Bebegig

Bebegig
Chapter 28


__ADS_3

Dewangga dan Magenta duduk berdampingan di kios martabak ketika Jingga datang pukul delapan lewat sedikit.


Jingga melambai pada mereka di seberang kios kecil yang ramai itu dan mendesak melewati barisan anak-anak yang menunggu meja kosong.


"Aku udah pesen martabak telor," kata Dewa, sambil nyengir pada Jingga di seberangnya.


Tak lama kemudian, martabak telur pesanan mereka datang, panas mengepul di atas piring logam bundar.


Jingga, Magenta, dan Dewa langsung mengambil beberapa iris dan menaruh di atas piring masing-masing.


Saat itulah mata cokelat Magenta membelalak lebar.


Jingga menyadari cowok itu sedang menatap ke depan kios. Ia menoleh dan mengikuti arah pandangan Magenta.


Sambil berusaha mencari-cari jalan di antara kerumunan orang di pintu masuk, Yasa melambai pada Jingga.


"Hei—itu Yasa!" seru Jingga, lalu ia memberi isyarat pada cowok itu untuk bergabung dengan mereka.


"Kamu kenal dia?" tanya Dewa terkejut.


Jingga berpaling pada Dewa. "Ya," jawabnya. "Dia yang nemenin aku nyariin kalian kemaren malem," tuturnya seraya melirik Magenta.


Tatapan cowok itu belum berpaling dari Yasa. Mulutnya penuh dengan martabak. Itu memang Yasa, pikirnya terkejut. Kantata gak bohong soal perubahannya.


Yasa berjalan ke meja mereka dan berdiri di antara meja-meja, matanya menatap Jingga, sementara semua orang menatap dirinya.


Bersamaan dengan itu, Kantata muncul di belakang Yasa, menyeruak cepat melewatinya dan menyisikan cowok itu dari jalannya, kemudian bergabung di meja si kembar dan duduk di samping Jingga.


Jingga mengerang sembari memutar-mutar bola matanya, didesaknya Kantata agar merapat ke dinding, lalu ia cepat-cepat bergeser sambil memberi isyarat pada Yasa supaya duduk di sebelahnya.


Mata cowok itu berbinar-binar senang melihat ajakan Jingga, dan senyum hangatnya mengembang sementara ia menyelipkan diri duduk di sebelah gadis itu.


"Ini mereka yang waktu itu aku cariin," Jingga mengangguk ke arah si kembar.


Kedua cowok itu terdiam.


Sementara Yasa hanya tersenyum tipis.


Kantata melirik kedua cowok kembar itu kemudian melirik Yasa dan Jingga melalui sudut matanya.

__ADS_1


"Cicipin martabaknya," Jingga menawarinya, mendorong nampan ke arah Yasa.


"Nggak. Makasih," kata Yasa, sambil tersenyum hangat pada Jingga. "Aku udah makan." Rambut panjangnya yang ikal diikat kencang ke belakang membentuk sanggul.


Dia bener-bener cakep, pikir Jingga, tidak menyadari pandangan semua orang. Senyumnya manis, pujinya dalam hati. Ia mengambil sepotong martabak lagi dan menaruhnya di piringnya. "Wa, tolong ambilin acar itu," pintanya pada Dewa sembari menunjuk wadah acar di dekat piring cowok itu.


"Ya," sahut Dewa agak marah, jelas ia jengkel karena melihat Jingga memandangi Yasa dengan kagum.


Jingga mengambil wadah acar itu dari tangan Dewa dan akan membubuhkannya di tepi piringnya–-tiba-tiba ia terkejut, karena Yasa menangkap pergelangan tangannya.


"Sori," kata cowok itu, lalu tiba-tiba melonggarkan pegangannya. "Sori banget, Jingga, tapi aku gak suka cuka. Kayaknya aku alergi atau semacam itu." Dilepaskannya tangan Jingga. Ia tampak malu.


"Gak apa-apa," kata Jingga. Ia mengulurkan tangan melewati Dewa untuk meletakkan wadah acar itu di ujung meja. Dipandangnya Yasa dengan penuh tanya. "Aku belum pernah denger ada orang alergi cuka."


Cowok itu mengangkat bahu. "Aku cuma gak tau istilahnya apa."


"Aku juga alergi cuka," sela Dewa, dicengkeramnya pergelangan tangan Jingga untuk minta perhatian.


