Antagonis

Antagonis
Chapter 25


__ADS_3

"Lo gimana sih, bisa-bisanya luka kayak gini." Omel Rey, tangannya meneteskan obat merah pada lutut Anika.


"Ishhh... pelan-pelan dong."


"Ini juga udah pelan, lagian udah tau gak bisa nahan sakitnya masih aja ceroboh." jawab Rey kesal sendiri, ia tak habis fikir dengan gadis didepannya, bisa-bisanya kembali terluka padahal luka pada tangannya saja belum sepenuhnya kering.


"Namanya juga musibah, mau gak mau suka gak suka tetap aja kejadian." jelasnya bijak.


Baru saja Rey akan menjawab perkataan gadis didepannya, tapi ia urungkan dan lebih memilih menoleh saat mendengar suara dari seseorang yang akhir-akhir ini sedikit dekat dengannya.


"Gue denger dari Emma lo jatuh Anika, gak ada luka yang serius kan?"


"Gak kok, tapi...lo sedekat apa sama Emma sampai kalian saling tukar informasi." tanyanya santai.


"Semenjak Rey juga dekat sama Ratu." jawab Emma cepat.


Anika mengangkat alisnya "gue gak tanya kapan kalian dekat, tapi gue tanyanya kalian sedekat apa." selanya.


"Kayaknya itu gak penting deh, tapi kalau lo mau tau kami sedekat apa? Kayaknya sedekat teman ke teman." jelas Ratu, matanya menatap Anika dengan pandangan permusuhan, tapi tentu hanya bertahan beberapa detik, ia tak mau pemuda didepannya membencinya jika terang-terangan mengibarkan permusuhan pada sahabatnya.


"Oke." ucap Anika enteng.


"Lo gak kekantin?" tanya Rey tiba-tiba, pandangannya terarah pada sang primadona sekolah, kecantikan gadis itu memang tak main-main, dan itu cukup membuatnya tertarik kenapa ia baru sadar sekarang? Batinnya tak habis fikir.


"Gue mau ngajak lo---"


"Sorry gue gak bisa, gue harus obatin nih bakpao." potong Rey cepat, bahkan tangannya masih memegang obat merah yang tadi diteteskan pada luka Anika.


Ratu tersenyum manis "iya gue tau kok, tadinya gue mau ajak lo tapi gue denger Anika luka makanya gak jadi, gue juga langsung kesini."


"Kamu baik ya." puji Emma.


"Gue cuma mau temenan sama kalian." jawab Ratu lembut "bolehkan?"


"Boleh kok." jawab Rey santai.

__ADS_1


Anika bangkit dari duduknya, tubuhnya mendekat kearah Ratu dengan langkah tertatih "ada dua kemungkinan yang terjadi saat lo berada diantara kita-kita." serunya datar.


Ratu menatap gadis yang lebih pendek darinya dengan pandangan tajam, seolah menantang tatapan datar itu "apa?"


"Lo bawah pengaruh baik ke kita bertiga karena kecerdasan lo atau lo yang dapat pengaruh buruk karena udah jatuh pada salah satu diantara kita bertiga." jawab Anika santai, tapi tentu perkataannya tak bisa didengar santai oleh sang empu.


"Maksud kamu apa Anika?" tanya Emma bingung, wajah lugunya menambah kesan polos pada tatapan matanya sekarang.


"Kan otak Rey gak bisa dikondisikan, Ratu harus pintar-pintar supaya gak ikut sedeng kayak dia kan? Jadi kalau ada diantara kita dia harus sabar-sabar dan banyak berdoa supaya gak terjerumus kejalan yang sesat kayak Rey." jelas Anika dengan cengiran tak berdosanya.


Emma terkekeh pelan "iya, kamu harus sabar-sabar kalau bareng kita." tambahnya.


Ratu hanya mengangguk pelan dengan tawa akward menjawab ungkapan dari kedua gadis yang ada diruangan itu.


"Gak ada akhlak emang lo." Rey menatap Anika kesal "lo lupa siapa yang ngobatin lo saat luka, hibur lo saat sedih, bahkan tolongin lo saat kena musibah, lo tau itu artinya apa? Itu artinya gue tetap ada disisi saat lo susah dan ini balasan dari kebaikan gue?" tanyanya dramatis, pandangannya menatap gadis itu dengan tatapan terluka.


