
"Bau aneh apaan, nih?" tanya ayah Magenta sambil mengerutkan kening.
Itu bau anakmu, Yah! pikir Magenta sedih. Tak ada yang perlu dicemaskan.
"Aku gak tau. Mungkin dari luar," sahut Magenta sambil menguap.
Masih sambil mengendus-endus, ayahnya melambaikan tangan sekilas dengan penuh penyesalan dan menghilang keluar pintu. Beberapa menit kemudian Magenta mendengar pintu belakang terempas. Lalu mendengar langkahnya menjauh dan menghilang.
Setelah sendirian di rumah, ia memaksa diri beranjak bangun.
Rasa takut yang melandanya malam sebelumnya kembali muncul, dan ia tahu ia akan muntah. Sambil menahannya, ia terhuyung huyung ke kamar mandi dan membungkuk di atas lubang WC.
la muntah-muntah hingga perutnya sakit. Kepalanya pusing, butir-butir keringat dingin bermunculan di dahinya yang pucat. Magenta duduk di lantai yang dingin dan menunggu sampai merasa lebih baik.
Kira-kira semenit kemudian, perutnya tidak terasa melilit lagi dan dinding-dinding kamar mandi berhenti berdengung.
Jangan buang-buang waktu, katanya pada diri sendiri. Aku harus memperingatkan Jingga. Harus.
Kali ini dia harus mempercayaiku.
Akan kutunjukkan memar-memar di leher kami.
Bila perlu, bicara pada ayahnya!
Akan kuceritakan padanya tentang Dewa.
Dia harus percaya padaku kali ini. Akan kupaksa dia mempercayaiku!
la menyikat giginya, menyiramkan air dingin ke seluruh wajahnya yang panas, memakai celana renangnya dan melapisinya dengan celana jins, setelah menemui Jingga dia berencana untuk pergi berenang di wisata air terjun.
Masih sambil gemetaran ia berjalan menuju rumah Jingga. Mengetuk pintu. Sekali. Dua kali.
Dibiarkannya ketukan hingga sepuluh kali.
Tak ada orang di rumah.
"Ayo dong, Jingga!" erangnya memohon. "Aku perlu ngomong sama kamu."
Ia berdiri di sana lama sekali, sebelah tangannya bertopang ke bingkai pintu, sementara tangan lainnya terus mengetuk, menunggu, menunggu suara Jingga.
"Jingga–-cepetan, dong."
Tapi tak seorang pun mendengarkan permohonannya.
Setelah sarapan cepat-cepat, Magenta kembali ke rumah Jingga, mencoba mengetuk pintunya lagi. Tapi masih tidak dijawab.
__ADS_1
Merasa sedikit lebih bersemangat, ia berjalan ke kota dan mencari Jingga di sana. Cuaca lembap, suhu udara sekitar 32 derajat Celsius, tidak biasanya di sini sepanas ini. Perjalanan ke kota melelahkan Magenta. Ia mencari-cari di pusat kuliner, karena tidak menemukan Jingga, ia kembali ke air terjun.
Juga tak ada tanda-tanda Jingga berada di sana.
Sepanjang siang hingga sore ia habiskan dengan berbaring di sofa di ruang tamu, bangun setiap beberapa menit untuk menengok ke rumah Jingga, mengetuk pintunya lagi sembari memanggil-manggil. Tidak ada yang menjawab panggilannya.
Malam itu dengan penuh semangat ia pergi ke kota untuk mengulangi pencariannya.
"Woy—Gen!" panggil suara yang tak asing lagi ketika Magenta berjalan di sepanjang jalan setapak menuju kota.
Ia menoleh dan melihat Kantata, yang memakai celana pendek jins belel dan kaus Def Leppard kusam, sedang berlari-lari mengejarnya. "Mana, lu?" tanya Kantata, napasnya tersengal-sengal.
"Nyari Jingga, gue," sahut Magenta tanpa memperlambat langkahnya.
Matahari rendah di balik pepohonan, tapi udara masih panas dan lembap. Magenta merasa seluruh tubuhnya berbiang keringat dan berat, seakan bobotnya setengah ton.
"Gue nyariin lu di curug," kata Kantata, berjuang mengimbangi langkah Magenta yang panjang-panjang. "Panasnya minta ampun, gue kira lu di sana. Asyik banget tau berenang di sana."
"Gue gak percaya lu akhirnya ninggalin game center," kata Magenta dingin.
"Tempat itu tutup," sahut Kantata, berdecak. "Mesin-mesinnya lagi diperbaiki atau entah di apain."
