Antagonis

Antagonis
Chapter 24


__ADS_3

"Dari awal lo emang gak bisa dipercaya."


"Lo emang benar, tapi kali ini lo gak ada pilihan lain selain kerjasama sama gue, selama lo diuntungkan gue fikir gak ada salahnya kan?"


"Ck...gue sulit akuin itu, tapi ucapan lo emang ada benarnya."


"Jadi?"


"Oke, sejauh ini lo gak diposisi membahayakan bagi gue."


GDEBUK


Tubuh mereka menegang, kedua remaja itu menatap gadis yang kini terjerembab jatuh diatas tanah, mereka hanya berharap semua perbincangan antara mereka tidak didengar oleh gadis yang masih meringis memegangi lututnya.


"Sialan, siapa sih yang naruh batu disini."


Emma menghampiri Anika yang kini mengumpat tak jelas, tentu saja setelah ia memberi isyarat pada partnernya agar segera pergi dari tempat itu. Ia tak mau semua rencananya hancur berantakan.


"Kamu gak apa-apa?" tanyanya khawatir, dengan cepat ia membantu gadis itu untuk segera berdiri dari posisinya.


"Lutut gue sakit banget, sumpah." Anika misu-misu sendiri, wajahnya ditekuk menahan perih dari luka pada lututnya yang kini mengeluarkan darah.


"Lagian kamu sih, ceroboh banget, bisa-bisanya jatuh kayak tadi." omel Emma.


Sang empu hanya menampilkan cengiran polos "kayaknya gue kena karma deh karena udah bolos." tuturnya terang-terangan.


"YAAMPUN ANI---hmmm"


"Gak usah teriak-teriak." decaknya, tangannya membekap mulut gadis didepannya agar tak mengeluarkan suara membahana, ia juga bisa malu jika aksi konyolnya diketahui siswa/siswi disekolah ini.


Anika menurunkan tangannya saat dirasa Emma tak berteriak heboh lagi, dengan tertatih-tatih ia berjalan meninggalkan tempatnya jatuh.


"Aku bantu." sahut Emma tiba-tiba, tangan Anika diletakkan pada pundaknya, membantu gadis itu menuju UKS.


"Sumpah, demi muka jeleknya Rey lutut gue sakit banget." celoteh Anika, bibirnya meringis menahan perih dari luka yang cukup lebar karena berhasil menghantam batu saat terjerembab tadi.


"Ini sih definisi jatuh karena batu malah menimpah batu." timpalnya lagi.


Emma terkikik geli, bisa-bisanya disaat seperti ini gadis itu mengeluarkan omelan yang malah terkesan lucu.

__ADS_1


"Oh iya, Rey mana?"


"Tadi katanya mau ke kelas genius IPA."


Anika mengernyitkan keningnya, kelas dengan fasilitas lengkap yang isinya murid-murid dengan otak yang memiliki kapasitas tinggi, khusunya untuk pelajaran IPA, sesuai dengan namanya! Kelas itu benar-benar kelas spesial yang isinya murid spesial.


Tentu tidak semua orang bisa berada dikelas genius IPA, hanya murid-murid tertentu yang bisa menempati ruangan itu, kelas yang setiap tahunnya membanggakan nama sekolah tentu saja pada bidangnya sendiri yaitu pelajaran IPA.


"Ngapain orang kayak Rey ke sana?" tanyanya penasaran.


"Ketemu Ratu." jawab Emma.


"WHAT." teriak Anika heboh, pergerakannya terhenti menatap Emma dengan pandangan cengo.


"Demi apa? Gue kayaknya salah denger deh." tangannya terangkat mengorek telinganya, matanya berkedip menatap gadis disampingnya dengan pandangan polos.


"Desas desus tentang semua siswa/siswa kalau Ratu suka sama Rey kayaknya emang benar deh." tutur Emma, wajahnya kelewat lugu menatap gadis yang menyandang sebagai sahabatnya.


"Kasian, padahal masih mudah." Kepala Anika menggeleng prihatin dengan kaki kembali melangkah setelah sempat terhenti.


"Kok kasian?" tanya Emma bingung.


"Hu'um Ratu harus mandi kembang tujuh rupa nih kayaknya, gue sebenarnya gak sudi akuin ini, tapi ternyata pelet Rey kayaknya udah gak main-main, buktinya orang kayak Ratu aja bisa terpesona...kasian ya." jelas Anika dengan nada iba.


