
Udara malam itu panas dan lembap. Katak-katak pohon mengerik tanpa henti di pepohonan. Di suatu tempat jauh dari hutan itu, seekor anjing melolong sedih, menunggu jawaban, lalu melolong lagi.
"Ugh!" Jingga menepuk seekor nyamuk.
Yasa mendongak ke arah pepohonan, masih sepi, sesepi foto.
Mereka melangkah masuk lebih jauh ke dalam hutan menuju danau, flashlight dari ponsel Jingga menerangi jalan setapak yang sempit dan berumput lebat di depan mereka.
"Aku seneng kamu ikut," kata Yasa setengah menggoda. Ia mencabut segenggam rumput tinggi yang menghalangi jalannya.
"Itu karena aku ngerasa lebih aman di deket kamu," dengus Jingga.
Yasa tersenyum tipis menanggapinya. Entah Jingga menyadarinya atau tidak, tapi perkataannya membuat Yasa merasa sedikit tersanjung. Meski terkesan judes.
Sinar bulan remang-remang menembus pepohonan lebat. Kerlap-kerlipnya yang keperakan membuat hutan terlihat tidak nyata, seperti sebuah tempat dalam dongeng seram.
Suasana sangat hening, Jingga dapat mendengar setiap tarikan napasnya.
Sekonyong-konyong katak pohon berhenti mengerik. Sekarang satu-satunya suara lain yang terdengar adalah gemeresak sepatu mereka yang tersaruk-saruk di tanah lembut, sepanjang perjalanan keduanya melewati jalan setapak yang berkelok-kelok di dalam hutan.
Rasa takut menyergap Jingga seketika, seolah olah mengendap-endap dari belakang dan menerkamnya. la berhenti dan berusaha menghalaunya. Namun seluruh tubuhnya gemetaran. Kakinya lemas seperti kertas. Kepalanya berdenyut denyut.
Apa yang tengah terjadi padaku? ia bertanya-tanya. Mungkin ini akibat ia sudah mendengar cerita tentang danau di ujung hutan itu, tempat banyak peristiwa mengerikan dan misterius terjadi.
Mungkin karena ia sudah dekat dengan danau tempat ia nyaris tenggelam beberapa malam yang lalu.
Mungkin arwah Aruna sedang mencoba menghalangi mereka dengan energi negatifnya yang tidak kasatmata, untuk mencegah agar mereka tidak mendekati danau itu, supaya Yasa tidak menemukan apa yang sedang dicarinya.
Yasa berhenti selangkah di belakangnya. Menunggu Jingga melanjutkan langkahnya. Tapi tidak mengatakan apa-apa.
Aku harus tetap terus, pikir Jingga. la mengarahkan senternya ke arah jalan setapak dan mulai melangkah lagi, memaksa kakinya maju, memaksa diri mengabaikan badannya yang gemetaran dan kepalanya yang berdenyut-denyut.
Tak lama kemudian mereka sudah melihat danau itu. Tampak keabu-abuan di bawah langit gelap. Airnya menerpa tepi danau yang berlumpur, nyaris tanpa bunyi.
Setelah sedikit merasa lega terbebas dari hutan, Jingga mulai berlari melintasi rerumputan tinggi menuju air.
Yasa tersenyum tipis di belakangnya.
Danau itu kelihatan lebih besar daripada biasanya, begitu luas, kedua sisinya lenyap dalam kegelapan.
Deretan warung kopi di seberang sana danau, hanya berupa bayangan yang menonjol di kejauhan.
Jingga menghela napas dalam-dalam.
Apa yang kaurahasiakan dariku, danau?
Mengapa aku selalu memimpikanmu?
Mengapa aku selalu mendatangimu dalam tidurku?
Mengapa hantu Aruna membawaku kepadamu?
Rahasia mengerikan apa yang kausembunyikan dariku?
Jingga duduk di tepi dermaga kayu kecil yang menjulur beberapa meter ke air. Rasa takutnya sudah menghilang, namun tubuhnya belum berhenti gemetar.
Air di bawah begitu indah, begitu menyejukkan. la hampir melepaskan sepatu karetnya dan memasukkan kaki ke air ketika ia mendengar langkah kaki di atas rumput di belakangnya.
__ADS_1
Ia berharap melihat Yasa tak jauh di belakangnya.
Ternyata dia sendirian.
Di mana Yasa? pikir Jingga panik.
"Sa—" Suara Jingga hanya berupa bisikan. Tubuhnya seolah membeku. Ia bernapas dengan susah payah. Sebelah sepatunya terlepas, sebelah lagi masih menempel di kakinya. Sambil berusaha mengenakan kembali sepatunya yang terlepas ia memandangi kegelapan.
