
Pagi masih gerimis ketika Jingga turun menuju kota di kaki gunung. Air hujan yang dingin terasa nyaman di wajahnya. Dengan langkah cepat ia menyusuri jalan setapak berpasir, ingin segera sampai di tepi jalan raya. la masih berada di sekitar lapangan berumput, sepatu karetnya menapak di atas kubangan yang bertebaran di jalan setapak itu, ketika tiba-tiba terdengar bunyi langkah kaki di belakangnya.
Ada orang yang mengikutinya!
la gemetar dan makin mempercepat langkahnya. Siapa dia? Apa maunya?
"Hei... Jingga!"
Jingga membalikkan badan.
Ternyata Magenta.
"Ngapain kamu pagi-pagi udah keluyuran?"
Dengan tangan, Magenta menyisir rambut ikal bakungnya yang basah oleh air hujan ke belakang, dan tersenyum lebar pada Jingga. "Aku lagi nungguin kamu." Ia mengenakan jins denim hitam dan T-shirt berlapis parka loreng army favoritnya. Wajah dan punggung tangannya sangat kecokelatan.
Jingga tidak membalas senyumnya. "Gen jangan mulai. Aku lagi buru-buru..."
"Aku cuma mau nawarin tumpangan," kata Magenta, bergegas menyamai langkah Jingga. "Kebetulan aku harus nganterin barang ke Serang. Terus aku kepikiran kamu. Barangkali kamu mau berangkat bareng. Itu pun kalo kamu gak tengsin naik mobil..." Magenta tidak melanjutkan perkataannya, hanya menunjuk ke arah mobil yang terparkir di jalan aspal di seberang lapangan rumput dengan ragu-ragu.
Jingga melihat pickup merah di belakang Magenta. Pintu di sisi pengemudi dibiarkan terbuka lebar.
"Itu mobil siapa?"
"Mobil toko. Tadi kan udah aku bilang aku mau nganterin barang ke Serang," sahut Magenta sambil tersenyum lagi. "Mau jalan-jalan sekalian?" la meraih tangan Jingga, namun gadis itu menarik tangannya menjauh.
"Nggak. Aku lagi buru-buru mau ke kampus."
Wajah Magenta terlihat agak tersinggung. "Ya udah. Aku anterin langsung ke kampus. Ayo, cepetan. Ujannya udah makin deres, nih."
"Gak usah," tolak Jingga.
"Kenapa?" Magenta menaikkan sebelah alisnya. "Kamu gengsi turun dari mobil pickup? Ya udah aku turunin kamu agak jauh dari kampus!"
"Aku cuma lagi males ribut," sergah Jingga.
__ADS_1
"Aku juga gak mau ribut sama kamu, Jingga. Aku cuma pengen berangkat bareng karena kebetulan kita searah."
Jingga ragu-ragu, lalu melihat ke langit yang makin gelap.
"Kamu janji gak bakal aneh-aneh?"
Magenta mengangkat tangan kanannya, pura-pura bersumpah. "Nggak. Kecuali kamu yang minta duluan," jawabnya sambil tertawa.
Jingga akhirnya mengikuti Magenta ke mobilnya dan membuka pintu di sisi penumpang.
"Pake tangga itu buat naek," Magenta memberitahu.
Jingga duduk dan menutup pintu. Dilihatnya Magenta berlari-lari kecil mengelilingi mobil dan meloncat untuk membuka pintu di sisi pengemudi. Dia kelihatan hebat, batin Jingga.
Magenta menyelinap ke belakang kemudi dan melontarkan senyum jahat. "Kamu keliatan bete. Kayaknya aku tahu apa yang kamu butuhin. Jalan-jalan yang jauh," katanya sambil memegang bahu Jingga dengan tangannya yang hangat. "Kenapa kita gak coba pergi ke pantai?"
Dengan bergurau Jingga memukul tangan Magenta agar menjauh. "Gen... kamu kan udah janji!" Jingga meraih pegangan pintu, tapi jelas tidak serius.
Magenta menstarter mobilnya dan mulai melaju meninggalkan Cipagenggang.
Jingga memandangi Magenta diam-diam, mengamati wajah tampannya. Ia lupa betapa cowok ini terkadang bisa sangat menyenangkan. Rasanya santai dan nyaman berdua dengannya, seperti dulu.
