Antagonis

Antagonis
Chapter 57


__ADS_3

"Gue balik duluan." pamit Anika, ponselnya ia keluarkan menatap jam yang tertera pada layar benda pipih itu.


"Padahal kamu baru sebentar disini." celetuk Emma.


Rey ikut membenarkan, kepalanya mengangguk setuju padahal jam baru menunjukkan pukul 13:20, masih siang hari untuk pulang ke rumah.


"Gue mau tidur siang."


"Sejak kapan lo tidur siang?" tanya Rey cepat, ia sedikit heran dengan sikap sahabatnya ini.


"Sejak hari ini." jawab Anika santai, kakinya sudah melangkah keluar dari rumah itu, meninggalkan Rey dan Emma yang tampak ingin bertanya lebih lanjut.


"GUE ANTAR YA." teriak Rey keras.


"GAK USAH."


Tanpa menghiraukan mereka berdua akhirnya ia benar-benar meninggalkan tempat itu, matanya mengedar mencari taxi online yang beberapa saat lalu sempat ia pesan.


Tak butuh 5 menit ia sudah menemukan taxi itu, kakinya berlari kecil menghampiri sang sopir sambil mengatakan tempat yang ingin ia tuju.


"Neng yakin mau ke tempat itu?" tanya sang sopir memastikan.


"Iya pak."


"Tapi bukannya itu bangunan kosong ya neng, mau ngapain kesana?"


Anika menghela nafas pelan "jalan aja pak." titahnya sedikit kesal, ia tak suka seseorang ikut campur dengan masalahnya, tapi ia juga tak sampai hati bersikap kurang ajar dengan orang yang lebih tua darinya, apalagi orang itu tak ada masalah apa-apa dengan hidupnya.


"Baik neng."


Mobil bercat putih itu akhirnya melaju membela jalanan, melewati setiap kendaran yang tak banyak berlalu lalang pada jalan raya, hanya ada hening diantara mereka berdua, sang sopir yang tak enak terlalu kepo dan Anika yang masih setia dengan kediamannya.


Bangunan yang warnanya mulai pudar dengan akar tumbuhan merambat pada dinding menjadi pemandangan pertama yang ia lihat setalah sampai ditempat tujuan.


Anika menghela nafas pelan, tangannya menyerahkan selembar uang pada sang sopir sebelum keluar dari mobil itu, ia tampak bergeming, bangunan didepannya adalah bangunan yang sama dimana ginjalnya pernah diambil.

__ADS_1


Mungkin datang kesini adalah keputusan yang terburu-buru atau bisa dianggap idiot, tapi ia juga harus ketempat ini untuk mencari tau sosok pria yang beberapa hari ini mengganggu ketenangannya, untuk saat ini pria itu lebih berbahaya daripada kehadiran Emma.


Tak ada gunanya membuat hidup Emma menderita jika pria itu masih ada, bisa saja rencananya gagal total karena keberadaan sang pengganggu pada hidupnya, jadi untuk saat ini mencari identitas pria asing itu adalah pilihan yang tepat sebelum merencanakan sesuatu yang lebih lanjut.


"Gue pokoknya harus dapat sesuatu yang berhubungan dengan orang itu." ujarnya.


Matanya mengamati setiap sudut dinding seiring kakinya yang mulai melangkah, matanya menyipit melihat keadaan didalam yang jauh lebih terawat dibandingkan diluar.


"Kayaknya tempat ini ditinggali." monolognya yakin.


Bahkan ada satu ruangan yang isinya bungkus cemilan yang tampak berserakan, bahkan disana ada sofa yang masih layak pakai. Melihat bungkus makanan yang masih baru semakin membuktikan tempat ini memang ditinggali.


"Dua orang asing waktu itu pasti ada yang tinggal disini, entah yang tinggal adalah dokter abal-abal atau pria bertatto itu...atau mungkin keduanya." monolognya dengan kaki yang tak berhenti melangkah, tubuhnya bergerak cepat memasuki satu ruangan demi ruangan untuk mendapat sesuatu yang berguna untuknya.


"Tapi sejak ginjal gue diambil dokter itu gak pernah lagi muncul dihadapan gue, yang tetap ganggu hidup gue akhir-akhir ini cuma pria bertatto itu."


