
Anika mengamati pantulan dirinya pada cermin mobil milik sahabatnya, setelah dirasa sempurna dengan cepat ia menyusul langkah Rey yang mulai menjauh, tapi tarikan pada lengannya mau tak mau mengubah arah tujuannya.
"Ikut gue." celetuk Emma tiba-tiba.
"Lo mau bawa gue kemana?" tanyanya dengan alis terangkat.
"Gak usah banyak omong."
Anika memutar bola matanya, tak ada lagi pertanyaan yang keluar dari mulutnya saat ini, yang ia lakukan hanya mengikuti langkah gadis didepannya dengan tangan yang masih dicengkeram erat.
"Apa?" tanya Anika setelah sampai ditempat tujuan, belakang sekolah yang sangat sepi saat ini. Bahkan tak ada tanda-tanda kehidupan selain mereka berdua.
"Lo ngomong apa aja sama Rey tentang gue?" Emma menatap tajam gadis didepannya terdengar nada menuntut dari pertanyaan yang keluar dari bilah bibirnya.
"Apa maksud lo?"
"Gak usah pura-pura gak tau, gue yakin lo tau apa maksud gue." sela Emma cepat.
Anika terkekeh pelan tangannya bersidekap dada menatap remeh gadis didepannya yang menatapnya sengit "tapi gue beneran gak tau, lo takut Rey tau semuanya mengenai apa? Dalang dari yang plagiat puisi gue, pencurian tentang uang Ratu, putus asanya lo karena gak dapat sertifikat panti karena terlanjur kebakaran..."
Gadis cantik itu menghentikan ucapannya, kakinya semakin mendekat pada tubuh Emma yang mulai tak tenang mendengar ucapannya "atau kelakuan lo yang udah nyuruh seseorang buat ambil ginjal gue?" bisiknya pelan.
"APA MAKSUD LO?" teriak Emma lantang tubuhnya sudah menegang, mendengar semua ucapan gadis yang berdiri santai didepannya.
"Lo tau apa yang gue maksud." timpal Anika datar tak lupa pandangan remeh ia berikan pada sahabat tersayangnya.
Emma menggelengkan kepalanya brutal, matanya memerah menahan amarah mendengar semua rahasianya terbongkar begitu saja "gue gak kayak apa yang lo bilang." sangkalnya.
"Oh ya? Lo mau gue buktiin semuanya langsung atau gue bongkar satu persatu rahasia lo itu?" tanya Anika dengan pandangan remeh.
"Lo--lo gak bisa buktiin apa-apa, karena gue gak pernah lakuin semua yang udah lo tuduhkan sama gue." ejeknya dengan tawa hambar, mencoba menenangkan hatinya yang mulai risau. Mau bagaimanapun tak ada yang boleh tau tentang semuanya bahkan kalau perlu ia akan membawanya sampa mati.
Anika tersenyum manis sambil menepuk pundak Emma berulang-ulang "tenang aja, untuk saat ini lo bisa nikmatin hidup lo seperti biasanya." bisiknya kemudian melenggang pergi meninggalkan Emma yang masih membatu ditempat.
"Enggak, dia pasti cuma nakut-nakutin gue doang." monolognya yakin.
...***...
"Lo dari mana?" sembur Rey saat netranya menatap Anika yang kini berjalan santai memasuki ruang kelas.
"Ngurus hama."
__ADS_1
"Hama apaan? Emang dimana? Kok lo gak ngajak-ngajak gue?" tanya Rey beruntun sambil membalikkan tubuh Anika untuk menghadap kearahnya.
"Adalah pokoknya, yang jelas hama ini cukup mematikan."
"Seriusan?" tanya Rey kepo.
"Hu'um."
Rey mengernyit penasaran, hingga penglihatannya kembali menangkap seseorang yang mulai memasuki kelas "lo juga dari mana Emma?"
"Aku dari toilet."
"Ngapain ditoilet?" tanyanya polos.
Roy yang mulai jengah dengan kekepoan teman sebangkunya itu akhirnya tak bisa diam, tangannya terangkat menjitak kepala pemuda disampingnya tanpa perasaan. Ia terlalu malas mengahadapi rasa penasaran Rey yang sudah mendarah daging.
JTAK.
"Lo apa-apansih." sewot Rey dengan tangan mengelus kepalanya berulang-ulang.
"Gue malas dengar lo yang nanya sana-sini, gak bisa apa ya gak ngurusin hidup orang! Heran gue" sarkas Roy.
