
PLAK
Sebuah tamparan keras mendarat sempurna pada pipi mulus Ratu. Kepalanya menunduk melihat raut murka papanya, apalagi kejadian ini disaksikan oleh banyaknya guru dan juga para murid yang mengintip dari balik jendela.
"Sabar tuan Ranendara, ini bisa dibicarain baik-baik." celetuk sang kepala sekolah. Seburuk apapun yang sudah siswinya lakukan! Main tangan bukan solusinya.
"Iya tuan Ranendara, kasian Ratu."
"Sekarang jelasin semuanya, kenapa kamu lakuin hal memalukan ini?" tanya Ranendara datar. Ratu meremat tangannya kuat, menghadapi kemarahan papanya selalu membuatnya tegang bahkan suara disekitarnya seakan berdengung dan hanya terfokus pada paruh baya itu.
"Aku---aku gak pernah lakuin itu pa!"
"Saya tidak butuh kebohongan kamu."
"Aku udah jujur, aku gak pernah lakuin itu. Aku mohon percaya sama aku pa." jawab Ratu pelan "kali ini aja." tambahnya lirih.
Suasana tegang dari ruangan kepala sekolah menjadi hening seketika, semua orang berusaha mencari titik terang permasalahan ini, tapi sebanyak apapun usaha mereka menyangkal tetap saja bukti rekaman itu jelas terlihat Ratu pelakunya. Mustahil tak percaya.
"Aku gak bohong."
"Tapi nak, rekaman itu udah jelas kalau kamu pelakunya. Andai saja seperti kemarin yang mukanya tidak kelihatan dan hanya bentuk tubuh sama model rambutnya yang mirip Anika mungkin pihak sekolah bisa selidiki lebih detail dan sedikit percaya. Tapi kali beda."
Ratu menggigit bibirnya kasar? Apa yang harus ia lakukan sekarang. Kenapa kejadian ini malah menjadi boomerang untuknya, padahal ia sudah berkata yang sebenarnya. Kenapa ia harus berada pada situasi sekarang? Padahal ia sudah alpha sekolah satu hari untuk menjernihkan pikiran, bukannya membaik kini ia malah mendapat masalah serumit ini! Apa yang harus ia lakukan?
"Tapi aku gak bohong Bu."
"Biar saya yang tangani masalah ini, saya juga akan bayar kerugian pihak sekolah. Tapi saya punya satu permintaan jangan biarkan kejadian ini bocor sampai keluar sekolah." ucap Ranendara.
"Saya juga tidak mungkin membiarkan kejadian ini bocor. Itu juga berdampak pada citra sekolah. Membiarkan orang lain tau kalau sekolah unggulan Arwana menimpa masalah dan itu karena murid didiknya sendiri itu namanya bunuh diri."
"Bagus." Ranendara berjalan menghampiri anaknya yang masih menunduk sejak tadi. Tangannya kembali terkepal mengingat perbuat putrinya itu, apa yang sudah dilakukan benar-benar mencoreng habis harga dirinya.
__ADS_1
"Keruangan saya nanti malam." titahnya pelan, meninggalkan Ratu yang kini memandang kosong lantai dengan keringat dingin bercucuran pada tubuhnya. Bahkan rasanya bernafas saja sangat sulit hingga tiba-tiba semuanya menjadi gelap dengan suara berdengung.
BRUK
"NAK RATUUU."
...***...
Anika menatap kakinya sambil melangkah pelan meninggalkan ruangan kepala sekolah. Ia sudah cukup jelas melihat dan mendengar penghakiman yang dialami Ratu. Andai ia tak cepat bertindak mungkin yang berada pada posisi itu adalah dirinya. Tapi sepertinya posisinya akan lebih baik karena tak ada ayah tempramel yang melayangkan tamparan pada pipinya.
"Hidup lo ternyata juga menyedihkan."
Bibirnya menghela nafas pelan dengan tubuh ia dudukkan pada tangga yang menuju lantai bawah, pandangannya lurus ke depan dengan badan bersandar pada dinding sekolah. Walaupun dengan jelas kalau wajah itu adalah milik Ratu! Tapi kenapa ia masih tak percaya dan sedikit curiga kalau ada yang salah.
