
Magenta kuberi waktu lima menit lagi, Jingga memutuskan, dengan marah mondar-mandir di antara pojok jalan itu dan depan deretan kios permainan. Sesudah itu aku akan pulang. Ini awal buruk untuk liburan ini, pikirnya. la memutuskan harus bersikap tegas terhadap Magenta.
Ada dua jenis orang di dunia yang selalu tepat waktu dan yang tidak pernah tepat waktu. Jingga selalu tepat waktu. Dan kalau mereka mau menikmati liburan yang menyenangkan, putusnya sambil mondar-mandir, Magenta harus tepat waktu juga.
Sambil melirik jam tangannya, ia sudah akan menghentikan penantiannya ketika sebuah tangan menyentuh bahu sweater-nya.
la terkejut, lalu berbalik, berharap melihat Magenta.
Tapi ternyata ia melihat sepasang mata hitam yang menatapnya dengan tajam di wajah tampan cowok yang tadi dilihatnya ada di seberang jalan.
"Hai," sapa cowok itu malu-malu. "Sori. Aku bikin takut, ya?"
"Bukan," Jingga berbohong. "Maksudnya–-enggak."
"Kamu kehilangan sesuatu?" tanya cowok itu. "Aku perhatiin kamu di sini dari tadi, kupikir..." Suaranya bergetar menghilang. Tatapannya tertuju ke mata Jingga.
"Nggak. Aku gak kehilangan apa-apa," sahut Jingga dengan menghela napas. "Aku lagi nunggu temen."
"Oh. Sori." Cowok itu mundur selangkah.
Dia mungkin bukan anak kampung sini, Jingga menduga. Kulitnya keliatan bersih. Cakep banget lagi.
la melontarkan senyum malu-malu pada Jingga "Aku gak ada maksud gangguin kamu."
"Gak apa-apa," kata Jingga. la menyadari ia tak ingin cowok itu pergi. "Kamu bukan asli kampung sini, ya?" tanyanya.
Cowok itu menggeleng. "Aku dari desa tetangga, sebelah selatan gunung. Tapi aku biasa nongkrong di alun-alun ini. Temen-temen sekolahku juga banyak yang tinggal di sini."
"Oh," kata Jingga. "Omong-omong," lanjutnya dengan agak kikuk, "namaku Jingga."
"Yasa," sahut cowok itu sambil mengulurkan tangan dan menjabat tangan Jingga.
"Yasa? Nama kamu… unik," komentar Jingga.
Cowok itu tertunduk mengulum senyumnya. "Maksud kamu… Aneh?"
Jingga terkekeh dan menggeleng. "Nama kamu gak kayak orang pribumi," ucap Jingga.
"Masak sih?" Yasa tersenyum tipis. "Itu kependekan dari Tirtayasa."
"Oh," Jingga tersipu.
la sangat kurus, setengah ukuran tubuh si kembar, tapi sedikit lebih tinggi. la menatap mata Jingga dan tampak enggan pergi. Aftershave atau mungkin cologne beraroma buah yang dipakainya tercium hidung Jingga, manis sekaligus aneh seperti bau kelelawar—bau codot!
Jingga naksir berat padanya, lebih daripada sekadar tertarik karena tampang cakepnya.
Jingga harus berkonsentrasi keras untuk mendengarkan ucapannya.
__ADS_1
"Mungkin temen kamu itu bingung atau apa. Apa dia tau kalian seharusnya ketemu di sini?"
Jingga mengangguk. "Harusnya sih kita ketemuan di kantor pos, terus mau ke pasar malem. Tadi aku udah nungguin lama di kantor pos, udah muter-muter di pasar malem… mungkin mereka pada ke Curug," tutur Jingga sambil berpikir.
Mengapa tiba-tiba ia merasa tak pasti?
Yasa maju mendekat ketika sekelompok remaja lewat berdesakan di trotoar.
Magenta biasanya menepati janji. Tapi mungkin saja dia kembali tidur. Dia bilang hari ini sedang tidak enak badan.
"Malem ini curug gak seberapa rame karena kabutnya tebel," kata Yasa. "Harusnya gak lama nyari mereka kalo mereka ada di sana."
"Ya. Mudah-mudahan," kata Jingga dengan malas. "Tapi karena kabutnya tebel, malem ini pasti jadinya gelap banget…"
"Gini saja. Aku temenin kamu ke sana, gimana?" Yasa menawarkan diri.
Baunya kayak codot, pikir Jingga. Tapi dia baik banget.
