Bebegig

Bebegig
Chapter 41


__ADS_3

Yasa berhenti melangkah.


Di dalam rumah kaca, terdapat gua sempit dengan dinding-dinding gelas dan kaca yang berliku-liku tanpa akhir.


Jingga tertawa melihat enam bayangan dirinya.


Di mana jalan keluarnya?


"Sa---"


Yasa berjalan jauh di belakangnya,


"Yasa---kamu gak apa-apa, kan?" tanya Jingga.


"Yah—kayaknya gitu!"


Jingga mendengar suaranya dari suatu tempat di belakang dinding kaca.


Apakah kami sendirian di sini? tanya Jingga dalam hati. la tidak mendengar suara lain atau detak langkah lain di sepanjang lantai logam itu.


la membungkuk saat melewati sebuah pintu, berkedip-kedip melihat beberapa bayangan, lalu berbelok masuk ke koridor kaca yang sama persis.


"Yasa!"


Apakah itu dia ataukah hanya bayangannya?


"Yasa---Aduh!"


Keningnya terasa nyeri saat ia melangkah ke arah bingkai kaca yang dikiranya jalan keluar dan menabraknya. Dipejamkannya matanya dan diusap-usapnya keningnya yang sakit, ia menertawakan dirinya sendiri yang telah terkecoh.


Ketika ia membuka mata, ada setidaknya delapan bayangan yang sedang memandanginya. Di salah satu kaca, bayangannya tampak berkali-kali, makin lama makin kecil dan makin kabur saat menyusut hingga kecil tak terhingga.


"Hei—kayaknya aku nyasar, deh!" teriaknya. "Sa, kamu di mana?"


"Di sini," terdengar gumam sahutan. Jingga berbalik, mengira cowok itu ada di belakangnya, tapi hanya melihat beberapa bayangan dirinya yang terkejut.


Sambil meraba-raba sepanjang kaca, Jingga menemukan jalan keluar, melangkah masuk ke ruangan yang lebih gelap. Lampu pijar di dalam sana berkedip-kedip, hingga bayangannya tampak hijau mengerikan, saat balas memandanginya. Ekspresinya jadi menjengkelkan dan kacau.


Ini tak selucu yang kubayangkan, pikirnya, ia salah mengira sebuah bingkai kaca bening sebagai pintu keluar dan lututnya menabrak. "Auw."


Apakah aku bolak-balik di sini-sini juga? tanyanya dalam hati.


Apakah aku takkan keluar dari sini?


"Yasa?"


Tak ada jawaban.


"Sa?"


Jingga memutuskan menunggu saja di sana, tidak beringsut sampai Yasa menemukannya.


Kenapa Yasa tidak menjawabnya? Mungkin Yasa tidak sedang menuju ke arahnya.


Jingga memutuskan berjalan kembali, menyusuri kembali jejaknya tadi. Tapi itu tidak semudah kedengarannya.


Sambil berjalan hati-hati, tangannya menelusur di sepanjang kaca, ia mengikuti bayangannya ke ruangan dengan lampu pijar yang berkedip-kedip itu.


"Yasa? Kamu di mana?"


Dan lalu ia melihat Yasa sekilas, membungkuk rendah, memandang lurus ke depan.

__ADS_1


Apakah itu bayangannya? Ataukah itu dia sendiri?


Jingga bergerak mendekat, namun hanya bisa melihat satu sosok.


"Sa?"


Di sini panas sekali, pikirnya, tiba-tiba rasa panas dan gatal menyerang seluruh tubuhnya.


Sangat panas. Sangat tak enak.


Lutut dan keningnya masih memar, mengingatkannya akan tumbukan dengan kaca itu.


"Sa, sini!"


Yasa memejamkan matanya sekejap, lalu membukanya untuk memandangi kaca-kaca, memandangi bayangan dirinya, memandangi wajahnya yang terkejut.


Pembuluh darah di wajahnya sudah menghitam seperti tato akar.


Di sini panas sekali, pikirnya. Atap-atapnya terlalu rendah. Seperti—peti mati.


Peti mati kaca.


Urat-urat hitamnya semakin pekat seiring suhu tubuhnya yang terus meningkat. Merambat semakin jauh, menjalar kian melebar ke hampir seluruh tubuhnya.


Aku butuh pelepasan untuk mengatasi masalah urat ini.


Aku butuh pelepasan untuk mengurangi semua ketegangan.


Aku butuh pelepasan secepatnya sebelum seluruh tubuhku berubah menjadi batang pohon.


"Sa!" Ia dapat mendengar Jingga memanggilnya, seakan cewek itu tahu ia membutuhkannya. "Yasa---sini! Kamu bisa liat aku, kan?"


Aku dan Jingga sendirian di sini, ia menyadari.


Aku tak bisa menunggu lebih lama lagi.


