Bebegig

Bebegig
Chapter 89


__ADS_3

Jingga akhirnya bisa bernapas lega.


Ia melangkah keluar kampus dengan langkah-langkah ringan tanpa gangguan maupun kekhawatiran.


Satu-satunya orang yang membuat dirinya tak nyaman di kampus sudah pergi sejak siang tadi, sesaat setelah Jingga menyampaikan pesan Rogan. Jingga bahkan belum selesai bercerita ketika cewek itu tiba-tiba menyela untuk meminta maaf karena harus memohon diri, lalu buru-buru pergi.


Yah, sebetulnya terlalu lancar dari yang dibayangkan, mengingat kenyataan bahwa Violet bukan dirinya.


Tapi kenapa rasanya tidak ada bedanya?


Tidak ada gelagat mencurigakan selama mereka bersama dan berbincang-bincang, kecuali sikap Jingga yang tidak dapat menutupi perasaan gugupnya.


Atau…


Begitukah karakter entitas lain ketika mengambil alih tubuh seseorang?


Sepertinya tidak!


Beberapa orang tidak stabil ketika kerasukan, kecuali…


Ah, benar! Jingga menyadari. Kecuali Jurig Bebegig, pikirnya. Ketika Yasa dirasuki Jurig Bebegig karakter aslinya justru muncul ke permukaan.


Sepertinya hanya entitas yang ini yang memiliki sifat unik.


Eksistensinya menguatkan karakter asli pemilik tubuh yang dirasukinya hingga eksistensinya tidak disadari semua orang.


Menarik!


Tampaknya tidak terlalu jahat.


Hanya saja… menguatkan yang lain juga.


Tapi syukurlah semua sudah berakhir, katanya dalam hati. Ia menyisi ke trotoar ketika dua orang cewek berhenti mendadak di belakangnya karena ia menghalangi jalan mereka. Ia mengangguk sekilas sambil tersenyum malu pada mereka.


Kedua cewek itu membalas senyumnya dengan lambaian tangan sambil berlari-lari kecil ke seberang jalan untuk mengejar angkutan umum di depan halte.


Jingga memperhatikan mereka sesaat sebelum mengalihkan pandangannya ke perempatan jalan di mana seharusnya mobil Yasa muncul.


Ia sudah mengabarinya setengah jam lalu, seharusnya sekarang cowok itu sudah tiba di sini jika ia tidak terjebak macet.


Tapi jalanan terlihat lengang.


Jingga menarik sedikit lengan sweatshirt-nya untuk melihat jam tangannya.


Sudah hampir pukul dua, jam pulang para pekerja pabrik sudah selesai. Seharusnya tidak macet. Lama sekali dia, pikirnya tak sabar.

__ADS_1


Entah tak tahan karena menunggu atau memang tak sabar ingin bertemu, Jingga akhirnya mulai gelisah.


Pada saat itulah ia melihat pickup merah melintas melewatinya.


Jingga mengerutkan keningnya, mencoba mengingat-ingat di mana dia pernah melihat pickup merah itu.


Lalu ketika pickup itu berbelok ke gang kedua dari kampusnya, ia baru ingat pickup itu milik toko di mana Magenta bekerja.


Tapi kenapa dia berbelok ke area kost-kostan? Jingga bertanya-tanya. Jantungnya berdegup mengingat kenyataan bahwa Magenta sudah memiliki kekasih selain dirinya.


Jangan-jangan ceweknya kuliah di sini juga, pikir Jingga, masih tak paham situasinya.


Ia menggeleng-gelengkan kepalanya, mencoba mengenyahkan pikiran itu dari benaknya. Bukan urusanmu! Ia memarahi dirinya.


Bersamaan dengan itu, mobil Yasa akhirnya muncul dan berhenti tepat di depan gerbang.


"Kok kamu muncul dari arah sana?" Jingga bertanya setelah menyelinap ke jok penumpang di samping Yasa.


"Aku baru beres belanja," jawab Yasa tanpa tersenyum. Wajahnya terlihat lelah.


"Jadi, kamu belum ke rumah Bu Lastmi?" Jingga bertanya lagi.


"Belum. Makan dulu, yuk! Aku belum makan."


"Bungkus aja, ya. Kita makan di rumah Bu Lastmi aja. Kamu kayaknya capek banget!"


Jingga terkekeh menanggapinya. "Coba tadi ngajak aku, dijamin baru sebentar juga kamu udah abis-abisan," kelakar Jingga.


Yasa hanya tersenyum tipis menanggapinya, ia merenggut tangan Jingga dan menariknya mendekat, lalu mengecup punggung tangannya sekilas tanpa mengalihkan perhatiannya dari jalan.


"Aku beneran capek, Yang," keluh Yasa sambil melemaskan tubuhnya ke sandaran jok setelah memarkir mobilnya di pekarangan sebuah rumah makan.