Yasa membungkuk mendekat, wajahnya yang tampan bersinar-sinar keluar dari kegelapan, matanya tertuju pada Jingga.
"Kamu baik banget, sih?" kata Jingga. "Tapi—"
"Aku orang baik," kata Yasa sembari terkekeh supaya Jingga tahu ia sedang bergurau, tidak benar-benar sedang menyombongkan diri. Dan lalu dengan tenang menambahkan, "Kamu akan membuktikannya."
"Tapi kamu gak harus nemenin aku ke—" Jingga berusaha menolak.
"Gak apa-apa," Yasa meyakinkannya. "Ayo."
Jingga terkejut, tirai kabut semakin menipis waktu mereka semakin dekat ke curug.
"Curug ini ada di dataran rendah," Yasa menjelaskan. "Kayak di dalem selokan. Abis terbang ninggalin kali, kabut naik ke desa di atas terus kabutnya netep di sana."
"Kamu ahli sains, ya?" tanya Jingga menggoda.
"Coba tanya apa aja," sahutnya, tangannya masih memegang punggung Jingga dengan ringan.
Selapis tebal awan kelabu melayang rendah di atas tepian sungai, namun pesisir sungai terlihat terang benderang. Tidak ada kabut sama sekali. Gelombang air cukup tinggi dan mengempas kuat.
Jingga bisa melihat buih putih di bawah air terjun yang menjulang tinggi, bahkan dalam kegelapan.
Beberapa pasangan berjalan di tepian sungai. Sekelompok remaja bergerombol mengitari api unggun kecil, bunyi tape mereka bersaing dengan gemuruh air terjun yang mengempas tak berirama.
Tidak ada tanda-tanda Magenta. Ataupun Dewangga.
Jingga dan Yasa berjalan berdekatan seperti pasangan kekasih, kadang-kadang saling beradu pundak, menuju ke bukit batu di selatan.
Sambil berjalan Yasa bercerita tentang ikan besar yang entah bagaimana kehilangan arah dan terdampar di pesisir sungai di awal kemarau.
__ADS_1
Jingga tertawa geli ketika cowok itu menirukan wajah ikan yang ketakutan. Dan lalu ia melukiskan aksi kepahlawanan orang-orang desa yang berusaha menarik ikan besar itu kembali ke air dan berhasil.
Dia benar-benar pintar. Dan lucu, pikir Jingga.
Menarik!
Berani taruhan pasti dia tak menghabiskan waktunya dengan membuat orang-orangan sawah yang konyol.
la berhenti dan mengintip ke bawah ke pesisir sungai yang kosong.
Benarkah ia sungguh-sungguh tertarik pada Yasa?
Ataukah ia hanya marah pada Magenta?
Mungkin kedua-duanya ada benarnya.
"Dia gak ada di sini," katanya pelan, sambil mengamati tebing curam di seberang sungai, merasa Yasa berdiri dekat di belakangnya. "Tapi curug ini indah banget malem ini. Anginnya lumayan kenceng."
Yasa memeriksa semua arah, memastikan hanya mereka berdua yang ada di situ.
Aliran air terjun bergemuruh, gelap bertemu dengan langit yang bahkan lebih gelap lagi.
Mereka dikelilingi kegelapan. Dan sendirian.
Dan Yasa tak dapat menahannya lebih lama lagi.
Ia sudah lama memperhatikan gadis ini.
la sangat cantik. Sangat sempurna. Sangat manis.
Hasratnya menggelora.
Ya, ia menginginkan gadis ini. la menginginkannya sekarang.
Sudah lama sekali ia menahan kerinduannya. Hanya memandang dari kejauhan. Tak bisa menjangkaunya.
Magenta selalu muncul mengacaukannya. Bahkan di dalam mimpi Jingga!
Sekarang pria itu tidak di sini.
Dapatkan dia sekarang atau Magenta akan mengacaukannya lagi!
Jingga berdiri di depannya, membelakanginya, lengannya tersilang, memandangi kolam di bawah air terjun yang gelap dan menggelegak.
Yasa membungkuk ke depan untuk menghirup aroma gadis itu. Dengan lembut, lembut sekali, ia mengangkat tangannya dan menyibakkan rambut Jingga sehingga tengkuknya terlihat.
Cantik sekali.
__ADS_1
Kulitnya demikian lembut.
Dengan napas menderu Yasa merekahkan sedikit mulutnya dan merunduk untuk mencium leher gadis itu.