Bebegig

Bebegig
Chapter 72


__ADS_3

Sambil mengunyah makanannya, Jingga meraih buku puisi dari meja dan membukanya.


Isinya memang sajak-sajak lama dalam bahasa Sunda. Tapi berbeda dengan miliknya. Hanya sampulnya saja yang sama. Mungkin karena berasal dari zaman yang sama.


Dalam hatinya Jingga merasa bersalah telah berprasangka buruk pada Bu Lastmi.


Yasa mengelap mulutnya dengan tisu dan menyesap kopinya yang masih mengepul. "Tapi kalo boleh kasih saran, sebaiknya kamu tetep pindah dari rumah ini," katanya dengan hati-hati.


Jingga memalingkan wajahnya dan mengerjap, menatap Yasa dengan eskpresi heran.


"Temen kamu… yang pendaki—"


"Tunggu dulu!" Jingga memotong perkataan Yasa. "Kamu tau dari mana temenku pendaki?"


Yasa menatap ke dalam mata Jingga dengan ekspresi tenang. Sangat tenang, hingga membuat Jingga terdiam. "Jaket itu…" Yasa menggantung kalimatnya yang secara otomatis membuat Jingga mendesah pendek tanda mengerti.


"Maaf, Jingga. Ini mungkin terlalu pribadi," lanjut Yasa hati-hati. "Tapi kalo bisa, sebaiknya jauhin dia!"


Jingga mengerutkan keningnya.


"Cuma saran," Yasa menambahkan cepat-cepat.


Jingga mengerjap dan tercenung, memandangi cangkirnya dengan tatapan kosong.


"Oh, ya! Bisa jelasin sedikit, kenapa kamu bisa kepikiran kalo buku ini mungkin buku mantra?" tanya Yasa mengalihkan topik pembicaraan. Sebenarnya ia merasa bahwa ada hubungan antara buku ini dengan mimpinya tadi malam.


Ia bermimpi tentang secarik kertas berisi sajak kuno yang bisa dikategorikan sebagai mantra. Tapi isi buku ini sama sekali berbeda dengan buku mantra meski jilidnya sama dengan buku-buku mantra.


Yasa pernah melihat beberapa buku mantra berjilid serupa milik Empu Brajasena. Barangkali Jingga juga pernah melihatnya, pikirnya. Tapi ia penasaran kenapa mimpinya semalam juga tentang sajak lama. Barangkali jawaban Jingga bisa membantu memberinya sedikit pencerahan.


Hal itu bisa saja terjadi dalam dunia spiritual.

__ADS_1


Jingga tiba-tiba tertarik pada buku sajak lama, dan ia bermimpi tentang sajak lama. Tampaknya ini bukan suatu kebetulan, pikir Yasa.


"Punya pengalaman dengan buku sajak lama?" Yasa bertanya lagi.


Kucing Bu Lastmi meringkuk di dekat piringnya, menguping pembicaraan mereka.


Jingga tertunduk dan masih tercenung. Pikirannya masih melayang pada Violet. "Ya," jawabnya muram. "Papa sama nenekku pernah buat buku mantra," tuturnya. "Sajak itu dibuat untuk menyegel dan membebaskan suatu entitas yang gak sengaja mereka buat. Lebih tepatnya, mereka pernah menciptakan monster tanpa sengaja."


Ini sama dengan cerita Empu Brajasena, pikir Yasa. Tapi ia tak ingin menyela cerita Jingga. Ia ingin mendengar cerita itu dari sudut pandang Jingga. Mungkin wanita tua berkebaya putih itu yang dimaksudnya, ia menyimpulkan.


"Mereka nyegel monster itu di gua keramat di puncak gunung, dan aku malah ngebuka segelnya," kenang Jingga masam.


Puncak gunung? pikir Yasa terkejut. Itu juga ada dalam mimpiku!


Empu Brajasena tak pernah mengungkit soal tempat di mana dia menyegel entitas itu. Dia hanya mengatakan bahwa mahluk itu disegel dalam tubuh orang-orangan sawah.


Orang-orangan sawah itu juga ada dalam mimpinya tadi malam.


Kucing Bu Lastmi yang tiba-tiba melompat ke atas meja menyela cerita Jingga.


