Bebegig

Bebegig
Chapter 84


__ADS_3

"Kenapa gak jawab?" Magenta membungkuk dan menyambar lengan Jingga.


Jingga terlonjak dan spontan menarik tangannya dari cowok itu.


Magenta menghujamkan tatapan tajam. Ia melangkah maju dan menyergap bahu Jingga dengan kedua tangannya.


Jingga menarik lepas dirinya, tapi cengkeraman tangan cowok itu terlalu kencang. Matanya tampak liar. "Jawab! Siapa yang nganterin kamu?" Suaranya terdengar tegang dan aneh.


"Gue yang jemput dia! Kenapa?" Yasa muncul di belakang Jingga.


Cengkeraman Magenta di bahu Jingga serentak melonggar. Ia menurunkan kedua tangannya dan menegang, menatap Yasa dengan rahang mengetat. Kedua tangannya mengepal di sisi tubuhnya.


Tapi kemudian kemunculan Empu Brajasena di belakang Yasa membuat Magenta merasa kalah.


Tentu saja, pikirnya pahit. Dia bisa antar-jemput Jingga kapan pun dia mau. Dia murid kesayangan ayah Jingga.


Magenta tertunduk dengan raut wajah muram, kemudian memutar dan berlalu tanpa bicara. Empu Brajasena mengawasi punggungnya dengan raut wajah datar.


Yasa menoleh pada Jingga dan tersenyum, lalu mengeluarkan ponselnya dari dalam saku dan mengulurkannya pada gadis itu, "Aku minta nomor kamu," katanya.


Jingga menerima ponsel itu dengan tersipu. Ia melirik sekilas pada ayahnya melalui sudut matanya. Lalu mengetikkan nomor telepon selulernya dan mengembalikan ponsel itu pada Yasa.


"Ntar malem aku jemput," bisik Yasa sambil berjalan melewatinya, kemudian bergegas ke mobilnya.


Jingga melirik lagi pada ayahnya.


Empu Brajasena sudah menghilang ke dalam rumah.


Yasa menyalakan mesin dan memundurkan mobilnya, lalu membunyikan klakson sebelum berlalu.


Jingga mendesah pendek dan tercenung. Kebimbangan menyergap dirinya beberapa saat.


Hingga…


Ragnala memanggilnya dan dengan cepat Jingga bergegas menghampirinya.


Memasuki ruang makan, Empu Brajasena sudah menunggu di seberang meja. Secangkir kopi mengepul di meja di depannya. Pria itu hanya bersedekap sembari mengawasi Jingga dengan tatapan yang sulit dijabarkan. Raut wajahnya terlihat tenang dan datar. Namun sorot matanya membuat Jingga tak sanggup mengangkat wajah.


Jingga menarik bangku yang menghadap ke arah dapur yang menjadi satu dengan ruang makan itu, duduk berseberangan dengan ayahnya.


Ayahnya masih belum berkedip mengawasinya.


Ragnala mendekat membawa sepiring penuh ubi kayu rebus, kemudian meletakkannya di meja di depan Empu Brajasena.


Jingga tertunduk dengan ekspresi tegang.

__ADS_1


Apa yang terjadi? pikirnya. Kenapa suasananya terasa janggal? Apa sekarang aku juga takut pada ayahku sendiri?


Empu Brajasena berdeham dan seketika Jingga tersentak.


"Gimana kuliahnya?" Pertanyaan Empu Brajasena di luar prediksi Jingga.


"Baik," jawab Jingga tak yakin. Tak yakin ke mana arah pembicaraan ayahnya.


"Betah?" tanya ayahnya lagi.


Tidak! jawab Jingga dalam hati. Tapi, "Ya," katanya.


"Magenta sering ke sana?"


"Ya---nggak, maksudnya gak pernah ke kampus. Gak pernah ke kostan. Paling nganterin sampe di gang," tutur Jingga terbata-bata.


"Magenta sering ke sana," ulang ayahnya.


Jingga akhirnya mengangkat wajah, menatap ayahnya dengan alis bertautan. Tak yakin apakah ayahnya sedang bertanya atau memberitahu.


Ragnala kembali mendekat untuk ketiga kalinya dalam dua menit terakhir, bolak-balik menata hidangan di atas meja. Tetap bungkam seperti biasa. Hanya melirik sekilas pada Jingga, lalu kembali ke sudut ruangan, mengambil hidangan yang lainnya.


Aroma masakan yang masih panas membuat perut Jingga bergemuruh. Tapi pertanyaan Empu Brajasena berikutnya membuat perut Jingga kram.


"Jadi, kamu pacaran sama Yasa… apa Magenta?"


Empu Brajasena tiba-tiba menoleh pada istrinya, "Mama lebih suka Yasa apa Magenta?" tanyanya tanpa beban.


