
Yasa, Reksa dan Anes, masih terlihat sedikit bingung ketika mereka mengikuti Empu Brajasena keluar dari pondok, mereka juga masih mengenakan jubah longgar India berwarna hitam dengan tudung kepala, sepintas ketiga remaja itu terlihat seperti anggota ritual sekte tertentu.
Jingga menghampiri Yasa dengan salah tingkah, sedikit syok mendapati tinggi badan cowok itu hanya sebatas pelipis Jingga.
Ya, Tuhan! pikirnya. Apakah cowok ini benar-benar teman sekelas Magenta?
Tiba-tiba ia merasa asing. Ia tidak mengenal cowok yang sekarang berdiri di depannya.
Dia bukan Yasa yang kukenal, pikirnya.
Cowok mungil di hadapannya sama sekali bukan Yasa yang dikenalnya selama sepekan ini. Yasa yang ini benar-benar berbeda. Bukan karena tinggi badannya yang sedikit mengecewakan, tapi tatapannya yang jeli seperti sorot murni mata anak-anak, dan raut wajahnya yang polos membuat Jingga merasa sedikit terlalu tua.
"Hai," sapa Jingga.
"Hai," balas Yasa tak kalah salah tingkah. Tapi ekspresi wajahnya tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa ia mengingat Jingga. "Aku… Yasa," ia memperkenalkan diri.
Jingga tersenyum kikuk, lalu melirik ayahnya.
"Dia putri saya," seakan bisa membaca kebimbangan Jingga, Empu Brajasena menengahi mereka.
Tentu saja dia bisa membaca kebimbangan putrinya.
Dia kan orang sakti!
"Dia akan sekolah di sekolah kalian!" Empu Brajasena menambahkan.
"Oh," gumam Yasa menanggapi Empu Brajasena, lalu kembali menoleh pada Jingga dengan sedikit tersipu.
"Aku Jingga," kata Jingga akhirnya, mulai mengerti situasinya.
Yasa tersenyum dan tertunduk, lalu melirik ke arah Magenta, sedikit ragu untuk membedakan apakah ia sedang berhadapan dengan Dewangga atau Magenta. Ia tak ingat apa-apa soal Dewa.
Tapi lalu Magenta tersenyum padanya tanpa mengatakan apa-apa.
Tahulah Yasa bahwa itu bukan Dewa. Dewangga tidak setenang Magenta. Magenta tidak termasuk hitungan teman yang biasa mem-bully-nya.
"Kalian semua pulanglah duluan," kata Empu Brajasena. "Saya masih ada sedikit urusan yang belum selesai."
Anes serentak bertukar pandang dengan Reksa, lalu keduanya melirik sekilas pada Yasa seakan khawatir cowok itu akan berubah sewaktu-waktu dalam perjalanan pulang nanti.
Begitu juga dengan Jingga dan Magenta, mereka melirik ke arah Yasa dengan sorot curiga yang sama.
Yasa tidak menyadari tatapan semua orang. Ia bahkan tidak menyadari apa yang terjadi pada dirinya selama sepekan ini. Namun ia terlihat sedikit gugup. Bagaimanapun, ia telah kembali menjadi dirinya---dirinya yang lemah dan penakut. Ia tahu perjalanan mereka mungkin takkan mudah mengingat Anes dan Reksa biasa mengerjainya.
Yasa melirik Magenta dengan tatapan khawatir, lalu melirik ke arah Jingga.
"Bawa ini!" kata ayah Jingga seraya menyodorkan lampu petromax ke arah Magenta. "Antarkan putri saya sampai di rumah." Ia menambahkan, lalu mendongak ketika seekor kelelawar raksasa mengepak-ngepak di atas kepala mereka.
__ADS_1
Magenta tersenyum dan mengangguk. Lalu mengambil alih lampu itu dan mulai berjalan.
Yang lainnya masih bergeming, mendongak menatap bayangan gelap yang berderak-derak mengitari kepala mereka.
Magenta mengikuti arah pandangan semua orang dan melengak.
Bukan kelelawar! ia menyadari. Itu hanya layangan kertas berwarna hitam namun tampak hidup. Ia melirik ke arah Empu Brajasena dengan tatapan bertanya.
Pria paruh baya itu masih mendongak mengawasi gerak-gerik layangan misterius itu dengan mulut komat-kamit.
Tiba-tiba layangan itu menukik tajam ke arah Yasa.
Yasa memekik seraya membekap telinganya dengan telapak tangan.