Jingga tersenyum prihatin menanggapinya. Benar juga, katanya dalam hati. Sejak dia mencariku sampai hari ini dia belum beristirahat. "Ya, udah. Kalo gitu aku aja yang pesen makanan," katanya sambil menepuk lembut punggung tangan Yasa. "Kamu mau makan apa?"


Yasa tersenyum ke arah gadis itu dan membungkuk, "Aku mau makan kamu," godanya sambil menarik dagu Jingga dengan buku jarinya. Lalu mengecup ringan bibir mungil gadis itu.


Jingga tidak tersenyum, ia tahu cowok itu sedang berusaha untuk tetap terlihat segar meski lingkaran gelap di bawah matanya tidak mengatakan demikian. Dia pasti cuma tidur sebentar-sebentar, batinnya sedih.


Mereka beradu pandang dalam waktu yang lama, saling memperhatikan satu sama lain tanpa saling bicara. Tatapan keduanya memancarkan hasrat yang sama yang penuh rasa sayang.


"Aku pesen makanan dulu, ya?" Jingga berkata lembut sambil menangkup pipi mulus cowok itu dengan kedua tangannya.


Yasa akhirnya melepaskannya seraya tersenyum lembut.


Bucin, anjir!

__ADS_1


Author sebenernya udah bingung nih, pen nulis apa lagi untuk mencapai k l i m a k s.


Semoga pembaca maklum. Author kan, gini-gini juga masih ada keturunan Araf---araf maklom… 😝


Oke, lanjut!


Biar mengalir aja lah, ya?


Usai membayar semua makanan, mereka akhirnya melanjutkan perjalanan ke rumah Bu Lastmi.


Jingga turun di depan gerbang untuk membukakan pintu. Lalu menutupnya kembali setelah mobil Yasa memasuki pekarangan.


Ketika ia selesai menutup pintu, gadis itu memekik dan hampir membuka pintu kembali dan melarikan diri.


Bu Lastmi bergegas ke luar dengan tergopoh-gopoh, kesulitan mempercepat langkahnya karena harus bertopang pada tongkat. "Jingga ada apa?" teriaknya di ambang pintu, masih berusaha mempercepat langkahnya.


Jingga menunjuk ke arah taman dengan mata dan mulut membulat.


Yasa melompat dan melesat ke arah Jingga. Lalu mengikuti arah pandangnya dan mengerang. "Masih takut aja, kan udah jinak?"


Seraut wajah muncul dari semak-semak tanaman hias, melongok ke arah Jingga dengan mata terpicing.


Rogan, cowok tinggi besar berambut gondrong itu sedang menyirami tanaman di pekarangan, terkejut melihat Jingga dan Yasa berada di sana. "Sa?" tegurnya sedikit kaget.


Jingga menelan ludah dan mendesah pendek, "Sori," sesalnya merasa bersalah. Sesaat lalu ia tak ingat pria itu cucu Bu Lastmi. Ketakutannya akibat kesan pertama belum juga sirna meskipun tampang cowok itu sudah jauh lebih menyenangkan sekarang.


Saat ia melihat Rogan dari belakang, hanya melihat rambut dan postur tubuhnya, hal pertama yang melintas di benak Jingga hanyalah aksi kejar-kejaran di halte dan rumah sakit.


Menyadari hal itu, Rogan segera mematikan kran dan menghampiri mereka sambil terkekeh. "Kenapa, sih?" ejeknya. "Gue kan gak ngigit!"


"Kalian udah saling kenal?" Bu Lastmi muncul di sisi mobil Yasa, membuat Jingga kembali didera rasa bersalah. Wanita itu mungkin hampir jantungan akibat ulah Jingga.


"Maaf, udah bikin Ibu panik!" kata Jingga cepat-cepat, lalu menghambur ke arah Bu Lastmi dan menggamit lengannya yang tidak memegang tongkat.


Setelah berbasa-basi sejenak, Yasa dan Jingga akhirnya mengeluarkan semua makanan yang telah mereka beli untuk makan bersama dan melanjutkan pembicaraan di ruang makan.


Rogan akhirnya menceritakan bagaimana mereka bertemu dan sepanjang cucunya bercerita, Bu Lastmi tak henti-hentinya berdecak kagum. Sesekali wanita tua itu menyela cerita Rogan dengan ceritanya mengenai apa yang telah dilakukan Yasa untuk dirinya dan rumah ini.


Bu Lastmi juga mengatakan bahwa mulai sekarang Rogan akan kembali tinggal di sini.


"Lu gak bakal mimpi berjalan lagi, kan?" kelakar Rogan pada Jingga.


Jingga terkekeh sedikit tersipu.


Lalu Yasa segera mengambil peluang itu untuk bicara. "Nggak, dong!" katanya dengan wajah semringah. "Bentar lagi tidurnya ada yang nemenin."

__ADS_1


Bu Lastmi dan Rogan terperangah bersamaan.


Pancingan Yasa berhasil menarik mereka pada inti permasalahan.


__ADS_2