
Gadis cantik dengan rambut dikuncir terlihat menghela nafas dengan pandangan menerawang ke depan, tangannya menatap nanar pesan dari seseorang diseberang. Sekarang hidupnya tak ada lagi artinya, seakan cuma tubuh dia yang bergerak sedangkan raganya sudah mati. Tak memiliki arah tujuan dengan permasalahan pelik yang tak pernah bisa berakhir.
"Gue gak pernah sudi nganggap dia mama gue, bahkan sampai kapanpun gue gak akan terima." monolognya pelan.
Bibirnya kembali menghela nafas jengah sambil bersandar pada pohon disampingnya, jangankan mendapatkan Rey! Mendapatkan kasih sayang papanya saja ia tak bisa, lalu sekarang apa yang harus ia lakukan? Belum lagi adanya sosok baru yang menggantikan posisi almarhumah mamanya pada keluarga Axelion.
Ia benar-benar muak, bahkan tanpa persetujuannya papanya tetap menikah lagi. Sekarang ia benar-benar bingung tentang posisinya pada keluarga itu.
"Lo bisa stres juga ya." celetuk seseorang tiba-tiba membuat Ratu mendongakkan wajahnya kemudian mendengus kesal melihat gadis yang tak asing dimatanya.
"Mau apa lo disini." sarkas Ratu pada Anika yang kini mendudukkan tubuhnya dengan pandangan acuh.
"Gue cuma mau lihat muka stres lo aja, jarang-jarang kan lo bisa kayak gini."
"Sialan lo." umpat Ratu kesal.
Anika mengedikkan bahunya kemudian dengan santainya mengeluarkan satu bungkus rokok dan juga pemantik yang ia bawa setiap hari. Tangan lentiknya membakar benda persegi panjang itu sambil menghisapnya berulang-ulang.
"Gak waras ya lo ngerokok kayak gitu, apalagi ini disekolah." bentak Ratu, Kepalanya menggeleng tak habis fikir dengan tingkah dari pemilik wajah imut yang tak sesuai dengan perbuatannya.
"Kenapa? Lo mau coba?" tanya Anika dengan senyum manisnya.
"Gak, gue gak mau nyia-nyiain hidup gue karena ngerokok. Hidup gue terlalu berharga buat benda laknat yang lo pegang." sentak Ratu.
"Yaudah, gue juga berharap lo gak mau terima pemberian gue." jawab Anika santai.
Ratu menyipitkan matanya, menatap wajah Anika dengan pandangan menelisik "lo gak takut kecanduan sama rokok? Asal lo tau benda yang lo pegang itu bawa penyakit, gue emang gak suka sama lo tapi sayang aja kalau lo rusak cuma karena benda itu."
Anika terkekeh pelan "gue udah kecanduan, lo aja yang gak tau senikmat apa sensasinya ngerokok. Lagian gue udah rusak sejak awal, jadi kenapa gak sekalian aja. Sayang kalau nanggung."
Ratu terhenyak beberapa saat, bibirnya seakan kelu mendengar penuturan gadis disampingnya, bahkan otaknya tak bisa menyusun kalimat untuk saat ini.
Anika kembali menghembuskan asap rokok dari hidung dan mulutnya, kepalanya sedikit menoleh menatap Ratu yang sibuk dengan keterdiamannya, entah apa yang dipikirkan gadis itu?
"Mama lo jauh lebih mengesalkan dari pada lo ternyata." celetuk Anika santai.
"Mama gue udah meninggal."
Gadis cantik itu menghentikan kegiatannya, kepalanya teralih sepenuhnya pada Ratu yang sibuk menerawang ke depan "jadi, nenek lampir yang ada dirumah lo siapa?"
"Nenek lampir?" ulang Ratu dengan raut bingung.
"Hu'um."
__ADS_1
"Istri papa gue." walaupun malas mengakui Ratu tetap menjawab pertanyaan gadis disampingnya, tapi detik berikutnya matanya membola menatap Anika yang kini menatapnya dengan raut tanya.
"Lo ngapain ke rumah gue?" sarkas Ratu dengan pandangan menyelidik, ia bahkan baru sadar sekarang kalau gadis disampingnya pernah berkunjung ke rumahnya.
"Gue ada urusan sama papa lo."
"Jadi, waktu lo ada dikantor papa gue lo ke rumah gue dulu?" tanya Ratu.
"Iya." jawab Anika acuh.
Ratu menggeleng tak percaya, kenapa gelar permusuhan bagi mereka sekarang terdengar aneh. Lagipula tak ada musuh yang berkunjung kerumah musuhnya yang lain, apalagi sampai berurusan dengan papa musuhnya sendiri.
