
"Anika Ayudhisa, Ratu Axelion dan Emma Kalyna kalian keruangan saya."
Suara tegas dari sang kepala sekolah menyadarkan ketiga gadis itu, pandangan mereka menoleh, menatap Pak Bruto yang masih terlihat tenang dengan situasi sekarang, benar-benar pemimpin yang baik.
Emma menahan nafas beberapa detik, ia benar-benar harus memikirkan agar beasiswanya tidak dicabut. Dengan sedikit keberanian ia mengikuti langkah Ratu yang lebih dulu berjalan dibelakang kepala sekolah.
"Tenang aja, lo gak salah." Rey menepuk pundak Anika lembut, bibirnya membentuk senyum tipis menyemangati gadis cantik itu.
"Gue tau." Ia mendengus malas, sebelum mengikuti sang kepala sekolah kakinya melangkah pada seseorang yang nampak tenang dengan kedua tangan bersidekap dada, tapi tetap saja raut tenangnya tak bisa menutupi kemarahan yang kini terpatri dari kedua bola matanya.
Anika tersenyum tipis, tanpa rasa takut ia berdiri santai dihadapan pemimpin dari keluarga Axelion, sang kepala keluarga sekaligus Ayah dari sang primadona sekolah.
"Bahkan dengan usia yang sudah kepala 4 anda masih terlihat berwibawa, darah keluarga Axelion benar-benar tak pernah gagal." puji Anika.
"Senang bertemu dengan anda tuan Renandra Axelion." ucapnya dengan bahasa formal.
Pria paruh baya itu menaikkan alisnya, ia tidak buta dan ia jelas mengetahui siapa remaja didepannya, gadis yang sepantaran dengan anaknya sekaligus sumber dari drama yang beberapa saat lalu ia lihat, lalu untuk apa gadis itu menemuinya?
Anika berdecak bahkan dengan usianya yang sekarang pria didepannya masih terlihat tampan, ia merutuki otaknya yang tiba-tiba terkontaminasi karena novel-novel sugar Daddy yang biasa ia baca. Untung logikanya masih berjalan jika tidak mungkin ia sudah menjadi pelakor dalam rumah tangga seseorang.
Renandra Axelion benar-benar cukup memukau, bahkan adanya bekas janggut yang dicukur tak membuat ketampanan pria paruh baya itu menghilang, sepertinya ia semakin yakin darimana gen Ratu berasal, ia sekarang tak ragu kenapa gadis itu bisa terlihat menawan.
Anika menggelengkan kepalanya, bagaimanapun ketampanan pria didepannya tetap saja Adelard yang paling memukau, pesona gebetannya itu tak ada tandingannya.
"Aku akuin keluarga Axelion benar-benar jenius, bahkan seluruh anggota keluarga Axelion memiliki AQ tinggi." pujinya.
"Tapi tetap saja ada perbedaan orang pintar dengan orang terpelajar, dan sekarang putri bungsu anda! Ratu Axelion sekaligus primadona disekolah ini semakin memperjelas kepribadiannya." sambungnya santai.
"Apa yang coba kau jelaskan." sarkas Renandra.
"Orang terpelajar sudah jelas pintar tapi orang pintar belum tentu terpelajar, mau satu kejujuran? Oke putri bungsu anda termasuk dalam kategori pintar dengan otak tak berpendidikan."
"KAU---"
__ADS_1
"Ingat! Disini masih banyak orang, diusia anda yang sekarang juga bisa mengalami serangan jantung karena emosi yang meledak-ledak." potong Anika pelan.
"Apa yang kau inginkan?"
Anika tersenyum tipis, ucapan ini yang ia tunggu "aku banyak mendengar mengenai anda, apalagi sikap bijak yang anda miliki benar-benar membuat orang kagum, tentu anda tak buta tentang perbuatan putri bungsu anda sendiri kan?" pancingnya.
"Jadi apa tujuanmu?"
"Jika terbukti sebuah karya adalah karya plagiat, maka bisa dilakukan penuntutan karena termasuk dalam tindakan pidana." jelas Anika, bibirnya semakin melebarkan senyum polos berbeda dengan nada ancaman yang baru saja ia utarakan.