Kedua gadis cantik itu menolehkan kepalanya, mereka sedikit terkejut melihat keadaan Rey yang bisa dikatakan hancur, rambut acak-acakan dengan seragam kusut tak terbentuk.


"Oh yaampun...siapa yang udah lecehin lo?" tanya Anika heboh, bahkan sekarang ia lupa tentang lututnya yang luka.


"Sialan, siswi-siswi dilantai tiga brutal coy, lo berdua kemana sih, hampir aja sahabat ganteng kalian ini gak suci karena ciwi-ciwi haus belaian." tutur Rey dengan nada kesal, nafasnya sedikit tersenggal karena terlalu lelah berlari menyelamatkan diri.


"Kamu ngapain dilantai 3?" tanya Emma polos.


"Kan kelas Genius IPA disana cantik." jawab Rey sabar.


Emma menepuk dahinya "oh iya, lupa."


Anika berjalan tertatih menuju pemuda itu, baru saja ia ingin bertanya serius, tapi teriakan heboh dari Rey membuatnya memutar bola mata malas.


"OH YAAMPUN." tangan kekarnya tiba-tiba mengguncang bahu Anika berulang kali "orang biadab mana yang udah buat lutut mulus lo lecet? Kasih tau gue biar gue banting sekalian."

__ADS_1


"Suttt..." jari lentiknya mendarat pada bibir pemuda didepannya "sudahi dramamu anak muda, ada yang lebih penting dari lutut gue, ini masalah masa depan gue."


"Apa?" tanya Rey cepat.


Emma yang sajak tadi menonton menghela nafas pelan, entah apa yang terjadi selanjutnya pada kedua remaja beda gender itu.


"Lo ambil pelet dimana?" tanya Anika berbisik.


"What? Serius lo nanya itu ke gue?"


Anika mengangguk cepat "soalnya pelet lo kuat, buktinya seorang Ratu aja bisa terpesona, buruan kasih tau gue, gue juga mau coba, siapa tau gebetan gue bisa luluh."


Bukannya menjawab Rey malah mengangkat tubuh mungil Anika bak karung beras, dengan santai ia berjalan membawa gadis itu dipundaknya "gue tau luka dilutut lo mustahil ada hubungannya dengan kerja otak lo, tapi mengingat pertanyaan lo barusan kayaknya bukan lutut lo yang harus diobati tapi isi kepala lo deh."


"Lo bosan hidup ya?" tanya Anika murka, tangannya menjambak rambut Rey tanpa perasaan, bahkan ia tak peduli dengan banyaknya rambut Rey disela-sela jarinya.


Emma menatap datar punggung Rey dan Anika yang kini sudah menjauh, dari awal hingga akhir matanya merekam jelas kedua remaja itu terlalu sibuk dengan kebersamaan mereka hingga ia yang berada diantara keduanya terasa diasingkan, tak terlihat, tak dianggap dan itu semakin membuatnya benci.


"Entah gue yang gak bisa buat lo nyaman, atau lo terlalu nyaman dengan Anika...Rey."


Tangannya mengepal dengan langkah kaki berjalan berlawanan arah dari kedua remaja yang berhasil memupuk kecemburuan pada hatinya.


Sekarang ia juga benci pada dirinya sendiri, kenapa ia tak bisa seperti Anika Kenapa kepribadiannya tidak seperti gadis itu? Andai saja semudah itu meniru gadis itu mungkin Rey bisa lebih mudah beralih padanya.


Matanya memejam menahan kesal yang kian membuncak, kalau ia tak bisa mengubah dirinya! Berarti ia harus mengubah pemuda itu agar bisa menerimanya, ia berjanji cepat atau lambat Rey akan menatapnya, memprioritaskan dirinya yang ia lakukan sekarang hanya sabar, sabar menunggu hingga waktunya tiba.


.


.


.


.


Bersambung


Hallo guys~jangan lupa tinggalkan jejak ya, vote, like dan komen, jangan jadi pembaca gelap, supaya makin semangat lanjutinnya.


Ig: siswantiputri3

__ADS_1


See you


^^^07-DESEMBER-2021^^^


__ADS_2