Bebegig

Bebegig
Chapter 34


__ADS_3

"Gagasan ini muncul dalam mimpi aku," kata Magenta, bicaranya cepat, mendesak, tangannya masih di atas bahu kurus Jingga, "tapi aku tahu ini nyata."


Tak perlu pelan-pelan mengatakannya, putus Magenta. Ia harus mengutarakan apa yang ada dalam pikirannya.


"Dewa dibunuh Bebegig."


"Hah?" Jingga menjauh dari Magenta, mengangkat kedua tangannya seolah melindungi diri dari gagasan ini.


"Bebegig," ulang Magenta. "Kamu tau kelelawar besar yang terbang di atas curug itu? Dia pasti Bebegig. Beberapa malam sebelum Dewa meninggal, ada cewek yang diserang kelelawar. Kelelawar itu ngigit lehernya. Dan Dewa---"


"Gen---lelucon kamu konyol banget," tukas Jingga dengan marah, sambil menyilangkan lengannya. "Aku sama sekali gak mengerti. Gak ngerti di mana lucunya! Bisa-bisanya kamu jadiin kematian Dewa sebagai lelucon."


Magenta baru akan menjawab, tapi matanya melihat tanda merah kehitaman seperti memar yang melebar di leher Jingga. la tersentak, memelototi tanda itu.


Pikiran-pikiran liar berkecamuk dalam benaknya. Pikiran-pikiran gila.


Benarkah aku melihatnya?


Apakah itu cuma gigitan nyamuk?


Wajah Yasa terbayang dalam benaknya.


Jingga dan Yasa…


Ia membayangkan mereka berdua bersama.


Mungkinkah?


Mungkinkah mereka seintim itu?


Ataukah aku sendiri yang sinting?


"Aku mimpi," ia melanjutkan, matanya terpaku pada leher Jingga, otaknya berputar-putar. "Dewa lagi lari, dan…"


"Cukup, Genta!" bentak Jingga. "Cukup!"


"Aku tau ini kedengeran konyol," Magenta bersikeras, tidak memedulikan permintaan Jingga yang marah. "Tapi aku yakin—"


"Gen---aku serius," kata Jingga, roman mukanya tegang karena marah. "Tutup mulut kamu, please. Jangan ngomong lagi."


"Tapi, Jingga—"


"Jangan kayak anak kecil, Gen," katanya, matanya berkilat marah. "Dewasa sedikit. Saudara kamu meninggal, dan yang kamu pikirkan cuma cerita serem!"


"Nggak…" Magenta bersikeras.


Tapi Jingga tidak membiarkannya terus berbicara. "Aku punya cerita lain yang lebih menarik buat kamu," katanya dengan ketus. "Riwayat Jurig Bebegig udah tamat."


"Aku tau, tapi—"


"Mau sampe kapan kamu nakut-nakutin aku, nakut-nakutin diri sendiri?" Air mata menggenang di sudut-sudut matanya sekarang.


Oh, tidak, pikir Magenta, hatinya serasa tenggelam. Aku tak ingin membuatnya menangis. Bukankah kami sudah cukup sering menangis minggu ini?

__ADS_1


"Dewa udah gak ada, Genta! Terima kenyataannya," kata Jingga, berusaha menahan air matanya mencoba mengendalikan diri. "Gak ada gunanya bangkitin mitos Bebegig. Itu terlalu kekanak-kanakan. Bangkitin mitos Bebegig gak bisa bantu bangkitin Dewa."


"Tapi, Jingga—" la tidak tahu apa yang akan dikatakannya. Ia tidak dapat mengalihkan matanya dari luka kecil di leher Jingga.


Yasa, pikirnya.


Yasa muncul begitu saja dalam kehidupan Jingga… entah dari mana.


"Cik cukcruk ka belah kidul!"


Kata-kata wanita tua itu terngiang dalam benaknya.


"Tolong telisik ke selatan!"


Selatan adalah desa tetangga di sisi lain kaki gunung, desa tempat tinggal Yasa.


Yasa yang ia kenal bertubuh kurus dan kecil seperti manekin. Wajahnya seperti boneka perempuan.


Yasa tumbuh tinggi dan berambut panjang dalam hitungan hari.


Bukankah itu terlalu aneh?


Lalu tiba-tiba dia muncul di sisi Jingga.


Sejak hari itu…


Sejak ia melihat kelelawar raksasa di puncak air terjun.


Kelelawar itu…


Kelelawar itu Yasa. Yasa-lah Bebegig itu!


"Yasa itu Jurig Bebegig," gumamnya. Ia bahkan tidak menyadari apa yang sedang diucapkannya, tidak mendengar kata-kata itu, tidak bermaksud agar Jingga mendengarnya.


Sambil menghapus air mata yang mem basahi pipi pucatnya, Jingga menatap marah padanya. "Kamu udah gila sungguhan ya, Gen?" teriaknya. "Pergi! Jauhin aku!" la membalikkan tubuh dan menuju ke rumahnya.