Jingga hampir mengatakan ya.
Apa ruginya?
Magenta meremas bahu Jingga.
Tapi tidak, pikir Jingga. Ini salah. Wajah ayah-ibunya terlintas dalam benaknya. Aku harus kuliah. Aku sudah terlalu sering membolos demi Magenta.
"Turunin aku di gang yang mau ke rumah Violet," katanya, dengan pandangan lurus ke kaca depan. "Kamu masih inget kan?"
Magenta membelokkan mobilnya di perempatan jalan dengan wajah cemberut.
Tentu saja Magenta tahu di mana gang rumah Violet, sudah beberapa kali ia mengantarkan Jingga ke sana meski sampai sekarang ia masih belum tahu siapa temannya yang bernama Violet itu. Jingga sering mengatakannya tapi tak pernah memperkenalkan mereka.
__ADS_1
Jingga tak pernah memberitahu Magenta di mana ia tinggal selama kuliah. Mereka selalu berpisah di gang itu setiap kali Magenta bersikeras untuk mengantar Jingga sampai ke kostan. Bahkan sebelum ia pindah ke rumah Bu Lastmi.
Jingga tahu persis apa yang dipikirkan Magenta ketika bicara soal ikut ke kostannya. Supaya mereka bisa berduaan tanpa pengawasan orang tua dan terhindar dari pandangan masyarakat di desa mereka. Dan itu bisa berarti sangat berbahaya.
Jingga tak ingin mengecewakan orang tuanya. Ia tak dapat mempercayai dirinya jika hanya tinggal berdua dengan Magenta.
Jingga menoleh, dan melihat kekecewaan di wajah Magenta.
Cowok itu kelihatannya tidak hanya kecewa. Tapi juga murka. Kemarahannya menggelegak akibat sekali lagi ditolak oleh kekasihnya.
Mereka melaju ke arah kostan Jingga dalam suasana sunyi, kesunyian yang mencekam dan muram.
Magenta menurunkan Jingga di tepi jalan, dan gadis itu berlari ke gang tanpa berpamitan.
Jingga melihat ambulans ketika ia baru saja berbelok memasuki gang menuju rumah Bu Lastmi.
"Oh, ya ampun! Kenapa Bu Lastmi?" jeritnya, dan ia mulai berlari melintasi halaman tetangga menuju rumah itu.
Namun ketika makin dekat, ia baru menyadari bahwa ambulans itu tidak diparkir di depan rumah Bu Lastmi. Kendaraan itu diparkir di depan rumah di dekatnya.
la berhenti dan berdiri di jalan mobil, melihat dua orang paramedis berpakaian putih membawa keluar usungan menuju ambulans.
Dengan diselubungi selimut sampai dagu, orang di atas usungan itu mengerang kesakitan, matanya terpejam rapat.
Jingga segera mengenalinya. Pak Rustam atau Pak Rusman, siapa pun dia. Paramedis mendorong masuk usungan ke ambulans dan menutup pintunya.
Sebentar kemudian ambulans itu bergerak meninggalkan tepi jalan, lampu merahnya menyala, memantulkan cahaya pada daun-daun hijau di pohon.
Pandangan Jingga terarah ke rumah Bu Lastmi. Wanita tua itu sedang berdiri di balik pintu kasa dengan menggendong kucing hitamnya. la menyaksikan semua peristiwa itu.
"Bu Lastmi, ada apa?" tanya Jingga sambil berlari-lari kecil ke teras.
Wanita tua itu sedang tersenyum-senyum. Tetapi waktu Jingga mendekatinya, ia segera mengubah ekspresinya menjadi sedih. "Kasian si Rusman." Ia membukakan pintu kasa untuk Jingga. "Jelek bener nasibnya, si Rusman. Pasti karena adatnya jelek."
"Tapi… kenapa? Kenapa dia?" tanya Jingga sambil menahan napas.
__ADS_1
"Jelek bener nasibnya," ulang Bu Lastmi. "Dia jatuh dan tulang panggulnya patah. Oh, pasti sakit banget." Ia menggelengkan kepala. "Padahal kemarin dia udah saya ingetin supaya hati-hati. Duh, kasihan, kasihan."
Jingga memandangi wajah Bu Lastmi tanpa bertanya lagi, bulu kuduknya sudah meremang.