Antagonis

Antagonis
Chapter 74


__ADS_3

"Cepat atau lambat Anika pasti tau siapa kita." sahut In sambil mengawetkan jantung manusia yang baru saja ia keluarkan dari tubuh seseorang.


"Gue tau bang." jawab Ian dengan asap rokok yang ia hembuskan dari hidung dan juga mulutnya. Ponselnya ia lempar karena terlalu kesal mendengar nada panggilan yang berbunyi setiap saat.


"Jadi sekarang kau mau apa?"


"Untuk sekarang gak ada." jawab Ian sambil menatap tumpukan toples yang berisi bola mata manusia, koleksi dari sang dokter yang ada disampingnya.


"Terserah kau saja, soal gadis itu aku gak mau lagi ikut campur."


"Jangan kira gue gak tau kalau bang In udah ngasih petunjuk ke dia, gue gak seidiot itu sampai gak tau kalau Abang ngirim kepala seseorang yang bekerja diperusahaan kak Adelard dan juga kalung gue yang hilang itu karena ulah abang." timpal Ian santai.


"Itu pertama dan terakhir."


...***...


Dengan langkah santai pemilik tubuh bernama Anika Ayudhisa menyusuri koridor dengan pandangan riang, bibir tipisnya bersenandung kecil menyanyikan sebuah lagu yang belakangan ini sedang trending.


Saat sedang asyik matanya tiba-tiba menyipit melihat seseorang yang tampak berlari dengan tampilan urakan semakin dekat dari posisinya, karena penasaran akhirnya ia merentangkan tangannya menghentikan pemuda itu.


"Lo kenapa lari-lari kayak orang kepergok unboxing?" tanya Anika frontal.


Rey mendelik, dengan cepat ia menarik tangan gadis itu untuk ikut dengannya, itu lebih baik daripada ia harus berhenti dan menjelaskannya disini.


"Ya ampun Rey ngapain lo narik gue juga." kesal Anika dengan langkah kaki berusaha menyamakan pemuda itu.


Hentakan kaki mereka terdengar mengisi koridor sekolah yang ada dilantai dua, sesekali pemuda itu menoleh kebelakang melihat banyaknya laki-laki dewasa yang tampak masih mengejar mereka berdua atau lebih tepatnya mengejar dirinya.


Umpatan demi umpatan ia keluarkan karena sudah mulai jengah menghindar tapi tetap tak bisa, bahkan sekarang gerakan kakinya ia cepatkan dengan tangan yang masih mencengkram kasar pergelangan tangan sahabatnya yang juga mengikuti langkah lebarnya.


"Lo sebenarnya kenapa sih Rey?" tanya Anika disela-sela larinya, ia sampai tak habis pikir dengan tindakan pemuda itu yang ikut menggiringnya melewati koridor, bahkan sekarang mereka berlari kesetanan melewati tangga untuk menuju ke lantai satu dengan kecepatan yang tidak berkurang sama sekali.


"Ya ampun Rey hati-hati dong, kalau kita gelinding ke bawah bisa tinggal nama kita." omel Anika tapi tetap tak digubris oleh pemuda itu.


"Berhenti Rey." titahnya ia mulai kesal mengikuti pemuda itu yang tampak acuh pada kondisinya, bahkan peluh sudah mulai membanjiri sebagian poninya karena terlalu lelah berlari.

__ADS_1


Bukannya berhenti Rey malah semakin menambah kecepatan larinya, tangannya semakin mencengkram lengan Anika tanpa ia sadari, yang jadi fokusnya sekarang adalah segera lepas dari kejaran tiga pria dewasa dibelakangnya.


"Berhenti Reyyy." bentak Anika.


"DIAM SIALAN." murka Rey, kepalanya benar-benar hampir pecah mendengar ucapan gadis itu sejak tadi, apalagi ditambah rasa lelah karena hampir satu jam berlari tapi masih belum bisa terlepas dari orang itu.


Kepalanya menoleh kebelakang, setelah orang itu tak terlihat karena adanya belokan dengan cepat ia berlari kearah gudang. Tak lupa menyeret Anika yang sudah terdiam dengan keringat bercucuran membasahi seragam sekolahnya, dengan gerakan cepat Rey mengunci gudang kemudian kembali bersembunyi dibawah meja yang sudah tertutupi banyaknya kursi patah dan juga terhalangi lemari tua.