Ragnala spontan membeku dengan mata terpicing.


Empu Brajasena kembali menoleh pada Jingga, "Kalo kamu?" tanyanya dalam nada cepat. "Lebih suka Yasa apa Magenta?"


Jingga tergagap-gagap.


"Pa!" Ragnala menginterupsi.


Empu Brajasena tidak menggubrisnya. Ia membungkuk di atas meja, mencondongkan tubuhnya ke arah Jingga. "Kamu berhenti kuliah aja, ya?" katanya.


Jingga dan Ragnala memekik bersamaan.


.


.


.

__ADS_1


"Kamu kok jahat banget sih, Sa?!" Nada mengentak-entakkan kakinya seperti gadis kecil yang sedang merajuk.


Yasa mengernyit di depannya sambil menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya yang tidak terasa gatal.


"Aku kan masih jomblo," rengek Nada hampir menangis.


"Maaf," kata Yasa setengah meringis.


Nada mendesah kasar dan berhenti mengentakkan kakinya, ia mendekat pada Yasa sambil berkacak pinggang. "Katanya taun depan kamu mau kuliah?" semburnya ketus.


"Yah…" Yasa menggantung kalimatnya, menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya lagi, "Kuliah kan, gak dilarang punya istri?!"


"Ish! Yasa…" Nada mengentak-entakkan kakinya lagi, lebih gencar dari sebelumnya. Kali ini dia benar-benar terlihat seperti anak kecil yang sedang mengamuk. "Aku gak mau dilangkahin!" ratapnya, benar-benar seperti anak kecil.


"Ya, mau gimana lagi?" sergah Yasa, setengah mengerang. Kehabisan akal untuk menenangkan kakaknya.


Nada memiliki kecenderungan Peterpan Syndrome atau Cinderella Syndrome, kondisi di mana orang dewasa tidak menunjukkan kematangan secara psikologis, sosial, maupun s e k s u a l.


Sebut saja, Kanak-kanak Abadi!


"Aku gak mau dikatain perawan tua!" rengek Nada lagi.


Yasa mendesah berat dan mendekati Nada, kemudian menaruh telapak tangannya di kedua bahu kakaknya, "Kamu gak tua, kok," bujuknya sambil tersenyum nakal. "Aku aja yang kecepetan numbuh," godanya. "Makanya, numbuh tuh ke atas, bukan ke samping!"


"Rrrgh!" Nada menggeram dan memukuli dada adiknya dengan kepalan tangan. "Kamu kok malah ngeledekin aku, sih?"


Yasa tersenyum tipis dan memeluk kakaknya, raut wajahnya berubah muram. "Maafin aku, ya," bisiknya sedih.


Seperti itulah hubungan kakak-beradik itu, semesra pasangan kekasih.


Orang yang tidak mengenal mereka mungkin akan mengira mereka suami-istri.


Meski usia Nada terpaut lima tahun lebih tua, namun wajah lancipnya yang seperti boneka, membuat Nada terlihat sepuluh tahun lebih muda dari usia aslinya.


Berbeda dengan Yasa, meski wajah mereka nyaris identik, kepribadian Yasa yang tenang, ditambah gaya rambutnya yang memang sengaja dipanjangkan untuk membuat kesan lebih dewasa, membuat Yasa terlihat satu tahun lebih tua dari kakaknya.


Nada akhirnya meledak menangis. "Tapi kamu masih kecil, Sa," isaknya. "Aku gak rela ngelepas kamu sebelum kamu bener-bener mapan. Kamu baru sembilan belas tahun… aku ngurusin kamu dari kecil bukan buat ngajarin kamu nyia-nyiain masa depan."


"Siapa bilang kamu yang ngurusin aku?" Yasa mencoba bercanda. "Aku udah kurus dari sononya, kok!"


Nada tidak tertawa. Hatinya terlalu sedih untuk menanggapi kelakar adiknya. Adik yang dibesarkannya seorang diri. Adik yang diharapkannya menjadi sosok mapan yang membanggakan untuk mengangkat derajat mereka di masyarakat.


Tapi kabar yang dibawa Yasa setelah dua hari menghilang telah menghancurkan semua harapannya.


Dan Yasa sungguh tak berdaya mengecewakan dua orang yang sangat dihormatinya. Empu Brajasena dan kakak perempuannya.

__ADS_1


Lebih dari itu, Yasa juga mencintai Jingga melebihi apa pun di dunia.


Ia bahkan tak yakin, apakah ia harus gembira atau bersedih. Dipaksa menikahi wanita yang dicintainya tentu saja merupakan anugerah terbesar dalam hidupnya. Tapi menikah di usia muda… sama sekali di luar perkiraannya.


__ADS_2