Bebegig

Bebegig
Chapter 22


__ADS_3

Magenta mengarahkan pandangannya ke langit yang gelap, tampak seekor kelelawar menukik dan meluncur, menghilang menembus ke dalam awan tebal, lalu tiba-tiba terbang cukup rendah hingga terlihat lagi.


Kelelawar tidak berbahaya, katanya pada diri sendiri. Mereka makan serangga.


Tapi kepak sayapnya terdengar sangat dekat, bergema di bukit batu yang terjal, dan suara cericitnya yang nyaring membuat Magenta bergidik.


Ia melangkah lebar-lebar, tanah basah menyelusup ke dalam sandal karetnya.


Ia berhenti.


la tidak lagi sendirian.


Ada seseorang di sana. Di belakangnya. Di balik semak-semak ilalang itu.


la belum melihat siapa-siapa. Ia hanya merasakannya.


la tahu.


Bunyi kepak di atas kepalanya semakin keras, semakin dekat, lalu lenyap seketika. Angin yang bertiup dari seberang ladang ilalang mengibar-ngibarkan kaus lengan panjangnya.


Magenta berbalik.


Dan melihat cewek itu memandanginya.


la berdiri tak jauh dari tebing batu itu, bertelanjang kaki. Ketika ia berjalan menghampiri Magenta, ladang ilalang tiba-tiba tampak menjadi terang, dan Magenta bisa melihat gadis itu dengan jelas seperti di bawah terik matahari.


la cantik, pikir Magenta terpesona.


"Gen—" gadis itu mendesis lirih, menyapanya pelan, suaranya seperti tercekat di tenggorokan, wajahnya tersipu-sipu memandangi Magenta dengan kelopak mata bergetar.


Dia mengenalku? Magenta mengerutkan keningnya, mengawasi gadis itu dengan mata terpicing.


Gadis itu berjalan tersaruk-saruk ke arah Magenta. Bibirnya bergetar memaksakan senyum.


"Jingga!" Magenta menyadari.


"Tadi... tadi aku gak liat kamu," ia berkata tergagap-gagap. Ngomong aja nggak becus, batinnya mengomeli dirinya sendiri, rasanya ia ingin tenggelam ke dalam semak-semak dan tidak pernah kelihatan lagi. "Mak... maksud aku..."


"Aku nyasar," kata Jingga tersengak-sengak, ia berjalan mendekat, cukup dekat hingga Magenta bisa melihat betapa pucat wajahnya, cukup dekat hingga Magenta bahkan dapat mencium parfumnya, aroma mint dan teh hijau.


"Hah! Nyasar?"


Gadis itu mengangguk, bibirnya yang tipis mencebik karena menangis.


Kedua mata gadis itu terlihat sembap. Pantas saja aku tidak mengenalinya, pikir Magenta. "Emang kamu dari mana?" tanyanya cemas.


Gadis itu tertunduk, "Aku abis ngaterin makan siang buat Papa," katanya setengah terisak. "Tapi pas pulang cuma muter-muter di ladang ilalang sampe sore."


Dia cewek tercantik yang pernah kutemui, pikir Magenta. Dan dia tetap cantik meski berada di tengah sawah, bahkan saat menangis. Lalu ia sadar dirinya sedang ternganga. Sambil tersipu-sipu ia mengalihkan tatapannya ke samping, menyapu ladang ilalang dan sebelum ia dapat memutuskan. Sebelum ia dapat mengucapkan sesuatu. Sebelum ia menyadari apa yang terjadi, lengan Jingga yang gemetar tiba-tiba menariknya mendekat dan memeluknya.


Magenta hampir jatuh terjengkang karena terkejut. Jantungnya meletup-letup.

__ADS_1


"Aku takut," Jingga mendesis lirih dan putus asa, terisak seraya membenamkan wajahnya di dada Magenta. Aroma mint dan teh hijau menguar dari tubuh gadis itu, menyerbu penciuman Magenta seakan mengelilinginya.


"Ng---gak apa-apa. Ada aku!" Magenta berdeham.


Kenapa suaraku kedengarannya jadi macet dan nyangkut di tenggorokan?


"Ayo, pulang!" bisiknya parau. Ia menyentuh kedua bahu Jingga dengan hati-hati, kemudian mengelus bagian belakang kepala gadis itu dengan tangan gemetar karena berdebar-debar.


Aku hanya berdua dengan gadis idamanku di tempat sepi, jauh dari keramaian, jauh dari pandangan semua orang, jauh dari perhatian Dewa, dan aku cuma bilang ayo pulang. Menyebalkan.


Apakah sebaiknya aku mengajaknya ke saung dan mengobrol sebentar?


Apakah sebaiknya kuutarakan saja perasaanku dan menanyakan apakah dia mau menjadi pacarku?


Apakah dia akan menjawab ya?


Apakah dia akan menertawakanku?


Tiba-tiba ia merasa pusing, tapi ia memaksa diri berjalan sambil memeluk bahu Jingga.


