
Hawa dingin dengan udara sejuk menemani gadis cantik itu meminum susu hangat didepan meja makan, bibirnya tiba-tiba menampilkan senyum manis pada bocah gembul yang terlihat baru bangun tidur.
"Axel udah bangun?"
"Iya kakak cantik, Axel juga udah mandi harumkan Axel." celetuknya riang, sambil menyodorkan tubuhnya pada kakak cantik didepannya.
"Wah harum, Axel rajin ya." puji Anika sambil mengelus kepala anak itu lembut.
Bocah gembul itu menampilkan cengiran polosnya, detik berikutnya pandangan terfokus pada susu yang ada diatas meja, bibir kecilnya tampak tergiur ingin mencicipi susu enak itu.
"Itu susu Axel." ucap Anika tiba-tiba.
"Beneran?"
"Iya dong."
Tak ingin membuang-buang waktu akhirnya dengan cepat tangan kecilnya meraih susu itu, kakinya sedikit menjinjit karena meja makan yang lumayan tinggi dibandingkan ukuran badannya.
"Mama Axel mana?"
Axel menghentikan minumnya, tangannya mengelap jejak susu yang menempel pada ujung bibirnya "mama cuci baju dikamar mandi."
Gadis cantik itu tergelak "loh kok..." padahal ia memiliki mesin cuci disamping kulkas, mungkin wanita paruh baya itu tak tau dengan benda berbentuk kotak miliknya, sepulang sekolah ia akan mengajarkan Bu Sari memakai mesin cuci agar tak perlu capek-capek mencuci baju dengan tangan.
"ASSALAMUALAIKUM SAYANG." teriak seseorang dari luar sontak menimbulkan raut bingung pada wajah Axel yang terlihat semakin lucu.
"Itu siapa kakak cantik?"
"Itu te---"
"DIMANA ENGKAU ISTRIKU, YUHUUU SEKOLAH YUK." teriaknya lagi, tak peduli dengan sang pemilik rumah yang mungkin terganggu karena aksinya.
"Tunggu disini ya ganteng, kakak mau ke depan dulu." titahnya, sambil mencubit pipi gembul bocah itu kemudian melenggang pergi.
"ANI...kaa--"
"Mulut lo butuh lakban ya, bukannya bertamu baik-baik ini malah teriak-teriak, urat malu lo kayaknya emang udah nyangkut entah kemana." sarkasnya kesal.
"Gak gitu beb----"
"Kakak cantik dia siapa?" tunjuk Axel yang baru saja muncul, matanya berkedip menatap sosok asing didepannya.
"Sejak kapan lo melihara tuyul?" tanya Rey bingung, tangannya sudah mengangkat tubuh anak itu dengan kaki yang dipegang dan kepala berada dibawah.
"YA AMPUN ADEK GANTENG GUE, LEPASIN REY." murka Anika, melihat bocah gembul kesayangannya yang dipegang layaknya kucing.
"Yaelah, santai-santai gue cuma mastiin dia emang manusia atau beneran tuyul."
Gadis cantik itu menghela nafas sabar, pandangannya beralih ke arah Axel yang masih terlihat bingung "Axel didalam ya main-main, kakak mau sekolah dulu. Axel juga jagain mama kan Axel cowok."
"Okee kakak cantikkkk."
Anika terkekeh pelan kemudian menyeret Rey untuk kembali ke mobil, menuju tempat yang dinamakan sekolah untuk menimba ilmu "buruan Rey nanti telat lagi." celetuknya sewot.
__ADS_1
"Iya-iya sabar."
"Hmm kok lo gak pernah jemput Emma lagi?" tanya Anika membuka suara, sambil menikmati pemandangan yang mereka lewati.
"Gak apa-apa."
"Lo gak ada masalah kan sama dia?"
Rey mengerutkan keningnya, matanya melirik sekilas wajah gadis disampingnya, ia cukup bingung mendengar pertanyaan gadis itu "kok lo bisa kepikiran kalau gue sama Emma ada masalah?"
"Gak sih, gue cuma heran! Akhir-akhir ini lo jarang jemput dia berangkat ke sekolah, kan biasanya lo jemput dia sebelum jemput gue." jelasnya santai.
"Gue cuma mau berduaan sama lo." ucap Rey pelan.
"Hah? Lo ngomong apaan?" tanya Anika tiba-tiba, suara motor yang cukup bising membuat ia tak begitu mendengar ucapan pemuda disampingnya.
"Emang gue ngomong ya tadi?" tanya Rey balik, keningnya sedikit terangkat dengan pandangan intens menatap Anika.
"Gue fikir lo ngomong sesuatu." celetuknya bingung sendiri.
