
Yasa terpelanting dari cabang pohon itu dan merosot di batangnya.
Kulit kayu menggores tangannya dan merobek depan kemejanya.
Ia mendarat dengan keras di tanah, dan jatuh berlutut.
Tangannya berdarah.
Yasa menyingkirkan debu dan kulit kayu yang menempel pada kemejanya, kemudian mengibaskan sejumput daun dari rambutnya.
Sambil berjalan tertatih-tatih, Yasa pulang sendirian menyusuri pematang sawah dengan membawa obor yang ditinggalkan teman-temannya.
Saat ia menyeruak di antara semak-semak ilalang setinggi pinggang orang dewasa---setinggi dada untuk Yasa, sesuatu menarik perhatiannya.
Bunyi berderak membuatnya terlonjak. Padahal hanya bunyi orang-orangan sawah yang miring di tiangnya.
Orang-orangan sawah itu berkeriat-keriut, di tengah ladang ilalang di dekat dinding tebing. Lengannya bergerak-gerak seakan melambai pada Yasa.
Orang-orangan sawah itu benar-benar aneh. Lengannya terbuat dari dahan pohon. Satu lengannya membentang ke samping, sementara satunya lagi terangkat ke atas. Masing-masing dahan pohon mempunyai tiga ranting sebagai jari. Kepalanya terbuat dari batok kelapa yang dililit kain selubung membentuk kerudung seperti hoodie sweater. Pakaiannya seperti jubah longgar India yang panjang. Bagian wajahnya digambari dengan arang, membetuk mata dan mulut yang dibuat sedikit memanjang ke satu sisi seperti bekas luka, hingga terkesan seolah sedang mencibir.
Kenapa tampangnya dibuat begitu? pikir Yasa.
Dan kenapa orang-orangan sawah itu ditancapkan di tengah ladang ilalang di kaki tebing dan bukan di tengah sawah?
Bulu kuduknya seketika meremang. Yasa memegangi tengkuknya sembari menyingkir dari tempat itu dan melanjutkan perjalanan pulang.
Tapi setelah beberapa saat, Yasa kembali menemukan orang-orangan sawah yang sama di tengah-tengah ladang ilalang di kaki tebing.
Kenapa rasanya seperti dejavu? pikir Yasa.
Kenapa rasanya aku kembali ke tengah ladang ilalang di kaki tebing?
Apa hanya perasaanku saja?
Yasa memperhatikan orang-orangan sawah itu sambil berjalan pelan menyusuri jalan setapak yang sudah sangat dikenalnya.
Sebagai penduduk setempat, Yasa tahu persis area sekitar sini.
Tapi entah kenapa hari itu ia merasa sedikit asing.
Apakah karena kabut tebal yang turun lebih pekat dari biasanya?
Ya, Yasa menyimpulkan. Pasti karena itu!
__ADS_1
Lalu ia meneruskan perjalanan, dan… kembali ke tempat yang sama.
Ini jelas tak beres! ia menyadari.
Yasa berhenti dan mengedar pandang seraya menudungi matanya dengan telapak tangan, menerawang sekeliling dengan mata terpicing.
Kabut tebal menutup seluruh tempat.
Gawat! pikirnya. Waktu mungkin sudah hampir larut malam dan ia belum keluar dari ladang ilalang.
Bulu kuduknya kembali meremang dan ia segera berlari meninggalkan ladang, tapi kakinya tersangkut akar dan ia jatuh berlutut. Obor terpental dari tangannya, tapi beruntung tak sampai padam.
Yasa mengerang frustrasi dan mengerjap-ngerjapkan matanya, setelah matanya bisa menyesuaikan diri dengan kabut ia menarik bangkit tubuhnya dengan bertumpu pada dua tangannya.
Pada saat itulah ia menemukan kertas itu!
Robekan dari buku puisi yang dibuang dari puncak gunung dan terserak tersapu angin.
Kertas itu menempel di telapak tangannya saat ia mencoba bangkit.
Yasa memungut kertas itu dan membacanya:
"Sanggeus raat cihujan… mangsana halimun midang… kuniang aleut-aleutan, ngariung 'na raga gunung. Kade Bebegig, Anaking! Kade Bebegig leupas!"
Apa ini? pikirnya.
Semak-semak ilalang di sekelilingnya meliuk-liuk membentuk pusaran kabut gelap yang meliputi Yasa dan lalu terhisap ke dalam tubuhnya.
Yasa menjerit dengan suara melengking yang semakin lama semakin membahana hingga terdengar seperti raungan nyalang dan lolongan seekor serigala.
Raungannya menggema di dinding tebing dan berhenti seiring deru angin yang kian mereda.
Yasa terdiam dan mengedar pandang. Lalu tertunduk mengamati kertas di tangannya dengan alis bertautan. Sedetik kemudian ia tertawa terbahak-bahak seraya mencampakkan kertas itu, lalu menarik bangkit tubuhnya dan bergegas pergi.