Apalagi awalnya ia meminta dan mengancam Emma agar nama baiknya kembali pulih. Dan boom! Ternyata besoknya jalan cerita dan juga sang pelaku utama tiba-tiba menjadi orang lain, satu kesimpulan yang ia tau. Semuanya memang sudah diatur dari awal oleh Emma, dan mungkin saja apa yang diucapkan Ratu kalau itu bukan dirinya memang benar.
Tapi bagaimana caranya Emma melakukan itu semua? Bahkan wajah orang itu sama dengan wajah Ratu.
"Ah...tapi, biarin orang kayak dia damai bisa nimbulin banyak masalah. Apalagi gak ada jaminan kalau dia gak akan libatin gue direncana busuknya. Dan juga dia juga udah jadi list orang yang akan gue buat sengsara." pikirnya lagi.
"Jadi disini cuma ada dua kemungkinan. Lo buat gue jatuh atau gue yang bergerak lebih dulu jatuhin lo. Baiklah, kayaknya sedikit bantu Ratu dalam masalah ini bukan pilihan yang buruk. Akan lebih baik kalau gue dapat bukti kalau dia yang lakuin rencana picik ini, pasti seruuu."
...***...
Langit luas menjadi pemandangan indah yang kini dinikmati oleh Rey. Tangannya ia tumpuk dibawah kepala sebagai bantal dengan pandangan lurus ke awan. Setelah terlibat percakapan yang cukup buruk dengan Anika akhirnya ia memutuskan untuk menjernihkan pikiran dirooftop.
"Gue suka sama lo."
"Gue juga sayang sama lo."
"Bahkan sekarang gue cinta sama lo."
__ADS_1
Bibirnya menghela nafas pelan dengan satu tangan terangkat keatas. Lengkungan pada bibirnya timbul membayangkan wajah Anika kini tersenyum padanya. Mau sekuat apapun ia membodohi diri dan menyangkal nyatanya itu tak merubah apapun tentang perasaannya pada gadis itu.
Ia tak tau kapan lebih tepatnya perasaan ini muncul, ia tak pernah berpikir kalau pada akhirnya akan jatuh pada pesona gadis yang berstatus sahabatnya sendiri. Candaan yang ia lakukan selama ini kenapa bisa menjadi kenyataan, dan kenapa dari banyaknya perempuan yang ia goda pada akhirnya harus berakhir pada Anika. Jujur ini miris!
"Sekarang gue harus apa?" tanyanya pada angin lalu, berharap rasa gundah pada hatinya terjawab seketika.
"Perasaan ini gak semudah yang seharusnya." andai saja ini hanya masalah cinta yang tak terbalas mungkin ia bisa mendekat dan membuat cintanya terbalas, tapi lagi-lagi ada permasalahan pelik yang membuat perasaanya ini salah sampai kapanpun dan mungkin seumur hidup tak bisa ia terima.
"Ah...benar juga! Harusnya biarin aja dulu kayak gini. Kenapa gue gak coba nikmatin perasaan gue ini sama Anika, lagian ini pertama kalinya gue ngerasain banyaknya kupu-kupu dan perasaan menghangat bahkan saat dia marahin gue." kekehnya pelan.
"Untuk kali ini gue juga mau rasain ini sama lo Anika. Ya! Untuk kali ini, sebelum semuanya berakhir." monolognya pelan.
"Sebelum gue kembali ke tabiat gue yang suka goda-goda cewek cantik." kekehnya pelan sambil menyalakan rokok dengan pemantik yang sedari tadi ia bawa.
Hembusan asap rokok keluar dari mulut dan hidungnya beberapa kali dengan pemandangan menatap banyaknya para siswa dibawah sana yang sibuk dengan aktivitas mereka masing-masing. Cerminan hidup yang monoton, ia sampai bosan melihat ini semua. Menjalani aktivitas yang sama berulang-ulang setiap harinya, andai ia bisa melakukan hal yang menarik hari ini, jam ini dan detik ini pasti terdengar menyenangkan.
"Tik tok tik tok."
Kring...kring...kring.
"Tepat." ucapnya saat bel masuk terdengar samar pada lokasinya saat ini, dengan santai ia membuang puntung rokoknya kemudian berjalan dari tempatnya saat ini.
.
.
.
.
Bersambung
__ADS_1
Instagram: siswantiputri3