
"Empu Brajasena? Orang aneh bejenggot putih yang pake baju kampret itu?" Jingga menatap Magenta dengan tercengang.
Magenta mengangguk. "Setelah si orang-orangan sawah itu dipaksa masuk ke gua keramat, Empu Brajasena pindah ke puncak sana. Dia bikin sendiri pondoknya persis di bawah mulut gua. Gak ada yang tau apa sebabnya. Entah dia berniat melindungi desa, entah dia sendiri kaki tangan si orang-orangan sawah. Bisa jadi dia pelayan si makhluk jahat itu, atau bisa jadi dia cuma merasa lebih aman kalo tinggal di deket si orang-orangan sawah. Gak ada yang tau alesannya!"
Jingga kembali menelan ludah. Menatap Magenta dengan terperangah.
Magenta meneruskan ceritanya. "Empu Brajasena jarang turun dari puncak gunung. Kalaupun dia datang ke desa, dia gak pernah ngobrol sama siapa pun. Gak ada yang tahu siapa dia sebenernya atau kenapa dia tinggal di atas sana. Orang-orang di sini gak pernah mau berurusan sama Empu Brajasena. Kita gak tau apa dia orang sinting, orang jahat, atau cuma orang aneh."
Jingga mengerjap. Tapi tidak mengatakan apa-apa.
Magenta menghela napas. Sekali lagi matanya yang gelap memandang berkeliling. Ia terlihat semakin gugup, seakan-akan takut orang lain tahu bahwa ia menceritakan sejarah desa ini pada Jingga.
Jingga tercenung sesaat untuk mencerna cerita Magenta.
"Kadang-kadang," Magenta kembali angkat bicara, "Kalo tengah malem, kita bisa denger si orang-orangan sawah di puncak gunung. Kadang-kadang dia ngeraung-raung, ngegerem, kadang-kadang dia ngelolong kayak serigala."
Jingga kembali menatap Magenta.
"Para penduduk di desa ini, semuanya bikin orang-orangan sawah yang tampangnya sama kayak dia."
Jingga langsung berdiri. "Jadi itu sebabnya aku liat orang-orangan sawah yang sama di mana-mana!" serunya.
Magenta menempelkan telunjuk ke bibirnya. Ia memberi isyarat agar Jingga duduk lagi.
Jingga kembali mengambil tempat di bangku kayu. "Tapi kenapa kalian malah bikin orang-orangan sawah yang tampangnya mirip kayak dia?" tanyanya. "Bukannya kalian semua takut sama orang-orangan sawah itu? Tapi kenapa malah ada orang-orangan sawah kayak gitu di hampir setiap pekarangan rumah?"
"Untuk menghormati," jawab Magenta.
"Hah? Untuk menghormati?"
"Kamu pasti paham apa yang aku maksud," Magenta berkata dengan ketus. "Para penduduk desa berharap, kalau sewaktu-waktu si orang-orangan sawah sampe turun dari gua, minimal dia bisa ngeliat semua orang-orangan sawah yang mukanya mirip sama dia. Penduduk desa berharap makhluk itu ngerasa terhibur dengan penghormatan ini supaya dia gak ngapa-ngapain desa ini lagi," Magenta meremas tangan Jingga. Ia menatap gadis itu dengan matanya yang gelap. "Sekarang kamu udah paham, kan?" ia berbisik. "Sekarang kamu udah ngerti kenapa semua orang di sini pada ngeri?"
Jingga membalas tatapan Magenta, lalu tertawa terbahak-bahak.
Magenta memicingkan matanya.
__ADS_1
Kenapa dia malah tertawa?
Sebenarnya Jingga tahu ia tak boleh tertawa. Tapi gadis itu tak bisa menahan diri. Habis, Magenta pasti bukan cowok bodoh, pikirnya. Ia tak mungkin percaya cerita seperti itu. Ini pasti lelucon, kata Jingga dalam hati. Ini cuma akal-akalan para penduduk desa untuk menakut-nakuti orang baru.
Jingga berhenti tertawa ketika melihat raut muka Magenta. "Kamu cuma bercanda, kan?" katanya.
Magenta menggelengkan kepala. Matanya yang gelap tampak bersinar dalam cahaya yang redup. Pandangannya begitu serius.
"Kamu gak percaya kan, kalo orang-orangan sawah bisa jalan-jalan? Kamu tau kan, kaki mereka cuma satu? Itu aja nancep di tanah!" Jingga bertanya dengan nada mendesak. Suaranya terdengar bergema. "Kamu percaya orang-orangan sawah bisa idup?"