Sambil menetralkan nafasnya ia segera mengeluarkan ponselnya, menatap sebuah peta sekolah yang kini terlihat tiga titik kedap-kedip pertanda dari ketiga pria dewasa itu berada, dengan bantuan pelacak kecil miliknya ia sempat menempatkannya pada ketiga orang itu sebelum berlari pergi, setidaknya dengan adanya itu ia bisa mengetahui posisi mereka bertiga sekarang dimana.


Dua puluh menit menatap kejadian diponselnya akhirnya ketiga titik itu terlihat meninggalkan pekarangan sekolah, bibirnya menghela nafas kasar. Ia sampai tak habis pikir kenapa sekolah seterkenal ini bisa membiarkan orang asing masuk?


Karena menurutnya keadaan sudah terlihat aman ia akhirnya berinisiatif keluar dari persembunyiannya, keningnya tiba-tiba mengernyit saat sadar ia tak sendiri disana, bibirnya mengumpat pelan ia baru sadar sudah menyeret Anika ikut dengannya karena terlalu kacau dan tak bisa berpikiran jernih.


"Anika." panggil Rey dengan kepala menunduk, memperhatikan gadis itu yang tampak diam dibawah kungkungannya.


"Lo gak apa-apa kan?" tanyanya yang mulai khawatir. Karena tak ada suara dari gadis itu akhirnya Rey keluar dari bawah meja kemudian mengeluarkan gadis itu.


Kepala gadis itu ia dongakkan, matanya membola melihat wajah sahabatya yang sudah pucat pasi dengan bibir membiru, apalagi keringat dingin yang sudah memenuh wajahnya cukup membuat ia terperangah.


"Pe--perut g--gu---gue sshh..sa--kit."


Dengan perasaan cemas ia bangkit dari duduknya, menggendong tubuh Anika ala koala kemudian kembali berlari menuju UKS sekolah, ia benar-benar merutuki perbuatannya yang sudah membuat gadis digendongannya seperti ini.


"Maafin gue." lirih Rey sambil mengeratkan gendongannya.


BRAK.


Karena perasaan kalut ia menendang pintu UKS didepannya dengan kasar, matanya menjelajah ke segala arah untuk menemukan penjaga disini.


"Ada apa kak?" tanya siswi yang bertugas hari ini.


"Mana dokter yang bertugas disini?" tanya Rey sedikit membentak setelah tubuh Anika sudah ia baringkan.


"Ha--hari ini dokter Lu--na gak masuk k-kak." jawab siswi itu takut-takut.

__ADS_1


"Yaudah lo aja yang obatin sahabat gue, buruan." bentak Rey sambil menyeret kasar tangan siswi itu tepat disamping Anika yang sudah meringkuk dengan wajah semakin pucat.


"Tapi---"


"Uhuk...uhuk...uhukk." cairan kental berwarna merah tanpa peringatan sudah menyembur dari mulut Anika, sontak membuat Rey semakin kelabakan melihat kondisi gadis itu yang semakin parah dari sebelumnya.


"Obatin dia sialannnn, jangan diam aja." bentak Rey murka, bahkan telapak tangannya sudah mengekus tangan Anika yang terasa sangat dingin.


"Maaf kak, ak--aku gak tau harus k-kasih obat ap-apa, aku aku ba--baru----"


"ARGGGGHHHH SIALANNN." Hari ini kenapa ia harus sesial ini, apalagi kondisi Anika yang terlihat cukup parah ditambah tak adanya dokter Luna membuat ia khawatir setengah mati.


Tak ingin membuang-buang waktu lagi akhirnya ia kembali menggendong tubuh sahabatnya pergi, tujuannya hanya satu segera membawa Anika ke rumah sakit agar segera ditangani.


"MINGGIR KALIAN SEMUAAA." teriak Rey saat melihat gerombolan siswi berjalan ditengah-tengah koridor, tentu suaranya itu mengundang beberapa pasang mata tertuju ke arahnya.


Kejadian itu sontak mengundang berbagai macam pertanyaan diotaknya sebagain para murid, apalagi keadaan sang pangeran sekolah yang tampak kacau dengan seorang gadis yang berada digendongannya tampak tak bergerak sama sekali.


"Lo kenapa sih Anika." lirih Rey merasa bersalah, matanya memerah menahan tangis melihat kondisi sahabatnya karena ulahnya sendiri.


"Gue minta maaf, benar-benar minta maaf." ucapnya sambil mengeratkan pelukannya ditubuh gadis itu.


.


.


.


.


Bersambung


Instagram: siswantiputri3


Jangan lupa baca ceritaku yang lain ya teman-teman, judulnya 'suami cadangan'

__ADS_1


__ADS_2