
Sambil memandangi pemantik di tangan Magenta yang gemetaran, Yasa mendengus, matanya berkilat-kilat dengan penuh kemenangan.
Seekor kelelawar menyeruak masuk dari jendela. Kepakan sayapnya memadamkan api dari pemantik di tangan Magenta.
Gubuk itu kembali disergap kegelapan total.
Magenta menjentikkan pemantiknya lagi.
Tidak menyala.
Pemantik itu sudah rusak.
Dengan frustrasi, Magenta kembali menjentikkan pemantik sekali lagi. Kali ini berhasil. Api kuning terang menyala. Magenta kembali mengangkat kertas di tangannya ke dekat nyala api.
Jingga memekik dan meronta-ronta. "Jangan!" pintanya pada Magenta.
Magenta tidak menggubrisnya, ia terus mendekatkan kertas itu ke nyala api.
Semakin dekat.
Begitu dekat hingga nyala api itu akhirnya menjilat tepian kertas itu hingga terbakar.
Terdengar helaan napas lega.
Tiba-tiba Yasa tergelak dan terbahak-bahak. Suara tawanya terdengar kering dan jahat.
Magenta dan Jingga berpandangan dengan ngeri dan tidak percaya.
"Gak ada pengaruhnya mau lu baca mantra itu apa enggak," cemooh Yasa. Sambil mengibaskan rambutnya ke belakang bahunya, ia kembali beralih pada Jingga.
Gadis itu menegang ketika Yasa semakin dekat ke tempat tidur.
"Kenapa, Sayang?" Yasa membungkuk di sisi tempat tidur, mencondongkan tubuhnya pada Jingga. "Kamu kan udah janji mau jadi milikku."
Jingga menggeleng-geleng dengan ekspresi memohon.
Magenta memutar otaknya, mencoba berpikir cepat.
Rambut Yasa melambai-lambai di bahunya, tertiup angin saat wajahnya semakin dekat ke wajah Jingga, matanya tampak berkilauan, kulitnya yang pucat nyaris terlihat dalam cahaya bulan, sudah hampir menghitam sepenuhnya, bibirnya tersenyum miring.
Jingga memandangi bibirnya yang telah menghitam. Ia teringat ciuman-ciuman itu. Ciuman-ciuman yang indah sekali.
Sulit dipercaya ciuman-ciuman yang indah itu dilakukannya dengan makhluk paling mengerikan yang pernah ia lihat seumur hidupnya.
Sosok makhluk yang takkan pernah ia lupakan.
Kepala dan tubuhnya terbentuk dari akar dan sulur tanaman berwarna hitam. Matanya yang merah tampak menyala-nyala di kepalanya yang menyerupai kepala Medusa---kepala manusia berambut ular, bedanya rambut si monster akar itu terbentuk dari sulur tanaman. Dan lidahnya yang bercabang menjulur-julur dari mulutnya yang penuh gigi runcing.
Sulit dipercaya sosok yang mengerikan itu terbungkus wajah tampan menggoda yang memikatnya selama satu pekan ini.
Bagaimana bisa makhluk mengerikan itu menjadi setampan ini?
Wajah Yasa semakin dekat hingga nyaris menyentuh wajah Jingga.
Dia sangat tampan, pikirnya sedih. Meski hampir menghitam.
__ADS_1
Sulur-sulur gelap yang tergambar di wajahnya bahkan tidak mengurangi ketampanannya.
Sayang sekali, pikir Jingga pahit.
Seandainya aku tahu sejak awal, kenangnya getir. Seandainya aku percaya pada Magenta…
Kade Bebegig!
Kade Bebegig, Anaking!
Bebegig mawa dodoja.
Jingga tiba-tiba teringat pada sajak itu.
Seketika ia merasa seolah bisa mendengar suara neneknya yang lembut, suara yang tidak pernah didengarnya lagi sejak ia berusia lima tahun…
"Lamun hujan ngagelebug, komo wanci sambekala… Kade Bebegig, Anaking! Kade Bebegig! Bebegig mawa dodoja."
Suaranya terdengar begitu dekat. Seperti berasal dari luar jendela.
Dari luar Jendela?
Tidak! Jingga menyadari. Ia tidak merasa seolah bisa mendengar suara neneknya.
Ia benar-benar mendengarnya. Ia mendengarnya dengan jelas.
Tapi itu bukan suara neneknya.
Magenta juga mendengarnya. Ia menyentakkan kepalanya ke samping dan menoleh ke arah jendela.
Dan sebelum mereka menyadari apa yang terjadi.
Jingga tersentak menatap Yasa, dan melihat wajahnya yang lancip mulai menghitam seluruhnya.
Sulur-sulur yang melilit tubuhnya mulai terlepas. Lalu berputar di sekeliling tubuh Yasa, berputar cepat membentuk pusaran angin berwarna hitam.
Jingga menatapnya tanpa berkedip.
