
Hari ini tampaknya akan cerah, matahari pagi bersinar kuning keemasan di kaki langit, begitu terang sehingga segalanya tampak cemerlang dan berkilauan. Warna-warna keemasan kelihatan tajam dan menyilaukan. Yasa dikelilingi selubung kuning gemerlapan cahaya matahari. Begitu hangat, begitu cerah.
la dapat mencium aroma cemara, merasakan dinginnya air yang jernih ketika ia melangkah menuju danau.
Di bawah kakinya danau tampak biru, biru yang dingin. Riak lembutnya terkena sinar matahari, memerciki tepian danau.
la berjalan ke tepi danau itu, perlahan-lahan, pandangannya lurus ke depan, selalu lurus ke depan ke atas permukaan danau yang luas. Lalu menunduk melihat bayangan dirinya di permukaan air.
Yasa menelan ludah dan tertegun.
Bayangan di air menampakkan jaket Jingga yang terpaksa dikenakannya lagi karena masih penasaran dengan visinya. Tapi wajah yang muncul di dalam air bukan wajahnya.
Itu adalah wajah seorang gadis.
Gadis hantu yang tadi malam muncul dalam mobilnya.
Gadis itu tergagap-gagap, berteriak dalam kebisuan yang hanya menghasilkan gelembung dari mulutnya. Tangannya mengais-ngais permukaan air, mencoba keluar dari dalam air namun seperti ada sesuatu dari dasar danau yang terus menariknya ke bawah. Wajahnya pucat dan rambutnya yang panjang memburai di sekeliling wajahnya, berkeriap di antara geluguk air.
Gadis itu tidak memakai jaket yang sama seperti yang dikenakan Yasa, ia memakai pakaian putih polos. Jaket di tubuh gadis itu hanya pantulan dari jaketnya. Tapi lagi-lagi wajah yang muncul di permukaan air pun bukan wajahnya.
Yasa berjongkok untuk memastikannya.
Bayangan di permukaan air ikut berjongkok, sementara gadis hantu itu masih mengais-ngais di dalam air.
Yasa memperhatikan bayangan wajahnya di air. Tapi masih bukan bayangan wajahnya.
Bayangan wajah gadis yang lain.
Gadis pendaki itu! Yasa menyimpulkan.
Gadis pendaki itu berada di tepi danau ketika seorang gadis berbaju putih itu tenggelam. Bayangan dirinya terpantul di permukaan air tepat di atas gadis yang sedang tenggelam, sehingga kelihatannya gadis yang tenggelam itu memakai jaket.
Lalu tiba-tiba sebelah tangannya terulur ke permukaan air dan kedua tangan gadis yang sedang tenggelam itu menyergap pergelangan tangannya.
Yasa tersentak.
Gadis itu menarik tangannya.
Sejurus kemudian, sepasang tangan menarik bahunya dari belakang, menjauhkan Yasa dari tepi danau.
Yasa terhenyak dan jatuh terduduk agak jauh dari tepi danau.
__ADS_1
"Kamu ngapain?" pekik seseorang di atas kepala Yasa. "Itu kan bahaya!"
Yasa mendongak dan mendapati seorang pria paruh baya sedang membungkuk.
Ternyata pemilik warung di seberang jalan itu.
"Maaf," Yasa menarik tubuhnya berdiri. "Saya agak pusing tadi," katanya beralasan. Ia menoleh ke tepi danau itu dan melihat permukaan tanahnya yang miring berlapis rumput basah yang licin.
Pria paruh baya itu memicingkan matanya. "Kamu mau cuci muka?" tanyanya. "Kenapa gak cuci muka di warung saya aja tadi. Tempat ini gak aman. Kalo ada apa-apa saya yang bakal ketanyaan."
"Maaf," ulang Yasa seraya tersenyum pada pria itu.
"Ayo!" ajak pria itu sambil menepuk bahu Yasa yang agak jauh lebih tinggi di atas bahunya. "Cuci muka di warung saya aja. Kalo masih ngantuk tidur lagi aja. Bisa bahaya nanti kalo nyetir dalam keadaan ngantuk."
"Terima kasih, Pak!" Yasa mengangguk sungkan pada pemilik warung itu. Sedikit merasa tak enak hati.
Pria itu sudah berbaik hati mengizinkan Yasa beristirahat di warungnya selama beberapa jam. Tapi Yasa hampir saja menyeretnya ke dalam masalah.
