Bebegig

Bebegig
Chapter 12


__ADS_3

Jingga menyalakan lampu di langit-langit, dan memandang sekeliling ruang duduk.


Sebuah majalah tergeletak di sofa. Selain itu semua benda berada di tempat seharusnya.


Jingga bersandar ke pintu, melepaskan sepatu bot dan menyimpannya di pojok. Kemudian gadis itu membuka mantel dan menaruhnya di sofa. Pandangannya berhenti di pintu kamar ibunya.


Pintunya terbuka. Tapi kamarnya gelap.


Jingga bergegas melintasi ruangan dan mengintip ke kamar ibunya. "Ma?" ia memanggil pelan-pelan.


Tidak ada jawaban.


Jingga masuk ke kamar ibunya. "Ma? Mama di sini?" Ia meraba-raba lampu di meja rias, dan akhirnya berhasil menghidupkannya. "Mama...?"


Hmm, ternyata ia belum tidur, pikir Jingga.


Tempat tidur ibunya kosong.


"Ma? Mama di mana?" Jingga berseru keras-keras. Ia berbalik dan meninggalkan kamar ibunya.


"Ohhh!" Jingga memekik ketika kakinya menginjak sesuatu. Sesuatu yang dingin dan basah meresap melalui kaus kakinya.


"Hah?" Jingga menunduk dan melihat genangan air dingin di lantai kamar tidur. "Dari mana asalnya genangan air ini?" ia bergumam. Tiba-tiba saja ia merasa waswas.


"Ma?" ia memanggil sambil bergegas ke ruang duduk. "Ma? Mama di mana?"


Jingga mulai panik.


Mama ke mana?


Ia hendak menuju ke dapur, tapi tiba-tiba ia mendengar bunyi berderak dari pintu depan.


Aduh, jangan-jangan ada yang mau masuk ke rumahku! Jingga menahan napas ketika pintu itu terbuka pelan-pelan. Dan ia melihat ibunya.


Perempuan itu melangkah masuk seraya menepis serpihan kuning bunga akasia yang menempel di mantelnya yang hitam panjang. Ragnala menatap putrinya sambil tersenyum. Tapi senyumnya langsung lenyap ketika ia melihat raut wajah gadis itu. "Jingga—ada apa?"


"A---a---a..." Jingga tergagap-gagap. "Ma---Mama dari mana? Aku takut banget tadi. " la melepaskan mantelnya.


"Kamu gak baca pesen Mama? Mama kan ninggalin pesen!"

__ADS_1


"Hah? Pesen? Pesen apaan?"


"Mama tempelin kok di pintu kulkas," Ragnala berkata. "Tadi pagi Mama kenalan sama pasangan suami-istri, mereka ramah. Mereka mampir, terus ngundang Mama buat ngopi bareng."


"Oh. Bagus," ujar Jingga parau. Jantungnya masih berdegup kencang.


"Emang kenapa kamu sampe ketakutan?" Ragnala bertanya sambil menggantungkan mantelnya di lemari. la merapikan sanggul tingginya yang melorot.


"Ehm, aku masuk ke kamar Mama tadi. Nyariin Mama. Terus aku nginjek genangan air dingin di lantai," jawab Jingga.


"Genangan air? Coba Mama lihat dulu," ujar Ragnala.


Jingga berjalan ke kamar ibunya dan menunjuk tempat yang basah di lantai.


Ragnala menengadah ke langit-langit. "Mungkin atapnya bocor," ia bergumam. "Besok pagi harus kita periksa."


"Kirain gara-gara si orang-orangan sawah," kata Jingga. "Aku tau ini gak masuk akal, tapi aku sempet mikir jangan-jangan dia masuk ke rumah kita. Maksud aku, kirain dia berhasil masuk kemari terus..." Jingga terdiam begitu melihat raut wajah ibunya. Mulutnya menganga dan ia memekik tertahan.


"Jingga, apa maksud kamu?" Ragnala bertanya dengan nada mendesak. "Cerita apa yang kamu denger dari temen-temen baru kamu? Omong kosong lagi soal Jurig Bebegig?"


"Iya," Jingga mengaku. "Aku denger cerita dari Si kembar Dewangga sama Magenta, mereka kenalan baru aku… mereka yang cerita soal orang-orangan sawah yang katanya tinggal di gua keramat di puncak gunung. Mereka bilang..."