Magenta mulai mengikutinya, tapi Jingga mendorongnya, meninju bahunya yang lebar. "Aku serius. Pergi. Aku gak mau liat kamu lagi! Jangan coba-coba nyariin aku lagi dan jangan pernah muncul di depan aku lagi!"


"Ada apa di luar sana?" tanya Empu Brajasena pada istrinya dari halaman belakang, sambil menjulurkan kepalanya ke pintu dapur. "Apa mereka bertengkar?"


Ragnala baru saja mencapai pintu depan ketika Jingga bergegas melewatinya, masuk rumah sambil terisak-isak.


Magenta mendesah sedih, lalu meninggalkan teras dan menuju ke jalan tanpa menoleh lagi.


Sepasang kelinci meloncat-loncat penuh semangat mengikuti jejaknya, tapi tidak dipedulikannya.


Hujan mulai turun, mula-mula hanya titik-titik gerimis, lalu tak lama kemudian lebat.


Magenta tidak terpengaruh dengan hujan itu, ia berjalan pelan-pelan, kepalanya menunduk. Beban pikirannya lebih berat daripada siraman hujan.


Tentu saja Jingga benar, katanya pada diri sendiri, sambil menendang segumpal lumpur dengan sepatu ketsnya. Rambutnya terjurai ke keningnya. Kausnya yang basah dan bau menempel pada punggungnya.


Tentu saja dia benar. Bisa-bisanya aku tiba-tiba datang dan ngoceh tentang Bebegig. Aku pasti sudah sinting sungguhan.

__ADS_1


Bebegig!


Tentu saja dia menganggapku brengsek. Dan dia betul.


Yasa bukan Bebegig.


Dia tampan!


Dia sangat tampan dan aku cuma cemburu. Dan kesal.


Aku menyesali diriku sendiri.


Bebegig…


Magenta tertawa sendiri---kalau tidak rasanya ia ingin menangis.


Kenapa pikiran konyol itu ada dalam kepalaku?


Dan kenapa aku begitu sinting menganggapnya serius?


la mendesah keras, memukul-mukul pohon-pohon yang merunduk terguyur hujan lebat. la berharap dapat membenamkan diri ke dalam lumpur membenamkan dirinya hingga kepalanya, dan tidak pernah kembali.


Aku sudah berbuat konyol, pikirnya, sambil menggeleng-geleng sedih, bergidik ketika angin bertiup kencang menyapukan air hujan yang dingin ke punggungnya.


Aku sudah berbuat konyol. Dan aku kehilangan Jingga untuk selamanya.


.


.


.


"Jadi ngapain aja lu selama hujan seharian ini?" Kantata bertanya, sambil mendului berjalan melewati rumput tinggi di atas bukit pasir.


Rumput masih basah akibat hujan, menggelitiki pergelangan kaki Magenta. la menyesal memakai celana pendek, bukannya jins. "Gak ngapa-ngapain," gumamnya pada temannya.


Sebenarnya, ia menghabiskan waktu sepanjang hari itu dengan melamun memandangi hujan lewat jendela ruang tamu, mondar-mandir, memutar-mutar pemantik dalam tangannya, memikirkan mimpinya, dan merenungi kebodohannya karena telah buru-buru mendatangi Jingga tanpa menimbang-nimbangnya lebih dulu.


Sepanjang perjalanan melewati bukit-bukit pasir dan tepian sungai yang berbatu-batu bersama Katata, ia menelusuri pemantik dengan jarinya. Bagaimanapun pemantik itu selalu menghibur, satu-satunya pengalihan saat ia mati gaya.


"Kerikil ini udah kering," kata Kantata, sambil menendang kerikil dengan ujung sandalnya. "Heran, ya? Hujan seharian, tapi tempat ini udah bener-bener kering."


Magenta melihat ke arah sungai. Akhirnya awan telah menyingkir ketika malam menjelang. Langit malam hampir bersih, bulan tampak bundar pucat di atas cakrawala di puncak air terjun.


"Gue udah berbuat konyol pagi ini," cetusnya.


"Jadi apa lagi yang baru?" Kantata bercanda, membungkuk untuk mencabut sehelai rumput panjang dan menyelipkannya ke mulutnya.


"Gue serius. Yang ini beneran konyol," Magenta bersikeras. Sementara matanya tetap mememandangi kerikil, ia menceritakan pada Kantata tentang mimpinya dan percakapannya dengan Jingga. "Konyol, kan?" ia menyimpulkan dengan muram.


Kantata mengunyah-ngunyah rumput di mulutnya sambil berpikir. "Konyol emang istilah yang bagus buat itu," ia setuju, sambil menggeleng-geleng. "Goblok juga lebih bagus. Gua malahan lebih suka pake istilah idiot."


"Heh, gue cerita bukan supaya lu bisa ngelawak!" tukas Magenta marah.

__ADS_1


__ADS_2