"Ngapain lo cari papa gue?" tanya Ratu dengan pandangan penuh tanya, bahkan sekarang ia kepo tentang urusan gadis disampingnya, apalagi ini berhubungan dengan papanya sendiri.
"Ambil kompensasi karena lo plagiat puisi gue waktu itu."
"Sialan emang lo, padahal yang harusnya bayar lo itu gue. Jangan bilang lo nipu papa gue ya." selidik Ratu.
"Bisa jadi, masalahnya tampang papa lo kayak orang yang mudah ditipu, gue kan gak bisa nahan diri."
JTAK.
Tanpa perasaan jitakan pelan mendarat diatas kepala Anika, Ratu yang menjadi tersangka utama ternyum sombong kemudian menepuk-nepuk tangannya yang sudah berhasil memberi pelajaran pada gadis disampingnya.
"Makanya jangan ngatain papa gue."
"Kan emang kenyataannya, buktinya gue bisa tipu dia. Kok lo yang sewot sih, kesal banget gue." ucap Anika misu-misu.
Ratu menghela nafas pelan "muka lo ngeselin, eh tapi gue belum ngirim uang ke nomor rekening lo. Nanti bakal gue kirimin, lupa gue."
"Gak usah." ketus Anika "lagian kayaknya yang lebih butuh uang itu lo deh bukan gue." sambungnya santai.
Ratu mendelik "gue itu udah kaya, ngapain gue butuh uang itu lagi. Bahkan gue bisa dapat uang berkali-kali lipat dari papa gue." jawabnya sombong.
"Gue gak seidiot itu buat tau hubungan lo dengan papa lo saat ini, kalian gak terlihat kayak sepasang ayah dan anak. Jadi saran gue mending lo jangan tergantung sama papa lo mulai sekarang, lo gak bisa berporos sama papa lo terus." nasehat Anika, jujur! Bahkan ia tak tau kenapa harus mengatakan itu pada gadis disampingnya.
"Lo gak tau apa-apa." sentak Ratu dingin.
"Gak, gue cukup tau kalau papa lo gak sepeduli itu selain menjadi sosok yang ngirimin lo uang buat bertahan hidup, selebihnya gak ada lagi." sela Anika.
"...."
Anika bangkit dari duduknya, roknya ia tepuk-tepuk kemudian menatap wajah Ratu yang kini terlihat murung. Dengan santai ia menepuk pundak gadis itu berulang-ulang.
__ADS_1
"Anggap aja itu nasehat dari musuh lo, ah ya...lupain aja kalau gue sama lo tadi saling cerita, gue gak mau ada hubungan lain selain status musuh antara gue dan lo, jadi lupain kalau gue pernah peduli sama lo."
"Tunggu Anika---"
"Yang gue butuhin sekarang musuh kayak lo, bukan seorang teman ataupun sahabat." potong Anika cepat kemudian benar-benar berlalu meninggalkan Ratu yang masih terdiam ditempat.
"Ya, kayaknya gue juga cuma butuh musuh kayak lo Anika." monolog Ratu pelan sambil menatap punggung seorang gadis yang perlahan menjauh.
...***...
"Lo darimana aja? Kebiasaan ngilang tiba-tiba." tanya Rey yang saat ini duduk disamping Emma.
Anika mendudukkan tubuhnya tepat didepan Rey dan Emma, jus manggis yang sudah ia pesan dari ibu kantin ia hirup perlahan tanpa ada niatan menjawab pertanyaan yang tak penting menurutnya.
"Kamu darimana?" tanya Emma.
"Sadarin pengikut lo." jawab Anika santai sontak membuat Emma mengernyit tak mengerti begitupun dengan Rey yang kini sudah memasang wajah bingungnya.
"Maksud kamu apa?" tanya Emma.
"Pengikut apa maksud lo?" timpal Rey yang juga penasaran mengenai ucapan gadis didepannya ini.
"Pengikut dalam kesesatan."
Rey mengacak rambutnya frustasi "bisa gak jangan main tebak-tebakan, otak gue gak nyampe kalau main-mainan kayak gitu. To the poin aja beb."
"Gue cuma asal ngomong."
Emma menatap Anika intens, sekarang ia merasa ada yang tak beres dengan gadis itu. Tapi ia bingung masalahnya apa? Dan soal pengikut yang dimaksud Anika ia sama sekali tak mengerti, sebenarnya apa yang sudah diperbuat gadis itu dibelakangnya?
"Terserahlah terserah, asal lo bahagia aja. Gue mah ngikut." pasrah Rey kemudian kembali memakan batagor didepannya dengan khidmat, tak mau lagi ambil pusing tentang ucapan Anika yang penuh dengan tanda tanya.
.
.
.
.
Bersambung
Jangan lupa mampir ke cerita baru aku ya, judulnya 'suami cadangan' thanks~
__ADS_1
Instagram: siswantiputri3