
"Urusan kamu sama Ratu udah selesai?" tanya Emma tiba-tiba, tubuhnya berbalik menatap Rey yang baru saja mendudukkan tubuhnya.
"Yoi."
"Kalian bahas apa?"
Anika menyandarkan tubuhnya pada dinding sekolah, ia menghadap kearah Emma dengan Rey disampingnya yang hanya dibatasi meja.
"Ingat, privasi." celetuknya santai.
"Maaf, kalau kamu gak mau ngasih tau gak apa-apa kok." Emma menundukkan pandangannya, merasa bersalah karena rasa penasarannya apalagi mendengar ucapan Anika yang membuatnya semakin tak enak.
"Santai-santai, tapi kalau lo mau tau gue cuma bahas masa depan."
"Alah...gaya lo." sahut Anika dengan tangan terangkat, ingin menabok kepala pemuda disampingnya, tapi pergerakannya dengan cepat dihentikan pemuda itu.
"Gak boleh kasar sama suami sendiri, ingat! Dosa." jawab Rey bijak, tangan gadis itu ia tangkup pada kedua telapak tangannya, bibirnya tersenyum tipis melihat betapa kecilnya tangan lentik gadis didepannya.
"Menurut kamu Ratu gimana?" tanya Emma, mencoba mengalihkan fokusnya dari pemandangan yang membuatnya sakit hati, ia benar-benar bingung dengan hatinya yang tak bisa melihat kedekatan Rey dan Anika, dan itu benar-benar menyiksa.
"Gak gimana-gimana, tanpa gue sebutin famous Ratu udah keluar."
Emma mengangguk setuju "kamu ada niatan balas perasaan dia?" tanyanya hati-hati.
Rey menghentikan kegiatannya memainkan jari Anika, tangan gadis itu ia letakkan diatas meja dengan telapak tangannya berada diatasnya "ada."
"Bagus sih." celetuk Anika.
"Kenapa?" tanya Emma spontan.
"Gak apa-apa, bagus aja."
"Ratu cantik sih, pintar lagi gak rugi kalau gue pacaran sama dia." Rey menerawang kedepan, menatap papan tulis yang bersih tanpa adanya coretan spidol.
"Kalau ada yang suka sama kamu selain Ratu...gimana?" tanya Emma.
"Gak gimana-gimana, gue kan emang banyak yang suka, pesona gue udah gak bisa disembunyiin lagi soalnya." sahutnya narsis dengan tangan terangkat menyisir rambut depannya kebelakang.
"Kalau orangnya gak secantik Ratu emm...sama gak sepintar Ratu bahkan gak sekaya Ratu...kamu keberatan gak?" tanya Emma lagi.
Rey berfikir sejenak, alisnya mengkerut seakan memikirkan hal yang serius, bibirnya tiba-tiba menampilkan senyum lebar dengan pandangan menatap Anika menggoda "kalau Anika sih gue mau-mau aja." matanya berkedip sebelah menatap gadis didepannya yang saat ini menggerling jijik.
"Ewww."
__ADS_1
"Aku serius Rey."
"Mau banget diseriusin sama gue." jawabnya dengan nada menggoda.
Emma mengalihkan pandangannya ke segala arah, ia benar-benar tak bisa menahan degup jantungnya yang mulai menggila, bahkan ia sudah tau pemuda itu hanya bercanda, tapi tetap saja perasaannya tak bisa diajak bercanda.
"Lo goda Emma juga gak akan mempan, dia kan gak suka sama lo." celetuk Anika.
Rey menampilkan cengiran polos "karena gue tau dia gak mungkin suka sama gue makanya gue goda, jadi gampang aja gak ada yang namanya baper trus gak ada korban gosting."
"Lagian buat apa Emma dukung lo pacaran sama Ratu kalau dia ada perasaan sama lo, ini bukan sinetron atau novel-novel yang ceritanya polos-polos menghanyutkan, didepan dukung tapi dibelakang ngatur rencana sesat, iya kan?" Anika tersenyum lebar, menatap Emma dengan pandangan polos.
Gadis itu terkekeh pelan "iya." bibirnya ikut tersenyum dengan perasaan was-was yang kian terasa, tangannya saling diremas menanggapi situasi yang membuatnya tak nyaman.
Rey menyentil dahi Anika "gini nih kalau lo kebiasaan baca novel, apa-apa di samain, kenapa lo gak jadi author aja, lo kan juga suka halu."
"Tunggu gue dapat hidayah." jawabnya asal.
"Trus apa hubungannya jubaidah?" tanya Rey tak habis fikir.