"Iya, sih," ujar Jingga. "Tapi Magenta sama Dewangga keliatannya takut banget. Mereka bener-bener percaya sama cerita itu. Dewa sampe mohon-mohon biar aku gak datengin gua keramat."


"Rasanya itu nasihat yang bagus," kata Ragnala. la melintasi ruangan dan meletakkan sebelah tangannya di pundak Jingga. "Emang lebih baik kalo kamu gak naik ke puncak gunung, Sayang."


"Kenapa?" tanya Jingga.


"Pasti ada sesuatu yang berbahaya di atas sana," sahut ibunya. "Maksud Mama bukan orang-orangan sawah yang katanya idup di gua keramat. Tapi bahaya lain. Ini daerah pegunungan. Pasti punya banyak area berbahaya." la menghela napas.


Jingga langsung tertunduk.


"Begitulah asal mula cerita-cerita serem kayak gini. Setiap mitos pasti punya tujuan baik. Mungkin memang pernah ada kejadian gawat di puncak gunung. Tapi kemudian kisahnya berubah setiap kali diceritain. Lama-lama jadi gak ada lagi yang inget gimana kejadian sebenernya. Dan sekarang semua orang akhirnya percaya cerita konyol soal orang-orangan sawah yang idup." Ragnala menggeleng-gelengkan kepala.


"Mama gak pernah meratiin ya, orang-orangan sawah aneh yang ada di mana-mana di seluruh desa ini?" tanya Jingga. "Orang-orangan sawah yang mukanya digambarin bekas luka sama selubung kepala? Kesannya serem banget, kan? Emang Mama gak penasaran kenapa mereka bikin orang-orangan sawah kayak gitu?"


"Itu memang tradisi yang janggal," Ragnala mengakui. "Tapi juga unik. Menurut Mama sih, tradisi orang-orangan sawah itu lumayan menarik."


"Menarik?" Jingga menatap ibunya sambil mengerutkan kening.

__ADS_1


"Pokoknya, Mama minta kamu janji," Ragnala berkata sambil menguap.


"Janji?"


"Kamu harus janji kamu gak bakal naik ke puncak gunung apalagi datengin gua keramat. Mama kuatir tempat itu berbahaya."


"Ehm..." Jingga agak ragu-ragu.


"Ayo, janji," Ragnala mendesak putrinya.


"Oke, aku janji," ujar Jingga dengan berat hati. Tapi beberapa menit kemudian, gadis itu sudah memutuskan untuk melanggar janjinya.


Jingga sedang berbaring di tempat tidur, dengan mata terpejam rapat. Lolongan aneh terdengar dari puncak gunung.


Suara apa sih, itu? Suara binatang? Atau suara manusia?


Jingga paling tidak suka kalau ada misteri yang belum terpecahkan.


Aku harus mengetahui jawabannya. Aku harus naik ke sana, katanya dalam hati. Ia tak peduli janjinya pada ibunya. Pokoknya aku harus mendatangi gua keramat itu. Ia memutuskan.


Besok!


Malam itu Jingga tidak bermimpi tentang orang-orangan sawah. Ia bermimpi tentang kelelawar raksasa, dengan mata berwarna merah menyala.


Lusinan kelelawar raksasa.


Kelelawar-kelelawar dengan sayap paling besar yang pernah ia lihat. Mereka mulai saling memanjat. Mula-mula tanpa suara. Tapi kemudian mereka mulai mendesis-desis. Bunyinya benar-benar mengerikan. Dan tiba-tiba saja semuanya memakai kain selubung warna hitam di kepala dan lehernya masing-masing. Mereka saling mencakar sambil saling menabrakkan diri. Sambil terus mendesis-desis. Sampai Jingga akhirnya terbangun.


Cahaya matahari pagi masuk melalui jendela bulat di ujung kamarnya. Dari bawah tercium bau masakan. Rupanya ibunya bangun lebih dulu dan sudah sibuk memasak di dapur.


Jingga memutuskan untuk naik ke puncak gunung begitu ia selesai sarapan. Ia tak mau pikir-pikir lagi. Ia akan naik ke sana dan memecahkan misteri itu.


Jingga tahu si laki-laki aneh berjanggut putih akan jadi masalah. Kalau sampai pria itu memergokinya, pria itu pasti akan berusaha mencegahnya.


Ia dan serigalanya.


Tapi Jingga sudah menyiapkan rencana untuk mengatasi Empu Brajasena.


Kalau Dewangga dan Magenta mau membantu…

__ADS_1


__ADS_2