
"Papa…!" Violet merintih dengan suara yang sangat memilukan.
Empu Brajasena terkekeh sinis. "Jangan kira dengan begitu saya akan jatuh kasihan."
"Tapi kau memang papaku," ratap Violet dengan ekspresi teraniaya. "Kau yang menciptakanku."
"Benar," kata Empu Brajasena. "Dan saya juga yang akan memusnahkanmu."
"Tapi gadis ini akan mati kalau aku pergi!" sergah Violet. Raut wajahnya berubah dalam sekejap. Ia melirik Rogan sembari menyeringai. "Gadis ini seharusnya sedang koma di rumah sakit," katanya licik. "Bukan begitu, Rogan Sayang?"
Rogan menelan ludah dan mengetatkan rahangnya. Merasa sedikit jengkel. Terutama di depannya ada Magenta.
Empu Brajasena tidak menghiraukannya. Ia menoleh pada Yasa untuk melihat persiapannya.
Yasa sudah mulai mengumpulkan energi tak kasatmata dengan menyerap energi sekitar melalui tarikan napasnya yang dalam, melalui gerakan kedua tangannya yang terentang di sisi tubuhnya yang kemudian disatukan di depan dadanya dengan telapak tangan saling berhadapan sementara arah jemarinya berlawanan.
Violet kembali meronta-ronta.
Rogan dan Magenta mengetatkan pegangan mereka.
"Denger, semuanya!" seru Empu Brajasena. "Apa pun yang terjadi, apa pun yang kalian lihat, jangan lepasin anak itu!" pesannya pada Rogan dan Magenta.
"Oke," kata kedua cowok itu nyaris bersamaan.
"Dan jangan coba-coba takut!" Empu Brajasena menambahkan sambil membungkuk menaruh botol cuka yang sudah kosong, lalu duduk bersila di depan tubuh Violet.
Rogan dan Magenta langsung terdiam. Mata mereka terlihat waswas.
Lalu tiba-tiba seluruh tempat mendadak terang.
Jingga menahan napas dan terbelalak.
Magenta menoleh ke arah gadis itu dan tercengang.
Rogan menoleh mengikuti arah pandang Magenta dan terkesiap, memandang takjub ke arah Yasa.
Tubuh Yasa menyala memancarkan cahaya lembut berwarna jingga keemasan dan menerangi seluruh tempat seperti lampu petromax yang dibawa Empu Brajasena pada malam dua tahun lalu.
Seumur hidup Magenta, malam ini adalah pertama kalinya ia melihat pekerjaan para ahli spiritual. Pertama Empu Brajasena ketika mengobatinya di rumah, sekarang Yasa dengan tubuh menyala. Dan tanpa sadar ia sedang terpukau dan mengagumi seseorang yang telah merebut kekasihnya itu. Seseorang yang ia benci dalam dua tahun terakhir. Seseorang yang dia remehkan beberapa tahun sebelumnya.
Ia menoleh pada Empu Brajasena untuk melihat apakah tubuh pria paruh baya itu juga akan menyala.
Tapi ternyata tidak.
Seperti yang dikatakannya dua tahun lalu, Empu Brajasena sebetulnya tidak memiliki kemampuan untuk melihat makhluk gaib. Untuk bisa melihat sosok hantu yang harus ia hadapi, ia harus membaca mantra tertentu supaya mereka bisa terlihat.
Sekarang Empu Brajasena tidak membutuhkan mantra itu lagi.
Yasa yang memiliki kemampuan melihat makhluk gaib yang dibawanya sejak lahir, ternyata adalah pembuka portal, seperti mantra yang bisa membuat makhluk-makhluk yang tak kasatmata menjadi kasatmata.
Cahaya pada tubuhnya bukan hanya untuk memberikan penerangan, tapi untuk memperlihatkan entitas lain yang tidak terlihat.
__ADS_1
Jadi begitu cahaya dari tubuhnya mulai menerangi sekeliling tempat, mereka baru menyadari bahwa mereka tidak sendirian.
Ada mendiang nenek Jingga di belakang Empu Brajasena.
Ada mendiang dewa di belakang Magenta.
Ada dua orang—pria dan wanita, di belakang Rogan.
Jingga langsung menoleh ke belakang punggungnya sendiri untuk memastikan tidak ada siapa-siapa di belakangnya.
Tapi lalu terhenyak melihat seorang wanita cantik berwajah lancip seperti boneka porselen dan seorang pria berambut ikal sebahu berdiri di sana.
Siapa mereka? pikir Jingga ketakutan.
Tapi senyuman lembut perempuan berwajah lancip itu seakan menenangkannya dalam sekejap.
Lalu tiba-tiba ia menyadari wajah perempuan itu mirip sekali dengan calon suaminya.
Mereka orang tua Yasa! ia menyimpulkan. Bulu kuduknya serentak meremang. Tapi ia sudah tidak takut lagi.
Hanya saja, makhluk spiritual memang memiliki aura seperti itu, kata ayahnya.
Baik kita takut ataupun tidak, secara alamiah, tubuh manusia akan beraksi pada kehadiran mereka. Salah satunya adalah merinding.
Kalau begitu dua orang di belakang Rogan…
Jingga menoleh ke arah Rogan dan melihat pria tinggi besar berambut ikal berkulit coklat yang mirip sekali dengan Rogan.