.
.
.
Seorang pendaki berjalan sambil mengencangkan tali carrier-nya, kakinya terbenam di antara rumput di permukaan tanah basah. Ia mengamati cahaya yang pelan-pelan menghilang di atas puncak gunung ketika awan melayang melintasi bulan. Temannya, seorang pendaki wanita, membungkuk untuk memperbaiki tali sepatunya yang terlepas.
"Aku kedinginan," si pendaki wanita mengeluh, sambil berlari kecil dengan cepat untuk mengejar si pendaki pria, lututnya terangkat tinggi seakan-akan dengan demikian tubuhnya akan tetap hangat.
__ADS_1
"Aduh enaknya," kata si pendaki pria, sambil memejamkan mata. Semburan gerimis menempel pada rambut ikalnya yang panjang dan dikuncir ke belakang.
Si wanita menoleh ke atas melihat temannya dan berjalan mundur. Angin mengepak-ngepakkan jaket parkanya yang gombrong. "Kamu gak kedinginan?"
Si pria menggeleng, sambil melangkah, menikmati bunyi kakinya yang bergemeresik di atas rerumputan. Tiba-tiba ia berhenti.
Si wanita berhenti juga, dan mengikuti pandangan temannya ke atas ke langit biru gelap. "Oh!" pekiknya, sambil meraih lengan si pria. "Apa itu? Kelelawar?" ia menjerit lirih saat makhluk hitam melayang di atasnya. Sepasang sayapnya mengepak-ngepak seperti seprai pada tali jemuran.
"Lari!" seru si pria, sambil menarik lengan si wanita.
Si wanita menghentikan langkahnya. "Tempat ini ternyata banyak kelelawarnya," katanya, sementara matanya tetap menatap makhluk yang melayang-layang itu.
"Mereka tinggal di gua di atas itu. Kamu lihat, kan?" Si pria menunjuk ke puncak gunung berhutan gelap di atas sungai tempat mereka melintas, batasnya tampak pada cakrawala yang ungu. Tapi guanya tidak terlihat.
"Apa di sana ada penghuninya?" tanya si wanita. "Gelap banget."
"Entahlah, mereka bilang itu gua keramat. Tapi kalo gak salah dulu di sana ada rumah," sahut si pria. "Besok pagi kamu liat sendiri. Kayaknya kita baru bisa sampe sana dini hari."
"Tapi kayaknya tempatnya serem banget, gak mungkin ada orang yang mau tinggal di sana. Cuma kelelawar." kata si wanita, sambil mendekat pada si pria, matanya terpaku pada kelelawar yang terbang berputar-putar di atas kepala mereka. "Kenapa rasanya kelelawar itu cuma muter-muter di atas kepala kita?" katanya dalam gumaman pelan.
"Jangan khawatir," kata si pria. "Kelelawar biasanya gak berbahaya." Saat ia mengucapkannya, salah satu kelelawar menukik ke arah si wanita.
Si wanita tak sempat bergerak maupun berteriak. la melihat mata merah berkilat-kilat. Mendengar desir angin, siulan melengking, pekikan serangan. la merasa kelelawar itu menarik rambutnya. Menyambar mukanya. Panas dan basah. Berbulu Lengket. la dicakar. Pipinya tertampar sayap. "Tolong!" jeritnya.
"Ini terlalu besar untuk ukuran kelelawar!" gumam si pria dalam pekikan tertahan.
"BANG—TOLONG!" Sambil mengibas-ngibaskan lengannya dengan panik, si wanita berusaha menyingkirkan penyerangnya.
Si pria ragu-ragu sesaat, mendadak merasa takut menghadapi serangan itu, lalu cepat-cepat maju menolong temannya.
Ketika si pria mendekati si wanita, kelelawar itu memutar menjauh.
Si wanita menjerit dan mengangkat tangan untuk melindungi diri. la bisa merasakan sergapan udara dingin saat makhluk itu melewati si pria dengan cepat.
Masih sambil menutupi muka, kedua pendaki itu tercengang melihat kelelawar itu terbang tinggi ke dalam kegelapan dan menghilang di atas puncak gunung.
"Kamu gak apa-apa?" tanya si pria, buru-buru memeluk temannya.
Seluruh tubuh si wanita gemetaran. Kulitnya dingin dan bulu kuduknya berdiri. "Rasanya begitu," bisiknya tak yakin.
"Ayo cabut," kata si pria. Mereka mulai berlari kembali menuruni gunung, menyusuri jalan mengikuti jejak mereka semula.
Mengurungkan niat mereka untuk melanjutkan pendakian.
__ADS_1
Seluruh serangan itu berlangsung kurang dari sepuluh detik, pikir si pria. Tapi itu sepuluh detik yang takkan dilupakannya.
Itu bukan kelelawar! katanya dalam hati. Ia berlari sambil mengamati langit hitam kelam.