Renandra memilih diam, ia masih menunggu kelanjutan ucapan dari remaja didepannya, entah apa tujuan dari gadis itu mungkin beberapa menit lagi rasa penasarannya terjawab.
"Aku anggap semuanya selesai, aku juga jamin tindakan Ratu tak sampai terdengar dari luar sekolah, asal---"
"Saya bisa membungkam orang-orang agar berita ini tidak menyebar, bahkan jika ada orang yang merekam saya bisa menghentikan penyebaran itu." potong Renandra.
Anika berdecak "pemikiran yang dangkal, daripada menutup cabangnya kenapa anda tidak memilih menutup sumbernya, berapa banyak proses yang anda lakukan untuk membungkam mereka jika remaja didepan anda bisa mengklarifikasi dan membuat semuanya selesai."
Renandra bungkam, walau sedikit tak sudi tapi yang dikatakan gadis didepannya memang benar, sosial media benar-benar berbahaya dan ia yakin perbuatan putrinya sudah menyebar karena canggihnya teknologi, yang ia lakukan hanya satu membuat gadis didepannya selaku orang yang bersangkutan mengklarifikasi kalau yang terlihat hanya kesalahpahaman, dan putrinya tidak bermaksud melakukan aksi plagiat dengan begitu nama baik keluarga Axelion tidak tercemar.
Anika tersenyum lebar, ternyata menjadi orang terpandang cukup merepotkan, mereka harus menjaga nama baik keluarga agar bisnis yang dijalani tidak terganggu, tapi siapa yang peduli orang kaya ada untuk memberi orang miskin kan?
"Memberi sedikit kekayaan pada gadis sekolahan sepertiku rasanya tak masalah."
Renandra terhenyak, detik berikutnya pandangannya menatap remeh gadis didepannya, ia fikir remaja itu berbeda ternyata tetap saja, orang miskin pasti akan selalu mengemis dan mencari cara untuk menghisap hartanya.
"Apa semua ini sudah kau rencanakan?"
"Tidak juga, tapi ku fikir dia sendiri yang mencari gara-gara denganku." jawabnya santai.
"Berapa banyak yang kau inginkan."
Anika berdehem, otaknya berfikir keras seberapa banyak harta yang akan dia ambil dari pria paruh baya didepannya "sebuah apartemen dan juga 1 atau 2 uang mungkin." celetuknya santai.
__ADS_1
Renandra menggeleng "kau sepertinya berniat memerasku." walaupun begitu ia tetap meraih nomor rekening yang disodorkan gadis itu.
Anika terkekeh "kata memeras terlalu kasar untuk gadis polos sepertiku, mungkin lebih tepatnya mengambil keuntungan dari situasi yang ada."
"Kau licik."
"Licik itu perlu selama masih bertahan hidup." jawab Anika cepat.
Renandra menggeleng, bibirnya tersenyum tipis mendengar ucapan gadis didepannya, baru kali ini ada yang mengimbangi argumennya, bahkan orang itu masih pelajar umurnya juga setara dengan putri bungsunya. Benar-benar mengagumkan.
"Aku fikir semuanya sudah selesai, bay...bay tuan Renandra, oh ya...senang bertemu dengan anda, eh...satu lagi kalau anda mau tau namaku Anika Ayudhisa." ia melambai beberapa kali sebelum benar-benar pergi dari tempat itu, dengan riang ia keluar dari ruangan pentas yang masih diisi beberapa orang.
Suara dari benda pipih persegi panjang membuat langkahnya terhenti, matanya berbinar melihat nominal uang yang dikirimkan oleh Renandra.
"Padahal maksud gue uang 1 atau 2 itu 1 juta atau 2 juta tapi gue malah dikirim uang 2 milyar. Ck...ck...dia kayaknya bingung habisin semua uangnya gimana, makanya tanpa mikir 2 kali gue dikasih uang segitu banyaknya."
"Selain merecoki hidup orang kayaknya kamu juga suka goda aki-aki tua bangka ya."
Anika menoleh matanya membulat menatap Adelard dengan gagahnya bersandar pada tembok sekolah, bahkan ia tak sadar kapan gebetannya itu datang.
.
.
.
.
Bersambung
Hallo guys~jangan lupa tinggalkan jejak banyak-banyak ya.
see you
__ADS_1
Ig: siswantiputri3
^^^29-DESEMBER-2021^^^