Empu Brajasena mencoba menghalau layangan itu dengan kekuatan angin yang keluar dari telapak tangannya.
Layangan itu mendesis nyaring seperti kelelawar.
Semua orang memekik tertahan. Mereka bisa melihat bentuk utuh layangan itu dalam pancaran cahaya lampu petromax di tangan Magenta.
Cuma layangan putus! pikir semua orang.
Bagaimana bisa terlihat begitu hidup?
Layangan hantu!
"Cepat pergi dari sini!" perintah Empu Brajasena.
"Jangan nengok ke belakang!" Empu Brajasena memperingatkan.
Tapi begitu ia mengatakannya, Yasa spontan menoleh ke belakang dan menjerit. Lalu jatuh terduduk dengan raut wajah ketakutan.
Empu Brajasena sedang bergulat dengan seseorang yang mirip dengan Magenta namun berwajah hancur.
"Jangan nengok ke belakang!" Empu Brajasena mengulangi peringatannya ketika Jingga dan Magenta hampir menoleh mengikuti arah pandangan Yasa.
Yasa memucat dengan napas terengah-engah.
Jingga dan Magenta akhirnya menggamit kedua lengan Yasa di kiri-kanannya dan menghela cowok mungil itu untuk berjalan.
Anes dan Reksa sudah menghambur lebih dulu dengan tergopoh-gopoh, berlari dengan ujung sepatu tersandung-sandung.
Terdengar suara berdebuk ribut di sekitar pondok terbengkalai di belakang mereka.
Tidak ada yang berani menoleh meski rasa penasaran menggelitik mereka.
"Kamu udah gak ada urusan di sini!" suara hardikan Empu Brajasena membahana di langit malam.
__ADS_1
Membuat para remaja yang sedang mencoba mendaki bukit batu semakin didera rasa penasaran.
Empu Brajasena sedang bergumul dengan sesosok makhluk yang bisa disebut hantu Dewa dan juga layangan hantunya, sayang sekali mereka tak bisa menyaksikan keseruannya.
Mereka semua belum pernah melihat kekuatan Empu Brajasena, hanya mendengar dari cerita para orang tua. Bahkan Jingga.
Ia hampir tak bisa menahan dirinya untuk tidak menoleh. Rasa penasarannya lebih tinggi dibanding yang lain. Dia paling benci kalau ada misteri yang tidak terpecahkan.
Semakin dilarang, ia akan semakin penasaran.
Lalu ia pun menoleh dan menjerit!
Bukan karena melihat pergumulan ayahnya yang sudah cukup jauh dari tempat mereka berada tapi karena hal lain.
Sekarang ia tahu kenapa mereka dilarang menoleh ke belakang.
Tapi pengalaman Yasa tak cukup membuat gadis itu belajar.
Sekarang ia tak bisa menolak kutukan dari apa yang telah dilanggarnya.
Sama halnya seperti Yasa…
Sekarang ia tahu kenapa Yasa begitu ketakutan.
Ia melihat banyak penampakan!
Banyak hantu berseliweran di sekeliling hutan, bergelantungan di pohon-pohon, beringsut di tepian sungai, berkelebat di sudut-sudut gelap.
Dan selama itu ia tak sadar telah menjerit-jerit sembari membekap kedua telinganya. Kesadarannya tenggelam seiring bertambahnya jumlah penampakan.
Ada hantu malam bergaun putih yang duduk di dahan pohon dengan rambut menjuntai sampai ke tanah.
Ada hantu pria tua berpakaian Baduy dengan caping di kepalanya dan membawa cangkul.
Ada hantu anak kecil yang berlari-lari dan bersembunyi di balik semak-semak sambil terus cekikikan.
Ada hantu cebol berambut gimbal yang terus beringsut di jalan setapak.
Ada banyak lagi hantu yang membuat bulu kuduk meremang hanya dengan melihatnya sepintas.
Semuanya hampir tak tertanggung oleh Jingga.
Aura yang ditebarkan oleh penampakan itu adalah kengerian yang melebihi ngerinya sosok-sosok hantu itu sendiri.
Aura kengerian itu seperti mencuri kesadaran Jingga dan membuat gadis itu merasa seperti terlempar ke dunia gelap dan menyadari dirinya hanya sendirian.
Tidak ada seorang pun di sana untuk dimintai pertolongan, tidak ada tempat yang aman untuk ia melarikan diri.
__ADS_1
Hingga…
Keputusasaan mulai menggerogoti Jingga.