Lalu mereka mendengar bunyi kepak, diikuti lengkingan nyaring misterius.


Mereka mendengarnya pada saat yang bersamaan. Kepak sayap yang sangat rendah dan sangat dekat di atas kepala mereka.


Lalu bayangan gelap terjatuh dari langit.


Mula-mula bayangan, lalu muncul makhluk yang bercakar dan mencicit.


la menjerit-jerit dan mengangkat tangannya.


Terlambat.


Sambil melengking-lengking seram seperti sirene mobil yang tak bisa dimatikan, kelelawar itu menancapkan cakarnya ke dalam rambut Jingga.


"Oh! Tolong!" la dapat merasakan sayap kelelawar itu mengepak-ngepak menampar kepalanya, tubuh hangat makhluk itu menabraknya, makhluk itu terjerat rambutnya, meronta-ronta, mencabik, mencakar.


"Tolong—tolong!"


Ia memejamkan mata, berlutut di pematang, mengibas-ngibaskan tangannya di atas kepalanya dengan putus asa.


Makhluk itu mendesis dan mencakar, meronta-ronta berusaha membebaskan diri dari belitan rambutnya yang panjang.


Lalu Magenta membungkuk, memukul-mukul dengan tangannya.


Cicitan nyaring itu bergema di antara rambutnya. Sayap kelelawar itu memukul-mukul keras sekali.


Lalu, dengan diiringi dengking akhir yang kesakitan, kelelawar itu terbebas dan pergi, diam-diam membubung tinggi ke dalam ke gelapan.


"Gak apa-apa," kata Magenta menenangkan Jingga, berusaha terdengar meyakinkan. "Kelelawar gak berbahaya!"


Jingga meloncat berdiri. Walaupun ia tahu kelelawar itu sudah pergi, benturan tubuh makhluk itu ke kepalanya dan sambaran sayapnya masih dapat dirasakannya.

__ADS_1


Ladang ilalang bergemuruh keras. Gemuruh itu mengelilinginya, datang dari segala sisinya. Dibekapnya telinganya, tapi gemuruh itu terdengar terus, seolah ada di dalam kepalanya!


Sekonyong-konyong ia menyadari suara itu berasal dari dirinya. Ia sedang menjerit-jerit histeris.


Dan tiba-tiba seluruh hamparan ilalang mulai bergoyang-goyang. Jalan setapak di bawahnya bergerak.


Tidak.


Pematang itu tak bergerak.


Akulah yang bergerak.


la berlari kencang melintasi pematang sawah, menjauhi ladang ilalang, menyingkir dari jalan setapak, hingga napasnya tersengal-sengal, dadanya terasa sakit, dan ia tidak sanggup berteriak lagi sekarang.


Lari, lari terus—ke dalam pelukan Dewa.


"Jingga!" seru Dewa. "Ada apa?"


Jingga memeluk Dewa kuat-kuat, menunggu debur jantungnya berhenti berpacu, menunggu dadanya berhenti tersengal-sengal, menunggu menghilangnya perasaan seolah cakar kelelawar itu malahan semakin menancap di rambutnya.


"Ada apa? Bilang!" tanya Dewa, sambil memeluknya erat, memberinya perlindungan.


"Magenta—" akhirnya ia berhasil bersuara, sambil menempelkan keningnya ke kehangatan kaus lengan panjang Dewa. "Di---dia masih di belakang."


"Magenta?" Dewa meninggikan suaranya. "Diapain kamu sama dia?"


"Bukan dia!" sergah Jingga cepat-cepat. "Tapi kelelawar. Ada kelelawar raksasa…"


"Terus?" tanya Dewa tak sabar.


"Terbang ke kepalaku. Terus kebelit rambut. Dia mencicit-cicit. Ribut banget. Aku panik. Dia terperangkap. Aku gak bisa ngelepasin kelelawar itu. Terus Magenta—"


"Terus Magenta diem aja? Gak mau nolongin kamu?" potong Dewa.


"Ng—nggak! Nggak gitu!" Jingga tergagap-gagap. "Dia yang narik lepas kelelawar itu," sahut Jingga, sambil menunjuk ke belakangnya tanpa menengok. "Tapi aku ninggalin dia gitu aja!"


Dewa mendesah pendek, "Ternyata cuma gitu," selorohnya tanpa beban.


Jingga melepaskan diri dari pelukan Dewa dan berbalik untuk memanggil Magenta.


"Ge—" ia memekik tertahan.


Tidak ada orang di sana.


Tiba-tiba seluruh tempat tampak berkabut. Jingga nyaris tak dapat melihat apa-apa.


"Mana dia?" tanya Jingga cemas. Ia berbalik dengan tersentak.


Tapi Dewa merenggut bahunya. "Udah biarin aja!" sergahnya. "Dia udah apal jalan!"


"Tapi—"

__ADS_1


"Udah!" Dewa bersikeras. "Dia pasti nyusul, kok!"


__ADS_2