Yasa meraup kucing itu dan memindahkannya ke pangkuannya.


Jingga melanjutkan ceritanya. "Hantu itu… bener-bener ada. Dia nyata. Dia serem dan yang lebih serem lagi, dia bilang kalo dia papaku!"


Yasa mendesis menahan tawa.


Jingga langsung cemberut.


"Lanjut," kata Yasa sambil tersenyum lembut. Membuat gadis itu seketika luluh.


"Aku juga gak yakin kalo dia papaku, tapi aku paling gak suka kalo ada misteri yang belum terpecahkan," Jingga berkilah. "Dia bilang, Mama sama nenekku penyihir. Merekalah katanya yang ngutuk Papa jadi orang-orangan sawah biar gak bisa ngerebut aku. Itulah sebabnya mereka bawa aku kabur ke Jakarta. Tapi aku masih belum percaya. Terus dia bilang dia berani jamin aku bisa buktiin kebenarannya kalo aku bisa bantu dia bebas dulu. Dan satu-satunya cara buat bebasin dia, aku harus baca bait kedua dari sajak lama itu. Jadi aku mutusin buat nyari bukunya."

__ADS_1


Kucing Bu Lastmi tiba-tiba menggeram rendah menyela cerita Jingga, seakan turut menyayangkan keputusan Jingga.


Yasa mengelus-elus kepala kucing itu, sementara Jingga melanjutkan cerita.


"Waktu aku mau pulang buat ngambil buku sajak itu, Mama tau-tau muncul bawa buku itu sambil marah-marah dan nyalahin aku habis-habisan. Mama mulai debat sama si hantu soal siapa yang benar dan siapa yang salah. Hari itu sikap Mama berbeda dari biasanya. Sikap anehnya yang kayak nutup-nutupin sesuatu dari aku, terbongkar malam itu. Tiba-tiba aku curiga Mama beneran penyihir. Dia pasti marah karena si hantu itu bocorin rahasianya, pikirku. Jadi aku berebut buku itu sama Mama, sampe Mama akhirnya ngerobek buku itu dan ngebuang semuanya ke jurang."


Yasa menyimak cerita Jingga sambil menerawang mimpi-mimpinya, mencoba menghubung-hubungkan antara mimpinya dengan cerita Jingga.


Jingga menyelesaikan sisa ceritanya dengan raut wajah muram, sampai proses penyegelan ulang yang merepotkan, sampai hantu itu kembali tanpa semua orang sadari dan mengutarakan kebimbangannya mengenai kemunculan kembali hantu itu dalam sosok yang tidak terduga.


Hanya saja, Jingga tidak mengatakan bahwa sosok yang dirasukinya adalah Yasa.


Tapi Yasa akhirnya menemukan benang merah antara sobekan kertas yang dibacanya dalam mimpi dengan kejadian Jingga yang berebut buku sajak dengan ibunya di puncak gunung.


Buku itu robek dan seseorang kemudian menemukan robekan itu, Yasa menyimpulkan. Dan orang itu membaca bait kedua sajaknya.


Seseorang membebaskan segelnya lagi tanpa ada yang menyadari?


Jadi sajak lama dalam mimpiku itu pembuka segel hantu orang-orangan sawah? pikirnya. Tapi dia tetap tidak menyela cerita Jingga. Masih tak yakin mimpi itu adalah pengalamannya.


Itu hanya mimpi, pikirnya. Tidak membuktikan apa-apa.


Tapi jika dihubungkan dengan visi terkait adegan-adegan panas mereka…


Jingga berhenti sejenak sebelum melanjutkan, "Entah gimana sobekan buku itu bisa ada di tangan Magenta, tapi… aku akhirnya menyimpulkan anak itu juga mungkin nemu sobekan buku itu dan—"


Tiba-tiba Yasa menyergap pergelangan tangan Jingga, hingga gadis itu tersentak dan tidak meneruskan ceritanya.


Jingga tergagap dengan mata dan mulut membulat.


Yasa merunduk sedikit untuk mensejajarkan wajah mereka, kemudian menatap ke dalam mata Jingga, menatap gadis itu dengan ekspresi tegang. "Aku yang nemu robekan itu," katanya dengan suara tercekat.

__ADS_1


Jingga langsung memucat.


__ADS_2