Semuanya tertawa kecuali Kantata. "Di sini panas, ya," katanya, sambil mengipas-ngipaskan tangannya.


la menoleh pada Dewa dan Magenta. "Lu berdua udah kelar? Gue pengen keluar cari angin. Ada yang mau ikut?"


Dewa mengangguk dan cepat-cepat menelan gigitan martabaknya yang terakhir. "Gue ikut!"


"Hah?" Magenta pura-pura tidak tahu apa yang dibicarakannya.


Yasa tersenyum samar. Lalu berpaling pada Jingga. Digenggamnya tangan gadis itu, diremasnya. "Abis ini kita ke Curug, yuk!" bisiknya seraya merunduk mendekatkan mulutnya ke telinga Jingga.


"Boleh," sahut Jingga bersemangat, lalu mengedar pandang ke arah teman-temannya untuk meminta persetujuan.


"Berdua aja," Yasa menambahkan.


Jingga langsung terdiam.


Magenta beranjak dari tempat duduknya dan melirik sekilas tangan mereka. Sedikit rasa jengkel melintas di wajahnya. la berdiri, menyisir rambutnya ke belakang dengan jemari tangannya.


Yasa mengusap-usap lengan Jingga dan semakin merapat.


Baru kenal satu malam, dan dia sudah merebut perhatian Jingga, pikir Magenta getir.

__ADS_1


Sementara Jingga dan Yasa masih mengobrol tentang air terjun, tentang pasar malam, tentang Dewa dan Magenta, kedua cowok kembar itu sudah keluar bersama Kantata.


"Lu pada ngerasa nggak, sih? Ada yang aneh sama si Yasa," kata Dewa, sambil menyelinap di tengah-tengah antara Magenta dan Kantata dalam perjalanan mereka ke pasar malam.


"Ya, gue ngerasa ada yang kebakar tapi bukan singkong!" sahut Kantata tanpa ekspresi.


.


.


.


Malam ini hangat dan cerah. Bulan merendah dikelilingi bintang-bintang yang berkerlap-kerlip hingga membuat sungai tampak berkilauan.


Permukaan tanah di pesisir sungai berwarna cokelat muda, bergaris-garis oleh bayang-bayang biru yang bergerak.


"Malem ini rame banget. Gak kayak semalem," kata Jingga.


Sambil menikmati malam hangat, orang-orang mengerumuni air terjun berpasangan-pasangan, berkelompok-kelompok, para pejalan kaki, para pengendara sepeda motor, beberapa anak yang belum tidur, mengumpulkan batu kali di bawah sinar bulan yang benderang.


Jingga melepaskan sandalnya dan menarik Yasa duduk di atas batu pipih di tepi sungai dekat kolam air terjun, kemudian mencelupkan kakinya ke dalam air.


Riak putih keperakan bergeluguk di atas kolam hijau keunguan, lalu menyapu ke tepi dengan lembut, bergulung di antara bebatuan, menggenangi kaki Jingga.


"Di atas sana suasananya tenang," bisik Yasa seraya menunjuk puncak air terjun, "Cuma ada kita berdua."


Jingga mengikuti arah pandangnya dan memicingkan mata. "Gimana caranya kita naik ke sana?"


Yasa membungkuk ke arah Jingga, "Terbang," bisiknya sambil terkekeh tipis. Wajahnya begitu dekat hingga napasnya yang hangat menyapu leher Jingga.


Angin meniup rambut gadis itu hingga berkibar-kibar di belakangnya.


Jingga mengulum senyumnya dan tertunduk. Merinding karena kehangatan napas Yasa yang menggelitik lehernya. Mengingatkan gadis itu pada ciuman pertama mereka. Ciuman panas yang penuh gairah. Tanpa sadar mendambakannya lagi.


Yasa bisa merasakan getaran gairah melalui napas gadis itu yang sedikit tersengal. Diam-diam ia tersenyum, puas melihat bagaimana segalanya berlangsung. Hasratnya mendadak tak tertahankan. "Ayo pergi dari sini," ajaknya sambil menahan napas dan meremas pinggang Jingga. "Di sini terlalu rame."


Jingga setuju tanpa ragu.


Sambil memeluk pinggang Jingga, ia melangkah di jalan setapak beriringan dengan gadis itu.

__ADS_1


Hempasan angin malam yang tanpa irama dan tidak teratur mengikuti langkah mereka.


Tak lama kemudian mereka hanya berduaan di antara dua gundukan bukit batu yang dingin dan gelap, berjalan tanpa alas kaki melintasi rerumputan tinggi. Sama-sama menahan napas dan tak sabar lagi.


__ADS_2