Bebegig

Bebegig
Chapter 30


__ADS_3

Sementara itu…


Magenta menyusur pasar malam yang telah sepi untuk mencari saudara kembarnya.


Lapak-lapak para pedagang yang dilewatinya sudah mulai lengang dan gelap.


Ia berjalan berkeliling-keliling, memeriksa setiap sudut gelap di antara stand-stand permainan yang sedang ditutup. Orang-orang di sekitarnya berangsur-angsur menjauh dan menghilang, menyisakan segelintir para pekerja dan para pedagang yang sedang menutup semua wahana dan lapak-lapak dangangnya.


Setelah melewati setengah blok, ia dapat melihat sudut jalan di depan kios martabak yang juga sudah tutup tapi tidak melihat Dewangga. Padahal beberapa teman mereka masih mengobrol di depan kios itu sembari bersiap pulang.


Ia melihat jam tangannya sekilas sambil menyeberang jalan. Sebuah sepeda motor berderum di belakangnya, ia langsung meloncat ke trotoar. "Hei—" Ia menoleh dan hanya sempat melihat punggung dua cowok berambut gondrong, ngebut dari area pasar malam.


Ke mana sih, dia? pikir Magenta sambil menyusup di antara kerumunan orang yang sedang bersiap pulang, kembali mencari-cari saudara kembarnya.


Dewa suka sekali kalau ada pasar malam. Ia suka wahana-wahana dan permainan-permainan konyolnya.


Saat mereka di air terjun, ia dan Kantata menyelinap pergi dan tidak kembali lagi, sementara Magenta menunggu mereka sampai larut malam.


Hingga Magenta akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumah dan mendapati Dewa ternyata belum kembali.


Magenta bergegas keluar ke trotoar sementara matanya mengikuti Jaguar con vertible berwarna krem yang sedang berbelok di tikungan. "Mobil bagus," gumamnya.


Ia menengok ke arah lapangan pasar malam ketika sorot cahaya kuning yang menerangi langit di arah itu mulai padam, menandakan pasar malam itu telah ditutup sepenuhnya.


.

__ADS_1


.


.


"Dari mana datangnya orang-orang ini?" Empu Brajasena berteriak gusar menatap pekarangan rumahnya yang dipagari orang-orang berjubah gelap dan bertudung.


Orang-orang misterius itu berdiri berbaris-baris memenuhi pekarangan dengan wajah tertunduk seraya terus menggumam. Tangan mereka memegangi semacam buku lapuk yang telah menua. Seperti sekumpulan orang sedang melakukan ritual. Pada masing-masing pipi mereka terdapat tato akar yang sepintas terlihat seperti bekas luka. Dan yang paling mencengangkan adalah jumlah mereka yang tak terhingga.


Seluruh penduduk desa itu dibuat gempar. Semua orang meninggalkan rumahnya masing-masing dan berkerumun di depan rumah Empu Brajasena dengan tercengang.


Tidak seorang pun tahu dari mana datangnya orang-orang misterius itu dan kapan tepatnya mereka muncul. Bahkan Empu Brajasena.


Banyak orang berusaha menerobos barisan mereka dan menghilang. Tak jelas apakah mereka tewas dibunuh atau terjebak di antara orang-orang itu. Yang mereka tahu orang-orang misterius itu tidak bergerak sama sekali.


Mereka sulit ditembus.


Semua mata mengawasi serigala itu. Sedetik kemudian, serigala tadi menghilang setelah melewati barisan orang-orang misterius itu.


Detik berikutnya, bumi berguncang dilanda gempa dan seketika tempat itu menderu seperti gemuruh mesin raksasa.


Empu Brajasena mendongak ke puncak gunung.


Semua mata serempak mengikuti arah pandangnya dan menahan napas. Puncak gunung itu mendadak retak dan terbelah, kemudian ambruk sebagian. Lalu sedikit demi sedikit bangunan itu seolah menguap. Kepingan pecahan gunung itu berubah menjadi serpihan debu yang meluap ke udara kemudian lenyap tersapu angin.


Semua orang memekik bersamaan. Tak lama kemudian semuanya bergerak serentak, lalu berteriak-teriak gusar saling memberikan intruksi satu sama lain seraya berpencar ke sana ke mari.

__ADS_1


"Lari!" Mereka berteriak nyaring. Seketika seluruh desa berubah gaduh.


"Kita harus pergi dari desa ini!"


Berlaksa-laksa orang berjubah gelap dan bertudung berduyun-duyun turun dari puncak gunung.


Semua orang di sepanjang jalan berpencar teratur ketika iring-iringan orang berjubah itu mulai merangsek ke arah mereka, memenuhi jalan, memenuhi seluruh tempat.


Kedatangan orang-orang itu seperti semburan air yang menggelegak. Lalu semua orang dan segala sesuatu yang dilewatinya tiba-tiba lenyap di depan mata mereka.


Menguap begitu saja tanpa terlihat bagaimana prosesnya.


Tidak ada rumah warga, tidak ada pepohonan, tidak rerumputan, tidak ada semak-semak setelah mereka lewat. Semua lenyap dan seolah mereka berevolusi menjadi orang-orang misterius berjubah gelap yang terus menggumam membacakan mantera, yang membuat kepala semua orang terasa merayang.


Seluruh tempat berubah hitam seiring mereka berjalan. Menjalar perlahan seperti nyala api yang terus merambat.


Upaya apa pun yang dilakukan para penduduk hasilnya selalu sama. Setiap kali mereka menyerang, mereka selalu menghilang, kemudian pasukan misterius itu bertambah seratus kali lipat.


Tidak satu pun jenis serangan maupun senjata berhasil mengenai mereka. Padahal orang-orang misterius itu tidak melawan atau pun menangkis. Bahkan menghindar saja tidak. Mereka hanya merayap, berjalan pelan sembari membaca kitab aneh di tangan mereka seraya menggumam. Perhatian mereka saja bahkan tak teralihkan dari kitab di tangannya.


Mereka seperti kabut. Terlihat nyata namun tak tersentuh.


Mendapati kenyataan itu seluruh penduduk serentak bergerak mundur dan berupaya untuk kembali ke dalam rumah masing-masing. Tapi hasilnya justru berbalik dan menyebabkan sejumlah rumah seperti terhisap ke dalam pusaran kabut gelap yang tercipta dari serangan mereka.


Tak lama kemudian tanah di bawah mereka kembali bergetar dan berguncang, disusul suara gemeretak dan berderak. Pekik jerit semua orang menggelegar bersama terbelahnya gunung Kendeng.

__ADS_1


Empu Brajasena berusaha mengerahkan seluruh kemampuannya dan bekerja keras menyelamatkan semua orang. Tapi tetap tidak lebih cepat dari menguapnya desa mereka.


Empu Brajasena terbangun penuh ketakutan dan bangkit dari tempat tidurnya, secara spontan menyapu seluruh ruangan dengan tatapan nyalang. Matanya yang masih kabur mengerjap terbuka, dadanya terasa berat saat tatapannya yang panik menyapu ruangan.


__ADS_2