"Aku percaya," Magenta menyahut dengan suara gemetaran. "Ini bukan lelucon, Jingga. Aku percaya. Dan begitu pula semua orang di desa ini."
Jingga menatap cowok itu dengan tercengang. Langit-langit berderak, kemungkinan besar karena terpaan angin kencang di atap.
Jingga bergeser sedikit di bangku kayu. "Tapi emang kamu pernah liat?" tanyanya pada Magenta. "Apa kamu pernah liat orang-orangan sawah itu jalan-jalan?"
Magenta mengedipkan mata. "Ehm... belum sih," ia mengaku. "Tapi aku udah sering denger suaranya. Malem-malem. Aku denger makhluk itu ngeraung-raung dan ngelolong-lolong." Tiba-tiba ia berdiri. "Aku cuma gak berani deketin. Aku terlalu ngeri," katanya. "Aku gak berani naik ke gua keramat. Gak ada yang berani pergi ke sana."
"Tapi, Magenta..." Jingga menginterupsi. Tapi ia segera diam. Ia melihat dagu Magenta yang gemetaran. Ia bisa melihat perasaan ngeri terpancar dari mata cowok itu.
Sebenarnya Jingga ingin berkomentar bahwa cerita itu tidak mungkin benar. Ia ingin mengatakan bahwa cerita itu tak lebih dari takhayul konyol. Semacam kisah dongeng yang ada di tiap desa terpencil di seluruh tempat. Setiap desa memiliki mitosnya sendiri, kan? Tapi Jingga takut Magenta tersinggung. Mungkin Magenta satu-satunya temanku di sini, ia berkata dalam hati. Lalu memutuskan untuk tidak melanjutkan pembicaraan itu.
Jingga bangkit dan mengenakan mantel. Kemudian mereka keluar dari kantor pos.
Hujan deras telah berhenti. Tapi angin kencang masih bertiup dari puncak gunung, dan menerbangkan buih putih dari sisa gerimis bercampur kabut.
Jingga menarik tudung mantelnya dan menundukkan kepala.
Ia tak ingin percaya pada cerita itu. Aku tak mungkin percaya cerita semacam itu, pikirnya. Freak!
Kenapa Magenta seperti tak sadar bahwa cerita itu tak masuk akal?
Jingga dan Magenta mulai menyusuri jalan. Pada setiap langkah mereka, sepatu bot keduanya terbenam dalam genangan air yang meluap dari selokan-selokan.
Suara mereka seakan hilang ditelan angin yang menderu-deru.
__ADS_1
Magenta mengantar Jingga pulang. Mereka berhenti di ujung halaman rumah gadis itu.
"Makasih ya, udah mau ngasih tau aku soal si orang-orangan sawah," kata Jingga pada Magenta.
Magenta menatap Jingga dengan matanya yang gelap. "Kamu memang harus dikasih tau," ujarnya serius. Dan kemudian ia menambahkan, "Kamu juga harus percaya, Jingga. Cerita itu beneran. Semuanya bener."
Jingga tidak menanggapinya. Dia hanya mengucapkan selamat malam.
Magenta sudah berbalik dan sambil menentang angin, ia berlari menuju rumahnya.
Jingga sudah hampir sampai di teras ketika gadis itu mendengar bunyi aneh yang bercampur-baur dengan suara angin.
Ia seperti sedang dikejar bunyi BUK BUK BUK---dan bunyi itu mendekat dengan cepat.
Jingga terpaku di tempat.
Mula-mula ia mengira dirinya jadi korban daya khayalnya sendiri. Ia membayangkan dirinya dikejar orang-orangan sawah jahat sebesar rumah.
"Ya, ampun!" Jingga bergumam memarahi dirinya sendiri.
Serta-merta gadis itu berbalik. Dan melihat Magenta berlari ke arahnya.
Kenapa dia kembali? pikir Jingga.
Dan kenapa dia ketakutan?
Wajah cowok itu terlihat tegang.
Apa dia dicegat orang-orangan sawah yang dapat berjalan?
Hentikan! Jingga menegur dirinya.
Magenta bergegas menghampiri Jingga. Sepatu botnya yang berat berdecak-decak di permukaan tanah basah. Mantel kulit dombanya tidak ditutup, dan berkibar-kibar ketika ia berlari.
Bukan Magenta! Jingga menyadari. Magenta tidak memakai mantel berbulu. Ia megenakan parka.
__ADS_1