"Sa! Kamu di mana?" Tali sepatunya masih tersimpul, sehingga ia tidak dapat memasukkan kakinya. Dan tangannya sangat gemetar sampai-sampai ia tak sanggup menguraikan simpul tali itu.
Jingga meloncat turun dari dermaga, menenteng sepatunya yang sebelah, dan mencari keberadaan Yasa.
Ada segerumbul semak beberapa puluh meter dari tepi danau. Ia mendengar bunyi ranting berkeretak. Langkah-langkah kaki di tanah gembur.
"Sa?" panggilnya dengan suara aneh, tenggorokannya tercekik oleh rasa takut.
Bunyi langkah lagi, makin keras. Lalu…
"Jadi di sini habitat asli lu?" seru sebuah suara.
Terlambat untuk lari.
"Di rawa-rawa?" Suara itu terdengar sudah akrab di telinganya.
Jantung Jingga berdegup kencang. Ia mengangkat sepatunya, seakan menggunakannya sebagai senjata.
Tiba-tiba orang itu muncul, melangkah keluar dari kegelapan menuju sinar bulan yang keperakan.
"Vi—"
"Kenapa lu bisa ada di sini?"
"Karena lu ada di sini!"
"Tau dari mana kalo gue ada di sini?"
"Dari sifat uler lu!"
Jingga mengerutkan keningnya.
Beberapa detik tadi Jingga merasa gembira melihat Violet. Tapi ketika melihat jaket yang dikenakan Violet, Jingga mendadak tersentak.
Jaket itu sudah diberikan padanya beberapa waktu lalu. Kenapa jaketnya bisa berada pada Violet lagi?
Jingga membayangkan Violet yang sedang tergeletak di rumah sakit, lengannya memakai gips, penuh slang. Luka lebam pada perutnya.
Lalu terngiang kata-kata Yasa…
"Kalo bisa, sebaiknya jauhin dia!"
Sekarang aku mengerti, pikirnya.
Dia bukan Violet!
Violet dirasuki seperti Yasa.
Rasa takut dalam dirinya muncul kembali. Jingga kembali gemetar. Pusing.
__ADS_1
Akhirnya Jingga memutuskan menutupi ketakutannya itu dengan marah-marah.
Ia takkan membiarkan Violet tahu bahwa ia ketakutan.
"Gimana caranya lu bisa sembuh secepet ini?" tanya Jingga.
Violet tersenyum sinis. "Kenapa? Lu kecewa gue gak jadi koma?"
Koma? pikir Jingga kebingungan. "Gue—"
"Lu takut kan, rahasia lu kebongkar?" potong Violet.
Rahasia? Jingga semakin kebingungan.
"Rahasia apa?"
"Sayangnya gua cuma pingsan berapa hari!" sergah Violet. "Gak sampe hilang ingatan."
Pingsan?
Hilang ingatan?
Jingga semakin tak mengerti.
"Maksud lu apa?"
"Berenti sok suci di depan gue!" Violet menggeram seraya merenggut kerah jaket Jingga. "Lu udah ngerebut bokin gue, melakukan percobaan pembunuhan. Masih mau mungkir apa?"
Percobaan pembunuhan?
Jingga tersentak dan terbelalak.
"Lu pasti gak nyangka kan, gue bisa siuman secepet ini? Lu pasti ngarep minimal meskipun gue idup gue hilang ingatan, kan?" Violet mengetatkan cengkeramannya, menarik wajah Jingga mendekat ke wajahnya. Lalu tersenyum jahat. "Ck, ck, ck, kasian…"
"Vi---lepasin!" Jingga memekik dengan suara tercekik.
Sambil mencengkram kerah jaketnya, Violet mendorong Jingga menuju danau.
Jingga meronta-ronta berusaha melepaskan diri, tapi cengkeraman Violet bagaikan tang.
Violet menjatuhkan Jingga dari dermaga kecil ke dalam danau, lalu membungkuk, merenggut kepala dan leher Jingga, kemudian mendorong wajah Jingga ke dalam air.
Jingga memberontak, berusaha untuk tetap berada di permukaan air, berusaha menghirup udara. "Yasa! Tolong…"
"Gimana rasanya ada di antara hidup dan mati?" tanya Violet dengan sangat tenang, terlalu tenang.
"Yasa!" jerit Jingga.
Yasa tidak menyahut.
Ke mana perginya cowok itu?
Apa terjadi sesuatu? pikir Jingga semakin panik.
Violet kembali mendorong kepala Jingga ke dalam air dan menahannya di sana.
"Sa—" suara Jingga bergeluguk di dalam air.
__ADS_1