Anika mengibaskan tangannya jengah "lo salah, itu artinya lo pembawa sial dihidup gue, buktinya hidup gue gak tentram selama ada lo disisi gue." jawabnya seenaknya.


"Lo gak boleh kayak gitu, lo beruntung ada Rey yang selalu ada buat lo." timpal Ratu, ada nada kesal terselip dari ucapan yang ia tujukan pada gadis didepannya.


Anika tersenyum tipis, bahkan sangat tipis "anjing jinak ini ternyata udah mulai menggonggong." monolognya pelan.


"Aku minta maaf kalau aku salah bicara." Emma menundukkan kepalanya, tangannya diremas menahan perasaan bersalah atas ucapannya.


"Lo gak perlu kayak gitu, sesama teman memang harusnya saling mengingatkan jika salah kan?" Ratu menepuk pundak Emma pelan, bibirnya tersenyum lebar pada gadis disampingnya.


"I--iya tap---"


"Tapi kalau benar lo berdua anggap Anika teman harusnya lo gak usah ngomong kayak gitu, terutama lo Emma bukannya lo udah temenan sama kita berdua udah lama, kenapa baru sekarang lo protes dengan ucapan Frontal Anika?" tanya Rey santai, kakinya mendekat kesamping Anika yang tampak enggan menyahut.


"Lo tau gue dan Anika kan? Saking dekatnya sampai ucapan kayak gitu gak masalah buat gue, karena gue tau Anika cuma ngomong tanpa ada maksud nyakitin gue dan gue juga gak akan sakit hati dengar ucapan dia yang kayak gitu, lo tau karena apa? Karena kita berdua sama, ucapan gue sama dia gak ada bedanya."


"Maaf Rey." Emma menatap Rey dengan pandangan bersalah, berharap pemuda itu tidak marah lagi padanya.


JTAK

__ADS_1


Anika menjitak kepala pemuda disampingnya "lo lagi drama jadi cowok dingin kayak dinovel-novel, kayak pacarable gitu? Sadar Rey...sadar gak cocok tau gak." ejek gadis itu dengan langkah tertatih meninggalkan ruangan UKS tentu dengan Rey yang menyusul tak lupa mulutnya yang menyumpah serapahi gadis didepannya.


Ratu masih mencerna apa yang baru saja terjadi, dari awal pemuda itu bersuara tak ada kata-kata yang tak masuk keindra pendengarannya, ia bingung, kesal, dan benci. Bahkan dengan perkataan Anika yang kelewat frontal tetap saja pemuda itu tetap membelanya.


Ia tak buta, ia dengan jelas melihat keseriusan dimata pemuda itu, Rey sama sekali tak berakting dan ia sadar akan hal itu.


"Dengan apa yang lo liat dan dengar, harusnya lo udah tau sejauh apa perasaan Rey ke Anika." sahut Emma.


Ratu mengepalkan tangannya, bahkan Anika tak ada apa-apanya dibandingkan dengannya, yang ia lakukan hanya perlu membuat Rey terkesan kemudian pelan-pelan mengambil hatinya.


"Lo tenang aja, gue masih dipihak lo, gue bakal bantu lo nyingkirin Anika."


"Selama nama gue gak semakin buruk disekolah ini gue setuju." jawab Ratu santai.


Emma terkekeh pelan "orang dengan kasus pembullyan kayak lo ternyata bisa berguna dan diterima disekolah ini ya."


Ratu tersenyum miring "yang dibutuhin saat olimpiade adalah otak bukan bukti apa lo pernah membully disekolah atau tidak, dan...gue kaya, lo pernah dengar ucapan, apapun bisa selesai dengan uang kan?"


Emma mengangguk acuh "setidaknya itu bisa jadi alasan Rey akan milih lo dibandingkan Anika. Ya...walaupun bukan sekarang, tapi cepat atau lambat pasti akan terjadi."


"Pasti." yakin Ratu dengan pandangan menerawang kedepan.


.


.


.


.


Bersambung


Hallo guys, bantu vote, like dan komen ya~


Ig: siswantiputri3

__ADS_1


^^^07-DESEMBER-2021^^^


__ADS_2