"Gak bisalah, kan mereka berdua istri-istri gue, sebagai suami yang baik gue harus tau mereka habis dari mana. Itu baru yang namanya suami idaman tampan dan menggoda."
Anika tiba-tiba menatap wajah pemuda itu serius, isi otaknya harus mendapat jawaban dari Rey sekarang juga "eh Rey, berarti keluarga Louis juga bangkrut setelah insiden itu kan?"
Sang empu yang ditanya mengernyit kemudian menganggukkan kepalanya pelan sebagai jawaban "iya, emang kenapa?"
"Terus apa lagi yang terjadi." bukannya menjawab Anika malah bertanya lebih lanjut.
"Gue dengar sih putra sulung keluarga Louis sempat diusir sama kerabatnya sendiri, lo tau kan orang kaya kebanyakan gak mau berhubungan baik sama orang yang gak bisa menguntungkan mereka lagi." jelas Rey.
"Sampai segitunya?" tanya Anika tak habis fikir.
"Iya, jadi putra sulung keluarga Louis pergi ke Amerika untuk memulai hidup baru, gue sih gak tau caranya dia ke sana pakai apaan. Tapi yang gue dengar dongengnya kayak gitu, makanya gue kaget pas lo kenal sama dia waktu dipentas sekolah."
Anika mengangguk paham "tapi...kok lo tau sih kalau dia putra sulung keluarga Louis?" tanyanya menyelidik.
"Marga sama wajah dia ada dimajalah kalau lo mau tau, jelas gue taulah. Gue kan orangnya kepo apalagi kalau berhubungan dengan orang penting."
"Kalian bahas apa?" celetuk Emma dengan tatapan polos.
__ADS_1
"Anak kecil gak boleh tau, bukan waktunya nanti bisa menimbulkan bahaya." canda Rey dengan kekehan kecilnya.
"Aku buka anak kecil Rey." timpal Emma dengan bibir mengerucut kesal.
"Kalau dilihat-lihat lo cantik juga ya. Sumpah gue gak bohong, kan gemes jadinya." puji Rey dengan mata dikedipkan ke arah Emma.
Semburat merah menghiasi wajah gadis itu, ia tak bisa mendengar pujian dari seseorang yang sudah mengambil hatinya. Perasaan malu tentu saja jelas tak bisa ia sembunyikan jika menghadapi sikap Rey yang selalu menggodanya.
"Gue saranin lo jangan baper deh sama Rey, lo tau sendirikan nih orang gak pernah serius." jujur Roy, dengan pandangan yang masih fokus pada game diponselnya tapi tentu Emma sangat jelas mengerti perkataan itu ditujukan untuknya.
"Ak--aku gak baper kok." jawab Emma dengan tawa hambar.
"Lo ngomong kayak Emma punya perasaan aja sama gue." canda Rey pada pemuda yang masih asik bermain game online disampingnya.
"Bisa aja kan? Lo mana tau isi hati seseorang." celetuk Anika santai.
"Pftttt...bhuahahahahahahahahaha, gak mungkinlah lagipula gue gak mungkin suka sama Emma. Aneh lo, gue kan cuma bercanda." jelas Rey.
"Lo emang enggak, tapi bukan berarti Emma juga enggakkan?" timpal Anika lagi.
Rey menggeleng tak habis fikir "mana mungkin Emma suka sama gue, lagipula gue gak pernah serius kok sama ucapan gue selama ini ke dia. Kecuali kalau sama lo gak diragukan lagi, karena gue emang gak pernah bercanda tentang ucapan gue kalau lo istri gue. Gue emang berniat sih mau jadiin lo istri gue dimasa depan." ucapnya serius sambil menatap intens manik amber milik Anika.
Emma tersenyum kecut, pandangannya ia alihkan menghadap kearah lain, mencoba menguatkan hatinya agar tetap tegar mendengar ucapan Rey yang sukses membuatnya sesak setengah mati.
"Rey." panggil Anika dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Iya." balas Rey serius.
"Gue gak baper." celetuknya santai yang sukses membuat Rey menjatuhkan rahangnya mendengar adegan romantis yang berusaha ia buat dipatahkan oleh sahabat cantiknya.
"Lo emang gak bisa liat gue senang." timpal Rey dengan ekspresi mendramatisir sambil mengelus dadanya berulang-ulang menghadapi sikap sahabatnya yang tak bisa diajak romantisan seperti drama romansa yang ia lihat didalam tv.
.
.
.
.
Bersambung
__ADS_1
Instagram: siswantiputri3