"Gue lagi gak enak badan," kata Magenta. Ia tidak ingin menjelaskan segalanya pada Kantata. Ia hanya ingin bertemu dengan Jingga dan memberitahunya tentang bencana yang sedang menimpa mereka, ia tak ingin bertemu dengan Kantata.
"Maksud lu apa?" tanya Magenta membela diri.
"Muka lu serem, Njiiiirrrr," sahut Kantata. Seringai mengejek menggantikan ekspresi prihatinnya. "Kayak Jurig Bebegig, lu!" godanya, teringat percakapan mereka sebelumnya ketika Magenta menceritakan bagaimana ia telah mempermalukan diri sendiri di hadapan Jingga.
"Hah?" Magenta menghentikan langkahnya dan ternganga.
"Lu Jurig Bebegig, ya?" Kantata mengulang gurauannya.
"Gue cuma alergi. Alergi Bebegig!" sahut Magenta kasar.
"Canda, Njir!" tukas Kantata, "Romannya emosi?!" senyumnya menghilang. "Lu ngapa, sih?"
Magenta mulai berjalan lagi tanpa menjawab.
Sejenak mereka berjalan di sepanjang jalan setapak itu tanpa bersuara. Deretan rumah-rumah itu berakhir di lapangan luas berumput yang menjadi batas kota. Sedikit demi sedikit langit semakin gelap, seolah ada yang sedang memadamkan lampu.
"Malem ini lu mau ke pasar malem?" tanya Kantata. "Anak-anak pada mau liat game center dulu, udah buka apa belom, abis itu malemnya mau pada ke sana."
"Gue gak tau," sahut Magenta tanpa semangat. Ia berhenti lagi. "Nah, tu dia si Jingga!"
Beberapa meter di depan mereka tampak Jingga, kepalanya menunduk, jalannya pelan-pelan seperti sedang mencari-cari sesuatu.
__ADS_1
"Jingga!" panggil Magenta.
"Daaah!" kata Kantata pada Magenta, lalu sambil menyapa Jingga ia berjalan melewatinya menuju ke kota.
"Jingga---hei!" panggil Magenta, sambil berlari mengejarnya.
Jingga berhenti dan mendongak. Tidak tersenyum. "Oh, kamu. Hai."
Dingin saja sambutannya, batin Magenta. Tapi ia tidak mengacuhkannya. Ia harus bicara padanya. Ia harus memberitahu Jingga apa yang sedang terjadi.
Jingga memandangnya dengan tak sabar, mukanya tampak pucat dalam cahaya lampu yang suram, matanya lelah. Meskipun hari semakin gelap, Magenta dapat melihat tanda hitam seperti tato akar pada lehernya.
"Aku harus ngomong sama kamu," katanya dengan menahan napas. "Aku sebenernya—"
Jingga mengangkat tangan untuk menghentikannya. "Aku sebenarnya gak punya waktu. Aku ada janji ketemu sama Yasa sebentar lagi. Tapi aku coba—"
"Itulah yang pengen aku omongin sama kamu," sela Magenta. "Liat deh, leher kamu. Liat nih, leher aku, pipi aku." Ia memiringkan kepalanya sehingga Jingga bisa melihat lehernya dengan jelas.
"Gen---" Tiba-tiba kemarahan Jingga memuncak. "Please, jangan mulai, deh!" Ia menoleh, tidak ingin melihat leher Magenta.
"Kasih aku satu menit aja," Magenta memohon, sambil memegang bahu Jingga. "Satu menit, oke?"
Jingga mempertimbangkannya agak lama. "Oke. Satu menit. Tapi kalo kamu mulai sama masalah Bebegig itu lagi, waktu kamu habis."
"Tapi itulah yang mau aku bicarain sama kamu, Jingga," katanya, tanpa bermaksud terdengar seakan merengek, tapi ia begitu bersemangat, begitu menggebu-gebu, begitu putus asa, untuk menjaga agar suaranya tetap tenang. "Yasa itu Bebegig. Hantu orang-orangan sawah."
"Bye, Gen," kata Jingga dingin, memutar bola matanya, dan menggerakkan kedua tangannya mengusir Magenta pergi.
"Jingga–-dengerin aku—"
"Nggak!" teriaknya. "Pergi."
"Tapi Dewa ngasih tau aku---"
Jingga terkejut, dan kepalanya tersentak ke belakang, seakan telah ditempeleng. "Hah?"
"Semalem. Dewa ngasih tau aku—"
"Gen, kamu serius—"
"Aku serius!"
"Kamu serius butuh pertolongan," katanya pelan, nadanya menjadi lebih simpatik.
Magenta langsung terdiam.
__ADS_1