Aku akan mengering!


Aku harus mendapatkan sentuhan.


Cermin-cermin hampa seakan balas mengawasinya saat ia mengendap-endap ke arah Jingga.


Itu dia di sana, pikirnya, berbelok di sudut, mencariku. Mencariku di kaca-kaca itu.


Aku sendirian malam ini.


Aku datang untukmu.


Yasa menggapai Jingga---dan menabrak kaca.


la melompat terkejut, sesaat silau oleh sinar lampu.


la berbalik dan melihat bayangan gerakan.


"Yasa!" Jingga memanggilnya.


la mengulurkan kedua lengannya lalu menyambar Jingga dari belakang. Sekali lagi tangannya menabrak kaca.


Bayangan-bayangan sialan ini melindunginya, pikirnya. Mereka mengejek. Mengejekku!


Kemarahannya semakin menjadi-jadi karena kedahagaannya.

__ADS_1


Aku harus menyentuhnya sekarang! Harus!


Jingga melihat Yasa mendatanginya, tangannya terulur ke depan, jalannya tidak mantap, seolah buta akibat lampu. Seharusnya aku tak menariknya masuk ke sini, pikir Jingga dengan rasa bersalah. Kelihatannya dia tidak menikmati.


Dengan dikelilingi bayangan-bayangannya, Jingga memanggil Yasa. "Sa---sini!"


Yasa menurunkan tangannya dan berputar menghadap Jingga, senyum aneh menghiasi wajahnya, senyum lega, bagaimanapun ia masih jengkel.


"Di situ kamu rupanya." Suaranya seakan melayang dari jauh.


Ketika ia berjalan menghampiri Jingga, menyusuri sepanjang dinding kaca, matanya menyala-nyala menatap ke dalam mata Jingga, ruangan sempit itu seakan mengimpit Jingga, dan semua kaca tertutup kabut.


"Sa---" ia mulai, tapi kabut turun.


Satu-satunya cahaya sekarang hanya berasal dari mata Yasa.


Cowok itu masih berjalan menghampiri, akhirnya ia memutuskan menunggu Jingga.


"Sa---kamu di mana?" tanya Jingga sambil melamun.


"Di sini terlalu gelap," sahut Yasa, terdengar jauh sekali, berkilo-kilometer, jauh di balik kabut.


"Iya, aku gak bisa liat kamu."


"Aku di sini," kata Yasa, sinar kelabu dingin dari matanya menembus mata Jingga.


Jingga kembali ke dalam bayangan-bayangannya. Saat Yasa bergerak mendekat, ia dapat merasakan dirinya masuk ke bayang-bayang yang tak terhingga jumlahnya, semakin kecil dan semakin tak kelihatan ketika ia melebur ke dalam dunia kaca, dunia yang semakin gelap.


Ketika ia masuk kembali, Yasa mencondongkan badan ke depan.


Lalu, sambil mengerang penuh kemenangan, Yasa menunduk dengan penuh nafsu untuk mencium.


Lalu ia mendengar decit sepatu sneakers di lantai logam.


Suara tawa. Teriakan-teriakan anak-anak.


Sial!


Yasa mengumpat dalam hatinya.


Kabut kembali naik.


Bayangan-bayangan di kaca semakin bersih, semakin terang.


Terdengar derak keras.


Seorang gadis kecil mulai menangis, menggerung-gerung kesakitan.


"Apa itu?" seru Jingga, ruangan penuh kaca itu mendadak terang benderang menyilaukan mata, semua bayangannya tampak membelalak dan bersamaan mengajukan pertanyaan itu.


Enam Jingga berjalan menjauhi kaca, enam mulutnya bertanya, "Apa itu?"


Yasa memalingkan kepalanya, berharap pembuluh darahnya yang menghitam terhapus dari wajahnya, mencoba menghentikan napasnya yang terengah-engah, menahan erangannya, menyembunyikan kekecewaannya.


Saat ia berpaling kembali, Jingga sedang berlari ke arah anak perempuan yang membenturkan kepalanya ke kaca itu.


Jingga menggendongnya dan mencoba menenangkannya sementara beberapa anak lainnya berkerumun mengelilingi.


Merasa kedudukannya tak aman dengan adanya tato mencolok dalam ruangan yang terang-benderang itu, Yasa menyelinap dan berbelok.


"Aku tunggu di luar," serunya pada Jingga, menyingkir dari anak perempuan yang menangis, menghindari anak-anak yang menjerit-jerit, dan menjauh dari gema langkah kaki-kaki yang mendekat di lorong.

__ADS_1


la bergegas melewati pintu keluar, memasuki malam yang hangat, bersembunyi dalam kegelapan, roman mukanya masih tegang akibat kecewa.


Aku harus membawanya pergi!


__ADS_2