Pria itu benar, kalau terjadi sesuatu pada Yasa tadi, orang pertama yang akan bertanggung jawab adalah dia.
Benar-benar merepotkan! Yasa merutuk di dalam hatinya.
Ini adalah pertama kalinya Yasa melakukan penerawangan spiritual sampai sejauh ini. Sampai visinya berbalik mengendalikan dirinya. Dan di luar dugaannya, hal itu juga ternyata menguras banyak tenaga.
Ia melepaskan jaket Jingga dan melemparnya ke jok penumpang depan ketika ia menyelinap ke belakang kemudi setelah sejenak berpamitan dan berbasa-basi sedikit dengan si pemilik warung.
Ia menutup pintu mobilnya dan mengempaskan punggungnya ke sandaran jok. Memejamkan matanya sebentar seraya menghela napas panjang.
Apa cara ini akan berhasil? pikirnya tak yakin. Apa aku akan menemukan Jingga dan menyelamatkannya pada saat yang tepat?
Kenapa hantu itu muncul begitu aku mendekati danau?
Padahal awalnya aku melihat Jingga dalam bahaya.
Benarkah Jingga dalam bahaya?
Atau aku sendiri yang dalam bahaya?
Apa yang diinginkan hantu tanpa suara itu?
Apa dia hantu bisu?
__ADS_1
Atau karena mati tenggelam?
Hantu itu menggerakkan mulutnya ketika Yasa mencoba berinteraksi. Tapi tak ada suara yang dapat didengar meski sekadar semilir angin. Bahkan dunia di sekitarnya seolah ikut tenggelam ke dalam air.
Itu juga adalah pertama kalinya Yasa berinteraksi dengan hantu. Meski ia akhirnya mulai terbiasa dengan penampakan hantu dan sejenisnya sejak dua tahun lalu. Ia selalu mencoba untuk mengabaikan eksistensi mereka dan sedapat mungkin menghindari interaksi.
Itu adalah cara teraman yang pernah diajarkan Empu Brajasena padanya selama dua tahun terakhir.
"Selama mereka tidak menggangu kita, mereka bukan urusan kita!"
Begitu kata Empu Brajasena.
Tapi hantu yang muncul dalam mobilnya termasuk pengecualian.
Ia mungkin membahayakan Jingga!
Tapi bagaimana dia akan menolong Jingga?
Tempat tinggalnya saja masih belum ditemukan.
Dalam hatinya ia menyesal tidak bertanya di mana alamat kostan Jingga. Atau paling tidak dia meminta nomor telepon Jingga.
Kenapa aku begitu gegabah? rutuknya pada diri sendiri.
Yasa mengusap wajahnya dan berusaha untuk menenangkan dirinya. Sudah berjalan sejauh ini, katanya dalam hati. Tidak lucu kalau aku berhenti sekarang.
Lagi pula kelihatannya setiap visi mengenai jaket ini saling terkait satu sama lain.
Penglihatanku tidak terlalu ngawur.
Fokus saja pada pencarian tempat tinggal Jingga! ia memerintahkan pada dirinya. Lalu kembali mengenakan jaket Jingga. Ia melirik ke luar jendela, melihat bayangannya pada kaca.
Kaca itu memantulkan bayangan wajah Jingga. Dalam sekejap kaca mobilnya berubah menjadi lebih besar dan tempat duduknya terasa lebih tinggi. Seperti sedang duduk di dalam bus.
Yasa tersenyum tipis, memandangi wajah gadis itu dan menyalakan mesin. Hatinya seketika menghangat, merasa seakan gadis itu menemani perjalanannya.
Itulah patokan Yasa selama melakukan perjalanan mengikuti visinya.
Setiap kali ia menemukan persimpangan, ia akan berbelok sedikit dan mengecek bayangannya di kaca jendela. Jika wajah Jingga muncul di kaca, ia akan melanjutkan perjalanan mengikuti jalan itu. Jika ia kehilangan wajah Jingga di kaca jendelanya, ia akan berputar arah dan mencari jalan yang lain. Itulah sebabnya perjalanannya begitu lama.
Visi perjalanan nyata lebih mengerikan dari visi meditasi, pikirnya.
__ADS_1
Inilah arti "ngelakon" yang dikatakannya pada Jingga. Melakukan penelitian dengan hanya mengikuti visi.