ADS_1
sebelum baca yang serius ada baiknya masuk pada drama absurd Rey dan Anika dulu~
^^^13-JANUARI-2022^^^