Mereka orang tua Rogan.
Lolongan melengking seperti suara serigala kemudian menyentakkan semua orang dari keterpukauan mereka.
Ternyata suara Violet!
Cewek itu sekarang sudah berubah menjadi monster akar yang mengerikan yang tidak perlu dijelaskan lagi secara mendetail karena sudah dua kali dijelaskan di bab sebelumnya.
Empu Brajasena menggerak-gerakkan kedua tangannya seperti yang dilakukan Yasa. Tapi hanya telapak tangannya yang menyala seperti bara api.
Jingga mengintip ke arah ayahnya dari balik punggung Yasa.
Pria yang menjadi cinta pertamanya itu menempatkan telapak tangannya di perut monster akar itu.
Monster akar itu sekarang meraung-raung sementara tubuhnya mulai terbakar secara perlahan seperti arang.
Kaki dan tangannya mulai mengamuk membuat Rogan dan Magenta terjungkal.
Keduanya berusaha bangkit kembali namun Empu Brajasena kemudian mengangkat sebelah tangannya memberi isyarat cukup.
Kedua cowok itu akhirnya hanya membeku melihat tubuh hitam legam mengerikan itu bergetar dan tersentak-sentak seperti sedang kejang sementara tubuhnya terus terbakar.
Keheningan menyergap seluruh tempat dalam waktu yang lama.
__ADS_1
Raungan makhluk itu akhirnya berakhir dan kulitnya mulai retak sedikit demi sedikit. Setiap serpihan yang jatuh berubah menjadi debu dan beterbangan seperti dihisap ke awan.
Dan muncullah sosok Violet yang tergolek pucat dengan kedua mata terpejam.
Rogan dan Magenta menelan ludah. Memandangi sosok itu dengan prihatin.
Empu Brajasena segera menekankan ujung jarinya di pergelangan tangan Violet untuk memeriksa denyut nadinya. Dahinya berkerut-kerut gelisah. "Jadi bener anak ini lagi koma?" tanyanya pada Rogan.
Rogan mengangguk dan tersenyum muram.
Empu Brajasena menghela napas berat. Lalu kembali duduk bersila. "Bisa tolong pegangin dia biar dia duduk?" Ia bertanya pada Rogan dan Magenta.
Kedua cowok itu serempak mengangkat tubuh Violet dengan akur dan mendudukkan cewek itu memunggungi Empu Brajasena, lalu menahan bahu Violet di kiri-kanannya.
Empu Brajasena mulai mengobatinya seperti yang ia lakukan pada Magenta. Tapi kali ini jauh lebih lama karena terlalu banyak energi yang dibutuhkan untuk memulihkan beberapa bagian tubuh cewek itu.
Dan setelah ia berhasil menyadarkan Violet, kondisi tubuhnya benar-benar lemah karena cewek itu seharusnya sedang diinfus sekarang.
Cahaya dari tubuh Yasa perlahan-lahan mulai meredup, sebagai pertanda bahwa mereka harus segera meninggalkan tempat itu.
"Ayo bawa ke rumah aja!" Rogan mengusulkan. "Lu kuat gak bawa dia sendiri?" tanyanya pada Magenta.
Magenta menelan ludah dan tertunduk. Ragu-ragu untuk menjawab. Di satu sisi ia malu pada Rogan, di sisi lainnya ia masih jengkel pada Violet. Tapi akhirnya ia mengangguk dan membopong gadis itu ke rumah Bu Lastmi.
Ayah Jingga mengobrol dengan Rogan sepanjang perjalanan menuju rumah Bu Lastmi, sementara Yasa berjalan sempoyongan ditopang Jingga.
Malam ini benar-benar melelahkan!
Tapi syukurlah…
Teror sudah berakhir…
Tidak ada lagi mimpi buruk…
Tidak ada lagi kengerian…
Namun pekan itu mereka benar-benar sibuk.
Rogan ternyata tidak main-main dengan rencananya untuk menikahi Nada, dan dengan tanpa pikir panjang Nada menerimanya dengan suka rela.
Yasa dan Jingga terpaksa menunda hari pernikahan mereka beberapa hari. Sebenarnya mereka berharap bisa melangsungkannya bersamaan saja, tapi Rogan dan Nada bersikeras bahwa mereka tidak ingin dilangkahi. Jadi adik mengalah saja!
Meski keuangan Yasa dan Nada takkan habis untuk tujuh generasi, mereka tidak berencana untuk mengadakan pesta. Mereka hanya butuh catatan sipil dan melanjutkan hidup dengan damai.
Yasa dan Jingga menetap di rumah Bu Lastmi setelah menikah, sementara Bu Lastmi tinggal di desa bersama Rogan dan Nada.
Sementara Violet… sama halnya seperti Yasa, cewek itu juga kehilangan sebagian ingatannya, namun ia tetap menerima Magenta sebagai kekasihnya dengan suka rela. Bukan karena alasan yang diutarakan Empu Brajasena mengenai sejauh mana hubungan mereka, tapi karena Violet memang menaruh hati pada Magenta. Ia kembali tinggal bersama orang tuanya, sementara Magenta masih bolak-balik untuk bekerja dan mengunjungi Violet setiap harinya. Mereka berpacaran dengan cara sehat meski sesekali khilaf.
Demikian pada akhirnya cerita ini saya nyatakan:
Tamat!
__ADS_1