Dan sementara Magenta terpaku ngeri, jeritan Yasa menembus udara. Semakin lama semakin melengking, lalu berubah menjadi lolongan.
Udara di dalam ruangan itu dipenuhi asap gelap berbau asam dan belerang.
Lalu secara perlahan pusaran gelap itu mulai mengecil dan memadat. Lalu mereda dan berhenti.
Sebatang orang-orangan sawah berjubah gelap tertancap di tengah ruangan. Wajahnya tertunduk di bawah tudung kepalanya. Seperti penyihir yang dihukum mati di kayu salib.
Magenta menatap orang-orangan sawah di tengah ruangan itu seakan tersihir. Dengan mengerjap-ngerjapkan mata, ia dapat melihat Jingga juga sedang terpaku di sana, matanya terbelalak, mulutnya ternganga ketakutan sekaligus takjub.
Bulan, yang semula bagai piring putih pucat, semakin jelas, mulai bersinar keemasan.
Beberapa saat kemudian, ruangan itu menjadi terang benderang.
"Kalian baik-baik saja?" Suara bariton di luar pondok menyentakkan Jingga dan Magenta.
"Papa!" Jingga menghambur ke arah jendela.
__ADS_1
Empu Brajasena menyeringai sembari mengangkat lampu petromax di sisi bahunya. "Lepaskan anak-anak itu!" perintahnya pada Magenta.
Magenta terperangah dan bertukar pandang dengan Jingga, lalu keduanya menoleh kembali ke dalam.
Anes, Reksa dan Yasa, tergantung dengan kedua tangan merentang terikat pada kerangka orang-orangan sawah.
Wajah asli mereka telah kembali, tapi ketiganya tidak sadarkan diri.
Empu Brajasena meletakkan lampu petromax yang dibawanya di bendul jendela, lalu berputar untuk mencari pintu masuk.
Sementara Magenta mulai melepaskan Anes dan Reksa, Jingga melangkah perlahan mendekati orang-orangan sawah di tengah ruangan, di mana Yasa tergantung lemas dengan wajah tertunduk di bawah tudung jubahnya.
Dia memang tampan sekali, pikirnya kagum. Wajahnya lancip dan putih mulus. Bibirnya merah, dan bulu matanya lentik. Sepintas wajahnya terlihat seperti boneka perempuan.
Dan tubuhnya…
Juga rambutnya…
Semuanya terlihat seperti potongan anak sekolah dasar.
Dia menciut! pekiknya dalam hati.
Dengan mata dan mulut membulat, ia mencoba melongok ke arah Anes dan Reksa.
Mereka tidak berubah.
"Kenapa cuma dia yang menciut?" pekiknya sembari menunjuk Yasa.
"Dia gak menciut," jawab Magenta tanpa menoleh. Ia sedang mencoba membaringkan tubuh Anes di sisi tubuh Reksa. "Aslinya emang begitu!" ia menambahkan seraya meluruskan tubuhnya.
"Hah?" Jingga spontan terperangah.
Magenta berusaha memulihkan napasnya sebelum melangkah mendekat ke arah Jingga. "Kenapa?" tanyanya dengan senyuman mengejek. "Kamu kecewa?"
Jingga langsung terdiam.
Magenta tersenyum seraya mengusap bahu gadis itu, "Becanda," katanya dengan perasaan bersalah.
Bersamaan dengan itu, Empu Brajasena muncul di pintu.
Jingga menghambur ke dalam pelukan ayahnya sementara Magenta menurunkan Yasa.
"Dari mana Papa tau aku ada di sini?" tanya Jingga.
"Ohohoho! Papa kan orang sakti!" kelakar Empu Brajasena, yang kemudian ditanggapi kekehan tipis Magenta.
Beberapa saat kemudian, Jingga dan Magenta sudah berada di luar sementara Empu Brajasena sedang berusaha menyadarkan ketiga teman Magenta dengan kekuatan sihirnya.
Dan Jingga cepat-cepat menjatuhkan diri ke dalam pelukan Magenta, mendekap cowok itu erat-erat, menempelkan pipinya ke pipi Magenta.
"Gen," bisiknya, sambil memeluk, "aku janji gak akan ngatain kamu kekanak-kanakan lagi!"
Magenta tersenyum seraya mengelus lembut rambut Jingga. Tapi tidak mengatakan apa-apa. Hanya mengecup ringan kening gadis itu.
"Heeeh!" geraman ayah Jingga mengejutkan keduanya. "Malah pacaran!" rutuknya sambil menaikkan lampu petromax ke dekat wajahnya seakan mencoba memperlihatkan bahwa ia benar-benar sedang marah, yang secara otomatis membuat Magenta tersipu-sipu meski jelas-jelas ia tahu pria paruh baya itu tidak sedang benar-benar marah.
__ADS_1
Tiga teman Magenta menyusul di belakang Empu Brajasena.
Tatapan Jingga langsung tertuju ke arah Yasa.