Anika mengedikkan bahunya acuh, tubuhnya ia balikkan menghadap kedepan saat bel tanda pelajaran akan dimulai, teman kelasnya yang sebagian ada diluar kini berbondong-bondong masuk kedalam. Ruangan yang awalnya sunyi kini mulai terdengar bising.
"Pagi Anak-anak, gimana kabarnya sehat?" tanya Bu Ningsih, guru matematika yang baru saja masuk.
Anika mengangkat tangannya, pertanda ingin mengutarakan sesuatu, tentu disambut baik oleh guru yang saat ini berdiri diatas.
"Iya Anika."
"Besok pentas tahunan dimulai kan Bu?"
"Bukannya informasinya sudah ada digrup sekolah, kamu gak baca?" Bu Ningsih sedikit heran, padahal semua murid sudah heboh disosial media, bahkan sebagian dari mereka meninggalkan komentar karena keantusiasan menunggu acara itu, tapi kenapa ada didik satunya ini masih bertanya lagi?
"Gini Bu, kuota aku habis, hp aku juga lowbet seharian, jadi aku gak tau apa-apa, terus gak ada yang ngasih tau aku lagi, jahatkan mereka Bu." jawab Anika dengan wajah nelangsa.
Semua murid kelas 2 IPA 1 melongo, pandangan mereka terarah pada gadis yang kini menatap mereka dengan wajah tak berdosa.
"Rumah gue jauh dari rumah lo, yakali gue ngapel kerumah lo cuma karena mau ngasih tau informasi ini, ngabisin bensin." celetuk siswa bagian belakang.
"Betul, lagian kita juga gak tau kalau lo belum tau informasi ini." timpal salah satu dari mereka.
"Lagian harusnya lo beli kuota, malu sama hp, gak ada isinya." celetuk siswi bagian pojok kiri kelas.
"Gue heran! Kok bisa hp lo lowbet seharian, malah gak ada kuotanya lagi." nyinyir Sri.
__ADS_1
Anika mengerucutkan bibirnya, tak ikhlas menjadi bahan bullyan teman kelasnya sendiri, matanya menatap teman kelasnya dengan pandangan tajam, pertanda bendera permusuhan sudah dikibarkan.
"Tenang-tenang para penghuni surga." lerai Rey, ia bangkit dari duduknya, pandangannya beralih pada teman kelasnya bergantian.
"Aamiin." serentak mereka.
Pemuda itu tersenyum lebar "gini ya friends, kalian gak boleh nyalahin Anika kayak gitu, gimanapun ini bukan sepenuhnya salah dia."
Anika menyunggingkan senyumnya, sedikit terharu mendapat pembelaan dari pemuda yang biasanya ia nistakan.
Sedangkan teman kelasnya yang lain ingin protes, baru saja mulut mereka ingin menyerukan pendapat tapi instruksi dari Rey membuat bibir mereka kembali terkatup.
"Ini salah orang yang gak mau jadiin Anika gebetan, kalau Anika ada pacar kan gampang, pasti setiap hari kuotanya diisi, cas hpnya full karena setiap hari pasti Anika stand by pegang hp buat balas chat. Kamu udah makan? Udah minum? Udah mandi? Udah mati belum?"
Seluruh siswa/siswi kelas 2 IPA 1 sontak tertawa keras, mendengar penjelasan dari pemuda yang katanya pangeran sekolah benar-benar membuat mereka puas, apalagi melihat wajah merah Anika karena menahan kesal, benar-benar ugh..mantap.
Bu Ningsih yang sejak tadi dianggap pajangan mulai angkat suara, jika dibiarkan waktu mengajarnya benar-benar akan habis hanya karena mendengar lolucon dari anak didiknya ini.
"Sudah-sudah, sekarang kalian buka buku paket kalian halaman 103." perintahnya dengan suara keras.
"Baik Bu." jawab mereka ogah-ogahan.
Rey kembali duduk di kursinya, bulu kuduknya sedikit merinding, entah mengapa hawa disekitarnya menjadi tak enak.
"Bro, lo ngerasa juga gak ada aura membunuh? Bulu kuduk gue kok tiba-tiba berdiri."
Rey menolehkan pandangannya, mendengar ucapan Roy yang satu meja dengannya membuat hatinya sedikit was-was, kepalanya kembali kedepan, air liurnya diteguk paksa saat matanya tepat pada wajah Anika yang saat ini menatapnya dengan pandangan mematikan, apalagi dengan tangan lentiknya yang saat ini berpose menggorok lehernya sendiri, ia benar-benar tak tertolong sekarang.
.
.
.
.
Bersambung
Hallo guys~jangan lupa tinggalkan jejak ya
Ig: siswantiputri3
^^^13-DESEMBER-2021^^^
__ADS_1