Rey tersenyum tipis, netranya kembali fokus pada jalanan tak ingin teledor mengemudi dan malah membahayakan mereka berdua.
"Lo mau jemput Ratu?"
"Gak."
"Bukannya lo suka sama dia?"
Anika mengenyitkan keningnya "terus kenapa Lo jemput gue, harusnya lo jemput Ratu aja. Kalau gue mah gampang kawan."
"Gak bisa, kalau gue gak jemput lo kayak ada yang beda. Kalau mereka bisa belakangan." timpal Rey santai.
"Aneh lo, naksir ke siapa jemputnya ke siapa. Otak lo kayaknya ada yang gak beres deh." cibirnya pelan.
Rey menatap gadis disampingnya penuh arti, bibirnya menghela nafas pelan kemudian mengalihkan kembali pandangannya. Ia benar-benar terjebak dengan perasaannya sendiri. Tapi ia bingung bagaimana menyelesaikan perasaannya ini.
"Eh Rey, lo tau gak keluarga Louis?"
"Ngapain lo nanya keluarga orang? Lo juga mau keluarga? Kalau gitu yuk ke KUA bareng gue buat keluarga harmonis sakinah mawadah warahmah."
Anika berdecak, wajahnya ditekuk mendengar jawaban asal pemuda itu, ia tak habis fikir dengan jalan fikiran sahabatnya.
"Gue serius Rey."
"Gue juga serius Anika."
"Ah..tau ah, malas gue ngomong sama lo, bikin darah tinggi tau gak." kesalnya.
Rey terkekeh pelan "emang kenapa lo tanya-tanya soal keluarga Louis?"
Gadis cantik itu tampak berfikir kemudian menolehkan pandangannya pada Rey dengan keyakinan penuh "ini menyangkut nyawa gue."
"Jangan bercanda deh."
__ADS_1
"Gue serius."
Rey menatap mata Anika tiba-tiba, dapat ia lihat gadis itu memancarkan pandangan serius "gue gak tau banyak soal keluarga Louis, tapi yang gue dengar sih. Inti keluarga Louis dengan kekayaan menggunung sempat bangkrut dulu."
"Bangkrut?" ulang Anika dengan raut tanya, keningnya mengernyit dengan pandangan semakin serius menunggu ucapan Rey selanjutnya.
"Iya bangkrut."
"Kok bisa?" tanyanya cepat.
"Katanya keluarga Louis sempat terlilit masalah dengan keluarga Darendra, gara-gara masalah itu juga kelurga Darendra bangkrut dan nyalahin keluarga Louis. Gue gak tau sih masalahnya apa! Tapi karena permusuhan mereka keluarga Darendra bantai keluarga Louis habis-habisan---"
"B-bantai? Lo jangan bercanda Rey."
"Gue serius sayang, lo mau lanjut dongengnya lagi gak?"
Anika mengangguk cepat, telinganya masih setia menunggu kelanjutan cerita pemuda disampingnya, ia benar-benar tak boleh melewatkan sedikit informasi.
"Karena kejadian itu keluarga Louis hampir semuanya gak ada yang selamat. Dan yang selamat cuma cowok yang lo kenal itu doang."
"Gue kenal? Siapa?" tanya Anika linglung.
CTAK.
"Aduh...sakit Rey."
"Habisnya lo idiot sih, cowok yang lo taksir sepenuh jiwa itu putra sulung keluarga Louis." jelasnya sabar.
Anika membulatkan matanya "ah iya, gue baru ingat nama dia kan Adelard Adelio Louis, gue sempat baca nama dia didepan jasnya waktu itu."
"Nah pintar." puji Rey dengan senyum mengejek, tangannya mencubit pelan pipi sahabatnya saking gemasnya.
"Eh tapi...yang selamat cuma dia?" tanya Anika memastikan dengan tangan mengelus pelan pipinya berulang-ulang.
Rey mengedikkan bahunya acuh "mana gue tau gue kan tempe."
Gadis cantik itu berdecak kesal, pemuda disampingnya sudah kembali pada mode mengesalkannya, ia kembali menghadap tubuhnya ke arah depan menatap jalanan dengan otak berfikir keras "bukannya kak Adelard sempat bilang kalau dia cari adiknya disekolah gue ya?"
Mata Anika tiba-tiba membola, sekarang fikirannya tambah tak menentu memikirkan masalahnya "berarti ada dua kemungkinan, kalau dalang dari penyekapan gue waktu itu adalah kak Adelard atau adik kak Adelard." monolognya pelan bahkan sangat pelan.
"Tapi gue gak tau cerita itu beneran terjadi? Atau cuma cerita dongeng." celetuk Rey tiba-tiba.
.
.
.
.
Bersambung
Instagram: siswantiputri3
__ADS_1