Ia menghela nafas pelan, sudah 10 menit ia berada pada bangunan lama ini tapi tak ada satupun barang yang menunjukkan identitas orang itu, matanya menatap benci satu ruangan yang menjadi saksi awal dendamnya muncul, ruangan yang isinya peralatan kedokteran dengan kasur perawatan yang masih sama, masih bersih dan terlihat terawat.


"Gue jadi penasaran dimana Emma bisa kenal orang kayak gini." decaknya pelan.


"Emang sih organ dalam tubuh manusia mahal-mahal, dapat uang ratusan juta bisa segampang itu dengan jual ginjal orang apalagi jantung orang."


Tubuhnya tiba-tiba bergidik "tetap aja itu tindakan kriminal... tapi kenapa ya buat sesuatu yang salah jauh lebih menyenangkan?"


Anika mendengus malas, percuma ia berada disini jika tak mendapat sesuatu yang ia inginkan, tubuhnya berbalik berniat keluar dari ruangan itu dan pergi secepatnya dari sini sebelum salah satu dari mereka mengetahui keberadaannya.


Tapi sepertinya keberuntungan tak berpihak padanya, saat ia berbalik matanya sedikit membola melihat tubuh tegap milik seseorang, bukan terkejut karena takut! Lebih tepatnya bingung melihat pria yang sangat dikenalnya berdiri santai dengan pandangan menghunus kearahnya.


"Kak Adelard..."


"Kamu ngapain disini?" tanyanya dingin.


Anika meneguk ludahnya kasar, fikiran negatif tentang gebetannya tanpa diminta memenuhi otaknya, kepalanya menggeleng pelan pria didepannya tak mungkin salah satu dari mereka, apalagi melihat kekayaan Adelard, tentu tak ada alasan ia bertindak kriminal demi uang.


"Kak Adelard ngapain disini?" bukannya menjawab ia malah bertanya balik, walau ada rasa gugup yang hinggap dihatinya tapi dengan cepat berusaha ia tepis.

__ADS_1


"Jawab pertanyaanku, kamu ada urusan apa ditempat ini?" tanya Adelard dingin, pandangannya menatap datar gadis yang hanya setinggi dadanya.


Gadis cantik itu tampak gelagapan, ia tak mungkin mengatakan yang sebenarnya, mau bagaimanapun keberadaan Adelard masih tanda tanya, bisa saja pria didepannya salah satu dari mereka, walaupun tak begitu yakin! Tapi tetap saja ia harus waspada, jika ia mengatakan mencari bukti identitas orang yang mengambil ginjalnya dan sialnya Adelard salah satu dari mereka. Bisa dipastikan hidupnya berakhir disini.


Setidaknya untuk saat ini ia harus bersikap santai, tak boleh gugup ataupun gelagapan didepan gebetannya, jika benar Adelard adalah orang yang sama, tentu pria itu tak mungkin melenyapkannya jika ia tak membuat kebaradaan pria itu terancam.


"Gue tadi kena tipu sama supir taxi terus diturunin didepan, karena tadi gue sempat dengar benda jatuh dari dalam bangunan ini makanya gue masuk." jelasnya.


Adelard tampak terdiam, matanya menelisik ke dalam bola mata amber gadis didepannya, sebenarnya ia tak yakin dengan ucapan gadis itu tapi berada ditempat ini lebih lama bisa membuat Anika mengetahui rahasia yang berusaha ia simpan.


"Ikut aku." titahnya, tangannya menarik tangan lentik remaja didepannya, untuk saat ini mereka harus pergi dari tempat ini daripada membahas masalah gadis itu lebih lanjut.


Anika tersenyum lebar, melihat tangannya tenggelam pada genggaman telapak besar milik gebetannya membuat ia tak bisa membendung perasaan senangnya, bahkan sekarang ia lupa tentang kenapa pria itu bisa ada disini!


Adelard menatap intens wajah Anika setelah mereka berada didalam mobil yang sempat ia sembunyikan "jangan bahas masalah ini lagi, anggap kamu tidak pernah kesini."


Anika mengangguk patuh, melihat wajah tampan Adelard sedekat ini membuat kinerja jantungnya bekerja dua kali lipat, otaknya tak bisa memikirkan masalah lain selain wajah gebetannya yang sangat tampan.


"Kak Adelard...."


"Hmm"


"Pacaran yuk." ajak Anika polos.


.


.


.


.


Bersambung


Ig: siswantiputri3

__ADS_1


^^^07-JANUARI-2022^^^


__ADS_2